Kanker pada kaum remaja ternyata kurang mendapatperhatian. Padahal menurut para ahli dari Universityof Manchester di Inggris, masa pertumbuhan dan pubertas bisa meningkatkan pertumbuhan sel-sel yang secara genetik memang memicu kanker. Rupanya, hormon dan beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dituding sebagai pendorong perkembangan kanker ini.
Presentasi ini disampaikan tim pimpinan ProfesorJillian Birch ini, dalam konferensi Teenage CancerTrust. Menurut tim, kanker tulang dan kanker tertentu pada indung telur dan testis paling banyak menyerang masa beranjak dewasa atau dewasa muda. Tim peneliti menyebutkan, pubertas dan infeksi juga diyakini mampu memicu kanker untuk semakin berkembang, khususnya pada individu yang ''berbakat'' kanker.
Memang jumlah pasien remaja yang menderita kanker terhitung jarang di Inggris. Jumlah mereka sekitar 1 persen dari seluruh kasus kanker. Namun jangan lupa, kanker ini ternyata penyebab nomor dua kematian pada remaja sedang penyebab pertamanya adalah kecelakaan.
Dengan mengetahui tipe kanker tertentu yang menyerang remaja dan dewasa muda, penelitian berharap dapat mengetahui penyebabnya. Para peneliti pun menelusuri kasus kanker pada 1195 hingga 2003. Ternyata 14 ribudi antara penderita berusia antara 14 hingga 24 tahun.Sedangkan kasus yang paling sering muncul padapenderita usia muda tersebut adalah:
1. Osteosarcoma dan Ewing sarcoma (keduanya tumor tulang).
2. Tumor sel reproduksi pada testis, indung telur, danotak.
3. Hodgkin's lymphoma --kanker kelenjar getah bening.
4. Sejumlah kanker jaringan lunak (namun jarang).
Tumor-tumor tersebut terdapat pada satu per tiga penderita. Sedangkan tiga per empat penderita osteosarcomas menunjukkan, bagian tubuh yang terkena umumnya tulang pada kaki, da 10 persen lainnya pada lengan. Menurut para peneliti, perubahan geneticpra-kanker muncul pada jaringan tulang saat penderita masih anak-anak. Pada masa pertumbuhan yang pesat, kerusakan genetic yang terjadi ternyata lebih parah, sehingga mampu mengubah sel tersebut bersifat kanker. (bbc/yyn )
Saturday, April 15, 2006
Deteksi Dini Kanker Payudara
Nugratih tenang-tenang saja. Payudaranya yang sudah besar sebelah tidak mengganggu aktivitas keseharian ibu tiga anak ini. Maklum, dia tidak merasakan perubahan yang berarti dengan perbedaan kedua payudaranya itu. Tidak ada rasa sakit, kecuali besarnya yang berbeda.
Seiring dengan perjalanan waktu, pembesaran pada salah satu payudaranya kian jauh. Dia kemudian memeriksakanke rumah sakit. Dari situ diketahui, ia menderitakanker payudara.
"Memang sudah lama bengkak, tapi saya tidak menyang kakanker,'' dia berterus terang. Nugratih, boleh jadi, bukan satu-satunya wanita yang tidak menyadari telah terserang kanker payudara. Padahal, kanker payudarat ergolong penyakit yang serius. `'Frekuensinya 20persen dari seluruh penyakit kanker,'' dr Sutjipto, SpB (Onk) menuturkan dalam Lokakarya Kanker Payudara diJakarta, beberapa waktu lalu.
Dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta inilalu mengungkapkan data dari World Health Organization(WHO). Data tahun 2003 itu menyebutkan, di Amerikaterdapat 180.000 kasus baru kanker payudara per tahun. Di Belanda ditemukan 91 kasus baru setiap 100.000 penduduk. Di Indonesia? Penyakit ini menduduki peringkat kedua setelah kanker mulut rahim.
Penderita kanker payudara di Indonesia, kata Sutjipto, umumnya datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut. Jumlahnya cukup besar, sekitar 70 persen. Dia menyebutberbagai faktor menjadi pangkal penyebab. Misalnya, takut operasi, percaya pengobatan tradisional, tidakpercaya bahwa kanker payudara bisa disembuhkan, tidaksadar perlunya check-up payudara secara teratur, disamping faktor sosial dan ekonomi.
