Showing posts with label Onkologi. Show all posts
Showing posts with label Onkologi. Show all posts

Tuesday, September 13, 2011

Ca Cervix / Kanker Serviks

Beberapa saat yang lalu ada salah satu kerabat yang meninggal lantaran mengidap kanker serviks tahap lanjut. Menurut info yang didapat, sudah dua tahun yang lalu ketika almarhumah didiagnosa kanker serviks tahap awal. 

Sebegitu mengerikannya kah penyakit ini??

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun di dunia terdapat 500.000 kasus baru kanker serviks. Separuh dari jumlah tersebut, yaitu 250.000 kasus, berakhir dengan kematian dan hampir 80 persen terjadi di negara berpendapatan rendah.
Di Indonesia, lebih dari 70 persen kasus kanker serviks ditemukan saat sudah stadium lanjut (di atas 2B), dengan kejadian setiap satu jam seorang perempuan meninggal.

Menurut www.kankerserviks.com, kanker leher rahim ini merupakan kanker nomor satu di indonesia. Ada sekitar 40-45 wanita yang terdiagnosa setiap harinya dan 20-25 meninggal karenanya dan sekitar 270.000 wanita yang meninggal tiap tahunnya.



Jadi... Apa dan bagaimana Kanker Serviks atau Kanker Mulut Rahim itu?

Definisi




sumber: dari sini
Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim). Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).
Perubahan ini biasanya memakan waktu beberapa tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Oleh sebab itu sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi apabila terjadi perubahan pada sel serviks melalui skrining (papsmear atau IVA) dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks.

Etiologi
Human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks. 


Yang perlu diketahui mengenai virus HPV:

   - HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual.
   - Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual.
   - HPV dapat bertahan dalam suhu panas.


Faktor Resiko
  • Penyakit Menular Seksual (PMS). PMS merupakan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dengan salah satu gejalanya adalah keputihan terus menerus. PMS yang cukup sering dijumpai antara lain sifilis, gonore, herpes simpleks, HIV-AIDS, kutil kelamin, dan terutama virus HPV. Berganti-ganti lebih dari satu partner seks akan meningkatkan risiko penularan penyakit kelamin, termasuk virus HPV.
  • Berhubungan seksual pertama kali di usia terlalu muda (kurang dari 16 tahun). Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun
  • Memiliki banyak anak (lebih dari 5 orang). Saat dilahirkan, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks. 
  • Wanita berusia lebih dari 40 tahun
  • Merokok merupakan penyebab penting terjadinya kanker leher rahim jenis karsinoma sel skuamosa. Faktor risiko meningkat 2 kali dengan risiko tertinggi didapatkan pada orang yang merokok dalam jangka waktu lama dengan intensitas yang tinggi (jumlah yang banyak)
  • Imunosupresif atau kekebalan tubuh yang rendah, kurangnya konsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat. Pada wanita imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) seperti transplantasi ginjal dan HIV, dapat mengakselerasi (mempercepat) pertumbuhan sel kanker dari noninvasif menjadi invasif (tidak ganas menjadi ganas)
  • Tidak melakukan Pap Smear secara rutin. Pap Smear merupakan pemeriksaan sederhana yang dapat mengenali kelainan pada serviks. Dengan rutin melakukan papsmear, kelainan pada serviks akan semakin cepat diketahui sehingga memberikan hasil pengobatan semakin baik.


Tidak seperti kanker pada umumnya, faktor genetik tidak terlalu berperan dalam terjadinya kanker serviks. Ini tidak berarti Anda yang memiliki keluarga bebas kanker serviks dapat merasa aman dari ancaman kanker serviks. Anda dianjurkan tetap melindungi diri Anda terhadap kanker serviks.


Gejala dan Tanda
Pada fase prakanker 
Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala atau tanda-tanda, namun jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal . 
Kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut : 
  • Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. 
  • Nyeri ketika berhubungan seksual
  • Perdarahan setelah berhubungan seksual yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal. 
  • Timbulnya perdarahan setelah masa menopause
Pada fase invasif 
  • Dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah. 
  • Anemia bila terjadi perdarahan kronis. 
  • Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
Pada stadium lanjut
  • Badan menjadi kurus kering karena kurang gizi
  • Edema (bengkak) kaki
  • Sakit di otot bagian paha
  • Timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum)
  • Terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal
  • Gejala-gejala akibat metastasis jauh
Penularan
Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.
Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.

