Monday, April 10, 2006

Vaksin MMR

Dengan Hormat,

Jujur saya dipusingkan dengan dua pendapat yang bertentangan tentang vaksin MMR. Sebagian berpendapat bahwa MMR pemicu Authisme sedangkan yang sebagian berpendapat sebaliknya.

Dua minggu yang lalu saya memberikan vaksin kepada anak saya yang berumur 4.5 th. Ketika melihat catatan kesehatan di buku, dokter anak kami kaget mengapa anak saya belum di berikan MMR. Saya agak berat menjawab walaupun sepatah kata yang keluar belum lengkap dokter yang bersangkutan telah memberikan saya ceramah panjang lebar dan dari nada bicaranya dan pandangan matanya memberikan isyarat bahwa dia sangat kesal dengan saya. Padahal belum lengkap kata-kata saya keluar dari mulut.

Pak Dokter memanggil saya KAMU. "Apa alasan KAMU ?". Meskipun sedikit risih tapi saya berusaha untuk sabar. Jadi sepanjang 20 menit itu habislah saya diceramahin. Jawaban pendek saya yang mengatakan bahwa kita tidak bisa menutup mata bahwa antara para dokter juga ada perbedaan pendapat berbuntut kepada cerita ttg siapa saja yang tidak setuju dengan Vaksin MMR termasuk menyebut seorang professor.

Di ujung pembicaraan saya hanya berkata "baiklah Dok saya akan belajar lagi soal ini maklum kedokteran bukan bidang saya namun Common Sense Logic saya bisa menerima kalau MMR bisa saja berpengaruh kepada sebagian kecil pasien. Di forum ini saya butuh masukan yang banyak soal MMR.


Terima Kasih.


Rudy Firmanto



Pak Rudy,

Baru saja saya coba search di Google tentang MMR vaccine. Banyak publikasi yang bermutu (dikeluarkan oleh Depkesnya Amerika, jurnal2 kedokteran ternama, ikatan dokter anak Amerika/AAP, dan berbagai sekolah kedokteran yang baik) yang membahas mengenai MMR dan autisme. Salah satunya ada website tentang keamanan vaksin (www.vaccinesafety.edu). Berikut saya coba copy headlines dari website tsb. Text lengkap dapat diakses dengan link dari website tsb.

MMR/MEASLES VACCINE

MMR Vaccination and Pervasive Developmental Disorders: no association. Smeeth, et al report that MMR vaccination is not associated with an increased risk of pervasive developmental disorders (PDDs). The authors studied 1294 affected children and 4469 controls in the General Practioners Database in the United Kingdom and "We have found no convincing evidence that MMR vaccination increases the risk of autism or other PPDs". (09-15-04) PubMed Abstract Lancet Institute of Medicine reports that MMR and thimerosal do not cause autism. The IOM committee concluded that the body of epidemiological evidence favors rejection of a causal relationship between the MMR vaccine and autism and between thimerosal-containing vaccines and autism. [link] May 17, 2004 Authors Retract Controversial Interpretation of 1998 Lancet Paper Linking MMR Vaccine to A New Syndrome of Bowel Disease and Autism. Statements from the authors and the Lancet editor. March 6, 2004

Investigations Reveal an Unreported Conflict of Interest and Problems With Reporting in Wakefield's 1998 Autism-MMR Study. Information on the investigation by The Lancet into problems with Andrew Wakefield's study. February 27, 2004.

Measles, Mumps, and rubella vaccination and bowel problems or developmental regression in children with autism: population study. This paper by Taylor et al in the [Feb 16 2003] BMJ adds to the growing body of evidence that show no involvement of MMR vaccine in the development of autism. The authors report on their investigation of 473 and conclude that their data shows neither a "new variant' form of MMR-associated autism nor evidence of MMR contributing to the onset of autism. BMJ 2003;324:393-6. PubMed Abstract BMJ MMR and autistic enterocolitis: consistent epidemiological failure to find an association. In a News & Commentary in Molecular Psychiatry [Feb 2003], Fombonne and Cook review a recent paper by Taylor et al on MMR and Autistic Enterocolitis. Fombonne and Cook review Taylor's paper as well as the hypothesis by Wakefield et al that speculated about a connection between MMR and autism and ask, "How many more well-powered epidemiological investigations ... will be necessary for this hypothesis to be completely discarded?". Molecular Psychiatry 2003;8:133-4