Risiko jika tidak menyusui
Sampai saat ini belum diketahui faktor penyebab timbulnya kanker payudara. Namun umumnya penyakit ini menyerang wanita. Kelompok wanita berisiko tinggi, menurut Sutjipto, antara lain usia di atas 30 tahun,salah satu keluarga menderita penyakit kankerpayudara, tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun,atau tidak pernah menyusui anak.
Ada sejumlah hal yang perlu dicurigai kemungkinan adanya kanker payudara pada wanita, terutama kelompok wanita dengan risiko tinggi. Misalnya, ada benjolan di payudara dan ada kista pada payudara disertai keluarcairan dari puting susu. Luka yang sulit sembuh disekitar payudara juga patut dicurigai adanya kankerpayudara.
Bagaimana kanker payudara bisa terjadi? Dalam berbagailitertur dijelaskan, bila pada suatu tempat di badan terdapat pertumbuhan sel-sel yang berlebihan, maka akan terjadi suatu benjolan atau tumor. Tumor inidapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor yang ganasdisebut kanker. Tumor ganas dapat menyebar luas kebagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjaditumor yang baru. Penyebaran ini disebut metastase.
Tumor ganas ada yang tumbuh cepat, ada yang lambat, seperti kanker payudara. Sel kanker payudara yangpertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm dandapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Tidak diketahui waktu penyebarannya, namun sel kankerini dapat bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa diketahui. Sel itu bisa tiba-tibaaktif menjadi tumor ganas atau kanker.
Mencegah, tentu saja, lebih baik dari pada mengobati. Caranya? Dokter Sutjipto menyebut beberapa hal yangperlu diperhatikan untuk mencegah penyakit kanker payudara:
-Hindari kegemukan.
-Kurangi makan lemak.
-Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandungvitamin A dan C.
-Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap.
-Olahraga secara teratur.
-Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.
Bagaimana pun, wanita dengan faktor risiko tinggi penting melakukan pemeriksaan berkala dengan memeriksakan ke dokter setiap menemukan kelainan padapayudara. Jangan terus dibiarkan hingga berlarut-larut. Pemeriksaan secara berkala itu pentingagar sel-sel kanker yang mulai tumbuh bisa cepat dicegah, sehingga tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Membiarkan kelainan pada payudara bisa berakibatlebih jauh. Nugratih --yang datang memeriksakan payudaranya ke rumah sakit dalam keadaan membengkak--sudah membuktikan. Kanker payudara yang menyerang tubuhnya sudah stadiun lanjut, memaksa ia harusberbaring di rumah sakit untuk pengobatan.
Sementara itu menurut dr. Kunta Setiaji, SpB, SpBOnkdari SMF Bedah RS Dr Sardjito/FKU UGM, insidensi kanker payudara di Indonesia adalah 21 penderita baruper 100 ribu orang, sedangkan di Eropa insiden kanker payudara cukup tinggi yaitu 76 penderita baru per 100 ribu orang. Kanker payudara dibagi menjadi beberapa stadium:
- Stadium nol (ductal carcinoma in situ)
- Stadium I (benjolan/tumor berukuran di bawah 2sentimeter)
- Stadium II A (benjolan di payudara berukuran 2-5sentimeter)
- Stadium II B (selain benjolan di payudara berukuran2-5 sentimeter, di ketiak juga sudah teraba adabenjolan).
- Stadium III A(benjolan berukuran di atas 5centimeter).
- Stadium III B (selain ada benjolan di payudaraberukuran di atas 5 sentimeter, sudah ada borok dipayudara).
- Stadium IV (kanker sudah menyebar ke paru-paru, liver, tulang, kecuali rambut dan kuku).
Ikhtisar:
*Faktor penyebab timbulnya kanker payudara masih belum diketahui.
*Sel kanker payudara yang pertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm dan dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh.
*Sel kanker dapat bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa diketahui.(bur/nri )
Seiring dengan perjalanan waktu, pembesaran pada salah satu payudaranya kian jauh. Dia kemudian memeriksakanke rumah sakit. Dari situ diketahui, ia menderitakanker payudara.
"Memang sudah lama bengkak, tapi saya tidak menyang kakanker,'' dia berterus terang. Nugratih, boleh jadi, bukan satu-satunya wanita yang tidak menyadari telah terserang kanker payudara. Padahal, kanker payudarat ergolong penyakit yang serius. `'Frekuensinya 20persen dari seluruh penyakit kanker,'' dr Sutjipto, SpB (Onk) menuturkan dalam Lokakarya Kanker Payudara diJakarta, beberapa waktu lalu.
Dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta inilalu mengungkapkan data dari World Health Organization(WHO). Data tahun 2003 itu menyebutkan, di Amerikaterdapat 180.000 kasus baru kanker payudara per tahun. Di Belanda ditemukan 91 kasus baru setiap 100.000 penduduk. Di Indonesia? Penyakit ini menduduki peringkat kedua setelah kanker mulut rahim.
Penderita kanker payudara di Indonesia, kata Sutjipto, umumnya datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut. Jumlahnya cukup besar, sekitar 70 persen. Dia menyebutberbagai faktor menjadi pangkal penyebab. Misalnya, takut operasi, percaya pengobatan tradisional, tidakpercaya bahwa kanker payudara bisa disembuhkan, tidaksadar perlunya check-up payudara secara teratur, disamping faktor sosial dan ekonomi.
Risiko jika tidak menyusui
Sampai saat ini belum diketahui faktor penyebab timbulnya kanker payudara. Namun umumnya penyakit ini menyerang wanita. Kelompok wanita berisiko tinggi, menurut Sutjipto, antara lain usia di atas 30 tahun,salah satu keluarga menderita penyakit kankerpayudara, tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun,atau tidak pernah menyusui anak.
Ada sejumlah hal yang perlu dicurigai kemungkinan adanya kanker payudara pada wanita, terutama kelompok wanita dengan risiko tinggi. Misalnya, ada benjolan di payudara dan ada kista pada payudara disertai keluarcairan dari puting susu. Luka yang sulit sembuh disekitar payudara juga patut dicurigai adanya kankerpayudara.
Bagaimana kanker payudara bisa terjadi? Dalam berbagailitertur dijelaskan, bila pada suatu tempat di badan terdapat pertumbuhan sel-sel yang berlebihan, maka akan terjadi suatu benjolan atau tumor. Tumor inidapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor yang ganasdisebut kanker. Tumor ganas dapat menyebar luas kebagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjaditumor yang baru. Penyebaran ini disebut metastase.
Tumor ganas ada yang tumbuh cepat, ada yang lambat, seperti kanker payudara. Sel kanker payudara yangpertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm dandapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh. Tidak diketahui waktu penyebarannya, namun sel kankerini dapat bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa diketahui. Sel itu bisa tiba-tibaaktif menjadi tumor ganas atau kanker.
Mencegah, tentu saja, lebih baik dari pada mengobati. Caranya? Dokter Sutjipto menyebut beberapa hal yangperlu diperhatikan untuk mencegah penyakit kanker payudara:
-Hindari kegemukan.
-Kurangi makan lemak.
-Usahakan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandungvitamin A dan C.
-Jangan terlalu banyak makan makanan yang diasinkan dan diasap.
-Olahraga secara teratur.
-Check-up payudara sejak usia 30 tahun secara teratur.
Bagaimana pun, wanita dengan faktor risiko tinggi penting melakukan pemeriksaan berkala dengan memeriksakan ke dokter setiap menemukan kelainan padapayudara. Jangan terus dibiarkan hingga berlarut-larut. Pemeriksaan secara berkala itu pentingagar sel-sel kanker yang mulai tumbuh bisa cepat dicegah, sehingga tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Membiarkan kelainan pada payudara bisa berakibatlebih jauh. Nugratih --yang datang memeriksakan payudaranya ke rumah sakit dalam keadaan membengkak--sudah membuktikan. Kanker payudara yang menyerang tubuhnya sudah stadiun lanjut, memaksa ia harusberbaring di rumah sakit untuk pengobatan.
Sementara itu menurut dr. Kunta Setiaji, SpB, SpBOnkdari SMF Bedah RS Dr Sardjito/FKU UGM, insidensi kanker payudara di Indonesia adalah 21 penderita baruper 100 ribu orang, sedangkan di Eropa insiden kanker payudara cukup tinggi yaitu 76 penderita baru per 100 ribu orang. Kanker payudara dibagi menjadi beberapa stadium:
- Stadium nol (ductal carcinoma in situ)
- Stadium I (benjolan/tumor berukuran di bawah 2sentimeter)
- Stadium II A (benjolan di payudara berukuran 2-5sentimeter)
- Stadium II B (selain benjolan di payudara berukuran2-5 sentimeter, di ketiak juga sudah teraba adabenjolan).
