Friday, August 21, 2009

Makan Bersama Membuat Keluarga Lebih Harmonis

Keluarga inti merupakan lembaga kecil, dari sanalah norma, etika, nilai-nilai dan kepribadian seseorang terbentuk. Namun ketika sebuah keluarga sudah tidak harmonis, hal-hal yang baik susah untuk diajarkan ke anak. Sebelum semuanya terjadi, usahakan membentuk kembali kegiatan yang menyenangkan bersama-sama dalam satu keluarga. Salah satunya dengan makan bersama. Acara makan bersama sudah mulai

Ulkus Dekubitus








DEFINISI

Ulkus Dekubitus (Luka akibat penekanan, Ulkus kulit, Bedsores) adalah kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips, pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka panjang.

Bagian tubuh yang sering mengalami ulkus dekubitus adalah bagian dimana terdapat penonjolan tulang, yaitu sikut, tumit, pinggul, pergelangan kaki, bahu, punggung dan kepala bagian belakang.

PENYEBAB

Kulit kaya akan pembuluh darah yang mengangkut oksigen ke seluruh lapisannya.
Jika aliran darah terputus lebih dari 2-3 jam, maka kulit akan mati, yang dimulai pada lapisan kulit paling atas (epidermis).

Penyebab dari berkurangnya aliran darah ke kulit adalah tekanan. Jika tekanan menyebabkan terputusnya aliran darah, maka kulit yang mengalami kekurangan oksigen pada mulanya akan tampak merah dan meradang lalu membentuk luka terbuka (ulkus).
Gerakan yang normal akan mengurangi tekanan sehingga darah akan terus mengalir. Kulit juga memiliki lapisan lemak yang berfungsi sebagai bantalan pelindung terhadap tekanan dari luar.

Resiko tinggi terjadinya ulkus dekubitus ditemukan pada:

1. Orang-orang yang tidak dapat bergerak (misalnya lumpuh, sangat lemah, dipasung)
2. Orang-orang yang tidak mampu merasakan nyeri, karena nyeri merupakan suatu tanda yang secara normal mendorong seseorang untuk bergerak.
Kerusakan saraf (misalnya akibat cedera, stroke, diabetes) dan koma bisa menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri.
3. Orang-orang yang mengalami kekurangan gizi (malnutrisi) tidak memiliki lapisan lemak sebagai pelindung dan kulitnya tidak mengalami pemulihan sempurna karena kekurangan zat-zat gizi yang penting.
Karena itu penderita malnutrisi juga memiliki resiko tinggi menderita ulkus dekubitus.
4. Gesekan dan kerusakan lainnya pada lapisan kulit paling luar bisa menyebabkan terbentuknya ulkus.
Baju yang terlalu besar atau terlalu kecil, kerutan pada seprei atau sepatu yang bergesekan dengan kulit bisa menyebabkan cedera pada kulit.
Pemaparan oleh kelembaban dalam jangka panjang (karena berkeringat, air kemih atau tinja) bisa merusak permukaan kulit dan memungkinkan terbentuknya ulkus.


GEJALA

Ulkus dekubitus kebanyakan menyebabkan nyeri dan gatal-gatal; tetapi jika terdapat gangguan pada indera perasa, ulkus yang dalampun tidak menimbulkan nyeri.

Ulkus dekubitus dikelompokkan ke dalam beberapa stadium:
# Stadium 1 : ulkus belum terbentuk seutuhnya

# Stadium 2 : kulit merah dan membengkak, seringkali disertai oleh pembentukan lepuhan, lapisan kulit paling atas mulai mati

# Stadium 3 : ulkus mulai timbul di kulit, menyusup ke lapisan kulit yang lebih dalam

# Stadium 4 : ulkus menembus kulit dan lemak, sampai ke otot
# Stadium 5 : terjadi kerusakan otot
# Stadium 6 : merupakan stadium ulkus yang paling dalam, dimana terjadi kerusakan tulang dan kadang terjadi infeksi tulang.

Jika kulit terluka atau robek maka akan timbul masalah baru, yaitu infeksi.
Infeksi memperlambat penyembuhan ulkus yang dangkal dan bisa berakibat fatal terhadap ulkus yang lebih dalam.

DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

PENGOBATAN

Mengobati ulkus dekubitus lebih sulit daripada mencegahnya.
Pada stadium awal, ulkus biasanya membaik dengan sendirinya setelah tekanan dihilangkan. Menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi protein dan kalori tambahan bisa mempercepat penyembuhan.

Jika kulit terluka sebaiknya ditutup dengan perban. Agar tidak melekat pada luka, gunakan perban yang dilapisi teflon atau mengandung jeli minyak.
Untuk ulkus yang lebih dalam, digunakan perban yang mengandung bahan yang menyerupai gelatin, yang bisa membantu pertumbuhan kulit yang baru.

