Showing posts with label Menyusui dan ASI. Show all posts
Showing posts with label Menyusui dan ASI. Show all posts

Monday, April 2, 2012

Perbedaan Gumoh dan Muntah

Dulu waktu anak saya berusia 1 bulan anak saya mengalami Gumoh yang pertama. Waktu itu saya bingung  dan panik karena saya kira itu muntah saat dia mengeluarkan cairan dari mulutnya. Pikiran saya langsung macam-macam, mengira anak saya kena penyakit apa. Ternyata kata ibu mertua saya itu cuma Gumoh. Maklum masih amatir dalam mengasuh anak, jadi gampang bingung dan panik kalau anak kita mengalami sesuatu.

Ha itu menjadi lebih jelas setelah saya membaca buku Panduan Pintar Merawat Bayi dan Anak oleh dr. Eveline (2009), disitu dijelaskan apa bedanya gumoh dan  muntah. Saya sharing disini untuk para orangtua muda yang masih awam dalam mengasuh anak, maupun untuk tambahan informasi bagi lainnya.


CARA MENYENDAWAKAN BAYI

Cara menyendawakan bayi itu gampang-gampang susah. Bagi orangtua baru bisa jadi   ini merupakan hal yang sulit, seperti yang dulu saya alami. Berikut ini saya berikan tips-tips untuk menyendawakan bayi (diambil dari lifestyle.okezone.com)
1.   1.  Letakkkan bayi di bahu.Posisikan satu tangan kita menopang antara leher dan kepala bayi,  tangan yang lain menahan pantat bayi. Pastikan agar dagu si kecil melewati bahu kita agar ia bisa bernapas. 

Jangan lupa letakkan kain atau sapu tangan di bahu kita untuk menjaga agar  kita tidak kotor akibat si kecil  gumoh. Tepuklah bagian punggung si kecil secara perlahan sampai ia benar-benar bersendawa. 

2.    2. Dudukkan bayi di atas pangkuan, letakkan ibu jari dan telunjuk satu tangan kita di dagu (bukan leher) kemudian tahan dagu si kecil  ke arah depan sehingga badannya agak condong ke depan. 

Posisi kaki lurus. Tangan kita yang lain menepuk punggung secara perlahan. Pastikan sampai terdengar suara sendawa. 
 

3.    3. Tahan/topang bayi dengan posisi satu tangan kita di bagian dada (ibu jari dan telunjuk menahan dagu) dan tangan lain di bagian punggung si kecil. Kemudian angkat si kecil perlahan sampai badannya teregang. 

Regangan ini dapat membantu mengeluarkan udara dari dalam perut. Cium kening bayi, hal ini dapat membuat kita dan bayi rileks. 


4.    4. Letakkan si kecil di atas pangkuan salah satu paha kita dengan posisi badan si kecil tengkurap menghadap ke bawah dan direntangkan di atas pangkuan. Biarkan kakinya bebas menjuntai ke bawah (diapit paha kita sisi berlawanan). Ibu jari dan telunjuk satu tangan kita menahan dagu si kecil, tangan kita yang lain menepuk halus punggungnya secara lembut. Pastikan ia bersendawa. 


5.   5.  Letakkan satu lengan kita di antara kedua kaki si kecil dengan menahan badannya (posisi seperti menunggang kuda). Kepala si kecil mengarah ke ujung tangan kita. Lengan kita sisi berlawanan memeluk si kecil sehingga posisi kepalanya bersandar di lengan kita. 

Pada posisi ini kedua telapak tangan kita saling bertemu. Cara ini sangat nyaman untuk si kecil dan aman untuk bayi yang rewel. 



6.   6.  Pegang kedua ketiak si kecil kemudian angkat badannya tinggi-tinggi dan tahan beberapa saat. Jangan menggoyang-goyangkan! Cukup mengangkat badannya saja maka bayi akan bersendawa dengan sendirinya. 

