![]() |
| sumber: dari sini |
Yang perlu diketahui mengenai virus HPV:
- Penyakit Menular Seksual (PMS). PMS merupakan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dengan salah satu gejalanya adalah keputihan terus menerus. PMS yang cukup sering dijumpai antara lain sifilis, gonore, herpes simpleks, HIV-AIDS, kutil kelamin, dan terutama virus HPV. Berganti-ganti lebih dari satu partner seks akan meningkatkan risiko penularan penyakit kelamin, termasuk virus HPV.
- Berhubungan seksual pertama kali di usia terlalu muda (kurang dari 16 tahun). Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun
- Memiliki banyak anak (lebih dari 5 orang). Saat dilahirkan, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks.
- Wanita berusia lebih dari 40 tahun
- Merokok merupakan penyebab penting terjadinya kanker leher rahim jenis karsinoma sel skuamosa. Faktor risiko meningkat 2 kali dengan risiko tertinggi didapatkan pada orang yang merokok dalam jangka waktu lama dengan intensitas yang tinggi (jumlah yang banyak)
- Imunosupresif atau kekebalan tubuh yang rendah, kurangnya konsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat. Pada wanita imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) seperti transplantasi ginjal dan HIV, dapat mengakselerasi (mempercepat) pertumbuhan sel kanker dari noninvasif menjadi invasif (tidak ganas menjadi ganas)
- Tidak melakukan Pap Smear secara rutin. Pap Smear merupakan pemeriksaan sederhana yang dapat mengenali kelainan pada serviks. Dengan rutin melakukan papsmear, kelainan pada serviks akan semakin cepat diketahui sehingga memberikan hasil pengobatan semakin baik.
- Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina.
- Nyeri ketika berhubungan seksual
- Perdarahan setelah berhubungan seksual yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
- Timbulnya perdarahan setelah masa menopause
- Dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.
- Anemia bila terjadi perdarahan kronis.
- Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
- Badan menjadi kurus kering karena kurang gizi
- Edema (bengkak) kaki
- Sakit di otot bagian paha
- Timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum)
- Terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal
- Gejala-gejala akibat metastasis jauh
Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.
Stadium berdasarkan FIGO :
- Stadium IA. Kanker invasive didiagnosis melalui mikroskopik (menggunakan mikroskop), dengan penyebaran sel tumor mencapai lapisan stroma tidak lebih dari kedalaman 5 mm dan lebar 7 mm
- Stadium IA1. Invasi lapisan stroma sedalam 3 mm atau kurang dengan lebar 7 mm atau kurang
- Stadim IA2. Invasi stroma antara 3- 5 mm dalamnya dan dengan lebar 7 mm atau kurang
- Stadium IB. Tumor yang terlihat hanya terdapat pada leher rahim atau dengan pemeriksaan mikroskop lebih dalam dari 5 mm dengan lebar 7 mm
- Stadium IB1. Tumor yang terlihat sepanjang 4 cm atau kurang
- Stadium IB2. Tumor yang terlihat lebih panjang dari 4 cm
- Stadium IIA. Kanker tidak melibatkan jaringan penyambung (parametrium) sekitar rahim, namun melibatkan 2/3 bagian atas vagina
- Stadium IIB. Kanker melibatkan parametrium namun tidak melibatkan dinding samping panggul
- Stadium IIIA. Kanker melibatkan 1/3 bagian bawah vagina namun tidak meluas sampai dinding panggul
- Stadium IIIB. Kanker meluas sampai dinding samping vagina yang menyebabkan gangguan berkemih sehingga berakibat gangguan ginjal
- Stadium IVA. Kanker menyebar ke kandung kemih atau rectum
- Stadium IVB. Kanker menyebar ke organ yang jauh
Tindakan pengobatan atau terapi sangat bergantung pada stadium kanker serviks saat didiagnosis. Dikenal beberapa tindakan (modalitas) dalam tata laksana kanker serviks antara lain: (16)
- Tindakan bedah (surgical treatment).
- Radioterapi
- Kemoterapi
- Terapi paliatif (supportive care) yang lebih difokuskan pada peningkatan kualitas hidup pasien. Contohnya: makan makanan yang mengandung nutrisi, pengontrol sakit (pain control).
2. Rutin melakukan screening berupa pap smear atau IVA untuk deteksi kanker serviks secara dini.
3. Vaksinasi HPV
- Vaksinasi dapat diberikan mulai remaja putri berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual.
- Vaksinasi diberikan sebanyak tiga kali: Bulan 0, 1 atau 2, dan bulan 6.
Referensi:
http://www.kankerserviks.com/
http://kankerserviks.org/
http://jurug.blogspot.com/2010/03/tanda-tanda-kanker-serviks-kanker-leher.html
http://www.infokedokteran.com/referat-kedokteran/obstetry-and-ginecology/kanker-leher-rahim-penyebab-kematian-terbesar-pada-wanita.html
disusun ulang oleh: Viba Rosfanty Taufan