A Population-based study of Measles, Mumps and Rubella Vaccination and Autism. A Danish study provides strong evidence against a causal relationship between MMR vaccination and autism. Madsen et al. NEJM 2002;347(19):1477-82. PubMed Abstract NEJM

The risk of seizures after receipt of whole-cell pertussis or measles, mumps, and rubella vaccine. Barlow WE et al find no long-term adverse consequences from febrile seizures following administration of DTP and MMR vaccines. NEJM 2001;345(9):656-61. PubMed Abstract NEJM

Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autistic Spectrum Disorder: Report From the New Challenges in Childhood Immunizations Conference Convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000. Pediatrics 2001;107(5). Halsey, Neal A.; Hyman, Susan L. The writers of this report reviewed over 1,000 references in the medical literature and determined that the available research does not support the hypothesis that MMR vaccine causes autism, autism spectrum disorders or inflammatory bowel disease. A complete copy of this report is available in the online version of Pediatrics at http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/abstract/107/5/e84.

PubMed Abstract Institute of Medicine (IOM) Committee Rejects Causal Relationship Between Measles-Mumps-Rubella Vaccine and Autism Spectrum Disorder At a public briefing on April 23, 2001 the Institute of Medicine's (IOM) Committee on Immunization Safety Review released a report in which they conclude that the evidence favors rejection of a causal relationship between the measles-mumps-rubella (MMR) vaccine and autism spectrum disorder, commonly known as autism.

The full text of the report is available at http://www.iom.edu/report.asp?id=4715

Evidence shows genetics, not MMR vaccine, determines autism (AAP News December 1999) by Charles G. Prober, MD, FAAP.

No evidence for measles, mumps, and rubella vaccine-associated inflammatory bowel disease or autism in a 14-year prospective study. (Lancet 1998;351:1327-8) (5-02-98) This Finnish study shows details of the 31 children who developed gastrointestinal symptoms after approximately three million were vaccinated. Dr. Peltola et al, after more than 10 years following adverse events associated with MMR vaccine, found no data showing an association between MMR vaccine and developmental disorders or inflammatory bowel disease.



Mungkin sebelum mempercayai suatu pendapat, ada baiknya kita belajar banyak terlebih dahulu. Jangan percaya publikasi yang tidak jelas atau kurang dapat dipertanggungjawabkan. Pilihan imunisasi ada di tangan orangtua, dokter hanya mengarahkan. Bagaimana pun juga, imunisasi itu perlu persetujuan orangtua (informed consent), termasuk menyetujui risiko2 (bila ada) yang mungkin terjadi akibat imunisasi. Kedokteran memang mungkin bukan bidang anda, tapi sebagai konsumen yang baik, tentu anda punya rasa ingin tahu agar bisa berdiskusi dengan efektif dengan dokter anda sehingga hasil pengobatan dapat optimal.

Semoga membantu.


Endah


Pak Rudy, sebenarnya dukun anak dikau nggak perlu gitu sewotnya sama dikau selaku ortu anak, soal jadwal imunisasi on schedule itu kan masalah hasil study epidemiologis semata. Kalo anak dikau belon di vaksin, kan tinggal diusulkan untuk dilakukan semata. Mengajak konflik dengan ortu anak nggak ada manfaatnya :).

eddyJP
Personal ID: eddyjp@cbn.net.id

Ya begitulah Pak...

Kalau sebagian dokter "professor S " yang disebut dokter saya juga berpendapat bahwa ada pengaruhnya,...apalagi saya yang gak punya background kedokteran.

Anyway saya akan banyak belajar masalah ini..