Itu adalah tips-tips untuk menyendawakan bayi. Kalau saya gaya favoritnya dulu yang pertama yaitu  meletakkan anak di bahu  sambil menepuk-nepuk punggungnya. Anda juga bisa menemukan gaya anda sendiri untuk menyendawakan bayi anda, yang penting bayi merasa nyaman dan dapat mengeluarkan sendawa untuk mengatasi masalah gumohnya.

Menyendawakan juga tidak hanya dapat dilakukan ibu saja, bapak juga dapat berperan serta membantu sehingga bayi merasa lebih aman, nyaman  dan masalahnya cepat teratasi. Semoga bermanfaat ya..



Wednesday, December 21, 2011

Pengalamanku Sukses ASI Eksklusif

Hari ini adalah HARI IBU, lho…BRAVO untuk semua ibu di seluruh Indonesia. Oleh karena itu pada hari ini saya ingin memposting ulang artikel saya yang sudah pernah dimuat di Squidoo tentang pengalamanku sukses ASI eksklusif. Semoga sharing pengalaman sukses ASI eksklusif  ini dapat memotivasi para ibu semua untuk mau memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita pada awal kehidupannya, yaitu ASI EKSKLUSIF. Tantangan yang saya hadapi untuk bisa sukses ASI eksklusif memang banyak, tapi tantangan ini bukan merupakan hambatan bagi saya, ini merupakan ujian fisik dan mental bagi saya untuk menilai sejauh mana rasa cinta saya pada Shifa anak saya dan komitmen saya untuk memberikan yang terbaik pada Shifa.

Awal Kelahiran

Sebenarnya saya sudah mempersiapkan untuk bisa melahirkan normal. Walaupun tidak kursus senam hamil reguler, suami saya sudah semangat membelikan beberapa VCD senam hamil untuk dicoba sendiri di rumah. Saat memasuki bulan ke-8 kehamilan,saya rajin setiap pagi jalan kaki keliling gang minimal 15 menit sehari,plus rajin ngepel sambil jongkok. Nenek saya juga sudah khusus mengirimkan Minyak Kelapa bikinan sendiri untuk diminum minimal 3 sendok seminggu. Pokok segala macam cara baik Medis maupun Tradisional yang katanya bisa melancarkan kelahiran sudah saya jalani.
Saat sudah 9 bulan, Dokter memperkirakan Hari Kelahiran adalah tanggal 12an.Tapi sampai mundur 1 minggu, anakku belum lahir juga. Padahal juga segala macam cara kita lsayakan,sampai pijet dan  minum jamu ”Sorog” dari Dukun Bayi dan mengunyah merica rela saya lsayakan,yang katanya bisa melancarkan kelahiran. Eh, bayiku masih anteng aja di dalam. Akhirnya waktu periksa lagi, Dokter mengambil keputusan untuk dipaksa lahir melalui Induksi, dan kalau terpaksa sekali melalui operasi Caesar.
Berhubung belum punya pengalaman melahirkan, saya tenang-tenang saja waktu udah masuk kamar Rumah Sakit untuk persiapan Induksi,karena belum ada rasa sakit sama sekali. Malah sebelumnya pagi-pagi jalan-jalan dengan suami ke Alun-alun dekat rumah sakit beli lontong opor.
Mulai diinduksi jam 8 pagi,obat induksi diberikannya lewat infus. Tadinya tidak terasa apa-apa,malah bisa tiduran sambil dengerin musik. Tapi kalau berbaring harus miring ke kiri,tidak boleh telentang. Setiap 15 menit dilsayakan pemeriksaan meliputi pengecekan infus dan detak jantung bayi. Saya sudah mulai merasa sakit melilit, hingga jam 12 siang tiba-tiba merasa ada sesuatu yang keluar melembung  dari bagian bawah, kemudian meletus menjadi cairan. Setelah diperiksa ternyata ketubanku sudah pecah. Tapi waktu diperiksa pembukaan baru 1 (paling ngeri waktu diperiksa pembukaan: Sakit!). Saya sebenarnya sudah putus asa, sementara infus sudah habis 1. Tapi suamiku memberi semangat, dia berharap dengan ketuban pecah, maka kelahiran mungkin sebentar lagi. Maka dipasanglah infus yang kedua. Sakit mulai saya rasakan, melilit-lilit sekali,ada yang bilang ini lebih sakit rasanya dari melahirkan normal. Tapi kenapa bayiku tidak mau bergerak sama sekali, hingga habis infus ke 2 jam setengah 8 malam. Jadi saya sudah menjalani induksi selama hampir 12 jam! Tidak ada jalan lain, terpaksa Operasi Caesar!
Operasi Caesar ternyata tidak menyeramkan yang selama ini diduga. Dokter dan stafnya malah santai, mengoperasi sambil ngajak cerita-cerita dan nyanyi! Mungkin juga supaya ibu yang dioperasi tidak tsayat dan tegang.  Saya masuk kamar operasi jam setengah 10 malam, jam 10an malam, anakku lahir, Alhamdulillah....