Cara mendeteksinya / Screening
Penting dilakukan pada perempuan yang pernah berhubungan seksual
Pap smear
Pemeriksaan pap smear memiliki berbagai kelebihan: biaya murah, waktu cepat dan hasil akurat. Tes ini dapat dilakukan kapan saja kecuali saat masa haid atau menstruasi; setidaknya satu tahun sekali. Pemeriksaan dilakukan di atas meja periksa kandungan oleh dokter/bidan yang sudah terlatih dengan menggunakan spekulum untuk membantu membuka alat kelamin wanita. Setelah vagina terbuka, bagian leher rahim diusap dengan spatula secara melingkar untuk mengambil contoh sel endoserviks. Kemudian hasil usapan tersebut diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui apakah ada sel abnormal, infeksi atau radang. Melakukan pap smear secara teratur dapat mengurangi risiko kematian akibat kanker serviks.







IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat) 
Caranya dengan mengoleskan larutan asam asetat 3%-5% ke leher rahim, kemudian mengamati apakah ada perubahan warna, misalnya muncul bercak putih. Jika ada, berarti kemungkinan terdapat infeksi pada serviks dan harus dilakukan pemeriksaaan lanjutan.



Kolposkopi
Pemeriksaan kolposkopi merupakan pemeriksaan standar bila ditemukan hasil pap smear yang abnormal.
Pemeriksaan dengan kolposkop, merupakan pemeriksaan dengan pembesaran untuk melihat kelainan epitel serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Pemeriksaan kolposkopi tidak hanya terbatas pada serviks, tetapi meliputi vulva dan vagina.
Prosedurnya sama dengan pap smear, tenaga medis dapat melihat lebih dekat dengan alat kolposkop sehingga dapat memberikan saran pengobatan atau terapi atau tindak lanjut apa yang perlu dilakukan.

Biopsi
Pengambilan contoh jaringan (biopsi) kadang perlu dilakukan untuk diagnosa lebih lanjut, atau kadang serviks yang abnormal justru diterapi saat biopsi.
Apabila Anda merasa khawatir atau membutuhkan informasi lain, konsultasikan kepada Dokter atau pusat pelayanan kesehatan untuk informasi lebih lanjut.

Thin prep 
Merupakan metode berbasis cairan yang lebih akurat dari pap smear, karena pap smear hanya mengambil sebagian sel dari leher rahim, sedangkan thin prep memeriksa seluruh bagian serviks. Sampel yang diambil dari leher rahim dimasukkan ke dalam vial / botol yang berisi cairan, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Di lab, sampel tersebut dijadikan slide dan diberi pewarna khusus agar lebih jelas. Membran khusus digunakan untuk membuat preparat dengan irisan tipis, yang akan memperlihatkan infeksi atau jaringan abnormal. Tingkat akurasi metode ini hampir mencapai 100%.

Teknologi Hybrid Capture II System (HCII)

Stadium Kanker Serviks
International of Gynecology and Obstetrics (FIGO) staging system digunakan untuk evaluasi dan diagnosis dari kanker leher rahim berdasarkan gejala yang terjadi.