RF

Saturday, April 8, 2006

Mohon Pencerahannya

Dear All Mohon maaf , saya calon bapak baru yang awam Mohon Penceraham Pembaca Kl orang Hamil muda sekitar 2 bulan. Boleh tidak bepergian dengan naik motor........? Ada yang bilang tidak boleh naik motor.dan ada juga yang memperbolehkan nya. Karena ketidak tahuan saya tentang hal tersebut berefek Silahturahmi kepada Mertua Yang jaraknya CIGANJUR - KEBAYORAN Sudah tidk terlaksna. Karena Ada perasaan takut dan khawatir terhadap kandungan istri saya jika naik motor kena goncangan-2 Mohon pencerahan neters semuanya Salam tonce

Sharing ya Pak,

Trisemester I kehamilan saya dulu beberapa kali naik motor dan alhamdulillah ndak ada masalah Pak. Boleh dibilang selama hamil, saya termasuk yg ndablek dan kl temen2 blg sih "hamil kebo" he he he ...

Tapi kl diliat dr pengalaman beberapa teman2 saya, beberapa dr mereka tdk cukup kuat utk naik motor pada dan selama masa kehamilan ... Entah itu karna rahim yg lemah atau disebabkan hal lainnya ...

Saran saya, coba bpk periksakan ke DSOG dan mintai pendapat blio, apakah kondisi kehamilan Ibu memungkinkan untuk naik motor? Dan kl memang jarak yg ditempuh cukup jauh (Ciganjur - Kebayoran jauhhhhhhh lho pak), meskipun secara fisik kita kuat dan kehamilan pun nda ada masalah, menurut saya cukup beresiko lho :-) ... Kalaupun memang ndak bisa naik kendaraan umum lainnya (mungkin karna repot ataupun Ibu ndak kuat karna hamil muda), ya acara silahturahmi di tunda dulu sampai kondisi Ibu memungkinkan dan saya yakin mertua Bpk pasti memaklumi keadaannya ...

Kl buat saya sih, yang penting niat baik kita utk bersilahturahmi itu sdh ada di dalam hati dan terhambat karena keadaan diluar kuasa kita, Insya Allah niat baik itu sdh dicatat dan di ketahui oleh Allah SWT ... Saya yakin, semua hal yang baik akan berbuah kebaikan juga :-) ...



salam,
Lia

*maaf kl ada yg krg berkenan*

Saturday, March 25, 2006

susah makan


dear pak/ibu dokter,

putri kami yang baru berumur 8 bulan susah sekali makan, seminggu ini bahkan bisa dikatakan tidak makan. nutrisi-nya hanya dari minum susu saja. sedangkan pada umur 5 - 7 bulan nafsu makan besar, makan bisa rutin 3x sehari.

apakah memang begitu pada bayi usia 8 bulan ? atau karena mo tumbuh gigi ya, soalnya apa saja barang yang ditangannya selalu dimasukan kedalam mulutnya.

mohon pencerahan atau tips & trik, bagaimana agar nafsu makannya normal
kembali.


regards

ayah shafa

Wednesday, March 22, 2006

Down Syndrom

Selasa, 21 Maret 2006
Dearest Souls
Menyambut Hari Down Syndrome Sedunia
Bekti Prawidyarini
Ibu Rumah Tangga:

''Jauh... dalam jangkauan manusia, untuk mengetahui apa kehendak-Nya, atas apa yang diberikan kepada umatnya.... Yang pasti semua adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri, bukan untuk-Nya. Sebab Ia tidak memerlukan apapun. Karenanya, tiada lain hanya rasa syukur yang tak terhingga, yang patut disampaikan kepada-Nya atas anugrah -Nya yang terkadang 'buruk' menurut manusia.

''Itulah yang tertulis dalam 'jurnal' putri mungilku yang menjadi dasarku melangkah menghadapi hari-hari ke depan bersamanya, yang hadir dalam keluarga kami dengan special gift dari-Nya: down syndrome. Mungkin tak banyak yang tahu tentang down syndrome. Kalau saja penemunya bernama Dr Langdon Up, mungkin sebutannya menjadi up syndrome. Namun karena nama penemunya adalah Dr Langdon Down, jadilah sebutannya down syndrome yang lebih berkonotasi kelemahan. Sedikit orang yang tahu bahwa Selasa, 21 Maret 2006, telah ditetapkan sebagai sebagai ''Hari Down Syndrome Sedunia'' (World Down Syndrom Day/WDSD). Lembaga Down Syndrome International sengaja memilih tanggal 21 sesuai dengan keberadaan kromosom ke 21, yang dikaitkan dengan keberadaan down syndrome.