Tantangan Pertama : Di Rumah Sakit

Karena saya melahirkan Caesar, maka niat saya untuk melaksanakan Inisiasi Menyusui Dini tidak bisa dilakukan. Walaupun operasi dengan bius lokal, tapi karena malam hari, begitu lahir bayi langsung dibawa ke kamar bayi, sedang saya ke kamar rawat. Pagi-pagi baru bius lokalnya hilang. Jam 8 pagi bayi baru diserahkan kepada saya. Perawat bilang tadi malam belum diberi apa-apa, termasuk madu maupun susu formula, walaupun bayi sayi menangis terus, syukurlah...
Saya langsung coba untuk menyusui. Alhamdulillah saat itu sudah langsung keluar ASI, termasuk kolustrumnya.  Saya bersyukur bisa memberikan zat emas kolustrum yang mengandung zat kekebalan tinggi untuk bayiku. Ternyata memang benar-benar bermanfaat Perawatan Payudara yang rutin saya lsayakan sejak umur kandungan memasuki 8 bulan. Terbukti ASI bisa langsung keluar pada hari pertama melahirkan.
Tetapi karena awal menyusui, ASI yang keluar belum banyak, bahkan mungkin baru beberapa tetes setiap bayi menyusu. Bayiku jadi rewel dan sering menangis. Orang-orang mulai ribut memprovokasi untuk memberikan susu formula. Suami dan keluarga sebenarnya mendukung, hanya heran malah pihak Rumah Sakit yang ribut. Mungkin ini terkait dengan segi komersial, karena dalam paketan yang saya terima, diantaranya ada satu box susu formula untuk bayi umur 0-6 bulan ! Saya tetep kekeuh tidak mau anakku diberi susu formula, dan berusaha sering menyusui setiap dia menangis. Saya pernah baca literatur yang mengatakan bahwa awal kelahiran itu sebenarnya kantong pencernaan  bayi baru sebesar kelereng, jadi dengan beberapa tetes Kolostrum sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Selain itu bayi masih bisa bertahan selama 3 hari awal kehidupan bilapun terpaksa tidak diberi apa-apa, karena membawa cadangan selama masa di dalam kandungan. Akhirnya saya berhasil melampaui tantangan 4 hari pertama di rumah sakit sampai kemudian kami dibawa pulang ke rumah.

Tantangan kedua: Payudara Luka dan Sakit!

Pulang dari rumah sakit, kami putuskan untuk sementara ke rumah mertua dulu, tidak langsung balik ke rumah kontrakan. Kami menyadari bahwa kami belum punya pengalaman mengasuh anak, jadi masih butuh bantuan dan bimbingan dari orangtua. Masalah muncul ketika payudara saya mulai luka sampai berdarah setiap menyusui. Sakitnya menikam sampai bawah punggung. Kadang muncul perasaan putus asa dengan tekad saya memberikan ASI eksklusif. Pernah suatu ketika saya mogok tidak mau menyusui waktu bayi saya nangis karena kondisi yang parah dari payudara saya.Suami sampai bingung dan  hilang akal. Dia sudah membuka box susu formula dari paketan dan siap memberikan susu formula untuk anak saya. Melihat hal itu, timbul perasaan tidak rela kedudukan saya  digantikan oleh Sapi! Maka anak langsung saya pegang lagi, dan sayapun menyusui sambil berurai air mata menahan pedih di dada dan punggung.
Untung sakit itu tidak terlalalu lama. Setelah 2 minggu, Alhamdulillah payudara saya sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lidah bayi dan lambat-laun tidak merasakan sakit lagi.

