Friday, September 7, 2007

MENJAGA OTAK TETAP BEROTOT

Banyak menyantap makanan sumber vitamin E dan C membuat kondisi otak bisa tetap terjaga. Apalagi kalau ditambah dengan kegiatan yang berkaitan erat dengan kualitas fungsi otak.

“Umur saya baru 40 tahun, tapi kenapa akhir-akhir ini saya jadi pelupa? Setelah menaruh kunci mobil, sudah lupa dimana letaknya, padahal baru lima menit lalu. Janji menjemput anak di sekolah pukul 12.00, baru ingat setelah pukul 14.00. Apa ini pertanda menurunnya daya ingat alias pikun?” keluh seorang pria.

Jangan cepat menilai diri sudah mulai pikun, kata dr. Sukono Djojoatmodjo, Sp.S., spesialis saraf dari RS Mitra Intenational, Jatinegara, Jakarta.

“Memasuki usia 40-an tahun daya ingat seseorang rata-rata masih normal, kecuali pernah mengalami stroke, cedera otak berat, atau lainnya,” tambahnya.
Lalu, kenapa pria itu mengeluh pelupa?

Banyak orang usia 40-an tahun sedang naik daun, sibuk dengan pekerjaan kantor atau urusan bisnis. Begitu bangun tidur, yang menyesaki otak hanyalah hal-hal besar yang perlu dilakukan pada hari itu, sehingga yang kecil-kecil kerap terabaikan. Bisa jadi, itu antara lain biang keladinya. Kurang konsentrasi.

Kalau sifat pelupa diartikan sebagai pikun, itu berkaitan dengan fungsi luhur yang mulai menurun, yang meliputi daya pikir, daya ingat (memori), kemampuan menilai, berbahasa, berkomunikasi dll. “Kalau dalam otaknya tersimpan berbagai masalah yang perlu diselesaikan sehingga lupa melakukan banyak hal, itu masih normal. Bukan gejala penurunan daya ingat, tapi kurang konsentrasi saja,” tegas dr. Sukono.

Bobot Otak Berkurang
Banyak contoh bagaimana fungsi luhur bisa dikatakan sudah menurun. Misal, marah-marah mencari uang yang katanya hilang, padahal tersimpan di saku. Sibuk mencari kacamata, ternyata masih nempel di kepala. Atau, makan belepotan, pakai lipstik sampai ke luar bibir, sering lupa menutup resluiting celana, di bandara bingung mengurus tiket, membayar fiskal dll.

Menjadi pikun ada prosesnya. Dari normal menuju pikun, menurut dr. Sukono, harus melalui tahap MCI (mild cognitif impairment). Kalau tidak dijaga, bisa menjurus ke pikun (dementia).

Tidak terelakkan, memasuki usia 50 tahun fungsi organ dalam tubuh, termasuk otak, menurun. Berat otak orang dewasa sekitar 1.3 kg. Di usia setengah abad itu, beratnya mengurang tinggal 1.2 kg, karena menyusutnya kadar air.

Namun, tak perlu was-was. Beranjak tua tidak harus menjadi kakek atau nenek pikun. Paling-paling daya ingat sedikit anjlok. Pikun baru terjadi bila otak mengalami atrofi atau penciutan. Tapi, dengan gaya hidup sehat, resiko kepikunan dapat dihalau.

Sebelum memasuki fase MCI, dr. Sukono menyarankan agar kita melakukan primary prevention. Makan seimbang, berhenti merokok, menghindari minuman beralkohol, berolahraga teratur, menghindari stres, serta cukup berekreasi.

Bila sudah melangkah ke tahap MCI, usahakan jangan sampai terjerumus ke tahap dementia dengan melakukan secondary prevention. Kalau gejala pikun mulai tampak, segera atasi dengan, misalnya, banyak melakukan senam crossing (tangan dan kaki digerakkan menyilang secara bergantian) agar otak kiri dan kanan bekerja seimbang, lebih banyak membaca, mengisi teka-teki silang, lebih memperhatikan makanan sehat dan tetap aktif berorganisasi sosial.

Diketahui, otak kiri berfungsi untuk memikirkan hal-hal yang logis dan verbal. Sedangkan otak kanan untuk kreatifitas, imajinasi dan fantasi.

Yang juga perlu, jangan sampai terserang penyakit yang bisa semakin mengganggu fungsi otak, seperti stroke, diabetes atau pengapuran pembuluh darah. Bila anda penderita tekanan darah tinggi atau diabetes, kendalikan penyakit itu sebaik-baiknya agar selalu berada pada kadar normal untuk mencegah serangan stroke. Pasalnya, penurunan daya ingat banyak dijumpai pada lansia yang mengalami gangguan pembuluh darah akibat aliran darah (termasuk ke otak) tidak cukup lagi.

Indikator untuk menilai penyakit vaskuler, menurut pakar gizi dr. Luciana B. Sutanto MS., adalah kadar homosistein darah yang tinggi (hiperhomosisteinemia). Itu karena antara lain rendahnya kadar vitamin B12, folat dan B6 dalam tubuh.

Konsumsi Makanan Sehat
Dr. Luciana menganjurkan banyak mengkonsumsi makanan sumber vitamin B12 (daging tanpa lemak, hati, susu, keju, telur), asam folat (sayuran segar hijau, hati, daging tanpa lemak) dan B6 (daging, ikan, sayur-mayur, ragi, beras, susu, kacang tanah, kacang-kacangan). Juga vitamin C (sayuran hijau tua, kuning/merah, buah-buahan, seperti jambu klutuk, jeruk, tomat), serta riboflavin atau B2 (ragi, susu, telur, kacang tanah, kacang-kacangan, sayur berdaun hijau, daging tanpa lemak), yang berperan dalam menjaga penurunan daya ingat serta kemampuan berpikir abstrak nonverbal.

Masalahnya, 20 – 50% populasi lanjut usia mengalami perubahan sel permukaan dan fungsi lambung, sehingga penyerapan B12 terganggu. Akibatnya, kadar yang disyaratkan sering kali tidak tercukupi.

Kadar glukosa juga cukup penting bagi kerja otak untuk menjaga daya tangkap dan daya ingat tetap baik. Padahal, metabolisme glukosa pada usia lanjut umumnya menurun atau mengalami perubahan. Karena itu, perlu selalu dijaga keseimbangannya. Kadar glukosa darah yang sangat rendah (hipoglikemia) atau sangat tinggi (hiperglikemia), menurut Luciana, akan mempengaruhi metabolisme otak, bahkan bisa mengakibatkan koma. Sebab itu, penderita diabetes patut berhati-hati dalam mengendalikan kadar glukosanya.

Sukono dan Luciana senada mengingatkan pentingnya antioksidan untuk menghabisi radikal bebas, perusak sel dalam tubuh. Antioksidan itu penyerang utama radikal bebas demi kesehatan otak. Mengingat semakin tua kebutuhan akan antioksidan semakin banyak, salah satu yang dianjurkan ialah mengkonsumsi vitamin E, nutrien yang konon bermanfaat mencegah penurunan daya ingat.