Stadium berdasarkan FIGO :
Stadium I. Kanker leher rahim hanya terdapat pada daerah leher rahim (serviks)
  • Stadium IA. Kanker invasive didiagnosis melalui mikroskopik (menggunakan mikroskop), dengan penyebaran sel tumor mencapai lapisan stroma tidak lebih dari kedalaman 5 mm dan lebar 7 mm
  • Stadium IA1. Invasi lapisan stroma sedalam 3 mm atau kurang dengan lebar 7 mm atau kurang
  • Stadim IA2. Invasi stroma antara 3- 5 mm dalamnya dan dengan lebar 7 mm atau kurang
  • Stadium IB. Tumor yang terlihat hanya terdapat pada leher rahim atau dengan pemeriksaan mikroskop lebih dalam dari 5 mm dengan lebar 7 mm
  • Stadium IB1. Tumor yang terlihat sepanjang 4 cm atau kurang
  • Stadium IB2. Tumor yang terlihat lebih panjang dari 4 cm
Stadium II. Kanker meluas keluar dari leher rahim namun tidak mencapai dinding panggul. Penyebaran melibatkan vagina 2/3 bagian atas.
  • Stadium IIA. Kanker tidak melibatkan jaringan penyambung (parametrium) sekitar rahim, namun melibatkan 2/3 bagian atas vagina
  • Stadium IIB. Kanker melibatkan parametrium namun tidak melibatkan dinding samping panggul
Stadium III. Kanker meluas sampai ke dinding samping panggul dan melibatkan 1/3 vagina bagian bawah. Stadium III mencakup kanker yang menghambat proses berkemih sehingga menyebabkan timbunan air seni di ginjal dan berakibat gangguan ginjal
  • Stadium IIIA. Kanker melibatkan 1/3 bagian bawah vagina namun tidak meluas sampai dinding panggul
  • Stadium IIIB. Kanker meluas sampai dinding samping vagina yang menyebabkan gangguan berkemih sehingga berakibat gangguan ginjal
Stadium IV. Tumor menyebar sampai ke kandung kemih atau rectum, atau meluas melampaui panggul
  • Stadium IVA. Kanker menyebar ke kandung kemih atau rectum
  • Stadium IVB. Kanker menyebar ke organ yang jauh
Sumber : dari sini
Sumber : dari sini
Terapi
Penanganan dan pengobatan kanker serviks tergantung pada pemeriksaan klinis oleh dokter. Penentuan stadium dan besarnya kanker, juga gejala-gejala yang menyertai akan menentukan jenis penanganan terbaik terhadap kasus tersebut.
Tindakan pengobatan atau terapi sangat bergantung pada stadium kanker serviks saat didiagnosis. Dikenal beberapa tindakan (modalitas) dalam tata laksana kanker serviks antara lain: (16)
  • Tindakan bedah (surgical treatment).
  • Radioterapi
  • Kemoterapi
  • Terapi paliatif (supportive care) yang lebih difokuskan pada peningkatan kualitas hidup pasien. Contohnya: makan makanan yang mengandung nutrisi, pengontrol sakit (pain control).
Jika Anda sudah dideteksi menderita kanker serviks, jangan khawatir. Sekarang ini sudah ada sejumlah metode untuk mengobati kanker serviks. Pada stadium awal, pengobatan kanker serviks dilakukan dengan cara menyingkirkan bagian yang sudah terkena kanker. Misalnya dengan pembedahan listrik, laser atau cyrosurgery (membekukan dan membuang jaringan abnormal).
Untuk pengobatan kanker serviks stadium lanjut, dilakukan terapi kemoterapi dan radioterapi. Pada stadium akhir atau kasus yang parah maka terpaksa dilakukan histerektomi, yaitu bedah pengangkatan rahim (uterus) secara total agar sel-sel kanker yang sudah berkembang dalam kandungan tidak menyebar ke bagian lain dalam tubuh.

Pencegahan
Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara :
1. Menjauhi/mencegah faktor resiko
2. Rutin melakukan screening berupa pap smear atau IVA untuk deteksi kanker serviks secara dini.
3. Vaksinasi HPV
  • Vaksinasi dapat diberikan mulai remaja putri berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. 
  • Vaksinasi diberikan sebanyak tiga kali: Bulan 0, 1 atau 2, dan bulan 6.

Monday, September 14, 2009

MENGENAL CIRI-CIRI KANKER

Mengenal ciri-ciri sel Kanker, sebagai bekal dalam mengkaji potensi chemopreventive suatu senyawa anti tumor
Kajian potensi anti kanker dari bahan alam telah banyak dilaksanakan oleh berbagai pusat penelitian, laboratorium, dan perguruan tinggi dari seluruh penjuru dunia. Secara metodologis analisa yang digunakan sangat beragam dan berkembang dari waktu ke waktu. Walau demikian, sebagian besar jenis analisis yang digunakan untuk menguji potensi anti kanker suatu senyawa tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk mengetahui jalur molekuler dalam meniadakan atau meminimalisir tanda-tanda atau karakter dari sel kanker ( The Hallmark of cancer ). Sebelum kita mendesain suatu penelitian pengujian potensi anti-tumor suatu senyawa, maka ada baiknya kita mengenal dulu apa yang dimaksudkan sebagai “The Hallmark of cancer”. Apa dan bagaimana ciri suatu sel dikatakan sebagai sel kanker ? dengan demikian selanjutnya kita bisa merancang jenis uji atau analisis yang bisa digunakan sesuai dengan tujuan penelitian, akhirnya kita bisa mendapatkan hasil yang kita harapkan bersama yaitu : mengetahui jalur mana potensi anti tumor suatu senyawa ini bekerja. Dari sini kita bisa menguji selanjutnya dan selanjutnya danselanjutnya yang pada akhirnya senyawa ini bisa digunakan sebagai agen chemopreventive dalam penatalaksanakan klinis kanker di masa yang akan datang.

The six hallmark of cancer ( 6 Karakter sel kanker) (Pecorino, 2005) adalah sebagai berikut ini :
1. Growth signal autonomy :
  • Sel normal memerlukan sinyal eksternal untuk pertumbuhan dan pembelahannya
  • Sel kanker mampu memproduksi growth factors dan growth factor receptors sendiri.
  • Dalam proliferasinya sel kanker tidak tergantung pada sinyal pertumbuhan normal.
  • Mutasi yang dimilikinya memungkinkan sel kanker untuk memperpendek Growth Factor pathways .
2. Evasion Growth inhibitory signals :
  • Sel normal merespon sinyal penghambatan pertumbuhan untuk mencapai homeostasis. Jadi ada waktu tertentu bagi sel normal untuk proliferasi dan istirahat.
  • Sel kanker tidak mengenal dan tidak merespon sinyal penghambatan pertumbuhan.
  • Keadaan ini banyak disebabkan adanya mutasi pada beberapa gen (proto-onkogen) pada sel kanker.
3. Evasion of Apoptosis Signals :
  • Sel normal akan dikurangi jumlahnya dengan mekanisme apoptosis, bila ada kerusakan DNA yang tidak bisa lagi direparasi.
  • Sel kanker tidak peka terhadap sinyal apoptosis (padahal sel kanker membawa acumulative DNA error yang sifatnya irreversible)
  • Kegagalan sel kanker dalam merespon sinyal apoptosis lebih disebabkan karena mutasinya gen-gen regulator apoptosis dan gen-gen sinyal apoptosis.
4. Unlimited replicative potential :
  • Sel normal mengenal dan mampu menghentikan pembelahan selnya bila sudah mencapai jumlah tertentu dan mencapai pendewasaan. Pengitungan jumlah sel ini ditentukan oleh pemendekan telomere pada kromosom yang akan berlangsung setiap ada replikasi DNA.
  • Sel kanker memiliki mekanisme tertentu untuk tetap menjaga telomere tetap panjang, hingga memungkinkan untuk tetap membelah diri.
  • Kecacatan dalam regulasi pemendekan telomere inilah yang memungkinkan sel kanker memiliki unlimited replicative potential.
hmc-telmr1
Gambar 1 : Perbandingan relatif panjang telomer pada sel normal, sel kanker, germ cell, dan stem cell (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)
hmc-respn-telomer
Gambar 2. Respon seluler terhadap pemendekan telomer. Gambar menunjukan respon sel normal yang memiliki kemampuan intact dengan cell-cycle checkpoints dan sel kehilangan kemampuan intact dengan cell-cycle checkpoints (Vong & Collins , Lancet 362 :983, 2003 cit Kumar, Abbas & Foustro, 2005)
5. Angiogenesis (formation of blood vessels) :
  • Sel normal memiliki ketergantungan terhadap pembuluh darah untuk mendapatkan suplay oksigen dan nutrient yang diperlukan untuk hidup. Namun, arsitektur pembuluh darah sel normal lebih seherhana atau konstan sampai dengan sel itu dewasa.
  • Sel kanker mampu menginduksi angiogenesis, yaitu pertumbuhan pembuluh darah baru di sekitar jaringan kanker. Pembentukan pembuluh darah baru ini diperlukan untuk survival sel kanker dan ekspansi ke bagian lain dari tubuh (metastase).
  • Kecacatan pada pengaturan keseimbangan induser angiogenik dan inhibitornya dapat mengaktifkan angiogenic switch.
6. Invasion and metastasis :
  • Normal sel memiki kepatuhan untuk tidak berpindah ke lokasi lain di dalam tubuh.
  • Perpindahan sel kanker dari lokasi primernya ke lokasi sekunder atau tertiernya merupakan faktor utama adanya kematian yang disebabkan karena kanker
  • Mutasi memungkinkan peningkatan aktivitas ensim-ensim yang terlibat invasi sel kanker (MMPs)
  • Mutasi juga memungkinkan berkurangnya atau hilangnya adesi antar sel oleh molekul-molekul adisi sel, meningkatnya attachment, degragasi dan migrasi ( gambar 1 dan 2 berikut ini )
hmc-invas-1
Gambar 3 . Hilangnya intercellular junctions (adesi antar sel / antar molekul adesi) dan meningkatnya daya attachment sel kanker ke membrana basalis memacu invasi dan metastase (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)
hmc-invasi
Gambar 4 . meningkatnya kemampuan degradasi matriks ekstra seluler memacu migrasi , invasi dan metastase (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)
hmc-metastasis
Gambar 5. Proses metastase sel kanker , dimulai dari transformasi clonal, metastasic sub clone, intravasasi sampai dengan pertumbuhan jaringantumor di daerah yang baru. (Kumar, Abbas & Foustro, 2005)
Pada percobaan in vitro , perbedaan karakter antara sel normal dan kanker adalah sebagai berikut :
• Sel normal akan tumbuh sebagai selapis sel (monolayer) jika dibiakan dalam petridish, semua ini karena adanya kepekaan terhadap contact inhibition dengan sel-sel tetangganya (bila sel normal sudah menyentuh sel tetangganya maka pertumbuhannya akan berhenti).
• Transformed cells (sel kanker) memiliki fenotipe sebagai berikut :
o Tumbuh terus tanpa mengenal contact inhibitory signals, tumbuh menumpuk ke atas bukan sebgai monolayer.
o Dapat tumbuh dalam kondisi minim serum (serum / FBS (fetal bovine seru) berisi banyak Growth factor, sel kanker mampu memenuhi kebutuhan Growth factors sendiri.
o Morfologi sel kanker lebih membulat dengan inti yang relatif lebih besar (karena aktif membelah).
Selain dari hal-hal diatas masih terkait dengan ciri sel kanker yang penting adalah TSA ( Tumor spesific Antigen ) dan TAA ( Tumor Associated Antigen).
1. TSA (Tumor spesific Antigen) adalah :
a. Tissue-spesific shared antigen.
b. Antigen Resulting from mutation
c. Viral antigen (untuk malignansi yang berkaitan denganinfeksi viral onkogenik).
2. TAA (Tumor associated Antigen) adalah :
a. Tissue specific antigen (Misal MUC-1 spesifik pada adenokarsinoma kolon).
b. Over expressed antigen
c. Onco-fetal antigen (misal CEA
d. Differentiations antigen.
Semoga apa yang kami tulis secara singkat ini bisa bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi para pemula pemerhati chemo-preventive research . Selamat belajar, meneliti dan semoga sukses karena hasil-hasil temuan anda akan bermanfaat bagi para penderita kanker di seluruh dunia.
Referensi :
1. Vinay Kumar, Abbul K. Abas, Nelson Foustro, 2005, Pathology Bassic of Dissease, Elsevier Inc., International ed.
2. Lauren Pecorino, 2005, Molecular Biology of Cancer mechanism, target, and therapeutics, Oxford University Pers.

Ditulis : Dyah Ratna Budiani
(mahasiswa S3 Bioteknologi, UGM/
Pengajar bagian Patologi Anatomi, FK UNS )

sumber: http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/

Pengetahuan Umum Seputar Kanker, Dari Definisi Hingga Terapi

Definisi

Kanker adalah istilah umum untuk pertumbuhan sel tidak normal. (yaitu, tumbuh sangat cepat, tidak terkontrol, dan tidak berirama) yang dapat menyusup ke jaringan tubuh normal dan menekan jaringan tubuh normal sehingga mempengaruhi fungsi tubuh. Kanker bukan merupakan penyakit yang menular.
Istilah tumor tidak sama dengan kanker. Tumor adalah istilah umum untuk setiap benjolan abnormal. Sedangkan kanker adalah tumor yang bersifat ganas.
Kanker = tumor yang ganas

Epidemiologi

Di dunia, diperkirakan 7,6juta orang meninggal akibat kanker pada tahun 2005 (WHO,2005) dan 84 juta orang akan meninggal hingga 10 tahun ke depan. Kanker merupakan penyebab kematian no.6 di Indonesia (depkes,2003), dan diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per tahunnya.



Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi angka kejadian kanker adalah : geografis (misal kanker serviks lebih banyak di negara asia), suku bangsa, variasi genetik, jenis kelamin (misal kanker payudara lebih banyak pada wanita), dan pengaruh lingkungan (makanan, pola hidup).



1. Induksi : ada perubahan sel (displasia)
2. Kanker in situ : pertumbuhan kanker terbatas pada jaringan tempat asalnya tumbuh
3. Kanker invasif : sel kanker telah menembus membran basal dan masuk ke jaringan atau organ sekitar yang berdekatan
4. Metastasis : Penyebaran kanker ke kelenjar getah bening dan atau organ lain yang letaknya jauh (misal kanker usus besar menyebar ke hati). Penyebaran ini dapat melalui aliran darah, aliran getah bening, atau langsung dari tumor

Penyebab Kanker

Kanker terjadi karena kerusakan struktur genetik yang menyebabkan pertumbuhan sel menjadi tidak terkontrol. Beberapa penyebab kerusakan gen yaitu :
1. Kelainan genetik / bawaan (± 5%)
2. Karsinogen (zat penyebab kanker)
- merupakan sebagian besar penyebab kanker
- jenis : virus (misal Human papillomavirus penyebab kanker mulut rahim), zat kimia (misal asap rokok menyebabkan kanker paru), sinar radiasi (radiasi ultraviolet pada saat terik dapat menyebabkan kanker kulit), dll
3. Pengaruh lingkungan hidup

Gejala Umum Kanker

Gejala kanker yang muncul tergantung dari jenis, tempat, dan stadium kanker. Gejala kanker pada umumnya adalah sebagai berikut :
• Pembengkakan pada organ tubuh yang terkena (misal ada benjolan di payudara, di perut, dsb)
• Terjadi perubahan warna (misal perubahan warna tahi lalat)
• Demam kronis
• Terjadinya batuk kronis (terutama kanker paru) atau perubahan suara (pada kanker di leher)
• Terjadinya perubahan pada sistem pencernaan/ kandung kemih (misal perubahan pola BAB, BAB berdarah,dsb)
• Penurunan nafsu makan dan berat badan
• Keluarnya cairan atau darah tidak normal (misal keluar cairan abnormal dari puting payudara)
• Dll

Komplikasi Kanker

Dilihat dari penyebabnya, komplikasi akibat kanker dibagi menjadi 3, yaitu :

  1. Akibat langsung kanker (misal, sumbatan saluran cerna pada kanker usus, patah tulang pada kanker tulang, dsb)
  2. Akibat tidak langsung (misal, demam, penurunan berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh, dsb)
  3. Akibat pengobatan (misal pembengkakan akibat sumbatan kelenjar getah bening pada radiasi kanker payudara; gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi)


Diagnosis

Diagnosis kanker berdasarkan :
- Gejala yang dirasakan pasien
- Temuan pada pemeriksaan fisik
- Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap pertanda tumor
- Pemeriksaan radiologi : Rontgen, CT-Scan,. MRI, USG
- Diagnosis pasti adalah melalui pemeriksaan patologi anatomi