Tantangan ketiga : Masuk Kerja

Setelah 2 bulan, selesailah masa cuti sehabis melahirkan dan saya harus masuk kerja lagi. Saya bertekad tetap memberikan ASI eksklusif untuk anak apapaun yang terjadi. Untung saya mendapat warisan beberapa botol kaca kecil dari sepupu suami yang juga sukses menjalankan ASI eksklusif. Maka saya mulai membaca-baca cara untuk memeras ASI. Alhamdulillah saat itu ASI saya sudah mulai lancar. Sebelum benar-benar masuk kerja saya setiap hari memeras untuk ditabung.
Pada saatnya saya berangkat sudah tersedia sekitar 10an botol ASI di freezer yang siap untuk diminumkan selama saya kerja. Rata-rata setiap hari Shifa saya tinggali 3-4 botol ASI. Ini juga tidak lepas dari kerjasama yang bagus dengan pengasuh Sifa. Saya bersyukur mempunyai pengasuh yang cekatan dan cepat tanggap dengan apa yang saya perintahkan. Dia juga mampu mengalihkan perhatian Sifa supaya tidak terfokus untuk minta minum terus. Jam 2an waktu pulang, biasanya payudara penuh, maka yang sebelah akan saya peras untuk cadangan esok, sedang yang sebelah saya minumkan. Demikian juga saat tidur, walaupun anakku tidak bisa lepas dari ”menthil” puting terus setiap tidur, saya punya trik supaya tida habis maka payudara sebelah saja yang diberikan, yang sebelah lagi untuk diperas paginya sebagai cadangan.

Tantangan Keempat : Ibu  Saya Masuk Rumah Sakit

Suatu sore, ada berita mengejutkan yang mengabarkan bahwa ibu saya masuk rumah sakit karena kecelakaan motor. Ibu sebagai pejalan kaki yang mau menyeberang ditabrak oleh pengendara kendaraan motor ugal-ugalan di depan rumah! Rumah saya memang pinggir jalan besar utama Jakarta-Semarang. Maka kamipun langsung pulang ke Kendal, termasuk dengan membawa Shifa. Ini perjalanan jauh pertama Shifa, umurnya waktu itu belum genap 3 bulan, dia harus menempuh perjalanan Purwokerto-Kendal. Alhamdulillah dia tidak nangis dan rewel. Ternyata ibu kondisi parah sampai koma, disamping patah kaki. Maka ibu kami rujuk ke Rumah Sakit Telogorejo di Semarang.
Saya bertekad untuk menunggui ibu. Maka kami lalu menyewa penginapan di dekat Rumah Sakit. Selama 10 hari saya dan Shifa menunggui Ibu di Rumah Sakit. Setiap pagi datang membezuk, sore atau malam baru pulang. Banyak juga yang menegur saya karena membawa anak kecil ke Rumah Sakit. Tapi saya tetap nekad demi ibu tercinta. Shifa seakan tahu dan pengertian. Walaupun berdekatan dengan orang sakit, tapi Shifa saat itu tidak pernah demam maupun sakit, sayapun Amazing dengan kekuatan anakku. Saya yakin ini adalah bukti keampuhan ASI eksklusif yang tetap saya berikan kepadanya.
Setelah 10 hari, saya dijemput oleh ibu mertua. Saya bersedia pulang karena mengira ibu kondisinya udah mulai membaik. Operasi kakinya sukses, tinggal terapi pemulihan. Tapi manusia tidak tahu rencana Allah. Selang 3 hari, saya mendapat kabar lagi kalau ibu Wafat ! Kamipun pulang lagi ke Kendal. Shifa sekali lagi menunjukkan kekebalan dan kekuatannya, dia tenang saja kami ajak mondar-mandir menempuh perjalanan jauh. Tetap ceria tanpa muntah atau demam. Terimakasih anakku sayang, kau adalah Pelita Ibu melampaui masa-masa terberat dalam hidup ibu. Saya sekarang yatim piatu, karena bapakpun sudah meninggal 6 tahun lalu.


Tantangan Kelima: Bulan Puasa

Saat bulan puasa ibu menyusui memang ada keringanan untuk tidak menjalankan puasa dan dapat menggantinya dengan puasa di lain waktu atau membayar Fidyah. Tapi suami saya memberikan motivasi yang kuat untuk tetap mencoba puasa. Kalau niat ibadah karena Allah, Insyaallah akan diberi kekuatan dan kemudahan,katanya. Memang saat hamilpun, waktu itu usia kehamilan 4 bulan, saya bisa lulus menjalankan puasa 30 hari penuh. Saat ini umur Shifa juga baru 4 bulan jalan,sekarangpun dengan mengucap Bismillah saya mencoba menjalankan puasa dengan tetap memberikan ASI eksklusif. Alhamdulillah, saya bisa menjalani dengan baik. Hanya bolong 1 kali  karena sehabis menempuh perjalanan jauh pulang menyelamati ibu di Kendal,  saya kasihan anak saya tidak cukup mendapat cairan sehingga saya membatalkan puasa dan minum sebanyak-banyaknya untuk anak saya. Dengan cukup makanan bergizi dan minum cairan sebanyak-banyaknya, saya juga masih bisa meninggali Shifa ASI perasan untuk diminumkan saat saya di tempat kerja.
Saya senang sekali dapat merayakan lebaran pertama bersama suami dan anak saya dengan predikat lulus puasa dan tetap ASI eksklusif!

Bulan Ke-6: Lulus!

Rasanya puas dan bangga tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, saat Shifa merayakan Ulbul (Ulang Bulan)nya yang ke-6, dan saya lulus memberinya ASI Eksklusif. Ketika saya pasang status di Facebook tentang hal ini, ucapan selamat mengalir dari teman-teman saya. Di kantor saya kebetulan ada 2 orang yang hamil dan melahirkan hampir bersamaan dengan saya, dan saya satu-satunya yang sukses memberikan ASI Eksklusif selama 6 bulan penuh!Alhamdulillah...


Sampai saat ini sudah 1 tahun 8 bulan, Shifa tetap suka menyusu ASI, Insyaallah sampai 2 tahun saya akan memberikan ASI untuk Shifa.  Dia malah tidak menyukai susu formula pabrikan, malah seperti eneg dan mau muntah kalau dipaksa minum, mungkin karena kadar lemak dalam susu formula yang lebih tinggi dibanding ASI. Untuk memenuhi kebutuhan kalsiumnya saya siasati dengan sumber kalsium lain yang dia suka yaitu Yoghurt dan susu kedele, dia sangat suka meminumnya. Alhamdulillah Shifa tetap sehat dan gemuk. Kecerdasannya juga meningkat pesat akhir-akhir ini terutama kemampuan verbal dan daya kreatifnya.

Terimakasih ya.. Allah..Kau beri hamba kemampuan dan kemauan untuk memberikan ASI eksklusif pada putri hamba tercinta. Demikian pengalaman saya. Kalau Bunda semuanya punya pengalaman yang sama, silakan menulis di kotak komentar ya...**

 Note: thanks untuk budhenya Shifa (mbak Titik) di Jakarta yang mensupport dan memberi kasih sayang tak terhingga untuk keponakannya.

