Showing posts with label imunisasi. Show all posts
Showing posts with label imunisasi. Show all posts

Thursday, July 12, 2012

Sekarang Tak Perlu Ragu Imunisasi !


Para ibu seharusnya tahu bahwa imunisasi dapat mencegah berbagai macam penyakit yang hendak menyerang balitanya. Karena faktanya banyak penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jadi imunasasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh para ibu agar bayi kebal ari berbagai macam penyakit.

Karena itu jangan ragu untuk membawa anak balita anda ke rumah sakit, puskesmas ataupun posyandu untuk melakukan imunisasi.

Beberapa kuman penyakit memang telah mampu ‘diusir’ dari muka bumi sehingga tak lagi menjangkiti manusia, namun demikian anak-anak tetap harus di imunisasi. Hal ini karena tidak semua kuman dapat di usir (dieradikasi), seperti kuman penyakit penyebab tuberculosis misalnya.

Di Indonesia, kuman TBC termasuk sebagai kuman yang menempati peringkat tertinggi yang menyerang anak-anak dan orang dewasa. Oleh karena itu bayi kita wajib mendapatkan imunisasi atau vaksinasi sebelum berusia 3 bulan, demikian pula dengan vaksinasi untuk kuman penyakit Hepatitis B yang harus diberikan sebelum bayi berusia tujuh hari.

Hingga kini banyak orangtua yang belum memahami secara benar bahwa beberapa imunisasi harus diberikan secara berulang, lengkap dan tuntas. Pengulangan ini dimaksudkan agar kekebalan bayi terhadap penyakit tertentu dapat maksimal. Pengulangan imunisasi biasanya dilakukan setelah bayi berumur satu tahun, tetapi ada beberapa vaksin yang tak perlu diulang seperti vaksin BCG

Beberapa vaksin yang harus diulang pemberiannya adalah vaksin hepatitis B yang diberikan 3 kali pada saat anak masih bayi. Vaksin DPT harus diulang pada usia 1 tahun 6 bulan, 5 tahun dan 10 tahun.
Imunisasi campak dapat diul ng dengan MMR (campak gondong dan campak jerman) enam bulan setelah mendapatkan imunisasi campak. Imunisasi ini bisa juga diberikan pada saat anak berusia enam atau tujuh tahun (anak masuk sekolah dasar).

Demikian juga dengan vaksin polio yang harus diulang bersamaan dengan pemberian vaksin DPT sampai usia anak mencapai 5 tahun. “ Jika vaksin terlambat diberikan hingga usia anak melewati 5 tahun, maka vaksinasi ulangan yang diberikan bukan DPT melainkan vaksin TD yang berisi vaksin Difteri yang kandungannya lebih rendah daripada yang diberikan semasa bayi, hal ini untuk mengurangi gejala samping,” ujar Dr. Hindra Irawan Satari Sp.S (K), Dokter Spesialis Anak, Konsultan Penyakit Infeksi dan Pediatri Tropis RS Pondok Indah Jakarta

Saat ini banyak vaksin lain yang beredar di Indonesia seperti Rotavirus, Influenza, cacar air (Varisela), Hemofilus influenza tipe B (HiB), Pnemokokus (PCV), Hepatitis A, Tifoid, Human Papiloma virus (HPV) dan Meningokokus.

Vaksin kekebalan terhadap beberapa kuman penyakit sesungguhnya bisa diproduksi secara alami oleh tubuh, namun untuk mendapatkan kekebalan tersebut, manusia harus terserang kuman penyakit. Nah, pemberian vaksin dimaksudkan untuk mendapatkan kekebalan tubuh tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu

Berbagai pendapat yang keliru tentang imunisasi di berbagai saluran media massa belakangan ini dipandang akan mengganggu kemajuan program imunisasi di Indonesia. Saat ini, cakupan imunisasi di Indonesia baru mencapai 74 persen, padahal tahun 2014 ditargetkan 100 persen.

Imunisasi, menurut dokter spesialis anak dan konsultan, dr.Badriul Hegar, telah terbukti secara sahih dan ilmiah dapat mencegah penyakit-penyakit infeksi.