Suatu penelitian di Meksiko menunjukkan, orang tua yang mendapat asupan karbohidrat, serat, vitamin B6, C dan E (padi-padian, minyak biji kapas, sayuran hijau, taoge, kuning telur, kacang-kacangan), beta karoten, besi (Fe) dan seng (Zn) dalam jumlah cukup mempunyai penampilan kognitif lebih baik.

Hasil penelitian lain di AS menunjukkan, vitamin C diperlukan untuk memproduksi hydroxyproline, komponen kolagen terpenting untuk memperkuat pembuluh darah dan membuatnya lebih lentur. Sedang vitamin E merupakan antioksidan pelarut lemak dalam otak.

Penelitian National Institute of Aging di Bethesda, Marryland, AS, terhadap 11.178 manula berusia 67 – 109 tahun juga menunjukkan, mereka yang rajin mengkonsumsi vitamin E hidup lebih sehat sampai tua. Mereka yang mengkonsumsi paling tidak 100 IU vitamin E dalam sehari, memiliki resiko 27% lebih rendah terhadap semua penyebab kematian. Vitamin E juga katanya memperlambat kemunduran pernderita Alzheimer.

Sukono menganjurkan, konsumsi vitamin E 200 – 800 IU tiap hari, ditambah vitamin C sekitar 500 IU untuk menambah “kekuatan” otak. Namun, hendaknya tidak dikonsumsi berlebihan agar tidak mubazir, terutama vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C. Jika kebanyakan, malah akan dibuang bersama urine.

Omega-3 atau asam lemak tak jenuh majemuk (mengandung EPA = eikosapentaenoik dan DHA = dokosaheksaenoik) juga dianjurkan. Asam lemak ini menekan proses terjadinya penggumpalan darah, sehingga pengapuran pembuluh darah dapat dihambat. Nutrien itu banyak terdapat pada ikan laut seperti tenggiri, sarden, tuna dan kakap.

Perihal ginko biloba, Sukono berkomentar, tak ada salahnya dikonsumsi. Konon, suplemen ini mempunyai peran agar orang tak mudah jatuh pikun. Cara kerjanya menghambat sel-sel bekuan darah, memperlancar aliran darah, meningkatkan toleransi terhadap kondisi kurang oksigen, serta mencegah kerusakan selaput sel akibat pengaruh radikal bebas.
Sukono menambahkan, obat penurun kadar kolesterol yang mengandung statin pun, menurut penelitian, bisa mencegah kepikunan. Begitu juga dengan obat golongan NSAID (non steroid antiinflamatory drugs) atau obat anti-peradangan serta terapi hormon pada wanita menopause.

Jangan Menganggur
Untuk menjaga agar daya ingat tidak turun, “Mengkonsumsi makanan sehat apa saja tidak menjadi masalah, asal tahu batasnya,” kata Sungkono. “Konsumsi makanan dalam jumlah cukup dengan jenis makanan bervariasi diharapkan dapat memenuhi nutrien yang diperlukan dalam metabolisme dan kerja otak,” tambah Luciana. Nutrien dalam bentuk suplemen hanya diperlukan jika dari bahan makanan sehari-hari belum terpenuhi.

Kalau dibilang protein hewani penting untuk “membangun” daya pikir, bagaimana dengan kaum vegetarian? “Penganut vegetarian yang menghindari protein hewani belum terbukti menjadikan dirinya cepat pikun, karena sumber protein bisa diperoleh dari makanan lain,” tambahnya. Daging merah yang tinggi protein dan lemak hewaninya sebenarnya lebih diperlukan bagi anak atau remaja untuk masa pertumbuhan mereka. Sedangkan bagi orang dewasa menjelang tua, tidak begitu diperlukan lagi.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu tetap aktif di usia lanjut. Sukono menyarankan agar setiap manula tidak menarik diri dari dunia pergaulan. “Tetaplah bersosialisasi dengan dunia luar dan carilah teman sebaya sebagai kawan mengobrol,” sarannya. Bermain catur, membaca buku, bernyanyi dan belajar bahasa bisa mempertahankan daya ingat.

Namun, setiap kegiatan hendaknya dilakukan sesuai dengan usia. “Jangan melakukan kegiatan di luar batas kemampuan usianya sehingga malah kelelahan atau jatuh sakit,” tambahnya. Bila ditawari suplemen atau obat awet muda, Sukono berpesan agar berhati-hati. “Minum obat ada batasnya, tidak boleh ngawur atau berlebihan.”

Bagaimanapun tidak ada makanan atau suplemen khas yang bisa menyempurnakan kerja otak. Yang ada, menunjang kesehatan otak!

Oleh Nany Selamihardja
Intisari edisi Desember 2003

TIFUS – Punya Banyak Akal Bulus

Mungkin sudah tabiatnya, penyakit ini suka menipu. Bukan hanya dari gejalanya, tapi juga namanya. Sehari-hari kita menyebutnya tifus saja. Padahal dalam istilah kedokteran “tifus saja” itu penyakit infeksi akibat kuman Rickettsia typhi. Yang sering kita sebut-sebut itu sebenarnya tifus karena infeksi kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi.

Antara Salmonella dan Rickettsia sama sekali berbeda, meski nama belakangnya sama. Para dokter biasanya menyebut penyakit infeksi Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi sebagai demam tifoid atau tifus abdominalis. Memang agak susah dihafalkan oleh lidah awam. Tapi tak apalah. Yang penting, jangan sampai kita dibuat susah juga oleh penyakitnya.

Di Indonesia, penyakit ini boleh dibilang sebagai masalah lawas yang susah diberantas. “Demam tifoid masih merupakan masalah serius. Daerah endemiknya semakin meluas, terutama sejak krisis moneter,” tutur dr. Leonard Nainggolan, Sp.PD, dari Divisi Infeksi Tropik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Gejala Tidak Khas
Salmonella masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang tercemar. Di dalam tubuh, kuman ini bermarkas di usus halus, selanjutnya menerobos masuk ke pembuluh darah. Saat terjadi agresi ini, tubuh berusaha melawannya dengan memproduksi antibodi. Namun, gejala sakitnya baru muncul setelah 10 – 14 hari sejak masa invasi.

Pada minggu pertama, gejala yang muncul sering mengecoh. Pasalnya, keluhan yang muncul mirip dengan infeksi akut lainnya. Demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, tidak nafsu makan (anoreksia), mual, muntah, rasa tidak enak di perut, batuk, mimisan, susah ke belakang atau kadang malah diare.

Akibat gejala yang tak khas ini, bukan hanya pasien yang sering tertipu. Dokterpun kadang keliru mendiagnosis dan tidak menyadari bahwa yang sedang dihadapi adalah S. typhi. Tak jarang gejalanya disangka demam berdarah, malaria, pneumonia (radang paru-paru), atau radang tenggorokan. “Anak saya panas sudah seminggu. Dokter pertama bilang demam biasa. Tapi diberi obat nggak sembuh-sembuh. Lalu saya bawa ke sini, malah divonis tifus,” keluh seorang ibu di ruang tunggu praktek dokter.

Infeksi S. parathypi menunjukkan gejala sakit yang lebih ringan ketimbang S. thypi.Itu sebabnya, dulu dokter membagi penyakit ini menjadi demam tifoid dan demam paratifoid. Setelah ditemukan bahwa kuman-kuman itu juga memiliki tipe A, B dan C, sebagian dokter mengelompokkannya lagi berdasarkan tipenya. “Namun sekarang istilahnya cuma satu : demam tifoid, tanpa membedakan kuman penyebabnya,” terang dr. Leonard.