Untukku, DS (singkatan dari down syndrome) selalu kubaca sebagai dearest souls. Dan bagiku, inilah yang ingin aku sosialisasikan sekaligus ikut memperingati WDSD dalam bentuk yang sangat minim, mengingat kurangnya perhatian kita terhadap hal ini. Untuk lebih mengenal DS, silakan mengunjungi situs www.worlddownsyndromeday.org.

Satu dari 700

DS adalah suatu bentuk kelainan kromosom yang paling sering terjadi. Menurut penelitian, DS menimpa satu di antara 700 kelahiran hidup. Di Indonesia terdapat kurang lebih 300 ribu kasus DS.

Normalnya, tubuh manusia memiliki miliaran sel yang memiliki pusat informasi genetik di kromosom. Sebagian besar sel tubuh manusia mengandung 23 pasang kromosom (total 46 kromosom). Hanya sel reproduksi, yaitu sperma dan ovum yang masing-masing memiliki 23 kromosom tanpa pasangan. Dalam kasus DS, kromosom nomor 21 jumlahnya tidak sepasang seperti pada umumnya, melainkan tiga. Bahasa medisnya trisomy-21. Jumlah kromosom yang tidak normal tersebut bisa ditemukan di seluruh sel --pada 92 persen kasus-- atau di sebagian sel tubuh.

Akibat jumlah kromosom 21 yang berlebihan tersebut, terjadi guncangan sistem metabolisme sel yang berakibat munculnya DS. Dari hasil penelitian, 88 persen kromosom 21 tambahan tersebut berasal dari ibu, akibat kesalahan pada proses pembentukan ovum, delapan persen dari ayah, dan dua persen akibat penyimpangan pembelahan sel setelah pembuahan. Dari penelitian, terbukti DS yang diturunkan dari orang tua hanya lima persen dari keseluruhan kasus. Kesalahan penggandaan kromosom 21 juga bukan karena penyimpangan perilaku orang tua ataupun pengaruh pencemaran lingkungan.

Seorang DS memiliki kemampuan tertentu dalam proses pembelajaran. Artinya, proses belajar dan perkembangannya lebih lambat daripada anak bukan DS. Namun kebanyak anak DS dapat belajar, berjalan, membaca, menulis dan memasuki sekolah umum serta hidup mandiri.

Penting diketahui bahwa DS bukan penyakit; tidak menular; mereka sama sekali tidak merasakan sakit di bagian manapun dari tubuhnya; bukan kesalahan ibu atau bapak; bukan pula karena keadaan sosial, bangsa, ekonomi, atau alam sekeliling. Bukan pula karena ibu salah makan obat, makanan; pemikiran ibu terganggu; atau karena kegiatan ibu di masa mengandung.

Tak ada yang patut disalahkan. Semua itu kehendak Allah semata, karena sesungguhnya terjadinya DS sangatlah rumit.

Tiga tipe

Ada tiga tipe DS. Pertama, standar DS Trisomy 21. Umumnya Trisomy 21 dimiliki kurang lebih 94 persen anak-anak DS. Tipe ini terjadi secara alamiah dan dapat terjadi kepada siapapun tanpa diketahui penyebabnya.

Kedua, Mosaik DS. Jenis DS ini melibatkan lebih kurang empat persen dari semua individu-individu yang mempunyai DS, tidak disebabkan keturunan. Ketiga, Translokasi DS. Jenis ini paling sedikit terjadi, yaitu kurang lebih persen dari individu-individu yang mempunyai DS. Kemungkinan diturunkan dari ibu-bapak, tapi hanya lebih kurang satu dari tiga kejadian.

Dalam beberapa kasus, terlihat bahwa umur wanita terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya DS pada bayi yang dilahirkannya. Dr Langdon Down yang memberikan rincian tentang anak-anak DS pada tahun 1866, mengatakan bahwa hal ini dapat terjadi 'satu dalam 700 kelahiran' dengan catatan kemungkinan memiliki DS akan semakin besar seiring dengan bertambahnya usia si ibu.

Ibu berumur di bawah 23 tahun memiliki kemungkinan melahirkan DS adalah satu dalam 2.000 kelahiran (1:2000); ibu umur 30 tahun 1:1.300; ibu umur 35 tahun 1:400; ibu umur 40 tahun 1:90; ibu umur 45 tahun 1:32; ibu umur 50 tahun 1:8.

Tapi teori DS yang telah berusia 30 tahun itu dibantah tim peneliti dari Johns Hopkins Medical Institutions. Menurut mereka DS terjadi karena hal yang lebih kompleks. Area genetik yang selama ini diasumsikan menjadi faktor penting dalam mencetuskan DS rupanya tak begitu berperan. Para peneliti dari Amerika Serikat tersebut menemukan bahwa gen yang bertanggung jawab pada DS. Seorang DS memiliki tanda-tanda klinis seperti bentuk mata yang miring dan tidak punya lipatan di kelopak; hidung mereka cenderung lebih kecil dan datar, tak jarang diikuti dengan saluran pernapasan yang kecil pula, sehingga mereka sering kesulitan bernapas; ukuran mulut seringkali lebih kecil; lidah tebal; pangkal mulut yang cenderung dangkal; otot mulut kerap lemah, sehingga menghambat kemampuan bicara.

Selain itu, pertumbuhan gigi geligi lambat dan tumbuh tak beraturan --gigi yang berantakan ini juga menyulitkan pertumbuhan gigi permanen; telinga mereka rendah dengan ukuran kanal telinga yang kecil, sehingga mudah terserang infeksi; rambut mereka lemas, tipis, dan jarang; bentuk kepala mereka juga cenderung peyang; tampilan wajah yang khas.

Tanda-tanda lainnya tangan mereka lebih kecil; jari-jari yang pendek dan kelingking yang bengkok; ruas kedua jari kelingking kadang tumbuh miring atau malah tidak ada sama sekali; lengan tangan 'palm' bergaris seperti pohon palm; jari-jari kaki renggang; telapak tangan terdapat garis melintang yang disebut simian crease; telunjuk dan ibu jari kaki jaraknya cenderung lebih jauh, yang disebut sandal foot.

Dengan diketahuinya gejala fisik tersebut, diharapkan orang tua, bidan, atau dokter sudah dapat mendeteksi adanya kemungkinan DS pada anak sehingga DS bisa ditangani lebih dini. Karena itu, disarankan agar ada pemeriksaan prenatal pada ibu berumur lebih dari 35 tahun untuk memastikan apakah janin memiliki kelainan atau tidak --selebihnya kembali kepada hati nurani masing-masing, apakah kehadirannya diterima atau tidak.

Namun jauh lebih penting adalah keterlibatan pemerintah yang seyogianya lebih besar dalam bentuk pemberian keringanan atau pembebasan biaya physical theraphy, penyediaan sentral-sentral bermain DS yang dapat meningkatkan kemampuannya, dilengkapi juga dengan bacaan-bacaan untuk menambah pengetahuan para ibu mengenai DS dan pentingnya nutrisi untuk mereka. Hal tersebut dapat dikatakan sangat penting, mengingat jumlah perkawinan dalam usia 30 tahun cenderung meningkat, yang berarti meningkat pula kemungkinan kehadiran DS yang merupakan gift yang harus disyukuri. ''Di balik kesulitan pasti ada kemudahan,'' demikian firman Allah dalam QS Al Insyirah Ayat 6.

<http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=240411&kat_id=16>http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=240411&kat_id=16

Awas, Anak Kena Alergi Susu Sapi

Protein susu sapi merupakan protein asing yang pertamakali dikenal bayi. Sehingga alergi susu sapi (ASS)sering diderita pada bayi usia dini. Alergi susu sapidapat bermanifestasi pada berbagai macam penyakitalergi, sehingga perlu mendapat perhatian khusus.

Alergi pada anak ternyata tak sesederhana yang semula diduga. Demikian luasnya sistem tubuh yang terganggu, sehingga alergi juga bisa menghambat kecerdasan anakdan menimbulkan gangguan perilaku. Sementara,pengobatan yang terus-menerus bukanlah jalan keluarterbaik.

Jika mendengar kata 'alergi', terbayang sejumlahreaksi yang ditimbulkan seperti gatal-gatal padakulit, batuk, pilek, dan bersin-bersin. Tapisebenarnya alergi tidak sesederhana itu. Alergi jugabisa menyerang semua organ tubuh, mulai dari ujungrambut sampai ujung kaki. Yang ditimbulkan pun takhanya sakit 'ringan', namun bisa juga gangguanintelegensia dan perilaku. Misalnya sulit konsentrasi,hilang memori sesaat, gagap, impulsif, hiperaktif,lemas kronis. Bahkan alergi bisa menyebabkan kematianjika menimbulkan syok anafilaktik, yakni menyempitnyasaluran nafas di paru-paru, menurunnya tekanan darah,dan tercekiknya tenggorokan.

Dokter spesialis anak dr Zakiudin Munasir SpA (K),dari bagian ilmu kesehatan anak Fakultas KesehatanUniversitas Indonesia (FK UI) Rumah Sakit CiptoMangunkusumo (RSCM) Jakarta menyebutkan, pada bayi atau anak di bawah usia 3 tahun, alergi bisa timbul karena susu sapi atau formula. Alergi ini disebut alergi susu sapi. Bentuk alergi yang sering terjadipada bayi yaitu diare, kadang diikuti keluarnya darah. Jika kondisi itu tidak segera diketahui dan ditangani dengan seksama, bayi akan terserang anemia atau kurangdarah. Akibatnya bayi atau batita akan terlihat pucat.

Itu sebabnya, pencegahan terjadinya ASS harus dilakukan sejak dini, saat sebelum terjadi sensitisasiterhadap protein susu sapi. Penghindaran harusdilakukan dengan pemberian susu sapi hipoalergenikyaitu susu sapi yang dihidrolisis parsial untukmerangsang timbulnya toleransi susu sapi di kemudianhari.

"Bila sudah terjadi sensitisasi terhadap protein susu sapi, maka harus diberikan susu sapi yang dihidrolisis sempurna atau pengganti susu sapi misalnya susu kacangkedele," katanya. Alergi susu sapi yang sering timbul dapat memudahkan terjadinya alergi mekanan lain di kemudian hari. Bila sudah terjadi kerusakan saluran cerna yang menetap. Oleh karena itu penting mencegah bayi agar tidakterkena ASS.

"Ada keterkaitan antara alergi dan kecerdasan anak.Jika anak mengalami reaksi alergi seperti diare, anakmenjadi sering sakit. Akibatnya asupan gizi yangdiperoleh pun tidak sesuai dengan yang dibutuhkan. Ini tentu sangat mempengaruhi perkembangan mental anak,"paparnya.

Pada anak yang terserang alergi, periode sakit yangdialami jauh lebih lama dibanding anak sehat yang kena penyakit sama. Sebagai contoh, anak sehat yang kenabatuk-pilek biasanya akan sembuh dalam 5 hari. Namun pada anak alergi, baru bisa pulih setelah dua mingguatau lebih. Anak alergi juga sangat rentan terhadapinfeksi virus. Jadi tidak menutup kemungkinan organ lain seperti otak bisa terserang penyakit virus atau infeksi.

Pengobatan yang paling penting pada alergi susu sapiadalah eliminasi atau menghindarinya, termasuk denganmemberikan susu kedele. Pemberian ASI eksklusif mungkin bisa menjadi salahsatu alternatif, karena dilaporkan dapat mencegahpenyakit atopik serta alergi makanan. (endro s effendi)