Cara Menyimpan dan Memberikan ASI Peras

Pada Postingan sebelumnya saya sudah membagi pengalaman saya tentang Pengalamanku Sukses ASI Eksklusif dan bagaimana cara memeras Air Susu Ibu (ASI) menggunakan tangan, sekarang saya akan membagi pengalaman bagaimana menyimpan dan menggunakan ASI yang sudah diperas.

ASI yang sudah diperas harus disimpan dengan benar, agar terjaga kualitas dan keamanannya. Saat ini dipasaran sudah banyak dijual kantong khusus untuk menyimpan ASI. Tapi saya punya tempat khusus yang murah dan praktis untuk menyimpan ASI peras.

Saya menyimpan ASI dalam botol kaca, yang merupakan bekas minuman Vitamin C warisan dari sepupu suami saya  . Dia sudah sukses menjalankan ASI eksklusif. Pada waktu ibu mertua saya pergi ke Jakarta dan berkunjung ke rumahnya, pulangnya bawa oleh-oleh untuk saya yaitu botol-botol kaca untuk menyimpan ASI.

Botol kaca  ini terbukti aman dan efektif untuk menyimpan ASI karena botol kaca akan lebih dapat melindungi ASI yang disimpan di almari es, terutama bagian freezer tanpa membuat ASI membeku menjadi es.

 Berikut langkah-langkahnya agar penyimpanan aman dan tahan lama :
  1. Sterilkan botol dengan merebusnya dalam air mendidih selama 5 menit. Perebusan juga dilakukan setiap botol selesai dicuci dan siap digunakan
  2. Masukkan ASI dalam botol untuk sekali minum :80-100 cc. ASI yang sudah dituang dari botol harus dihabiskan, oleh karena itu porsinya untuk sekali minum saja, supaya tidak terbuang percuma.
  3. Beri label dan tulis tanggal pemerahan pada botol
  4. Masukkan botol pada Freezer almari pendingin. ASI yang disimpan dalam suhu ruang tahan 8 jam. Disimpan dalam almari pendingin di bagian freezer tahan 2 minggu, sedangkan di  bagian pintu tahan 1-2 hari. Kalu punya kotak khusus freezer saja ASI bisa disimpan sampai 6 bulan,lho.

Cara Memberikan ASI

  1. Botol yang mau kita pergunakan besok, malamnya kita ambil dan letakkan di pintu almari. Ambil botol dengan label yang ditulis tanggal paling lama (first in first out). Untuk satu hari kerja jam 8-14 biasanya saya mempersipkan 3-4 botol, dengan frekuensi minum 1.5-2 jam sekali. Apabila jam kerja lebih lama berarti botol yang harus disiapkan lebih banyak.
  2. Paginya botol-botol diambil dan dicairkan dengan merendamnya dalam wadah yang diisi air hangat.
 Untuk pemberiannya kepada bayi, sebenarnya dianjurkan menggunakan cangkir khusus bayi dan menghindari dot, agar tidak mengalami Bingung puting susu. Awalnya saya berusaha mematuhi, pemberiannya dengan cangkir dan sendok. Tapi kemudian bayi saya nangis dan rewel, terutama saat ditinggal kerja, akibatnya ASI hanya sedikit yang mau diminumnya Akhirnya saya memutuskan menggunakan dot untuk memberikan ASI Alhamdulillah  Shifa tidak bingung puting susu. Saat saya dirumah Shifa saya berikan ASI secara langsung dari payudara dan dia masih kuat mau menyusu.  Demikian saya lakukan sampai Shifa lulus ASI eksklusif 6 bulan.


Bahkan sampai sekarang dia sudah 1 tahun 8 bulan masih tetap saya susui, rencana nanti mau sampai lulus 2 tahun. Shifapun masih semangat kalau menyusu. Menyusu baginya adalah kegembiraan dan pelipur segala kesedihan. Apabila dia sakit atau jatuh saat sedang mainan, menyusu akan membuatnya nyaman dan tenang sehingga tidak rewel lagi. ASI memang segalanya....***

Tertarik dengan artikel ini ? Baca artikel lainnya di DAFTAR ISI artikel gizi kesehatan.






.



