Pemberian imunisasi juga sudah diamanatkan dalam Undang-undang RI No.36 tahun 2009. Selain itu, Konvensi Hak Anak yang sudah diratifikasi Indonesia tahun 1990 juga sudah mencantumkan imunisasi sebagai bagian dalam mensejahterakan anak.

“Mengapa harus ragu dengan imunisasi?, bukti-bukti ilmiah sudah banyak yang membuktikan efektivitasnya. Malah fakta menunjukkan banyak sekali wabah terjadi karena cakupan imunisasi yang rendah,” kata Badriul, dalam acara seminar media yang diadakan dalam rangka Simposium Imunisasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) ke-3 di Jakarta, Selasa (10/7/2012).

Badriul juga mengkritisi tindakan sejumlah pihak yang mencoba menyebarkan informasi keliru tentang imunisasi.

“Kalau masih ragu dengan imunisasi dan didukung bukti ilmiah, mungkin memang perlu dikaji kembali kebijakan imunisasi selama ini. Tapi jika tidak bisa dipertanggung jawabkan, itu namanya menentang program imunisasi. Seharusnya ada sanksinya,” paparnya.

Dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia itu menegaskan bahwa menghalangi imunisasi sama saja dengan menempatkan anak pada lingkungan yang mengancam jiwa.
“Pandangan yang keliru tentang imunisasi ini membuat keresahan di masyarakat dan ketidaknyamanan praktisi kesehatan dalam menjalankan tugasnya,” imbuhnya.

Karena itu dalam upaya pemeliharaan kesehatan anak orangtua seharusnya lebih dicerdaskan lagi. “Masih banyak anak Indonesia meninggal karena penyakit yang seharusnya tidak perlu terjadi,” katanya.

Yang perlu diiangat dan hal yang cukup penting adalah, pemberian vaksin harus dilakukan sesuai usia, agar efek perlindungan yang terjadi menjadi semakin tinggi, jadi jangan lupa imunisasi ya bu!

Sumber : kompas.health.com & wihans.info

Tuesday, January 24, 2012

Lemahnya Vaksin Kekebalan Tubuh Pada Anak

Vaksin tertentu tidak dapat bekerja dengan baik pada anak yang telah terkena tingkat tinggi senyawa perfluorinated (PFC), sebuah keluarga bahan kimia yang digunakan untuk membuat segalanya dari kantong popcorn microwave dan kotak pizza untuk karpet dan peralatan masak antilengket, penelitian baru menunjukkan.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan minggu ini dalam Journal of American Medical Association, peneliti menemukan bahwa semakin tinggi tingkat PFC dalam darah anak, anak lebih sedikit antibodi diproduksi setelah menerima vaksin untuk difteri dan tetanus. Selain itu, anak-anak dengan paparan PFC lebih tinggi lebih mungkin dibandingkan teman sebaya mereka untuk memiliki tingkat antibodi terlalu rendah untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit-penyakit menular.

"Sistem kekebalan tubuh lebih lamban ketika anak-anak yang divaksinasi," kata penulis utama Philippe Grandjean, MD, seorang profesor kesehatan lingkungan di Harvard School of Public Health, di Boston. "Ini tidak merespon juga ... dan menghasilkan antibodi kurang."

Jumlah antibodi yang dihasilkan oleh vaksin merupakan indikasi dari fungsi sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan, sehingga temuan ini menunjukkan bahwa PFC mungkin memiliki efek negatif pada sistem kekebalan tubuh yang melampaui kedua vaksin, para peneliti mengatakan.
Link terkait:
Mitos dan Fakta Tentang Vaksin
12 Vaksin Anak Kebutuhan Anda
11 Hal Ini untuk Beli Organik Terbaik

Meskipun para ahli belum mengidentifikasi semua cara yang PFC memasuki tubuh, makanan yang terkontaminasi dan air minum dan produk konsumen yang mengandung bahan kimia yang diyakini menjadi sumber utama paparan PFC.

Penelitian pada hewan telah menghubungkan paparan PFC untuk perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh. Untuk menentukan apakah bahan kimia dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia juga, Grandjean dan timnya mengambil sampel darah dari 587 wanita hamil antara tahun 1999 dan 2001 dan diuji sampel selama lima PFC umum. Kemudian, ketika anak perempuan berumur 5 tahun, mereka mengulangi proses dengan menggunakan sampel darah dari anak-anak.

