Monday, August 9, 2010

Puasa, Sakit Bukan Alasan...

Bulan Ramadhan tiba. Panggilan untuk menjalankan ibadah puasa sangat kuat di hati. Namun, jika penyakit menghadang, mungkinkah puasa tetap dilaksanakan?

Kehadiran penyakit seperti diabetes, mag, dan ginjal kerap menimbulkan keraguan untuk berpuasa. Ternyata, kekhawatiran tersebut dapat dihindari. Hadis Nabi Muhammad, ”Berpuasalah kamu agar kamu sehat”, diamini pula oleh para dokter dalam simposium mini bertema ”Ibadah Berkualitas Selama Puasa Tanpa Gangguan Penyakit” yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Sabtu (7/8).

Agar ibadah puasa berjalan lancar, penderita diabetes, mag, dan ginjal memang memerlukan persiapan ekstra dibandingkan orang sehat.

Mereka harus mengecek kondisi kesehatan, seperti tekanan darah, kolesterol, dan kadar gula, untuk menyiapkan adaptasi. Mereka dapat berpuasa jika kondisi kesehatan stabil, penyakit terkontrol, dan tidak ada infeksi akut. Yang juga perlu dikonsultasikan ke dokter adalah kemungkinan perubahan obat yang diminum karena perubahan jadwal makan, termasuk adaptasi cara makan.


Sakit mag

Ari Fahrial Syam dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, bagi mereka yang sakit mag atau dispepsia, yang perlu dipastikan terlebih dahulu adalah apakah mag yang diderita termasuk mag fungsional atau organik.

”Orang dengan sakit mag dapat berpuasa kecuali penderita mag organik yang belum diobati. Apalagi jika ada tanda-tanda seperti mag pertama kali di atas 45 tahun, berat badan turun, anemia, melena, dan disfagia,” ujarnya. Hasil endoskopi mag organik menunjukkan kelainan seperti tukak pada lambung, tukak usus dua belas jari, polip, dan kanker.

Sementara mag gangguan fungsional terjadi karena makan yang tidak teratur, kebiasaan makan camilan berlemak, minum kopi atau bersoda sepanjang hari, merokok, dan stres. Sekitar 80 keluhan mag yang dirasakan masyarakat merupakan mag disfungsional dan hasil endoskopi biasanya normal.

Untuk mag disfungsional, biasanya malah membaik atau sembuh setelah berpuasa. ”Itu karena saat berpuasa malah makannya menjadi teratur saat buka dan sahur, tidak makan camilan berlemak sepanjang hari, tidak ngopi, dan tidak merokok,” ujarnya. Produksi asam lambung akan turun.

Dia mengatakan, pada minggu awal akan berat karena terjadi perubahan. Oleh karena itu, pasien mag disfungsional biasanya diberi obat penekan asam lambung seperti lanzoprazole dengan dosis 30 mg per hari selama seminggu. Obat itu bekerja selama 12 jam. ”Berbeda dengan antasida yang banyak diiklankan. Antasida bukan penekan asam lambung, melainkan menetralkan asam lambung yang sudah terjadi,” ujarnya.

Untuk gangguan mag organik, sebaiknya mag diobati terlebih dahulu. Mag organik dapat bertambah buruk saat berpuasa.

Bagi penderita mag, makanan harus diperhatikan, seperti menghindari makanan yang mengandung gas, yang memicu asam lambung, sulit dicerna, memperlambat pengosongan lambung, dan melemahkan klep kerongkongan bawah.


Diabetes

Tri Juli Edi T dari Divisi Metabolik Endoktrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam mengungkapkan, penderita diabetes yang ingin berpuasa sebelumnya harus kontrol ke dokter. Dokter akan menentukan tingkat risiko sangat tinggi, tinggi, sedang, atau rendah. Penderita berisiko sangat tinggi, antara lain penderita diabetes yang sedang hamil dan gula darah sering turun, jika memutuskan berpuasa harus di bawah pengawasan ketat dokter.

Konsultasi ke dokter juga perlu untuk pengaturan pemakaian obat—waktu dan dosisnya—yang kemungkinan berubah karena harus disesuaikan dengan jam makan. Selain itu, beberapa hal yang harus diwaspadai saat berpuasa adalah gula darah terlalu rendah, gula darah terlalu tinggi, darah menjadi asam (ketoasidosis), dan kekurangan cairan.