Stadium

Untuk menetukan stadium, umumnya suatu kanker diklasifikasikan dulu menurut sistem TNM (Tumor, Node, Metastase) :

  • Tumor : besar atau luas tumor asal (Tis = tumor belum menyebar ke jaringan sekitar; T1-4 = ukuran tumor)
  • Node : penyebaran kanker ke kelenjar getah bening (N0 = tidak menyebar ke kelenjar getah bening; N1-3 = derajat penyebaran)
  • Metastase : ada / tidaknya penyebaran ke organ jauh (M0 = tidak ada / M1 = ada)

Tujuan klasifikasi TNM adalah untuk perencanaan pengobatan, menentukan prognosis (perkiraan kemungkinan membaik/sembuh), evaluasi hasil pengobatan, dan juga untuk pertukaran informasi antar pusat pengobatan kanker (untuk rujukan).
Sehingga terdapat stadium kanker I, II, III dan IV, stadium I dan II disebut juga stadium dini, sedangkan stadium III-IV disebut juga lokal lanjut atau stadium IV disebut juga stadium lanjut atau telah bermetastasis.

Pengobatan Kanker :

Jenis pengobatan kanker adalah sebagai berikut :
• Bedah
• Radiasi
• Kemoterapi
• Terapi biologi
• Kombinasi
Jenis pengobatan yang dipilih tergantung dari jenis, lokasi, dan stadium kanker, kondisi fisik pasien, pilihan pasien, dan ketersediaan sarana. Pengobatan kanker pada stadium lanjut sangat sukar dan hasilnya sering tidak memuaskan. Sebaliknya, jika ditemukan pada stadium dini, maka umumnya kanker dapat disembuhkan.
Sebagai tolak ukur keberhasilan pengobatan kanker umumnya adalah 5 year survival (ketahanan hidup 5 tahun).

Faktor Risiko Umum Kanker

Faktor risiko adalah hal yang membuat seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan suatu penyakit. Beberapa faktor risiko ada yang bisa diubah dan tidak. Faktor risiko umum kanker meliputi usia, jenis kelamin, riwayat kanker dalam keluarga, pola hidup, dan lingkungan. Seseorang yang mempunyai faktor risiko, tidak berarti orang tersebut pasti akan menderita kanker, hanya saja terdapat peningkatan kemungkinan terkena kanker.

Beberapa faktor risiko utama kanker yaitu :

  • Usia : Semakin tua usia seseorang, maka semakin meiningkat risiko terjadinya kanker. Umumnya kanker mulai muncul setelah usia 65 tahun. Namun anak-anak juga dapat menderita kanker.
  • Tembakau : Menggunakan produk tembakau, termasuk merokok, meningkatkan risiko kanker pada umumnya. Brehenti merokok (walau pada orang yang sudah merokok selama beberapa tahun) akan menurunkan risiko kanker dibanding orang yang terus merokok.
  • Sinar matahari : radiasi ultraviolet menyebabkan kerusakan kulit yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit. Sinar matahari di saat tidak terik sangat baik untuk pembentukkan vitamin D, namun di saat terik, pajanan ultraviolet bersifat merugikan. Dianjurkan untuk menghindari pajanan sinar matahari di saat terik dan menggunakan proteksi (misal pakaian tertutup atau sunblock)
  • Radiasi pengion : Jenis radiasi ini adalah radioaktif dari lingkungan, gas radon, dan sinar rongten. Prosedur medis yang menggunakan sinar radiasi adalah rontgen dan radioterapi. Risiko kanker dari sinar rontgen / sinar-x dosis rendah, sangat kecil. Radiasi dari radioterapi lebih besar. Namun begitu, dokter telah mempertimbangkan bahwa keuntungan penggunaan sinar radiasi tentu melebihi risikonya.
  • Zat kimia : Orang dengan pekerjaan tertentu dapat mengalami peningkatan risiko kanker, misalnya pekerjaan yang berhubungan dengan cat, pekerja konstruksi yang menggunakan zat kimia (misal asbes, benzena, kadmium, atau vinil klorida). Untuk mengurangi pajanan, harus diperhatikan prinsip keselamatan kerja dan penggunaan alat pelindung diri yang memadai.
  • Hormon : hormon estrogen dapat meningkatkan risiko kanker payudara
  • Riwayat kanker dalam keluarga
  • Alkohol : Konsumsi alkohol sebanyak 2 gelas atau lebih per hari dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker mulut, kerongkongan, hati, dan payudara. Risiko kanker tersebut akan meningkat lagi bila disertai merokok.
  • Pola makan yang tidak sehat, aktivitas fisik kurang, dan berat badan berlebih. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa pola makan tinggi lemak meningkatkan risiko terjadinya kanker usus besar, rahim, dan payudara. Kurangnya aktivitas fisik dan berat badan berlebih meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara, usus besar, tenggorokan, ginjal, dan rahim.
  • Virus dan bakteri :
    • Human papillomavirus (HPV) : merupakn penyebab utama kanker mulut rahim, dan juga merupakan faktor risiko untuk kanker lainnya.
    • Virus Hepatitis B dan C : dapat menyebabkan kanker hati beberapa tahun setelah terinfeksi virus ini.
    • Human T-Cell Leukemia/Lymphoma Virus : orang yang terinfeksi virus ini akan meningkatkan risiko terkena limfoma atau leekemia (keganasan darah)
    • Human Immunodeficiency Virus (HIV) : infeksi HIV menyebabkan penyakit AIDS. Orang yang terinfeksi HIV memiliki risiko tinggi kanker tertentu, misalnya limfoma dan yang lebih jarang, sarkoma Kaposi.
    • Eipstein-Barr virus (EBV) : infeksi HBV dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya limfoma
    • Human Herpes virus8 (HHV8) : infeksi virus ini meningkatkan risiko terjadinya sarkoma Kaposi.
    • Helicobacter pylori : infeksi bakteri ini menyebabkan luka di lambung dan dapat meningkatkan risiko terkena kanker lambung dan limfoma di sekitar lambung.

Berikut beberapa faktor risiko utama untuk kanker tertentu :
  • Kanker paru, mulut, tenggorokan, kandung kemih, ginjal, mulut rahim, dan pankreas : merokok, menggunakan produk tembakau (termasuk mengunyah tembakau). Merokok itu sendiri menyebabkan sepertiga kematian karena kanker.
  • Kanker kulit : pajanan terhadap sinar matahari yang menyengat (pada saat terik) tanpa proteksi.
  • Kanker payudara : usia (risiko kanker semakin meningkat dengan bertambahnya usia); perubahan kadar hormon sepanjang hidup, seperti usia menstruasi yang lebih muda, banyaknya kehamilan, dan usia saat menopause; kegemukan; dan aktivitas fisik. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan konsumsi alkohol dengan meningkatnya risiko kanker payudara. Selain itu juga riwayat kanker payudara pada ibu atau saudara perempuannya merupakan faktor risiko.
  • Kanker prostat : Usia lanjut, ras (Amerika-Afrika), diet tinggi lemak,dan juga riwayat kanker prostat pada ayah atau saudara laki-lakinya.
  • Secara keseluruhan, faktor lingkungan, termasuk konsumsi tembakau (merokok), pola makan, penyakit infeksi, zat kimia, dan radiasi menyebabkan sekitar 75% kanker di Ameirka Serikat. Di antara faktor risiko tersebut, konsumsi tembakau, pola makan yang tidak sehat, dan aktivitas fisik merupakan yang tersering dikaitkan dengan risiko kanker.

Pencegahan Kanker

Menurut WHO, diperkirakan lebih dari 40% dari seluruh kanker dapat dicegah. Ketimpangan negara maju dan berkembang adalah dalam hal pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan.

Pencegahan kanker bersifat umum dan khusus.
  • Pencegahan umum meliputi promosi kesehatan (misal pola hidup dan makan yang sehat, menghindari bahan karsinogen) dan deteksi dini
  • Pencegahan khusus adalah upaya pencegahan terhadap suatu jenis kanker tertentu. Misalnya vaksin Hepatitis B untuk mencegah kanker hati; vaksin HPV pada wanita usia 9-26 tahun untuk mencegah kanker leher rahim; dsb.



sumber: dari sini