- Stadium III A(benjolan berukuran di atas 5centimeter).
- Stadium III B (selain ada benjolan di payudaraberukuran di atas 5 sentimeter, sudah ada borok dipayudara).
- Stadium IV (kanker sudah menyebar ke paru-paru, liver, tulang, kecuali rambut dan kuku).
Ikhtisar:
*Faktor penyebab timbulnya kanker payudara masih belum diketahui.
*Sel kanker payudara yang pertama dapat tumbuh menjadi tumor sebesar 1 cm dan dapat menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh.
*Sel kanker dapat bersembunyi di dalam tubuh selama bertahun-tahun tanpa diketahui.(bur/nri )
Mengenali Stroke
So simple and it means a lot....
Sewaktu pesta barbeque, seorang teman terjatuh - dia meyakinkan semua orang yang datang kalau dia tidak apa2 (mereka menawarkan memanggil paramedik) dan hanya tersandung batu bata karena sepatu barunya. Mereka membantunya membersihkan diri dan mengambilkan piring makanan baru ? meski pun terlihat sedikit terguncang, Ingrid meneruskan menikmati sore itu.
Malamnya, suami Ingrid menelpon memberitahukan semua orang bahwa istrinya telah dibawa ke rumah sakit -(pukul 6 sore, Ingrid meninggal).Dia mendapat serangan stroke pada pesta barbeque. Kalau saja mereka tahu bagaimana mengenali tanda2 stroke mungkin Ingrid masih bersama kita hari ini.
Hanya membutuhkan satu menit untuk membaca ini-Seorang ahli syaraf mengatakan bahwa kalau dia bisa menolong seorang korban stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan tersebut, dia bisa membalikkan pengaruh stroke.... secara total!
Dia mengatakan bahwa triknya adalah mengenali dan mendiagnosa stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan, yang sebenarnya merupakan hal yang sulit.
MENGENALI STROKE
Kadang2 gejala stroke sulit dikenali. Sayangnya, kurangnya kewaspadaan dapat mendatangkan bencana. Korban stroke dapat menderita kerusakan otak sewaktu orang2 yang ada di sekitarnya pada saat kejadian gagal mengenali gejala2 stroke.
Sekarang banyak dokter mengatakan bahwa orang di sekitar korban dapat mengenali gejala stroke dengan menanyakan tiga pertanyaan sederhana ini:
1. Minta orang tersebut untuk TERSENYUM
2. Minta orang tersebut untuk MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA
3. Minta orang tersebut untuk MENGUCAPKAN SEBUAH KALIMAT SEDERHANA (yang masuk akal), contoh: "Hari ini cerah." Blablabla....
Bila org tsb tidak bisa melakukan apa yg kita minta diatas atau salah satunya segera bawa ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama selanjutnya.
Seorang kardiolog berkata kalau setiap orang yang mendapatkan berita ini menyampaikannya kembali ke 10 orang, kau bisa bertaruh bahwa setidaknya satu nyawa akan diselamatkan. Jadilah seorang sahabat dan bagikan artikel ini dengan sebanyak mungkin ke temanmu, kau bisa saja menyelamatkan nyawa mereka.
Sewaktu pesta barbeque, seorang teman terjatuh - dia meyakinkan semua orang yang datang kalau dia tidak apa2 (mereka menawarkan memanggil paramedik) dan hanya tersandung batu bata karena sepatu barunya. Mereka membantunya membersihkan diri dan mengambilkan piring makanan baru ? meski pun terlihat sedikit terguncang, Ingrid meneruskan menikmati sore itu.
Malamnya, suami Ingrid menelpon memberitahukan semua orang bahwa istrinya telah dibawa ke rumah sakit -(pukul 6 sore, Ingrid meninggal).Dia mendapat serangan stroke pada pesta barbeque. Kalau saja mereka tahu bagaimana mengenali tanda2 stroke mungkin Ingrid masih bersama kita hari ini.
Hanya membutuhkan satu menit untuk membaca ini-Seorang ahli syaraf mengatakan bahwa kalau dia bisa menolong seorang korban stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan tersebut, dia bisa membalikkan pengaruh stroke.... secara total!
Dia mengatakan bahwa triknya adalah mengenali dan mendiagnosa stroke dalam waktu 3 jam sejak serangan, yang sebenarnya merupakan hal yang sulit.
MENGENALI STROKE
Kadang2 gejala stroke sulit dikenali. Sayangnya, kurangnya kewaspadaan dapat mendatangkan bencana. Korban stroke dapat menderita kerusakan otak sewaktu orang2 yang ada di sekitarnya pada saat kejadian gagal mengenali gejala2 stroke.
Sekarang banyak dokter mengatakan bahwa orang di sekitar korban dapat mengenali gejala stroke dengan menanyakan tiga pertanyaan sederhana ini:
1. Minta orang tersebut untuk TERSENYUM
2. Minta orang tersebut untuk MENGANGKAT KEDUA TANGANNYA
3. Minta orang tersebut untuk MENGUCAPKAN SEBUAH KALIMAT SEDERHANA (yang masuk akal), contoh: "Hari ini cerah." Blablabla....
Bila org tsb tidak bisa melakukan apa yg kita minta diatas atau salah satunya segera bawa ke Rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama selanjutnya.
Seorang kardiolog berkata kalau setiap orang yang mendapatkan berita ini menyampaikannya kembali ke 10 orang, kau bisa bertaruh bahwa setidaknya satu nyawa akan diselamatkan. Jadilah seorang sahabat dan bagikan artikel ini dengan sebanyak mungkin ke temanmu, kau bisa saja menyelamatkan nyawa mereka.
Monday, April 10, 2006
Vaksin MMR
Jujur saya dipusingkan dengan dua pendapat yang bertentangan tentang vaksin MMR. Sebagian berpendapat bahwa MMR pemicu Authisme sedangkan yang sebagian berpendapat sebaliknya.
Dua minggu yang lalu saya memberikan vaksin kepada anak saya yang berumur 4.5 th. Ketika melihat catatan kesehatan di buku, dokter anak kami kaget mengapa anak saya belum di berikan MMR. Saya agak berat menjawab walaupun sepatah kata yang keluar belum lengkap dokter yang bersangkutan telah memberikan saya ceramah panjang lebar dan dari nada bicaranya dan pandangan matanya memberikan isyarat bahwa dia sangat kesal dengan saya. Padahal belum lengkap kata-kata saya keluar dari mulut.
Pak Dokter memanggil saya KAMU. "Apa alasan KAMU ?". Meskipun sedikit risih tapi saya berusaha untuk sabar. Jadi sepanjang 20 menit itu habislah saya diceramahin. Jawaban pendek saya yang mengatakan bahwa kita tidak bisa menutup mata bahwa antara para dokter juga ada perbedaan pendapat berbuntut kepada cerita ttg siapa saja yang tidak setuju dengan Vaksin MMR termasuk menyebut seorang professor.
Di ujung pembicaraan saya hanya berkata "baiklah Dok saya akan belajar lagi soal ini maklum kedokteran bukan bidang saya namun Common Sense Logic saya bisa menerima kalau MMR bisa saja berpengaruh kepada sebagian kecil pasien. Di forum ini saya butuh masukan yang banyak soal MMR.
Terima Kasih.
Rudy Firmanto
Pak Rudy,
Baru saja saya coba search di Google tentang MMR vaccine. Banyak publikasi yang bermutu (dikeluarkan oleh Depkesnya Amerika, jurnal2 kedokteran ternama, ikatan dokter anak Amerika/AAP, dan berbagai sekolah kedokteran yang baik) yang membahas mengenai MMR dan autisme. Salah satunya ada website tentang keamanan vaksin (www.vaccinesafety.edu). Berikut saya coba copy headlines dari website tsb. Text lengkap dapat diakses dengan link dari website tsb.
MMR/MEASLES VACCINE
MMR Vaccination and Pervasive Developmental Disorders: no association. Smeeth, et al report that MMR vaccination is not associated with an increased risk of pervasive developmental disorders (PDDs). The authors studied 1294 affected children and 4469 controls in the General Practioners Database in the United Kingdom and "We have found no convincing evidence that MMR vaccination increases the risk of autism or other PPDs". (09-15-04) PubMed Abstract Lancet Institute of Medicine reports that MMR and thimerosal do not cause autism. The IOM committee concluded that the body of epidemiological evidence favors rejection of a causal relationship between the MMR vaccine and autism and between thimerosal-containing vaccines and autism. [link] May 17, 2004 Authors Retract Controversial Interpretation of 1998 Lancet Paper Linking MMR Vaccine to A New Syndrome of Bowel Disease and Autism. Statements from the authors and the Lancet editor. March 6, 2004
Investigations Reveal an Unreported Conflict of Interest and Problems With Reporting in Wakefield's 1998 Autism-MMR Study. Information on the investigation by The Lancet into problems with Andrew Wakefield's study. February 27, 2004.
Measles, Mumps, and rubella vaccination and bowel problems or developmental regression in children with autism: population study. This paper by Taylor et al in the [Feb 16 2003] BMJ adds to the growing body of evidence that show no involvement of MMR vaccine in the development of autism. The authors report on their investigation of 473 and conclude that their data shows neither a "new variant' form of MMR-associated autism nor evidence of MMR contributing to the onset of autism. BMJ 2003;324:393-6. PubMed Abstract BMJ MMR and autistic enterocolitis: consistent epidemiological failure to find an association. In a News & Commentary in Molecular Psychiatry [Feb 2003], Fombonne and Cook review a recent paper by Taylor et al on MMR and Autistic Enterocolitis. Fombonne and Cook review Taylor's paper as well as the hypothesis by Wakefield et al that speculated about a connection between MMR and autism and ask, "How many more well-powered epidemiological investigations ... will be necessary for this hypothesis to be completely discarded?". Molecular Psychiatry 2003;8:133-4
A Population-based study of Measles, Mumps and Rubella Vaccination and Autism. A Danish study provides strong evidence against a causal relationship between MMR vaccination and autism. Madsen et al. NEJM 2002;347(19):1477-82. PubMed Abstract NEJM
The risk of seizures after receipt of whole-cell pertussis or measles, mumps, and rubella vaccine. Barlow WE et al find no long-term adverse consequences from febrile seizures following administration of DTP and MMR vaccines. NEJM 2001;345(9):656-61. PubMed Abstract NEJM
Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autistic Spectrum Disorder: Report From the New Challenges in Childhood Immunizations Conference Convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000. Pediatrics 2001;107(5). Halsey, Neal A.; Hyman, Susan L. The writers of this report reviewed over 1,000 references in the medical literature and determined that the available research does not support the hypothesis that MMR vaccine causes autism, autism spectrum disorders or inflammatory bowel disease. A complete copy of this report is available in the online version of Pediatrics at http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/abstract/107/5/e84.
PubMed Abstract Institute of Medicine (IOM) Committee Rejects Causal Relationship Between Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autism Spectrum Disorder At a public briefing on April 23, 2001 the Institute of Medicine's (IOM) Committee on Immunization Safety Review released a report in which they conclude that the evidence favors rejection of a causal relationship between the measles-mumps-rubella (MMR) vaccine and autism spectrum disorder, commonly known as autism.
The full text of the report is available at http://www.iom.edu/report.asp?id=4715
Evidence shows genetics, not MMR vaccine, determines autism (AAP News December 1999) by Charles G. Prober, MD, FAAP.
No evidence for measles, mumps, and rubella vaccine-associated inflammatory bowel disease or autism in a 14-year prospective study. (Lancet 1998;351:1327-8) (5-02-98) This Finnish study shows details of the 31 children who developed gastrointestinal symptoms after approximately three million were vaccinated. Dr. Peltola et al, after more than 10 years following adverse events associated with MMR vaccine, found no data showing an association between MMR vaccine and developmental disorders or inflammatory bowel disease.
Mungkin sebelum mempercayai suatu pendapat, ada baiknya kita belajar banyak terlebih dahulu. Jangan percaya publikasi yang tidak jelas atau kurang dapat dipertanggungjawabkan. Pilihan imunisasi ada di tangan orangtua, dokter hanya mengarahkan. Bagaimana pun juga, imunisasi itu perlu persetujuan orangtua (informed consent), termasuk menyetujui risiko2 (bila ada) yang mungkin terjadi akibat imunisasi. Kedokteran memang mungkin bukan bidang anda, tapi sebagai konsumen yang baik, tentu anda punya rasa ingin tahu agar bisa berdiskusi dengan efektif dengan dokter anda sehingga hasil pengobatan dapat optimal.
Semoga membantu.
Endah
Pak Rudy, sebenarnya dukun anak dikau nggak perlu gitu sewotnya sama dikau selaku ortu anak, soal jadwal imunisasi on schedule itu kan masalah hasil study epidemiologis semata. Kalo anak dikau belon di vaksin, kan tinggal diusulkan untuk dilakukan semata. Mengajak konflik dengan ortu anak nggak ada manfaatnya :).
eddyJP
Personal ID: eddyjp@cbn.net.id
Ya begitulah Pak...
Kalau sebagian dokter "professor S " yang disebut dokter saya juga berpendapat bahwa ada pengaruhnya,...apalagi saya yang gak punya background kedokteran.
Anyway saya akan banyak belajar masalah ini..
RF
Baru saja saya coba search di Google tentang MMR vaccine. Banyak publikasi yang bermutu (dikeluarkan oleh Depkesnya Amerika, jurnal2 kedokteran ternama, ikatan dokter anak Amerika/AAP, dan berbagai sekolah kedokteran yang baik) yang membahas mengenai MMR dan autisme. Salah satunya ada website tentang keamanan vaksin (www.vaccinesafety.edu). Berikut saya coba copy headlines dari website tsb. Text lengkap dapat diakses dengan link dari website tsb.
MMR/MEASLES VACCINE
MMR Vaccination and Pervasive Developmental Disorders: no association. Smeeth, et al report that MMR vaccination is not associated with an increased risk of pervasive developmental disorders (PDDs). The authors studied 1294 affected children and 4469 controls in the General Practioners Database in the United Kingdom and "We have found no convincing evidence that MMR vaccination increases the risk of autism or other PPDs". (09-15-04) PubMed Abstract Lancet Institute of Medicine reports that MMR and thimerosal do not cause autism. The IOM committee concluded that the body of epidemiological evidence favors rejection of a causal relationship between the MMR vaccine and autism and between thimerosal-containing vaccines and autism. [link] May 17, 2004 Authors Retract Controversial Interpretation of 1998 Lancet Paper Linking MMR Vaccine to A New Syndrome of Bowel Disease and Autism. Statements from the authors and the Lancet editor. March 6, 2004
Investigations Reveal an Unreported Conflict of Interest and Problems With Reporting in Wakefield's 1998 Autism-MMR Study. Information on the investigation by The Lancet into problems with Andrew Wakefield's study. February 27, 2004.
Measles, Mumps, and rubella vaccination and bowel problems or developmental regression in children with autism: population study. This paper by Taylor et al in the [Feb 16 2003] BMJ adds to the growing body of evidence that show no involvement of MMR vaccine in the development of autism. The authors report on their investigation of 473 and conclude that their data shows neither a "new variant' form of MMR-associated autism nor evidence of MMR contributing to the onset of autism. BMJ 2003;324:393-6. PubMed Abstract BMJ MMR and autistic enterocolitis: consistent epidemiological failure to find an association. In a News & Commentary in Molecular Psychiatry [Feb 2003], Fombonne and Cook review a recent paper by Taylor et al on MMR and Autistic Enterocolitis. Fombonne and Cook review Taylor's paper as well as the hypothesis by Wakefield et al that speculated about a connection between MMR and autism and ask, "How many more well-powered epidemiological investigations ... will be necessary for this hypothesis to be completely discarded?". Molecular Psychiatry 2003;8:133-4
A Population-based study of Measles, Mumps and Rubella Vaccination and Autism. A Danish study provides strong evidence against a causal relationship between MMR vaccination and autism. Madsen et al. NEJM 2002;347(19):1477-82. PubMed Abstract NEJM
The risk of seizures after receipt of whole-cell pertussis or measles, mumps, and rubella vaccine. Barlow WE et al find no long-term adverse consequences from febrile seizures following administration of DTP and MMR vaccines. NEJM 2001;345(9):656-61. PubMed Abstract NEJM
Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autistic Spectrum Disorder: Report From the New Challenges in Childhood Immunizations Conference Convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000. Pediatrics 2001;107(5). Halsey, Neal A.; Hyman, Susan L. The writers of this report reviewed over 1,000 references in the medical literature and determined that the available research does not support the hypothesis that MMR vaccine causes autism, autism spectrum disorders or inflammatory bowel disease. A complete copy of this report is available in the online version of Pediatrics at http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/abstract/107/5/e84.
PubMed Abstract Institute of Medicine (IOM) Committee Rejects Causal Relationship Between Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autism Spectrum Disorder At a public briefing on April 23, 2001 the Institute of Medicine's (IOM) Committee on Immunization Safety Review released a report in which they conclude that the evidence favors rejection of a causal relationship between the measles-mumps-rubella (MMR) vaccine and autism spectrum disorder, commonly known as autism.
The full text of the report is available at http://www.iom.edu/report.asp?id=4715
Evidence shows genetics, not MMR vaccine, determines autism (AAP News December 1999) by Charles G. Prober, MD, FAAP.
No evidence for measles, mumps, and rubella vaccine-associated inflammatory bowel disease or autism in a 14-year prospective study. (Lancet 1998;351:1327-8) (5-02-98) This Finnish study shows details of the 31 children who developed gastrointestinal symptoms after approximately three million were vaccinated. Dr. Peltola et al, after more than 10 years following adverse events associated with MMR vaccine, found no data showing an association between MMR vaccine and developmental disorders or inflammatory bowel disease.
Mungkin sebelum mempercayai suatu pendapat, ada baiknya kita belajar banyak terlebih dahulu. Jangan percaya publikasi yang tidak jelas atau kurang dapat dipertanggungjawabkan. Pilihan imunisasi ada di tangan orangtua, dokter hanya mengarahkan. Bagaimana pun juga, imunisasi itu perlu persetujuan orangtua (informed consent), termasuk menyetujui risiko2 (bila ada) yang mungkin terjadi akibat imunisasi. Kedokteran memang mungkin bukan bidang anda, tapi sebagai konsumen yang baik, tentu anda punya rasa ingin tahu agar bisa berdiskusi dengan efektif dengan dokter anda sehingga hasil pengobatan dapat optimal.
Semoga membantu.
Endah
Pak Rudy, sebenarnya dukun anak dikau nggak perlu gitu sewotnya sama dikau selaku ortu anak, soal jadwal imunisasi on schedule itu kan masalah hasil study epidemiologis semata. Kalo anak dikau belon di vaksin, kan tinggal diusulkan untuk dilakukan semata. Mengajak konflik dengan ortu anak nggak ada manfaatnya :).
eddyJP
Personal ID: eddyjp@cbn.net.id
Ya begitulah Pak...
Kalau sebagian dokter "professor S " yang disebut dokter saya juga berpendapat bahwa ada pengaruhnya,...apalagi saya yang gak punya background kedokteran.
Anyway saya akan banyak belajar masalah ini..
RF
Saturday, April 8, 2006
Mohon Pencerahannya
Sharing ya Pak,
Trisemester I kehamilan saya dulu beberapa kali naik motor dan alhamdulillah ndak ada masalah Pak. Boleh dibilang selama hamil, saya termasuk yg ndablek dan kl temen2 blg sih "hamil kebo" he he he ...
Tapi kl diliat dr pengalaman beberapa teman2 saya, beberapa dr mereka tdk cukup kuat utk naik motor pada dan selama masa kehamilan ... Entah itu karna rahim yg lemah atau disebabkan hal lainnya ...
Saran saya, coba bpk periksakan ke DSOG dan mintai pendapat blio, apakah kondisi kehamilan Ibu memungkinkan untuk naik motor? Dan kl memang jarak yg ditempuh cukup jauh (Ciganjur - Kebayoran jauhhhhhhh lho pak), meskipun secara fisik kita kuat dan kehamilan pun nda ada masalah, menurut saya cukup beresiko lho :-) ... Kalaupun memang ndak bisa naik kendaraan umum lainnya (mungkin karna repot ataupun Ibu ndak kuat karna hamil muda), ya acara silahturahmi di tunda dulu sampai kondisi Ibu memungkinkan dan saya yakin mertua Bpk pasti memaklumi keadaannya ...
Kl buat saya sih, yang penting niat baik kita utk bersilahturahmi itu sdh ada di dalam hati dan terhambat karena keadaan diluar kuasa kita, Insya Allah niat baik itu sdh dicatat dan di ketahui oleh Allah SWT ... Saya yakin, semua hal yang baik akan berbuah kebaikan juga :-) ...
salam,
Lia
*maaf kl ada yg krg berkenan*
Subscribe to:
Posts (Atom)