Jika luka mengalami infeksi atau mengeluarkan nanah, sebaiknya dibersihkan dengan sabun atau gunakan cairan desinfektan (misalnya povidon-iodin).

Kadang dokter membuang bagian kulit yang mati dengan bantuan pisau bedah (debridemen).

Ulkus yang dalam sulit untuk diobati.
Kadang perlu dilakukan pencangkokan kulit sehat pada daerah yang mengalami kerusakan. Tetapi pencangkokan ini tidak selalu dapat dilakukan, terutama pda usia lanjut yang menderita malnutrisi.

Jika terjadi infeksi, diberikan antibiotik.
Jika tulang dibawahnya terinfeksi (osteomielitis) diberikan antibiotik jangkan panjang karena osteomielitis sulit disembuhkan dan bisa menyebar melalui aliran darah.

PENCEGAHAN

Ulkus dekubitus menyebabkan nyeri dan bisa berakibat fatal.
Ulkus juga menyebabkan masa perawatan di rumah sakit menjadi lebih panjang dan menghabiskan biaya lebih banyak.

Untuk mencegah terbentuknya ulkus bisa dilakukan beberapa tindakan berikut:
# Merubah posisi pasien yang tidak dapat bergerak sendiri, minimal setiap 2 jam sekali untuk mengurangi tekanan
# Melindungi bagian tubuh yang tulangnya menonjol dengan bahan-bahan yang lembut (misalnya bantal, bantalan busa)
# Mengkonsumsi makanan sehat dengan zat gizi yang seimbang
# Menjaga kebersihan kulit dan mengusahakan agar kulit tetap kering.

Jika pasen harus menjalani tirah baring dalam waktu yang lama, bisa digunakan kasur khusus, yaitu kasur yang diisi dengan air atau udara.

Sumber: m e d i c a s t o r e . c o m

Thursday, August 20, 2009

DEMAM DENGUE DAN DEMAM BERDARAH DENGUE

BATASAN

Demam Dengue (DD) dan Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh infeksi virus dengue.

ETIOLOGI
DD dan DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang mempunyai 4 serotipe yaitu den-1, den-2, den-3, dan den-4. Virus dengue serotipe den-3 merupakan serotipe yang dominan di Indonesia dan paling banyak berhubungan dengan kasus berat.

MANIFESTASI KLINIS
Infeksi virus dengue mempunyai spektrum klinis yang luas mulai dari asimptomatik (silent dengue infection), demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan demam berdarah dengue disertai syok (sindrom syok dengue, SSD).

Tabel 1. Manifestasi klinis infeksi virus dengue

Spektrum Klinis
Manifestasi Klinis
DD • Demam akut selama 2-7 hari, disertai dua atau lebih manifestasi berikut: nyeri kepala, nyeri retroorbita, mialgia, manifestasi perdarahan, dan leukopenia.
• Dapat disertai trombositopenia.
• Hari ke-3-5 ==> fase pemulihan (saat suhu turun), klinis membaik.
DBD • Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari disertai nyeri kepala, nyeri retroorbita, mialgia dan nyeri perut.
• Uji torniquet positif.
• Ruam kulit : petekiae, ekimosis, purpura.
• Perdarahan mukosa/saluran cerna/saluran kemih : epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri.
• Hepatomegali.
• Perembesan plasma: efusi pleura, efusi perikard, atau perembesan ke rongga peritoneal.
• Trombositopenia.
• Hemokonsentrasi.
• Hari ke 3-5 ==> fase kritis (saat suhu turun), perjalanan penyakit dapat berkembang menjadi syok
SSD • Manifestasi klinis seperti DBD, disertai kegagalan sirkulasi (syok).
• Gejala syok :
  • Anak gelisah, hingga terjadi penurunan kesadaran, sianosis.
  • Nafas cepat, nadi teraba lembut hingga tidak teraba.
  • Tekanan darah turun, tekanan nadi <>
  • Akral dingin, capillary refill turun.
  • Diuresis turun, hingga anuria.

Keterangan:

  • Manifestasi klinis nyeri perut, hepatomegali, dan perdarahan terutama perdarahan GIT lebih dominan pada DBD.
  • Perbedaan utama DBD dengan DD adalah pada DBD terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma yang mengakibatkan haemokonsentrasi, hipovolemia dan syok.
  • Uji torniquet positif : terdapat 10 - 20 atau lebih petekiae dalam diameter 2,8 cm (1 inchi).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah :

  • Pemeriksaan darah perifer: Hb, leukosit dan hitung jenis, hematokrit, dan trombosit.
  • Pada DBD berat/SSD : monitor hematokrit tiap 4-6 jam, trombosit, AGD, kadar elektrolit, ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, protein serum, PT dan APTT.

DIAGNOSIS

  • Diagnosis DD ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang sesuai tabel 1, dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda perembesan plasma (hemokonsentrasi, hipovolemia, dan syok).
  • Sedangkan diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis WHO sebagai berikut:
    1. Kriteria klinis
      • Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
      • Terdapat manifestasi perdarahan : uji torniquet positif, petekiae, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan atau melena.
      • Hepatomegali.
      • Syok
    2. Kriteri laboratoris
      • Trombositopenia (trombosit =100.000 mm3)
      • Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit =20% menurut standar umur dan jenis kelamin)

Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila memenuhi kriteria : 2 kriteria klinis pertama + trombositopenia dan hemokonsentrasi.

  • Pada DBD harus dinilai derajat penyakit, karena membutuhkan penatalaksanaan yang berbeda.


Tabel 2. Derajat penyakit DBD

Derajat Penyakit
Kriteria
DBD derajat I Demam disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji torniquet positif.
DBD derajat II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain.
DBD derajat III Terdapat kegagalan sirkulasi (nadi cepat dan lembut, tekanan nadi menurun ( <>
DBD derajat IV Syok berat (profound shock): nadi tidak dapat diraba, dan tekanan darah tidak dapat diukur.

KOMPLIKASI DBD
Pada DD tidak terdapat komplikasi berat namun anak dapat mengeluh lemah/lelah (fatigue) saat fase pemulihan. Komplikasi berat dapat terjadi pada DBD yaitu ensefalopati dengue, gagal ginjal akut, atau udem paru akut.

PENATALAKSANAAN

1. Demam Dengue

Medikamentosa:

  • Antipiretik (apabila diperlukan) : paracetamol 10 – 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari. Tidak dianjurkan pemberian asam asetilsalisilat/ibuprofen pada anak yang dicurigai DD/DBD.

Edukasi orang tua:

  • Anjurkan anak tirah baring selama masih demam.
  • Bila perlu, anjurkan kompres air hangat.
  • Perbanyak asupan cairan per oral: air putih, ASI, cairan elektrolit, jus buah, atau sup. Tidak ada larangan konsumsi makanan tertentu.
  • Monitor keadaan dan suhu anak dirumah, terutama selama 2 hari saat suhu turun. Pada fase demam, kita sulit membedakan antara DD dan DBD, sehingga orang tua perlu waspada.
  • Segera bawa anak ke rumah sakit bila : anak gelisah, lemas, muntah terus menerus, tidak sadar, tangan/kaki teraba dingin, atau timbul perdarahan.

2. Demam Berdarah Dengue

Fase demam

  • Prinsip tatalaksana DBD fase demam sama dengan tatalaksana DD.
  • Antipiretik: paracetamol 10 – 15 mg/kg BB/kali, 3 kali/hari.
  • Perbanyak asupan cairan oral.
  • Monitor keadaan anak (tanda-tanda syok) terutama selama 2 hari saat suhu turun. Monitor trombosit dan hematokrit secara berkala.

Penggantian volume plasma

  • Anak cenderung menjadi dehidrasi. Penggantian cairan sesuai status dehidrasi pasien dilanjutkan dengan terapi cairan rumatan.
  • Jenis cairan adalah kristaloid : RL, 5% glukosa dalam RL, atau NaCl.

Tabel 3. Kebutuhan cairan pada rehidrasi ringan-sedang

Berat Badan (Kg)
Jumlah Cairan
(ml/kg BB/hari)
<> 220
7 – 11 165
12 – 18 132
>18 88

Tabel 4. Kebutuhan cairan rumatan

Berat Badan (Kg)
Jumlah cairan (ml)
10 100 per kg BB
10 – 20 1000 + 50 x kg BB (untuk BB di atas 10 kg)
>20 1500 + 20 x kg BB (untuk BB di atas 20 kg)

Tabel 5. Kriteria rawat inap dan memulangkan pasien

Kriteria rawat inap
Kriteria memulangkan pasien
Ada kedaruratan:
• Syok
• Muntah terus menerus
• Kejang
• Kesadaran turun
• Muntah darah
• Berak hitam
Hematokrit cenderung meningkat setelah 2 kali pemeriksaan berturut-turut
Hemokonsentrasi (Ht meningkat = 20%)
Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
Nafsu makan membaik
Secara klinis tampak perbaikan
Hematokrit stabil
Tiga hari setelah syok teratasi
Trombosit > 50.000/uL
Tidak dijumpai distres pernafasan

Referensi
1. Demam Berdarah Dengue: Pelatihan bagi pelatih, dokter spesialis anak, dan dokter spesialis penyakit dalam, dalam tatalaksana kasus DBD. Balai Penerbit FKUI; Jakarta, 1999.
2. Dengue Haemorrhagic Fever: Diagnosis, treatment, prevention and control, second edition. WHO: 1997.

Algoritma 1. Diagnosis Demam Dengue dan DBD

Algoritma 2. Tatalaksana DBD Derajat II

Algoritma 3. Tatalaksana DBD Derajat III/IV atau SSD

Oleh : dr. Purnamawati

Atherosclerosis

Definition

Atherosclerosis is a condition in which fatty material collects along the walls of arteries. This fatty material thickens, hardens (forms calcium deposits), and may eventually block the arteries.

Atherosclerosis is a type of arteriosclerosis. The two terms are often used to mean the same thing.

Alternative Names

Arteriosclerosis; Hardening of the arteries; Plaque buildup - arteries

Causes, incidence, and risk factors

Atherosclerosis is a common disorder of the arteries. It occurs when fat, cholesterol, and other substances build up in the walls of arteries and form hard structures called plaques.

Eventually, the plaques can make the artery narrow and less flexible, making it harder for blood to flow. If the coronary arteries become narrow, blood flow to the heart can slow down or stop. This can cause chest pain (stable angina), shortness of breath, heart attack, and other symptoms.

Pieces of plaque can break off and move through the bloodstream (embolization). This is a common cause of heart attack and stroke. Blood clots can also form around a tear (fissure) in the plaque. Clots block blood flow. If the clot moves into an artery in the heart, lungs, or brain, it can cause a stroke, heart attack, or pulmonary embolism.

Risk factors for atherosclerosis include:

Atherosclerosis can affect many different organ systems, including the heart, lungs, brain, intestines, kidneys, and limbs (extremities).

Symptoms

Symptoms usually do not occur until blood flow becomes restricted or blocked.

See the specific condition for more details on symptoms:


Signs and tests

A health care provider will perform a physical exam and listen to the heart and lungs with a stethoscope. Atherosclerosis can create a whooshing or blowing sound ("bruit") over an artery.

Tests that may be used to diagnose atherosclerosis or its complications include:

Treatment

To help prevent atherosclerosis or its complications (such as heart disease and stroke), make the following lifestyle changes:

  • Avoid fatty foods. Eat well-balanced meals that are low in fat and cholesterol. Include several daily servings of fruits and vegetables. Adding fish to your diet at least twice a week may be helpful. However, do not eat fried fish.
  • Do not drink more than one or two alcoholic drinks a day.
  • Exercise regularly for 30 minutes a day if you are not overweight, and for 60 - 90 minutes a day if you are overweight.

Get your blood presure checked every 1 - 2 years, especially if high blood pressure runs in your family. Have your blood pressure checked more often if you have high blood pressure, heart disease, or you have had a stroke. Talk to your doctor.

  • Everyone should keep their blood pressure below 140/90 mmHg
  • If you have diabetes or have had a stroke or heart attack, your blood pressure should probably be less than 130/80 mm/Hg. Ask your doctor what your blood pressure should be.

Have your cholesterol checked and treated if it is high.

See: High cholesterol and triglycerides

  • Adults should have their cholesterol checked every 5 years. If you are being treated for high cholesterol, you will need to have it checked more often.
  • All adults should keep their LDL ("bad") cholesterol levels below 130-160 mg/dL.
  • If you have diabetes, heart disease, or hardening of the arteries somewhere else in your body, your LDL cholesterol should be lower than 100 mg/dL.
  • Few medications have been found to clear up plaque. Statins and other cholesterol-lowering drugs can help prevent more plaque from forming.

Your doctor may suggest taking aspirin or another drug called clopidogrel (Plavix) to help prevent blood clots from forming in your arteries. These medicines are called antiplatelet drugs. DO NOT take aspirin without first talking to your doctor.

Talk to your doctor about the safety of hormone replacement therapy for menopause.

Guidelines no longer recommend vitamins E or C, antioxidants, or folic acid to prevent heart disease.

A number of surgeries are performed to help prevent the complications of atherosclerosis. Some of these are:


Expectations (prognosis)

Everyone starts to develop some amount of atherosclerosis as they grow older. In some people, the condition can cause complications such as a heart attack or stroke.

Complications

Calling your health care provider

Call for an appointment with your health care provider if you are at risk for atherosclerosis, especially if you have symptoms.

Talk to your doctor before starting a new exercise plan, especially if you have been diagnosed with coronary heart disease or you have ever had a heart attack.

References

Goldstein LB. Prevention and management of stroke. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007: chap 58.

Fuster V. Atherosclerosis, thrombosis, and vascular biology. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 23rd ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2007: chap 69.

Mosca L, Banka CL, Benjamin EJ, et al. Evidence-Based Guidelines for Cardiovascular Disease Prevention in Women: 2007 Update. Circulation. 2007; 115: 1481-1501.


from : here