Biasanya, dokter akan meminta pasien melakukan tes Widal. Susahnya, tes ini pun sering tidak bisa langsung dipakai sebagai dasar untuk mengambil kesimpulan. “Meskipun tes Widal-nya positif, belum tentu pasien positif demam tifoid,” papar dr. Leonard. Sebab tes ini bukan memeriksa ada tidaknya kuman S. thypi. Tapi, hanya memeriksa ada tidakny antibodi terhadap kuman itu. Padahal setiap orang yang pernah kontak dengan kuman ini pasti memiliki antibodinya. Tak peduli apakah ia menderita demam tifoid atau tidak.

Di Indonesia, kuman-kuman ini bagian dari kehidupan sehari-hari. Nyaris semua orang pernah kontak dengannya. Meski demikian, tidak berarti ter Widal sama sekali tak berguna. Hasil tes ini tetap dapat menunjang diagnosis. Dokter bisa mengambil interpretasi dari tinggi rendahnya antibodi. Semakin tinggi kadar antibodinya, semakin besar kemungkinan seseorang menderita demam tifoid.

Biakan Kuman
Dalam membuat diagnosis, dasar utama yang dipakai dokter adalah gejala yang khas. Umumnya, gejala itu muncul pada minggu kedua, meski kadang muncul juga pada minggu pertama. Gejala khas itu antara lain, demam terjadi terutama pada sore atau malam hari (suhu tubuh bisa mencapai 39 – 40o C), lidah berselaput, kesadaran terganggu, hati dan limpa membesar (hepatosplenomegali), serta nyeri tekan perut.

Gejala-gejala khas inilah yang bisa membedakan demam tifoid dengan infeksi lainnya. Sebagai contoh, pada demam berdarah, lama demam tidak lebih dari satu minggu. Selain tes Widal, dokter kadang meminta pasien melakukan tes lain. Namanya cukup susah diingat : kultur empedu darah Gaal. Tes ini bertujuan memeriksa ada tidaknya kuman, bukan ada tidaknya antibodi. Caranya, sampel darah pasien dibiakkan di dalam media berisi makanan bakteri.

Jika S. thypi atau S. parathypi tumbuh dalam biakan, berarti pasien positif demam tifoid. Namun, jika tidak ditemukan di biakan tadi pun, bukan berarti pasien tidak menderita demam tifoid.

Menurut dr. Leonard, ada beberapa faktor yang menyebabkan hasil tes negatif, tapi ternyata palsu. Jika sebelum tes pasien minum antibiotik, maka kuman tidak akan ditemukan pada saat dibiakkan. Selain itu, jika jumlah sampel darah yang diambil kurang dari 5 cc, bisa saja kuman juga tidak ditemukan, meskipun sebenarnya ada dalam darah.

Karena tingkat kesulitan diagnosis itulah dr. Leonard menyarankan agar pasien segera memeriksakan diri ke dokter jika demam tidak juga sembuh dalam tiga hari. “Jangan menunggu sampai parah,” tandasnya. Di sisi lain, dr. Leonard mengungkapkan, kejelian dokter dalam membaca gejala-gejalanya sejak dini merupakan kunci yang sangat penting. “Supaya pasien tidak berlama-lama menderita demam tifoid, tanpa diketahui secara jelas,” ulasnya.

Jika dibiarkan berlangsung terus-menerus, bukan tak mungkin penyakit ini akan menimbulkan komplikasi yang lebih serius. Tanpa perawatan yang benar, agresi kuman bisa menyebabkan usus mengalami perdarahan. Jika berlangsung terus, kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya perforasi (kebocoran usus).

Batasi Serat
Meski suka mengelabui, untungnya, kedua Salmonella mudah ditumpas. Kita harus berterima kasih kepada para ilmuwan yang telah mengembangkan kloramfenikol, tiamfenikol, ciprofloksasin, ofloksasin dan antibiotik lain yang efektif terhadap kedua kuman itu. Dalam waktu kira-kira satu minggu, agresi kuman biasanya sudah bisa diredam.

Namun, supaya terapi efektif, pasien harus mengimbanginya dengan diet yang tepat dan istirahat. Obat, diet tepat, dan istirahat merupakan trilogi yang saling menunjang. Dalam urusan diet, dr. Leonard memberikan catatan. Dulu, pasien demam tifoid hanya diberi bubur saring, lalu ditingkatkan perlahan-lahan menjadi nasi padat, seiring perbaikan kondisi klinisnya. Alasannya, makanan yang kasar dikhawatirkan dapat mengikis dinding usus yang sedang bermasalah, lalu menyebabkan luka dan akhirnya perforasi.

Namun, itu dulu! Setelah diteliti, makanan padat macam nasi pun ternyata tidak membahayakan dinding usus. “Asalkan rendah serat,” tandasnya. Karena tidak bisa dicerna, serat akan membuat feces lebih “berbentuk”, sehingga dikhawatirkan menimbulkan masalah pada saat kontak dengan dinding usus yang masih lemah.

Itu sebabnya, dr. Leonard menganjurkan pasien membatasi sayuran berserat tinggi seperti sawi, daun singkong dan kangkung. Wortel? Pisang? “Bolehlah. Seratnya ‘kan rendah,” katanya mempersilahkan. Jadi, jika biasanya kita dianjurkan banyak makan serat, khusus untuk kondisi demam tifoid, aturan ini boleh dimasukkan ke dalam laci. Aturan barunya, nasi padat oke, serat kasar no.

Aturan baru ini menjadi sangat penting, karena nyaris semua penderita demam tifoid mengalami penurunan nafsu makan. Padahal untuk mempercepat proses penyembuhan, pasien amat memrlukan asupan gizi yang cukup. Umumnya pasien mengeluh, bubur saring tidak menggugah selera makan. Maunya nasi padat, tapi takut makan karena sudah terbawa pandangan yang selama ini diyakini.

Dr. Leonard juga menandaskan, pemilihan jenis makanan harus diserahkan sepenuhnya pada pasien. Mau bubur saring, silahkan. Mau nasi padat, oke. Mau susu atau daging, terserah. Asalkan jangan makanan tinggi serat.

Selain diet yang tepat, pasien juga harus menjalani istirahat total. Dengan tirah baring (bed rest), diharapkan usus tidak banyak mengalami gerak, sehingga mempercepat proses penyembuhan.

Vaksin Dan Pencegahan
Oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), demam tifoid dimasukkan ke dalam kelompok travelleris diseases, penyakit yang perlu diwaspadai para pelancong bule yang mau pergi ke negara-negara berkembang. Maklum saja, di negara-negara maju relatif tak banyak dijumpai masalah sanitasi dan higienis.

Untuk mencegahnya, WHO dan Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menyarankan vaksinasi. Namun, ini bukan berarti vaksin hanya perlu buat orang-orang bule. Sebab, meskipun di Indonesia S. typhi ada di mana-mana, kita tetap tidak bisa menjamin bahwa kita pernah kontak dengannya. Dengan kata lain, kita pun perlu perlindungan.

Hingga saat ini, tersedia dua jenis vaksin, kapsul dan injeksi. Vaksin kapsul bisa diberikan mulai usia enam tahun dan perlu diulang tiap lima tahun. Sedang vaksin injeksi diberikan mulai usia dua tahun dan perlu diulang setiap dua tahun.

Namun yang paling penting dari semua itu, cegahlah kedatangan Salmonella selagi bisa. Biasakan hidup bersih, mencuci tangan jika berurusan dengan makanan dan minuman. Minumlah hanya air bersih, jika mungkin air matang. Soalnya, kuman Salmonella akan mati pada pemanasan 100oC.

Jika hendak makan buah atau sayur yang tidak dimasak, pastikan telah dicuci bersih. Bukan hanya dengan air keran, tapi bilas juga dengan air matang. Tak harus air panas. Hal-hal seperti ini sering disepelekan, padahal bisa saja air keran pun telah tercemar Salmonella.

Selama ini kita mengenal demam tifoid identik dengan masyarakat kelas menengah ke bawah, akibat saniatasi yang jelek dan pola hidup yang kurang higienis. Betul memang. Tapi, dengan keteledoran kecil saja, kuman S. typhi bisa berkunjung ke rumah-rumah yang jauh dari kesan jorok.

Buktinya, rumah-rumah sakit kelas menengah ke atas pun tak pernah sepi dari kasus demam tifoid. Bedanya, menurut dr. Leonard, angkanya lebih sedikit dan kondisi sakitnya lebih ringan. Ini terutama karena status gizi penderita relatif lebih baik sehingga daya tahan tubuhnya pun bagus. “Kalau mereka demam, jangankan tiga hari, dua hari pun mereka langsung pergi ke dokter”.

Bahkan mereka yang telah menerapkan pola hidup bersih pun tidak terjamin seratus persen bebas dari demam tifoid. Mungkin saja pertemuan dengan Salmonella typhi terjadi ketika sedang minum cendol, makan gado-gado atau pecel di warung langganan. Untuk mencegahnya, apa pun makanannya, pastikan resik warungnya.

TIPS
3 Langkah Menghindari Kuman Salmonella
- Menerapkan pola hidup bersih pada kehidupan sehari-hari
- Mencuci tangan jika hendak berurusan dengan makanan dan minuman
- Mencuci dengan air masak buah atau sayur yang tidak dimasak

Oleh M. Sholekhudin
Intisari Desember 2004

Sunday, August 26, 2007

ULKUS - Derita Seputar Usus


Lambung dan usus merupakan kawan senasib. Kalau ada makanan enak yang melewatinya, keduanya akan bekerja keras untuk “melumatnya” tanpa basa basi. Sebaliknya, bila makanan kelewat pedas, mengandung kuman atau malah tidak ada sama sekali yang lewat, mereka justru akan didera luka.
Selanjutnya harus bagaimana?

Seorang pria berusia 41 tahun menyantap gulai kepala ikan kakap kegemarannya di sebuah restoran padang tiba-tiba pria hampir paruh baya ini merasakan perutnya sakit sekali. Pola makan pria ini memang amburadul. Kadang makan terlalu banyak, kadang kelewat jam makan. Alhasil, begitu menghadap dokter ia dirujuk ke bagian gastroenterology, karena divonis menderita ulkus peptikum.

Fenomena ini bak potret masyarakat modern kita. Seiring dengan perubahan status sosial, pola makan pun ikut berubah. Makan sepuasnya, makan yang enak-enak bahkan mencicipi minuman keras dan kafein.

Ulkus peptikum itu luka berbentuk bulat atau oval berwarna kemerahan. Terjadi karena selaput dinding lambung tergerus asam lambung dan cairan percernaan. Pada kasus pria tersebut, bagitu makanan masuk ke lambung, otomatis produksi asam lambung semakin banyak, ditambah adanya luka, rasa sakitpun kian menjadi-jadi.

Ada dua ulkus yang lazim menyerang.
Ulkus duodenum (luka di usus dua belas jari) yang paling sering terjadi, dan Ulkus gastrikum yang terjadi sepanjang lengkungan lambung bagian atas. Dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A, ahli gastro anak pada RSAB Harapan Kita, menyebutkan penyakit ini dapat bisa menyerang orang dewasa sampai usia tak terbatas. Langganannya memang orang dewasa, tapi bukan berarti tak pernah menyerang anak-anak. Meski jarang, pernah Dr. Eva mendapati anak berusia dua tahun menderita penyakit ini.

Erosi Obat
Biasanya, yang menyerang anak-anak itu ulkus duodenum yang disebabkan kuman Helicobacter pylori. Penularannya akibat kontak erat dengan orang tua atau kakek nenek. “Koloni kuman ini ada di dalam mulut,” jelas Dr. Eva. “Ketika menyuapi anak, kebiasaan kita, jika makanan masih panas, lalu ditiup-tiup supaya lekas dingin. Malah ada yang dimamah dulu, setelah halus baru diberikan ke anak. Ini berbahaya! Atau saking gemasnya si anak dicium-cium, hingga terkena percikan air ludah.”

Pada orang dewasa yang sekresi asam lambungnya berlebihan ulkus cenderung lebih gampang terjadi. Luka itu terbentuk akibat rusaknya mekanisme pertahanan tubuh yang melindungi duodenum dan lambung dari serangan asam lambung. Namun, apa penyebab pasti kerusakan itu masih belum diketahui. Seperti dijelaskan Dr. Eva, kuman H. pylori hingga kini masih disangka sebagai biang keladi terjadinya ulkus peptikum. Belum terdeteksi cara bakteri ini beraksi. Perkiraan sementara, mengintervensi sistem pertahanan lambung atau memproduksi toksin yang menyebabkan ulkus.

Masih menurut Dr. Eva yang mendalami gastro anak di Amerika Serikat (1995 - 1997), pasien ulkus gastrikum umunya berusia lebih tua ketimbang penderita ulkus duodenum. Pada orang-orang berumur, sejumlah obat-obatan dapat menyebabkan erosi dan ulkus lambung, antara lain, aspirin, ibuprofen, dan obat-obat antiinflamasi nonsteroid lainnya. Memang, erosi dan ulkus ini bias sembuh bila obat dihentikan, tapi akan kambuh lagi biala penderita meminumnya lagi.

“Selain kuman H. pylori dan Hyper sekresi asam lambung yang tidak ditangani dengan baik juga akan menyebabkan dinding lambung lecet kemerahan, lama-lama luka jadi dalam dan menjadi tukak”, ujar Dr. Eva.Yang merangsang produksi asam lambung adalah keadaan stres dan tak mau makan sama sekali, sebab asam lambung keluar tapi tidak ada yang dicerna. Makanya, asam ini jadi melukai usus.

Lantaran berhubungan dengan jalur pencernaan, yang berpotensi terjangkit tentulah mereka yang memiliki kebiasaan makan tak teratur atau makan hanya selagi sempat dan mau saja. Apalagi lebih memilih tidak makan kalau lauk pauknya tidak membangkitkan selera. Dengan kata lain, orang yang teramat kejam terhadap perutnya sendiri. Disamping itu faktor selera pedas juga berperan. Jadi, celakalah mereka yang hanya mau makan jika di meja makan tersedia makanan pedas nan merangsang lidah dan penuh lada.
Yang menarik, Dr. Eva juga mensinyalir kuatnya faktor genetik di antara para penderita.

Tiga Komplikasi
Gejala yang dirasakan penderita tergantung pada lokasi ulkus dan usia penderita. Susahnya, ternyata ada yang tidak menampilkan gejala sama sekali. Soalnya, ulkus itu bias sembuh dan kambuh begitu saja. Namun secara umum, hampir setengah penderita ulkus duodenum merasa nyeri, panas, lapar dan perih. Nyeri biasanya terjadi saat perut kosong atau beberapa saat setelah bangun tidur. Nyeri itu tak putus-putus dan hanya muncul di bagian tertentu. Setelah minum susu, makan atau minum antacid, barulah nyeri pergi dan kembali 2 – 3 jam kemudian.

Rasa nyeri juga bias datang sekitar pukul 01.00 – 02.00 pagi selama satu hingga beberapa minggu. Anehnya, nyeri itu bisa hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Tapi, dua tahun kemudian misalnya, kambuh lagi. Sementara gejala ulkus gastrikum berbeda dengan ulkus duodenum. Makan justru menambah rasa nyeri, ketimbang menghilangkannya. Biasanya ulkus menyebabkan pembengkakan pada jaringan yang menuju ke usus kecil, sehingga menhalangi pengosongan makanan dari lambung. Hal ini menimbulkan rasa kembung, mual atau muntah setelah makan.

Penyakit kambuhan seperti ini tentu sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada kasus tertentu, malah bisa meningkat menjadi kanker usus. Makanya, harus cepat diatasi, sebelum kena komplikasi penetrasi, perforasi dan perdarahan. Pada penetrasi, ulkus menembus lapisan otot lambung atau duodenum sampai ke hati atau pankreas. Timbul nyeri hebat terus-menerus, dirasakan diluar arena yang terkena.. Misal, ulkus duodenum yang menembus pankreas, nyeri terasa di punggung. Bila pengobatan tak menyembuhkan, terpaksa harus dioperasi.

Sementara perforasi biasa terjadi pada ulkus duodenum, menembus dinding, dan membuat lubang terbuka ke rongga perut. Rasa nyeriny tiba-tiba, amat sangat dan tak henti-henti. Penderita merasakan nyeri pada salah satu atau kedua bahu. Nyeri bertambah hebat bila bernafas dalam. Karena sedikit mengubah posisi membuat nyeri semakin hebat, sebaiknya penderita berbaring dan diam. Saat ditangani dokter, perut terasa nyeri bila disentuh dan makin sakit jika mendadak dokter melepas tekanannya. Jika disertai demam, berarti terjadi infeksi. Bila tak cepat ditangani, akan timbul shock, yang harus diatasi segera dengan jalan operasi.

Komplikasi berikutnya, perdarahan, paling sering terjadi. Penderita memuntahkan darah merah segar, atau gumpalan merah kecokelatan. Jika buang air besar, feses berwarna hitam atau ada darah segar. Meski termasuk gejala ulkus, perdarahan bisa saja berasal dari tempat lain di saluran pencernaan. Bila sumber perdarahan tidak dapat ditemukan dan perdarahan sulit dihentikan, pengobatan diberikan dengan antagonis H2 dan antasid. Penderita juga dipuasakan agar saluran pencernaan dapat beristirahat. Bila perdarahan hebat atau terus-menerus, dokter dapat menggunakan endoskop untuk menyuntikkan obat. Bila masih gagal juga, terpaksa dilakukan pembedahan.

Untuk mengantisipasi mengganasnya ulkus, dokter punya beberapa pilihan. Pertama, endoskopi melalui mulut untuk melihat langsung ke dalam lambung. Khusus pemeriksaan ulkus duodenum dan dinding belakang lambung, endoskopi lebih dapat dipercaya ketimbang sinar-X. Juga lebih disarankan buat pasien beriwayat operasi lambung. Cara kedua, menggunakan rontgen denga kontras barium alias barium swallow atau seri gastrointestinal atas. Cara ini dipakai jika proses endoskopi tak menemukan ulkus.

Cara ketiga, analisis lambung, yaitu pemeriksaan dengan menghisap cairan lambung atau duodenum, sehingga jumlah asam bisa diukur. Prosedur ini dilakukan bila ulkus sangat parah atau penderita dijadwalkan untuk menjalani operasi. Terakhir, tes darah. Walau tidak dapat mendeteksi ulkus, tes dapat menunjukkan ada dan tidaknya anemia akibat perdarahan dari ulkus. Pemeriksaan darah juga dapat mendeteksi adanya kuman H pylori.

TIPS
3 Langkah Amankan Lambung :
Makan teratur, sehari tiga kali, dengan porsi secukupnya. Ditambah makanan kecil pukul 10.00 dan pukul 16.00. Dengan jadwal makan macam ini, tiga jam sekali perut terisi, sehingga bioritme produksi asam lambung teratur.
Hindari mengkonsumsi kafein, soft drink, atau minuman lain yang merangsang asam lambung.
Jauhkan diri dari makanan merangsang, seperti sambal sangat pedas, lada dan sebagainya.

Oleh Dharnoto
Intisari edisi Mei 2004


Tuesday, August 21, 2007

Mengurangi Ketergantungan Terhadap Susu Formula

susu_formulaAksi Suara Ibu Peduli rupanya cukup menggelitik banyak pihak untuk ikut berkomentar. Antara lain tulisan-tulisan Bung Zaim di harian Republika (27/02/98 dan 05/03/98). Kemudian sepucuk surat dari mbak Karlina yang mewakili Ibu-ibu Peduli menanggapi tulisan di harian yang sama (05/03/98). Rasanya sebagai ibu rumah tangga dan pengamat masalah Ibu dan Anak, penulispun tergelitik dan gatal tangannya untuk ikut "urun rembug" kalau dapat dikatakan demikian, untuk ikut menanggapi tulisan-tulisan atau publikasi terdahulu. Hal ini jangan sampai menimbulkan suatu opini yang rancu di masyarakat.

Masalah yang dilontarkan Bung Zaim dan Mbak Karlina memang tidak dapat dengan penyelesaian jangka pendek dan hanya sepihak saja. Banyak instansi baik pemerintah maupun non pemerintah terkait di sana. Keduanya memandang dari sudut yang berbeda, dan juga tidak ada yang salah. Pengetahuan mbak Karlina akan ASI tidak perlu disangsikan lagi, bahkan beliau pendukung ASI sejak gerakan ASI belum dicanangkan. Hanya bagaimana alternatif penyelesaiannya itulah yang menjadi tanggung jawab mereka yang peduli akan terbentuknya generasi suatu bangsa yang sehat dan cerdas di masa depan. Mungkin dalam jangka pendek yang diharapkan adalah turunnya harga susu dengan segera, tetapi permasalahan tidak menjadi selesai karenanya. Masyarakat luas pada umumnya tetap tinggi ketergantungan akan susu formula.Justify Full

Dalam keadaan krisis ekonomi sekarang ini yang dirasakan berat bahkan sangat berat oleh banyak pihak, antara lain dengan membumbungtingginya harga susu formula. Aksi yang digelar oleh Ibu-ibu Peduli, memang merupakan "nurani Ibu yang dipenuhi cinta universal, sehingga menjadikan derita orang lain menjadi bagian dari kisah hidupnya", sehingga sidang kasus Karlina yang diliput oleh wartawan dalam dan luar negri itu, sempat menarik banyak simpatisan. Sementara tulisan Bung Zaim yang mewakili "Bapak-bapak pendukung Gerakan ASI", mungkin ada yang hanya membacanya selintas, bahkan mungkin segera terlupakan. Padahal masalah keduanya adalah sama bahwa ketergantungan Ibu akan susu formula cenderung tinggi. Sehingga ketika susu formula hilang dipasar dan kemudian muncul dengan harga tinggi, banyak ibu yang menjerit.

Kelompok- kelompok yang memerlukan susu

Pertama, yaitu ibu-ibu yang sepenuhnya menyusui anaknya dengan ASI tanpa diselingi susu formula dalam jangka waktu yang cukup bagi si anak untuk dihentikan pemberian ASI-nya. Bagi golongan ini tidak perlu diganggu gugat, bahkan diberi penghargaan dari masyarakat terhadap "tekad"nya itu. Mungkin yang dirasakan berat saat ini bagi mereka adalah untuk mendapatkan makanan bergizi sehingga kualitas ASI yang dihasilkanpun cukup baik. Ketergantungan mereka akan susu formula dapat dikatakan tidak ada. Rasanya merekapun tidak menjadi ikut panik ketika susu formula hilang dipasaran. Demikian pula susu formula bagi ibu menyusui, dapat digantikan dengan bahan alami lainnya.

Kedua, adalah ibu-ibu yang digambarkan mbak Karlina sebagai bekerja sebagai pilihan sendiri bukan karena keterpaksaan soal makan atau tidak makan. Untuk kelompok ibu-ibu ini bukan mereka tidak sadar atau tidak tahu pentingnya ASI, bahkan kadang sembunyi-sembunyi untuk mengeluarkan ASInya di WC kantor. Susu formula adalah alternatif tercepat yang mereka pilih untuk mengatasi kebutuhan si bayi selama mereka bekerja apalagi mereka yang harus dinas luar kota selama beberapa hari misalnya. Selanjutnya apa yang dikemukan mbak Karlina bahwa setelah mereka berada di rumah, sesegera mungkin dan selama mungkin menyusui anak dengan ASI, bahkan kalau perlu "sepanjang malam". Pada kenyataannya dan didukung hasil-hasil penelitian serta tulisan -tulisan ilmiah, hal itu tak baik untuk dilakukan.

Bayi yang normal cukup 5-6 kali sehari mendapat ASI dengan waktu masing-masing pemberian ASI 10-20 menit dan tidak bisa dikompensasi sekaligus misalnya dengan. sepanjang malam atau selama mungkin karena sang Ibu pun perlu istirahat, untuk dapat berproduksi ASI lagi keesokan harinya dan si bayi tidak dibiasakan "mengempeng", dari dada ibu yang tak mengeluarkan ASInya lagi. Berdasarkan suatu penelitian ilmiah pula bahwa ibu-ibu yang capai bekerja, apalagi stress di tempat kerja atau dalam perjalanan pulang dan pergi ke tempat kerja, dapat mempengaruhi produktivitas ASInya. Hormon "Adrenalin" yang dapat terbentuk karena sang ibu mengalami stress atau kerja berat akan menghambat atau setidaknya mengurangi keluarnya ASI. Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika ketika pulang kantor si bayi hanya dapat tercukupi dengan satu atau dua kali ASI saja.

Pada kelompok ibu-ibu ini perlu diberikan hak-hak yang lebih baik, disamping kerelaan si ibu juga untuk membagi hak gajinya yang berkurang. Di Jerman di negara yang saat ini penulis bermukim di kenal "cuti pendidikan anak (erziehungurlaub)" selama 18 bulan. Ibu-ibu yang bekerja diperusahaan atau kantor-kantor tidak akan kehilangan kursi ketika ia masuk lagi, karena selama ia cuti ada yang menggantikannya. Hanya saja gajinya tidak diterima penuh karena perlu dibagi untuk penggantinya selama ia cuti. Tapi mereka menikmati cuti tersebut untuk sepenuhnya menyusui anaknya dan ketika ditinggalkan untuk kembali bekerja anak-anak mereka sudah tidak lagi tergantung ASI juga tidak pada susu formula, karena mereka sudah mendapat asupan yang lengkap seperti halnya manusia dewasa.

Hal lain adalah membagi waktu kerja "part time". Bagi mereka yang mempunyai bayi (di sana sampai usia 5-6 bulan disarankan ASI sepenuhnya). Tentu saja konsekwensinya pun ibu-ibu tersebut harus rela gajinya berbagi dengan teman kerjanya. Hal ini bukan saja berdampak positif bagi kelangsungan pemberian ASI, juga membuka lapangan dan kesempatan kerja bagi ibu-ibu yang tergolong kelompok ini dan tidak sedang adalam masa menyusui anak. Hal ini perlu juga diupayakan menjadi undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia misalnya. Tidak saja Instansi ketenagakerjaan ataupun kesehatan yang ikut mengupayakannya, rasanya Menteri UPW yang akan datang pun diharapkan dapat menggolkan hak-hak ibu yang bekerja menjadi lebih baik, tidak hanya menambah jumlah lapangan dan kesempatan kerja bagi wanita. Dengan ini ketergantungan akan susu formula pun dapat dikurangi.

Pemberian ASI di tempat kerja juga suatu alternatif mengurangi ketergantungan akan susu formula, tetapi jika tempat kerja jauh dari rumah, sementara di sana tidak ada tempat penitipan anak, dengan siapa si bayi selama ibu bekerja?. Imbauan mbak Karlina untuk para bapak agar mampir ke tempat istrinya pada saat istirahat untuk mengantar ASI yang dibotolkan juga, rasanya kurang relevan. Berapa jauh jarak yang ditempuh sang bapak dan berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap hari untuk ke sana ke sini menjemput dan mengantar ASI. Pembotolan ASI pun bukan satu alternatif yang paling baik, karena seperti diungkapkan mbak Karlina sendiri adanya kedahsyatan hubungan psikhologis antara ibu dan anak ketika si anak berada dalam dekapan dan menyusu dari payudara ibunya. Selain itu segi sanitasi dan kontaminasi ASI selama dalam botol sulit juga pengupayaannya, apalagi kalau harus dibawa ke sana kemari. Dulu penulis pernah berupaya mencari tempat tinggal dekat tempat bekerja, sehingga sewaktu-waktu dapat pulang untuk memberikan ASInya. Tetapi sulit untuk mendapat keadaan seperti itu sekarang, apalagi di kota-kota besar.

Ketiga, adalah kelompok ibu yang oleh mbak Karlina sebagai memilih bekerja sebagai soal makan atau tidak makan. Ibu-ibu yang ingin mendekap anaknya tapi tidak mempunyai pilihan. Mereka pun jangan dijadikan "korban" penggunaan susu formula. Bagi masyarakat kelas ekonomi rendah (para buruh harian misalnya), jangankan ketika harga susu formula melangit, ketika masih normalpun tidak terjangkau oleh mereka. Mereka memberikan alternatif-alternatif lain sebagai penggantinya, antara lain air tajin yaitu air godokan beras (seperti yang pernah diberikan ibu penulis ketika kecil). Pada kelompok ini yang harus diperjuangkan adalah "penerangan gizi yang baik dan benar". Gizi yang baik dan benar tidak hanya diperoleh melalui susu formula. Jadi gerakan-gerakan posyandu oleh ibu-ibu PKK maupun tim-tim kesehatan pun sebaiknya tidak memberikan susu-susu contoh pada kegiatannya ataupun seperti yang diistilahkan Bung Zaim sebagai suatu "medikalisasi", dengan mudahnya rumah-rumah sakit memberikan "susu contoh berupa susu formula". Maka dalam hal ini Instansi-instansi kesehatan juga organisasi-organisasi masyarakat dapat turut serta menggalakkan pengurangan ketergantungan akan susu formula. Suatu kejadian yang ironis, jika seorang yang bekerja menggerakkan kegiatan kembali pada ASI, tetapi bersamaan dengan itu, anaknya di rumah ditinggalkan dengan botol yang berisi susu formula.

Upaya lain yang dapat dilakukan pada kelompok ini seperti pada kelompok ke dua di atas, yaitu memberikan hak-hak yang lebih baik bagi ibu yang bekerja di pabrik-pabrik misalnya. Cuti yang tiga bulan itu diberikan, dengan tetap memberikan upah walaupun tidak penuh. Jadi Para pengusahapun harus mau ikut bertanggungjawab memikirkan hari depan generasi akan datang yang terbentuk antara lain dari pemenuhan kebutuhan fisiknya ketika masa bayi melalui pemberian hak yang wajar bagi para ibu-ibu yang bekerja, tidak hanya memeras tenaganya saja. Pesan "moral" di sini sepatutnya cukup dihiraukan. Alternatif lain seperti yang disarankan mbak karlina, mengupayakan adanya tempat penitipan anak di lingkungan pabrik. Sehingga ibupun dapat tenang dan berproduksi optimal. Tapi dalam keadaan seperti sekarang ini sulit untuk kedua hal di atas sulit untuk segera diterapkan oleh perusahaan atau pabrik tempat ibu-ibu tersebut bekerja.

Keempat, adalah kelompok ibu-ibu yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban menyusui anaknya berdasarkan "keinginan sendiri", antara lain mereka yang enggan memberikan ASI karena akan kehilangan sebagian daya tarik seksualnya, karir akan terhambat atau repot karena urusan bisnis. Mungkin kelompok inilah konsumen terbesar akan susu formula. Dalam keadaan ekonomi sekarang ini mereka pun tidak terlalu banyak terguncang, harga tinggi tidak menjadi masalah, yang penting susu formula tersedia di pasaran.

Inilah kelompok ibu-ibu yang perlu diberi pengertian lebih mendalam akan pentingnya ASI dan "manajemen laktasi"nya. Juga suatu kesadaran bahwa pengambilan keputusan untuk melahirkan anak, disertai tanggungjawab memenuhi kebutuhan si bayi akan ASI yang menjadi haknya. Ketuklah hati mereka lebih dalam bahwa kembalinya mereka pada ASI akan memberi dampak positif bagi masyarakat pada umumnya. Dengan memberi contoh memborong susu formula hanya akan menimbulkan dampak negatif saja, terutama bagi golongan mereka yang tak mampu untuk membelinya.

Kelima, adalah kelompok ibu-ibu yang karena sakit atau bahkan meninggal saat bayinya masih memerlukan ASI, antara lain bayi-bayi yang berada di panti asuhan. Memberikan pengganti ibu pemberi ASI bukan suatu jalan keluar bahkan kemungkinannya sangat kecil. Demikian juga pemberian susu formula bukan satu-satunya alternatif yang dapat diambil. Sumbangan berkaleng-kaleng susu pada mereka tidak memecahkan masalah, apalagi jika keadaan seperti sekarang ini, dikala sumbangan menurun frekwensinya, maka sulitlah mereka mencari susu pengganti karena sudah terbiasa akan prosuk susu formula. Alangkah lebih baik sumbangan itu dikonkritkan dengan lemari pendingin atau alat-alat sterilisasi sederhana, sehinggga panti-panti asuhan mampu menyiapkan susu pengganti dari susu sapi segar yang harganya relatif masih lebih rendah dari susu formula.

Di samping itu diberikan penerangan yang sebaik-baiknya bagaimana perlakuan terhadap susu segar itu, juga penerangan gizi yang memadai untuk mencukupi kebutuhan gizi si bayi yang perlu dilengkapi dari bahan-bahan alami lainnya. Ini memang menambah pekerjaan bagi pengurus panti asuhan, tetapi dengan kesadaran semua pihak, bahwa kekurangan gizi tidak hanya bisa dicukupi dengan susu formula, maka pekerjaan itu selanjutnya akan tertangani.

Keenam, adalah kelompok balita yang sudah melampaui masa mendapatkan ASI, tetapi tetap membutuhkan susu. Memang betul pertumbuhan kecerdasan mereka akan ditunjang oleh kecukupan gizi yang baik.

Bukankah susu dalam ilmu gizi sebagai bahan penyempurna setelah bahan lainnya (ingat ! 4 sehat 5 sempurna) Memang dalam susu terutama susu formula tersedia semua bahan-bahan essensial yang dibutuhkan tubuh. Akan tetapi apakah dengan meminum susu saja cukup? Bahkan jika terlalu banyak susu pun anak menjadi kegemukan (obesitas), dan akan lamban dalam beraktivitas. Hal lain, pemenuhan susu sebagai penyempurna itupun tidak harus berasal dari susu formula. Jika kebutuhan susu dipenuhi dengan susu segar, dan kebutuhan lainnya dari makanan alami yang kita konsumsi sehari-hari. Maka ketergantungan akan susu formula bagi si anakpun dapat dikurangi dengan tidak menjadikan sinak sebagai anak yang kurang gizi.

Banyak alternatif lain untuk mencukupi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral bagi si anak, antara lain memasyarakatkan konsumsi sayuran dan buah bagi anak-anak. Karena di sanalah sumber vitamin dan mineral yang sering diunggulkan oleh berbagai produk susu formula dalam "fortifikasinya". Asam lemak tak jenuh dapat diperoleh dari minyak yang berasal dari tumbuh.tumbuhan. Sedangkan enzim-enzim yang juga diiklankan susu formula dapat diganti dari bahan-bahan alami yang dimakan sehari-hari.

Sekali lagi penerangan gizi yang baik ternyata perlu disebarkan ke seluruh masyarakat, baik dari lapisan kelas ekonomi rendah sampai yang tinggi sekalipun. Karena kadang-kadang justru anak-anak dari mereka yang tergolong kelas ekonomi tinggi dengan mudahnya membeli makanan-makanan jajanan (misalnya Fast food), yang kadangkala masih harus dipertanyakan nilai gizinya.


Upaya Bersama untuk Menurunkan Ketergantungan Susu Formula

Pengalaman yang dirasakan penulis dan juga pengamatan yang dilakukan selama beberapa tahun bermukim di suatu negara yang tingkat ekonominya boleh dikatakan lebih maju, penggunaan susu formula bagi sebagian ibu banyak dijauhi, mereka lebih senang kembali ke bahan-bahan alami yang diolah sekedarnya (susu pasteurisasi). Hanya mereka-mereka yang "terpaksalah" menggunakannya. Padahal daya beli mereka masih cukup untuk memberikan susu formula bagi anaknya. Di bawah ini penulis ingin mengemukakan beberapa contoh gerakan ASI yang menyeluruh dari semua pihak.

Di rumah-rumah sakit, bagi ibu yang melahirkan segera bayinya dalam keadaan masih merah (belum dimandikan) segera diberikan pada dekapan sang ibu. Setelah si ibu berisirahat sejenak, si bayi segera diserahkan kembali untuk mengisap puting susu ibunya, sehingga ASI akan cepat terangsang keluar. Jika ASI belum keluar (seperti yang dialami penulis sampai hari ke2), si bayi tidak segera diberi susu botol tapi sementara diberi dulu teh berasal dari tumbuhan (Fenchel, Kamille dsb), kalau dirasa kurang kalori, diberi tambahan gula sedikit. Usaha mengenalkan si bayi akan susu selain ASI dihindari sejauh mungkin.

Susu-susu contoh yang berupa susu formula tidak diberikan atau diiklankan di rumah sakit ketika si pasien pulang, kecuali dalam hal-hal tertentu. Dinas-dinas kesehatan baik pemerintah maupun non-pemerintah juga organisasi-organisasi kemasyarakan dan keagamaan, menyebarkan brosur-brosur yang berkenaan dengan ASI. Bahkan bagi mereka yang menemui kesukaran dalam memberikan ASI bagi bayinya, ada grup-grup sosial yang dapat membantu memecahkan masalah tersebut. Para pengusaha susu formula mengiklankan produknya melalui salesman yang datang dari rumah ke rumah atau di dalam brosur-brosur khusus bagi Ibu dan Anak, yang mereka keluarkan sendiri. Sedikit sekali dijumpai dalam majalah atau koran-koran secara umum.

Gerakan penggunaan ASI, disadari oleh semua pihak dan dilakukan di mana-mana. Dokter-dokter anak sangat menekankan si Ibu untuk memberikan ASInya. Media massa audio visual, termasuk TV jarang mengiklankan susu formula. Bahkan rasanya dari channel TV yang dapat ditangkap oleh penulis, tidak ada yang mengiklankannya.

Susu segar banyak menjadi pilihan konsumen. Karena mereka menganggap kandungan gizinya lebih alami. Bahkan di beberapa supermaket yang melayani kebutuhan sehari-hari, tidak ditemukan produk-produk susu formula. Susu tersebut hanya di dapat di rumah-rumah obat, apotik-apotik dan beberapa supermaket besar, itupun dalam jumlah terbatas.


Memang mengurangi ketergantungan terhadap susu formula harus melalui jalan yang panjang, termasuk peranan pemerintah untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sapi perah hingga tercukupinya kebutuhan masyarakat. Mungkin yang perlu diberi subsidi atau insentif tertentu adalah peternak-peternak sapi, kemudian juga mempermudah pendistribusian susu segar sampai ketangan konsumen termasuk pengupayaan penanganan susu segar kepada seluruh lapisan masyarakat. Hingga nantinya mereka yang membutuhkan susu tinggal cari di kios atau toko terdekat dengan harga yang terjangkau.

Untuk sementara mungkin sebagian hal yang ideal di atas masih suatu impian, tetapi dengan kerja keras dan kepedulian banyak pihak, persoalan ketergantungan akan susu formula dapat dikurangi. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak semua pihak turut memikirkan gaung yang telah diperdengarkan melalui aksi Suara Ibu Peduli, tentu saja untuk mencari jalan pemecahannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dan itu baiknya kita mulai dari diri sendiri.
Oleh: Mira Suprayatmi

Monday, July 9, 2007

Bumbu Tradisional untuk Obat Balita Anda !

Air Kelapa Muda & Kopi
Dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak muntaber. Dosisnya tak ada takarannya, sekehendak anak. Dicampur dengan sedikit kopi (seujung sendok saja)

Brotowali (Putrawali, andawali)
Untuk pemakaian luar bermanfaat menyembuhkan luka-luka dan gatal-gatal akibat kudis (scabies). Caranya, 2-3 jari batang brotowali dipotong kecil-kecil, rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih, biarkan selama 1/2 jam. Saring air dan gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal.

Jeruk Nipis
Untuk mencairkan dahak dan obat batuk anak. Caranya, campur 1 sdm air perasan jeruk nipis, 3 sdm madu murni, 5 sdm air matang, lalu ditim selama 30 menit. Takaran minum bayi antara usia 6-1 tahun : 2 kali 1/2 sdt ; anak 1-3 tahun : 2 kali 1 sdt; anak 4-5 tahun : 2 kali 1 1/2 sdt.

Cara lain, potong 1 buah jeruk nipis, peras airnya, taruh dalam gelas /cangkir. Tambahkan kecap manis, aduk. Takaran minum untuk anak, 3 kali 1 sdt per hari.

Kentang
Untuk obat bisul. Caranya, parut kentang dan peras. Oleskan sari air dan parutan kendtang segar dioleskan pada bisul 3-4 kali per hari Bisa pula untuk ruam kulit yang disebabkan biang keringat atau keringat buntet (miliaria), karena sifat kentang yang mendinginkan.

Banglai (bangle, panglai, manglai, pandhiyang)
Untuk menenangkan bayi dan anak yang sering rewel pada malam hari, balurkan parutan banglai segal di kening dan badan anak.

Minyak zaitun
Untuk mengobati kerak kepala atau ketombe pada bayi (craddle crap), sebanyak 1-2 kali per hari dioleskan pada kulit kepala.

Lidah buaya
Untuk mengobati luka bakar pada bayi dan anak. Caranya dengan mengoleskan daging daun lidah buaya pada seluruh permukaan kulit yang menderita luka bakar.

Daun pepaya
Berkhasiat meningkatkan nafsu makan, menyembuhkan penyakit malaria, panas,beri-beri dan kejang perut. Caranya, daun pepaya muda ditumbuk, diperas, saring, lalu minum airnya.

Temulawak (koneng gede)
Untuk menambah nafsu makan. Caranya, 150 gram temulawak 50 gram kunyit segar dikupas, iris tipis, rendam dalam 500 cc madu kapuk dalam toples tertutup selama 2 minggu. Setelah 2 minggu ramuan siap untuk digunakan.Aturan minum 1 sendok makan madu temulawak dilarutkan dalam 1/2 cangkir air hangat, diminum pagi dan sore.

Kencur
Untuk meringankan batuk pada anak. Caranya, 5 gram kencur segar dicuci bersih, parut, lalu tambahkan 2 sdm air putih matang dan diaduk. Setelah disaring, tambahkan 1 sdm madu murni. Berikan 2-3 kali sehari.

Adas (fennel)
Teh adas dapat dipakai untuk meringankan bayi yang menderita kolik atau yang kesakitan akibat erupsi (keluarnya) gigi. Untuk obat masuk angin dan kolik, caranya 1sdt teh adas dilarutkan dengan 1 cangkir air mendidih, aduk hingga larut. Setelah agak dingin, larutan dapat diminumkan pada bayi/anak dengan takaran sesuai umurnya.