Para peneliti juga mengukur kadar antibodi difteri dan tetanus dalam darah anak-anak pada dua titik waktu: pada usia 5, setelah anak-anak telah menerima tiga dosis vaksin tetanus difteri dan, dan pada usia 7, dua tahun setelah mereka menerima penguat ditembak.

Tingginya tingkat pranatal dua PFC dikaitkan dengan memiliki antibodi yang lebih sedikit pada usia 5. Demikian juga, anak-anak yang darahnya mengungkapkan paparan lebih tinggi pada usia 5 PFC memiliki antibodi lebih sedikit pada usia 7. Sebuah paparan 5-tahun PFC yang adalah dua kali lipat dari yang lain 5-tahun-tua bisa diharapkan untuk memiliki kira-kira setengah sebagai antibodi banyak pada usia 7, perkiraan studi.

Temuan ini meningkatkan kemungkinan bahwa pejabat kesehatan overestimating perlindungan yang diberikan oleh vaksin anak, Grandjean kata. Jika persentase anak yang divaksinasi "termasuk anak-anak yang terkena PFC dan karenanya tidak merespon terhadap vaksin," katanya, kemungkinan epidemi mungkin lebih tinggi dari itu akan muncul dari tingkat vaksinasi.

sumber:Health.com

Saturday, March 3, 2007

Jadwal Imunisasi

Jadwal Imunisasi

Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004* (* Revisi September 2003)

Vaksin

Umur pemberian Imunisasi
Bulan Tahun
Lhr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 10 12
Program Pengembangan Imunisasi (PPI, diwajibkan)
BCG
Hepatitis B 1 2 3
Polio 0 1 2 3 4 5
DTP 1 2 3 4 5

6 dT atau TT

Campak

1

2

Program Pengembangan Imunisasi Non PPI (Non PPI, dianjurkan)
Hib 1 2 3 4
MMR 1 2
Tifoid Ulangan, tiap 3 tahun
Hepatitis A Diberikan 2x, interval
6 - 12bl
Varisela


Keterangan Jadwal Imunisasi IDAI, Periode 2004

Umur Vaksin Keterangan
Saat lahir Hepatitis B-1




Polio-0
  • HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
  • Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain).
1 bulan Hepatitis B-2
  • Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.
0-2 bulan BCG
  • BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada umur >3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu dan BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif.
2 bulan DTP-1

Hib-1

Polio-1
  • DTP-1 diberikan pada umur lebih dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T)
  • Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-1.
  • Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DTP-1
4 bulan DTP-2
Hib-2
Polio-2
  • DTP-2 (DTwP atau DTaP) dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T)
  • Hib-2 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan DTP-2
  • Polio-2 diberikan bersamaan dengan DTP-2
6 bulan DTP-3
Hib-3
Polio-3
  • DTP-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T)
  • Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan.
  • Polio-3 diberikan bersamaan dengan DTP-3
6 bulan Hepatitis B-3
  • HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk mendapat respons imun optimal interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
9 bulan Campak-1
  • Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kl 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapat MMR pada umur 15 bulan, campak-2 tidak perlu diberikan
15-18 bulan MMR

Hib-4
  • Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapat imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bln
  • Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP).
18 bulan DTP-4
Polio-4
  • DTP-4 (DTwP atau DTaP) diberikan 1 tahun setelah DTP-3.
  • Polio-4 diberikan bersamaan dengan DTP-5
2 tahun Hepatitis A
  • Vaksin HepA direkomendasikan pada umur >2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 6-12 bulan.
2-3 tahun Tifoid
  • Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur >2 tahun. Imunisasi tifoid polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.
5 tahun DTP-5
Polio-5
  • DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwp/DTap)
  • Polio-5 diberikan bersamaan dengan DTP-5
6 tahun MMR
  • Diberikan untuk catch-up imunization pada anak yang belum mendapat MMR-1
10 tahun dT/TT

Varisela
  • Menjelang pubertas vaksin tetanus ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapat imunitas selama 25 tahun.
  • Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun.