Showing posts with label penyakit anak. Show all posts
Showing posts with label penyakit anak. Show all posts

Saturday, July 16, 2011

Penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD) Pembunuh Mematikan Bagi Anak-Anak

Walaupun telah diberikan antibiotik yang sesuai, penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD) atau penyakit yang disebabkan oleh bakteri streptococcus pneumonia (pneumokokus), masih menjadi pembunuh nomor dua di Indonesia setelah diare.

Penyakit IPD menyebabkan angka kematian yang tinggi, sebesar 15-20 persen. Kasus tertinggi IPD terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun. Berdasarkan Riskedas 2007, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor dua pada anak di bawah empat tahun, tertinggi yaitu 23,8 persen, setelah diare. IPD adalah penyakit invasif terjadi ketika bakteri terdistribusi masuk ke dalam darah atau berkoloni pada jaringan steril.

Peradangan pada jaringan paru akibat infeksi kuman, dan menyebabkan gangguan pernapasan. Bersifat fatal karena dapat menyebabkan kematian karena paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh.

Sementara meningitis adalah radang pada selaput pelindung yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang,disebut sebagai meningen. Peradangan ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau mikroorganisme lainnya. Meningitis bisa mengancam jiwa karena kedekatannya peradangan ke otak dan sumsum tulang belakang, sehingga kondisi ini diklasifikasikan sebagai darurat medis.

Gejala meningitis disebabkan bakteri adalah demam,penurunan kesadaran, dan kuduk menjadi kaku. Pada bayi, gejalanya sering tidak khas berupa demam, suhu justru turun, lemas, sulit minum, muntah, diare, sesak napas, kejang, dan atau ubun-ubun besar menonjol. Pada anak lebih besar, anak mengalami demam, nyeri kepala, mual, muntah, kebingungan, dan lemah. Gejala kaku kuduk ditemukan pada 75 persen anak. Akhirnya anak dapat meninggal.

Kematian terjadi pada 10-80 persen anak, tergantung umur anak, penyebab, kecepatan pengobatan dan lain-lain. Di antara kasus yang hidup, sebanyak 50-80 persen mengalami kecacatan berupa kelumpuhan, gangguan pendengaran, kurang kemampuan belajar, keterbelakangan mental dan epilepsi

Meningitis dapat diobati dengan pemberian antibiotika secepatnya. Namun pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Meningitis dapat dicegah dengan vaksin Hib dan Streptococcus pneumonia.

Untuk mendapat perlindungan yang baik, sesuai rekomendasi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) vaksin harus dimulai sedini mungkin sejak anak berumur 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Kemudian dilakukan ulangan satu tahun kemudian. Pencegahan terhadap meningitis dapat menurunkan angka kematian pada bayi dengan signifikan.

Monday, May 18, 2009

Cara Mencegah Penularan Impetigo


Impetigo berasal dari gatal, kemudian melepuh, mengeluarkan isi lepuhannya lalu mongering dan akhirnya membentuk keropeng. Impetigo merupakan penyakit menular, yang ditularkan melalui cairan yang berasal dari lepuhannya. Besarnya lepuhan bervariasi, ukurannya mulai dari sebesar kacang hingga ukuran cincin yang besar.

Lepuhan ini berisi cairan kuningan disertai rasa gatal. Nah, bila lepuhan itu pecah, bisa menular dengan cepat kepada orang-orang yang terjadi kontak secara langsung dengan penderita ini.
Parahnya lagi, seperti ditulis showgroup.com, impetigo bisa terjadi hingga pembengkakan kelenjar getah bening disekitar darah yang terinfeksi.
Untuk pencegahannya, bisa dilakukan dengan memelihara kebersihan kesehatan badan. Goresan ringan atau luka lecet sebaiknya dicuci bersih dengan sabun dan air. Bila perlu olesi dengan zat anti bakteri.
Bagaimana sih mencegah Impetigo Menular
1. Selalu mencuci tangan setelah menangani les kulit.
2. Hindari kontak dengan cairan yang berasal dari lepuhan di kulit
3. Hindari pemakaian handuk bersama, pisau cukur, atau pakaian dengan penderita

Cacar Monyet Mengancam


Di musim tak menentu seperti saat ini, banyak penyakit yang mengancam. Salah satunya adalah impetigo atau cacar monyet. Penyakit ini lebih dominan menyerang anak-anak.
Impetigo adalah infeksi kulit yang menyebabkan terbentuknya lepuhan-lepuhan kecil berisi nanah (pustule). Penyakit kulit ini paling sering menyerang anak-anak, terutama yang kebersihan badannya tidak dijaga.

Dokter Spesial kulit, dr Arief menyebutkan, impetigo bisa muncul di bagian tubuh manapun. Dominan ditemukan di wajah, lengan dan tungkai. “Istilah kedokteran untuk cacar air adalah Varicella. Sedangkan cacar monyet atau cacar api disebut Impetigo. Impetigo ada dua macam, dan sering keduanya punya nama yang berbeda pula. Kadang disebut impetigo krustosa”, ungkap dr Arief, seprti dikutip http://drarief.com.
Meskipun disebut cacar, kedua jenis ini (Madu dan Api) tak sama dengan cacar air, karena cacar air disebabkan virus. Cacar madu merupakan kelainan yang terjadi disekitar lubang hidung dn mulut. Ciri-cirinya adalah kemerahan kulit dan lepuh yang cepat memecah, hinggah meninggalkan keropeng (kulit mati) yang tebal. Warnanya kuning seperti madu. Bila keropeng dilepaskan, terlihat luka lecet dibawahnya.
Sedangkan cacar api sering terjadi di ketiak, dada dan punggung. Penampilannya kemerahan di kulit dan gelembung-gelembung (mirip kulit yang kesundut rokok – mungkin ini sebabnya sehingga disebut cacar api). Gelembung di kulit ini berisi nanah yang mudah pecah. Cacar api sangat mudah menular dan berpindah dari satu bagian kulit ke bagian kulit lain. Jika terjadi pada bayi baru lahir, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Penyakit ini dapat disertai demam dan menimbulkan infeksi serius. Karena penyebabnya beda, pengobatan juga beda. Ada satu hal yang hampir sama, yaitu sama-sama berbekas kalau sampai pecah, tapi cacar air lebih berat bekasnya.
Dewasa ini, impetigo bisa terjadi setelah infeksi saluran pernafasan atas (misalnya flu atau infeksi virus lainnya). Impetigo bisa terjadi setelah cedera atau keadaan yang menyebabkan robekan di kulit (misalnya infeksi jamur dan lainnya.