Thursday, November 24, 2011

Cara Memeras ASI Menggunakan Tangan

Sebelumnya saya sudah berbagi Pengalamanku Sukses ASI Eksklusif. Cara memeras ASI menggunakan tangan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri pada saat memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan untuk Sifaku. Cara memeras ASI menggunakan tangan sebenarnya tidak sulit asal kita telaten dan konsisten melakukannya.Keuntungan cara memeras ASI menggunakan tangan adalah kita dapat sekaligus memijat bagian-bagian di sekitar payudara yang mengalami bendungan ASI atau istilah jawanya “mrongkol”. Cara memeras ASI menggunakan tangan juga dapat menghasilkan ASI dalam jumlah yang lumayan asal kita tahu tekniknya. Berikut akan saya bagi teknik-teknik cara memeras ASI menggunakan tangan yang saya lakukan :

  1. Kompres payudara dengan air hangat
  2. Pijat dan usap-usap payudara ke arah puting
  3. Ujung puting diputar-putar dan ditarik dengan gerakan seperti mulut bayi. Nanti akan terasa ada gerakan ”Shuut” seperti itu di dalam payudara, tanda ASI sudah mengalir ke bawah, siap dikeluarkan
  4. Mulai memijat dengan posisi tangan membentuk huruf C, yaitu ibu jari diatas dan telunjuk di bawah. Lakukan gerakan C memutari puting.
  5. Ingat posisi jari harus di pinggir areola, yaitu bagian payudara yang agak kehitaman. Ada yang menyatakan kalau bagian yang putih itu pabrik,sedang bagian yang coklat(areola) itu gudangnya. Agar pabrik memproduksi lagi gudang harus dikosongkan. Jadi kita harus sering-sering mengeluarkan/memeras ASI agar produksi dapat kontinyu.
  6. Tampung ASI yang kita peroleh dalam cangkir bermulut lebar. Untuk selanjutnya kita masukkan dalam botol kaca. Hati-hati, beberapa jam meninggalkan rumah, seperti pulang kerja, biasanya ASI memancar deras seperti semburan dari kran, oleh karena itu diperlukan wadah yang lebih lebar supaya ASI tidak terbuang percuma.
g.                  Simpan ASI
h.                  ASI yang disimpan dalam suhu ruang tahan 8 jam. Disimpan dalam almari pendingin di bagian freezer tahan 2 minggu, sedangkan di  bagian pintu tahan 1-2 hari. Kalu punya kotak khusus freezer saja ASI bisa disimpan sampai 6 bulan.




Friday, October 28, 2011

Bayi Afrika yang Lapar itu Disusui oleh Salma Hayek

Salma Hayek termasuk artis Hollywood papan atas. Filmnya yang pernah saya tonton dan paling berkesan bagi saya adalah Desperado,dimana dia bermain dengan Antonio Banderas. Ternyata walaupun Salma Hayek seorang artis terkenal,dia adalah seorang artis yang sangat baik hati dan peduli pada sesama, terutama kesehatan anak. Sudah pernah mendengar Salma Hayek menyusui bayi afrika yang lapar?Ini benar-benar sebuah Motivation Story bagi para ibu untuk menyusui anak-anaknya.

Duta Vaksin Tetanus

Salma Hayek adalah Duta UNICEF untuk program vaksinasi Tetanus. Dia berkunjung ke Sierra Leone Afrika yang merupakan kota terbanyak kasus kematian  bayi dan balita di dunia. Satu dari 5 balita, meninggal sebelum  merayakan ulang tahunnya yang ke-5, dan Tetanus adalah merupakan penyebab kematian tertinggi, mencapai 21 %.

Sebenarnya kematian tersebut dapat dicegah dengan rutin melakukan Vaksinasi Tetanus. UNICEF menargetkan penghapusan Tetanus pada tahun 2012. Di Sierra Leone harga satu kali imunisasi Tetanus adalah 72 sen. Targetnya adalah bagi para wanita hamil,sekali ibu diimunisasi maka akan melindungi bayinya saat lahir.