Untuk penderita diabetes, makanan ketika berpuasa tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Jumlah kalori yang dikonsumsi sama, tetapi jadwal makan saja yang berubah.

Porsi kalori 50 persen saat buka puasa, 10 persen setelah tarawih, dan 40 persen saat sahur. Pilih karbohidrat kompleks yang butuh pembakaran lama sekitar 8 jam, kurangi lemak, dan perbanyak serat. Minum juga harus cukup, yakni delapan gelas. ”Konsumsi energi biasanya menjadi sangat tinggi setelah minggu keempat puasa karena perayaan Lebaran. Ini yang harus dijaga agar tidak berlebihan makan saat Lebaran atau juga berbuka,” ujarnya.

Puasa juga harus dibatalkan jika gula darah turun menjadi 60 mg/dl atau kurang, gula darah turun di sekitar 70 mg/dl di jam-jam awal, terutama pemakai insulin, sulfonilurea, atau glinid yang dipakai saat sahur, dan gula darah naik lebih dari 300 mg/dl. Memonitor gula darah penting ketika berpuasa bagi penderita diabetes. Periksa gula darah tidak berarti membatalkan puasa.

Ginjal

Boleh tidaknya berpuasa biasanya kerap menjadi pertanyaan penderita sakit ginjal. Imam Effendi dari Divisi Ginjal Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI mengatakan, puasa berarti tidak makan dan minum dalam waktu tertentu. Sejauh mana berpuasa bisa berbahaya atau menguntungkan bagi penderita ginjal sangat tergantung dari jenis dan derajat penyakitnya.

Penyakit ginjal ada beragam jenis dan stadium. Penyakit batu ginjal stadium awal sangat membutuhkan minum hingga 4 liter per hari. Jika lalai, batu ginjal dapat bertambah parah. ”Kebutuhan minum air yang banyak itu sulit dipenuhi pada saat Ramadhan. Alternatifnya puasa berselang-seling dan bayar fidiah,” ujarnya.

Sebaliknya, bagi penderita ginjal kronik, baik yang belum maupun sudah dialisis, berpuasa malah sangat bagus. Pada penderita ginjal kronik, pengeluaran urine menurun drastis. Bahkan, pada penderita yang sudah dialisis, terkadang urine tidak keluar sama sekali. Pengeluaran air dilakukan ketika cuci darah. Lantaran urine sangat sedikit, mereka tidak boleh terlalu banyak minum.

”Minum yang diizinkan bagi penderita ginjal kronik yang sudah cuci darah hanya 500 ml (dua gelas) ditambah air sejumlah urine yang keluar. Jumlah 500 ml itu merupakan perkiraan air yang keluar melalui pernapasan dan keringat. Minum harus benar-benar diukur. Puasa yang berarti berhenti minum justru bagus bagi penderita ginjal kronik,” ujarnya.

Kelebihan air dan gangguan elektrolit kerap menjadi penyebab utama kematian penderita ginjal kronik. Komposisi makanan penderita ginjal saat berpuasa tidak berbeda dari sebelumnya.

Ari Fahrial Syam yang juga Ketua Bidang Advokasi Pengurus Besar PAPDI mengatakan, secara umum, cara makan ketika puasa harus diperhatikan.

”Untuk menjaga kesehatan, berbukalah dengan makanan ringan, seperti beberapa butir kurma, dan makan berat setelah maghrib secara bertahap atau tidak kalap. Selain itu, pilih makanan dengan indeks glikemik rendah dan tinggi serat. Selama berpuasa, istirahat harus cukup dan olahraga ringan tetap dilakukan,” ujarnya. Dengan demikian, puasa dapat dituntaskan dan penyakit pun terkontrol.

Oleh: Indira Permanasari - KOMPAS health

Sunday, August 8, 2010

Rokok dan Tindik Puting Tingkatkan Risiko Abses Payudara

lung cancerAda banyak faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko abses atau penumpukan nanah pada payudara. Sebuah penelitian terbaru membuktikan, merokok dan membuat tindik di bagian puting susu termasuk di antaranya.

Abses payudara merupakan penyakit yang sulit untuk sembuh sekaligus mudah untuk kambuh. Dikutip dari Healthday, Minggu (8/8/2010), peluang kekambuhan bagi yang pernah mengalaminya berkisar di antara 40-50 persen.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri, salah satunya adalah Staphylococcus aureus. Bakteri yang secara alami bisa ditemukan pada kulit manusia itu bisa masuk apabila ada luka pada payudara terutama di sekitar puting susu.

Selain diabetes dan obesitas yang merupakan faktor risiko utama, beberapa faktor lain ternyata dapat meningkatkan risiko abses payudara. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian di University of Iowa, yang dipublikasikan dalam Journal of The American College of Surgeons edisi Juli 2010.

Salah satu faktor yang dimaksud adalah rokok, yang dapat meningkatkan risiko abses payudara 6 kali lipat dibanding pada wanita yang tidak merokok. Selain itu, rokok juga membuat peluang kekambuhan melonjak hingga 15 kali lipat.

Dari sejumlah pasien yang mengalami kekambuhan, 60 persen di antaranya merupakan perokok berat. Oleh karena itu, peneliti menyarankan para pendeita abses yang merokok untuk menghentikan kebiasaanya agar risiko kambuh bisa dikurangi.

Selain itu, faktor berkutnya yang baru pertama kali diungkap adalah tindik di bagian puting susu. Risiko untuk mengalami abses payudara pada wanita yang putingnya ditindik cenderung meningkat pada kurun waktu hingga 7 tahun sejak tindik dibuat.

Dalam penelitian ini, para ahli melibatkan 68 wanita yang mengalami abses payudara, termasuk 43 wanita perokok dan 9 wanita yang memiliki tindik di putingnya. Seluruh partisipan tidak memiliki riwayat kanker payudara dan tidak sedang menjalani penyinaran dengan radiasi maupun operasi payudara dalam 12 bulan terakhir.
(up/ir)

Oleh: AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Tips Agar Aman Membawa Bayi di Pesawat

Sekembalinya dari mudik ke tanah air, belum ada ide nulis artikel. Kali ini saya mau share pengalaman membawa bayi di pesawat. Walaupun Salma sudah berumur 3 tahun, tapi artikel ini ditujukan untuk balita. Hanya beda sedikit, misalnya tentang diapers dan kursi duduk (seat). Yang lainnya sama saja, bisa diterapkan untuk bayi dan anak-anak.

Sebelum Anda melakukan perjalanan dengan pesawat, jika

Saturday, August 7, 2010

Orang Ginjal Kronik Bisa Puasa, Pasien Batu Ginjal Awal Jangan Dulu

ginjal dalamPenderita gangguan ginjal memang harus mengatur asupan air minumnya. Ada yang harus mengonsumsi banyak air tapi ada juga yang harus dibatasi minumnya. Untuk penderita ginjal stadium awal sebaiknya jangan puasa dulu.

"Untuk menentukan apakah puasa akan membahayakan atau menguntungkan pada pasien ginjal tergantung pada jenis dan derajat penyakit ginjal yang dimilikinya," ujar DR Dr Imam Effendi, SpPD-H-GH dalam acara simposium PAPDI forum 'Ibadah Berkualitas Selama Puasa Tanpa Gangguan Penyakit' di gedung Graha Purna Wira, Jakarta, Sabtu (7/8/2010).

Dr Imam mengatakan pada orang yang menderita batu ginjal stadium awal memerlukan asupan air yang banyak bahkan hingga 4 liter per hari.

Hal ini akan sulit dicapai jika seseorang berpuasa, karenanya beberapa orang yang didiagnosis menderita batu ginjal stadium awal disarankan untuk tidak berpuasa. Jika kondisinya sudah membaik, penderita baru boleh berpuasa.

Sebaliknya pada orang yang memiliki penyakit ginjal kronik, baik yang sudah melakukan cuci darah (dialisis) atau belum pada umumnya boleh menjalani puasa. Hal ini karena jumlah urine yang dikeluarkan cenderung menurun atau justru tidak ada sama sekali, sehingga orang tersebut harus membatasi asupan cairannya. Hal ini tentu saja tidak akan mengganggu puasanya.

Dr Imam menuturkan penyakit ginjal dibatasi menjadi dua hal yaitu batu ginjal dan penyakit ginjal kronik. Karenanya perawatan yang diberikan untuk kedua penyakit tersebut juga berbeda, termasuk dalam hal jumlah asupan cairan yang dibutuhkan.

"Namun untuk komposisi makanan pada penderita ginjal umumnya tidak perlu diganti, hanya jumlah asupan cairan yang perlu diperhatikan," ujar dokter kelahiran Magelang 61 tahun silam.

Dr Imam menambakan untuk mengetahui apakah ada gangguan pada fungsi ginjalnya atau tidak bisa dilakukan pemeriksaan darah ureum kreatinin, darah cystatin C atau ronsen renogram.

Ginjal merupakan organ yang terletak di belakang pinggang, berbentuk seperti kacang merah dan berukuran 10x3 cm. Salah satu fungsi utama dari ginjal adalah membuang air dan racun-racun hasil metabolisme di tubuh. Sementara itu fungsi lainnya adalah membuat hormon eritropoetin dan mengatur metabolisme fosfor dan kalsium.

Jika ada penyakit atau gangguan pada ginjalnya, maka bisa mempengaruhi ukurannya seperti ginjal akan membesar pada orang yang memiliki diabetes, ada batu ginjal atau kanker leher rahim pada perempuan. Lalu ginjal juga bisa mengecil jika ditemukan adanya penyakit ginjal kronik.

(ver/ir)

Oleh: Vera Farah Bararah - detikHealth

Agar Anak Doyan Makan Sayur

anak makan sayurSayuran mengandung banyak nutrisi penting, tetapi mengapa kebanyakan anak-anak tidak menyukainya? Dibutuhkan strategi yang tepat agar anak gemar dan terbiasa makan sayur, salah satunya dengan memperkenalkan Popeye sebagai tokoh idola.

Popeye sang pelaut merupakan tokoh kartun yang sudah populer sejak era 1930-an. Kemunculannya sering dikaitkan dengan propaganda makan sayur di kalangan anak-anak pada masa itu, sebab tokoh tersebut digambarkan senang makan bayam yang membuatnya menjadi sangat kuat hanya dalam sekejap.

Seorang peneliti dari Mahidol University di Bangkok membuktikan, propaganda dengan memanfaatkan multimedia semacam itu sangat efektif dalam meningkatkan konsumsi sayuran pada anak. Dalam sebuah eksperimen yang berlangsung selama 8 pekan, ia memutarkan serial Popeye di sela-sela jam makan siang para murid TK.

Akibat terpengaruh oleh perilaku tokoh idola, asupan sayur dan buah pada anak meningkat 2 kali lipat setelah mengikuti program tersebut. Selain itu para orang tua juga melaporkan bahwa murid-murid TK merasa bangga telah mengkonsumsi sayur saat makan siang di sekolah.

Prof Chutima Sirikulchayanonta yang memimpin penelitian tersebut mengakui, pemutaran film kartun memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Sebab dalam eksperimen tersebut, ia memasukkan berbagai program interaktif seperti:

1. Mengajak para murid menanam sayur bersama
2. Mengadakan pesta kebun dengan menu sayur dan buah-buahan
3. Tutorial memasak sup bagi para murid.

Sementara bagi para orang tua di rumah, Prof Chutima memberi catatan tentang beberapa hal yang bisa membuat anak makin gemar makan sayur. Dikutip dari Sciencedaily, Minggu (8/8/2010), beberapa catatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Duduk di samping anak yang sedang makan sayur lalu ikut menyantap menu yang sama akan membuat anak merasa spesial
2. Mencicipi bermacam-macam rasa buah dan sayuran adalah cara yang menyenangkan bagi anak untuk mengenal berbagai jenis makanan
3. Melibatkan anak dalam tahap-tahap menyiapkan makanan, mulai dari emncuci dan memotong sayuran, hingga meracik bumbu akan menumbuhkan rasa menghargai makanan pada anak.

(up/ir)

Oleh: AN Uyung Pramudiarja - detikHealth