Salma Hayek datang ke Sierra Leone pada tahun 2008. Dia ingin kedatangannya bukan dianggap sebagai artis, tapi sebagai manusia yang peduli pada kemanusiaan. Cynthia McFadden ikut bersamanya untuk mendokumentasikan perjalanannya.

“ Sangat menyenangkan bagi saya, mendukung konsep bahwa semua ibu di dunia melindungi anak-anaknya,” kata Salma yang dilansir oleh daily mail.co.uk.

Menyusui Bayi yang Lapar

Begitu sampai di Sierra Leone,dia langsung menuju menuju rumah sakit di pusat kota. Disana dia melihat contoh nyata kematian tetanus, dimana bayi yang baru berusia 7 hari, bernama Fatima, meninggal karena tetanus.

Saat itu dia melihat seorang ibu yang sedang duduk bersedih karena tidak mampu memberikan ASI untuk bayi laki-lakinya yang gizi  buruk.

Tanpa ragu Salma Hayek menggendong bayi tersebut dan kemudian tanpa diduga dia menyusui bayi tersebut tanpa malu. Padahal saat itu dia sedang dikelilingi oleh beberapa crew American news network ABC yang meliput perjalanannya.

“Saya baru saja menyapih anak saya Valentina, tapi saya masih cukup punya ASI, sedang dia sangat lapar,”katanya santai, kemudian dia berkata dengan terharu
”Sangat menggetarkan bagi saya, karena dia dari tadi melihat ke saya dan dia sangat kecil…..”


Inspirasi Nenek
Salma mengatakan kalau dia terinspirasi kisah neneknya. Neneknya itu tinggal di pedesaan. Suatu hari dia menemukan seorang wanita di pinggir jalan yang menangis dan bayinya juga menangis. Neneknya bertanya pada wanita itu, ”Ada apa?”
Wanita itu menjawab, ” Anakku sangat..sangat lapar..tapi aku tidak punya ASI lagi...”
Maka nenek Salma tanpa ragu langsung menyusui bayi tersebut di pinggir jalan, hingga bayi tersebut berhenti menangis dan tertidur lelap. Salam sangat terkesan dan terinspirasi dengan cerita tersebut.

Ketika cerita Salma Hayek yang menyusui bayi Afrika tersebut tersebar di Amerika, masyarakat disana banyak yang pro dan kontra. Bahkan ada yang mengatakan kalau Salma tidak loyal pada anaknya karena membagi ASInya pada bayi asing.

”Apakah saya dianggap tidak loyal dengan anak saya? Tentu tidak, anak saya malah bangga ASI miliknya dibagi untuk bayi yang membutuhkan. Ketika dewasa nanti, saya ingin memastikan dia akan meneruskan tradisi untuk selalu berbagi dan menjadi orang yang dermawan.”katanya mantap.

Wow..sebuah cerita yang sangat inspirasi sekali ya, semoga cerita ini mempertebal motivasi para ibu untuk selalu memperhatikan kesehatan anak dan semangat memberikan ASI bagi bayi-bayinya tanpa malu dan ragu sedikitpun!

Sumber : http://abcnews.go.com, http://www.dailymail.co.uk and others.

Update : Sekedar pernyataan bahwa ini benar-benar merupakan tulisan saya sendiri yang saya rangkum dan terjemahkan dengan susah payah dari berbagai sumber, apabila melihat di Google tulisan yang sama (judul sama, gambar, konten plek sama ampai membuat saya shock!) tapi ada di blog lain (absoluterevo.wordpress.com  kamu harus minta ijin dulu padaku!) itu cuma menjiplak saja secara kejam tanpa ada konfirmasi apapun! Semoga yang punya blog insyaf karena tindakan menjiplak dengan menggunakan Robot autoblog itu membuat blog kita tidak berkah karena itu sama saja dengan tindakan mencuri konten!!

SUKA DENGAN ARTIKEL INI ?
Lihat entry terbaru lainnya di blog ini