Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Anak. Show all posts

Wednesday, July 18, 2012

7 Cara Membuat Otak Anak Lebih Jenius


1. Belajar Musik



Ini merupakan cara yang bagus untuk meningkatkan pembelajaran otak kanan dengan santai dan mudah. Menurut hasil penelitian Universitas Toronto, pelajaran musik dapat meningkatkan intelligence quotient dan prestasi sekolah seorang anak. Bahkan semakin lama dipelajari, hasilnya semakin jelas.

2. Beri Minum Air Susu Ibu



Banyak penelitian ilmiah membuktikan bahwa air susu ibu (ASI) selain menyediakan berbagai macam zat gizi, juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan intelegensi bayi. Seorang bayi yang mengonsumsi ASI selama sembilan bulan secara nyata lebih pandai dari pada seorang bayi yang hanya mengonsumsi ASI selama satu bulan.

3. Tingkatkan Kesehatan



Tim peneliti dari University of Illinois telah membuktikan hubungan antara kesehatan dan pelajaran anak di sekolah. blogbelajarpintar.blogspot.com. Penelitian dari Oppenheimer Funds malah menunjukkan bahwa olah raga berkelompok bukan saja meningkatkan rasa percaya diri, membangun spirit kebersamaan, bahkan dapat memupuk kecakapan memimpin. Delapan puluh satu persen dari para direktris perusahaan pada saat masih kecil, semuanya pernah bergabung dalam suatu kegiatan organisasi.

4. Permainan



Memang ada banyak games yang bisa membuat pemainnya menjadi brutal, nyentrik ataupun malas berpikir. Namun juga ada sejumlah games yang dapat meningkatkan spirit bersosial, kreativitas dan inspirasi, bahkan ada yang dapat melatih anak untuk berpikir dengan bijaksana serta melatih kemampuan membuat rencana. Penelitian di University of Rochester juga menemukan bahwa anak kecil yang bermain games lebih berkemampuan dalam menemukan petunjuk rasa visual dalam belajar.

5. Menolak Junk Food



Kurangi mengonsumsi makanan berkadar gula tinggi, berpantang berbagai makanan berlemak tinggi dan junk food yang lain. blogbelajarpintar.blogspot.com. Sebaliknya, banyaklah mengonsumsi makanan sehat bergizi tinggi, ini akan meningkatkan perkembangan intelegensi dan motorik anak, terutama bagi bayi yang belum genap dua tahun, hal ini sangat penting. Misalnya, seorang anak harus mengonsumsi sejumlah zat besi untuk membantu pertumbuhan otak. Kalau kurang jumlahnya, penghantaran impuls syaraf akan melemah.

6. Memupuk Rasa Ingin Tahu



Para pakar mengungkap, ketika orang tua mendorong anak untuk mempunyai pemikiran sendiri, sesungguhnya adalah sedang meng-arahkan mereka pada pentingnya menuntut pengetahuan. Menaruh perhatian yang besar terhadap minat anak, mengenalkan dan mengajarkan ketrampilan baru kepada mereka pada setiap ada kesempatan mendidik di luar rumah, semua ini merupakan cara yang baik sekali guna memupuk dambaan anak untuk menuntut pengetahuan.

7. Membaca



Sejalan dengan kemajuan teknologi, banyak orang yang mengabaikan pentingnya membaca. Membaca merupakan cara meningkatkan intelligence quotient seseorang yang paling langsung dan efektif. Membacakan cerita untuk anak, menjadi anggota perpustakaan dan menambah koleksi buku bacaan semuanya merupakan cara yang baik untuk memupuk minat membaca seorang anak

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Tuesday, July 17, 2012

Mengajak Anak Kecil Berpuasa

Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz; dia berkata, “Rasulullah mengutus untuk mengumumkan pada pagi hari asyura’ di wilayah kaum Anshar yang berada di sekitar kota Madinah.

من كان أصبح صائما فليتمّ صومه ومن كان أصبح مفطرا فليتمّ بقية يومه
‘Barang siapa yang pagi hari ini berpuasa, hendaklah menyelesaikannya. Barang siapa yang tidak berpuasa, hendaknya menahan (makan dan minum) sampai malam.’

Setelah adanya pengumuman itu, kami berpuasa dan mengajak anak-anak untuk melaksanakan puasa. Kami juga mengajak mereka ke masjid dan memberikan mereka mainan dari kulit (wol). Jika mereka menangis karena lapar, kami menyodorkan mainan sampai waktu berbuka puasa tiba.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di antara pelajaran yang bisa diambil dari riwayat di atas adalah:

[1] Para sahabat sangat perhatian untuk mengajak dan mendidik anak-anak mereka melaksanakan puasa.
Ini jelas terlihat pada strategi mereka membuat mainan dan mengalihkan perhatian anak-anak mereka dari keinginan untuk makan, sehingga puasa mereka tuntas dan sempurna.

[2] Anak-anak yang diperintah berpuasa oleh para shahabat adalah anak-anak yang masih dalam usia kanak-kanak.
Hal ini dipertegas oleh ucapan Rubayyi’ binti Mu’awwidz, “Kami mengharuskamn anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa.” Juga ucapan Rubayyi’, “Maka kami membuat sebuah mainan dari kulit untuk mereka. Jika salah satu dari mereka menangis karena merasa lapar, kami menyodorkan mainan kepadanya.” Ini  tentunya dilakukan kepada anak yang masih berusia kanak-kanak, tidak dilakukan kepada anak yang sudah besar.

[3] Bersikap hikmah dan cerdas saat beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap anak-anak.
Termasuk pelajaran yang bisa diambil di sini adalah tindakan para shahabat membuatkan mainan untuk anak-anak mereka –saat melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua mengambil contoh dari tindakan para shahabat tersebut, serta menerapkannya dalam melakukan amar ma’ruf kepada anak-anak mereka.

[4] Para shahabat sangat perhatian untuk mendidik anak-anak mereka melaksanakan puasa ‘asyura. 

Bagaimana perhatian mereka terhadap puasa Ramadhan setelah diperintahkan? Untuk mengetahuinya, mari kita cermati ucapan Amirul Mu’minin Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu terhadap peminum khamr yang dihadapkan kepadanya pada bulan Ramadhan, “Celaka kamu! Anak-anak kami yang masih kecil saja berpuasa.” Kemudian beliau memukulnya. (Shahih Al-Bukhari, no. 1690)

[5] Salah satu puasa yang dilakukan anak-anak para shahabat adalah puasa ‘asyura.
Puasa ini dihukumi marfu’ (atas persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) karena dilakukan pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkarinya. Berkaitan dengan ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Menurut pendapat yang shahih di kalangan ahli hadits dan pakar ushul, jika ada shahabat yang mengatakan, ‘Kami lakukan itu di zaman Nabi,’ maka hal tersebut dihukumi marfu’. Sebabnya, pada dasarnya Rasulullah mengetahuinya, dan kesepakatan para shahabat membenarkannya, serta ada kesempatan bagi mereka untuk bertanya kepada Nabi tentang masalah hukum. Dengan demikian, tidak ada peluang untuk berijtihad dalam masalah ini. Oleh sebab itu, perbuatan yang mereka lakukan adalah berdasarkan tauqifi (perintah syar’i yang tidak bisa dibantah). Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 4:201–202 secara ringkas)

Al-’Allamah Al-’Aini mengatakan, “Sesungguhnya jika ada shahabat yang mengatakan, ‘Kami lakukan demikian di zaman Nabi,’ maka hukumnya marfu’, sebab diamnya Nabi menunjukkan pengakuan beliau atas tindakan itu; jika beliau tidak ridha tentu beliau akan mengingkarinya.” (Umdatul Qari’, 11:70; lihat juga Nailul Authar, 4:274)

[6] Disyariatkan untuk melatih anak-anak berpuasa.
Al-Hafizh Ibnu Hajar menyimpulkan, “Dalam hadits ini terdapat hujjah (dalil) tentang disyariatkannya pembiasaan bagi anak-anak yang berada dalam usia yang disebutkan dalam hadits, masih belum mukallaf (terkena beban hukum). Mereka melakukannya sebagai ajang latihan.” (Fathul Bari, 4:201; lihat ‘Umdatul Qari, 11:70; Nailul Authar, 4:273)

Ibnu Qudamah menjelaskan perkataan Imam Al-Khiraqi, “Kalau anak berumur sepuluh tahun dan sudah mampu berpuasa maka ia harus diperintakan untuk melakukannya.” Beliau mengatakan, “Artinya, sang anak diharuskan berpuasa dan dipukul bila meninggalkannya. Hal ini ditujukan sebagai pembiasaan dan latihan, sebagaimana dia perintahkan shalat dan disuruh melakukannya (sejak usia dini).”

Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah ‘Atha, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Az-Zuhri, Qatadah, dan Asy-Syafi’i.

Al-Auza’i berkata, “Bila anak kecil mampu menahan puasa selama tiga hari berturut-turut, tidak batal, juga tidak merasa lemah, maka (hendaknya) ia dipaksa untuk berpuasa Ramadhan.”

Di sisi lain, Ishaq mengatakan, “Aku menyukai bila anak yang telah menginjak usia dua belas tahun diharuskan berpusa supaya dia terbiasa.” (Fathul Bari, 4:200 dan ‘Umdatul Qari, 11:69)

Kendati demikian, menjadikan usia sepuluh tahun sebagai paramater adalah lebih baik sebab Nabi menyuruh untuk memukul anak kecil jika meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun. Menjadikan patokan usia dalam memerintahkan anak berpuasa dengan menggunakan patokan usia perintah untuk mengerjakan shalat adalah lebih pantas, karena faktor kedekatannya. Juga karena keduanya berstatus ibadah badaniyyah dalam rukun Isam, meskipun puasa lebih berat. Oleh sebab itu, dalam hal ini faktor kemampuan tetap diperhitungkan, sebab ia (anak tersebut, pen.) mungkin bisa mengerjakan shalat tapi tidak mampu berpuasa.” (Al-Mughni, 4:412–413; lihat juga Al-Muhalla, 6:462, masalah no. 805)

Dari pernyataan Ibnu Qudamah kita dapat mengambil pelajaran bahwa anak kecil diperintahkan untuk berpuasa sebagaimana ia diperintahkan untuk shalat. Sebagian ulama juga menyatakan pendapat demikian meski mereka berbeda pandangan dalam hitungan usia anak mulai diperintah untuk mengerjakan perintah-perintah syariat tersebut.

[7] Perintah kepada anak tidak hanya untuk mengerjakan shalat dan puasa.
Akan tetapi, juga menjadi kewajiban para ayah dan ibu untuk memandu mereka melaksanakan amalan ketaatan lainnya. Tujuannya, agar mereka terbiasa dan terlatih untuk melakukannya sebelum mereka memasuki usia aqil baligh. Bertalian dengan hadits Rubayyi’ binti Mu’awwidz, Imam An-Nawawi menarik sebuah kesimpulan, “Dalam hadits ini tersirat pelatihan bagi anak untuk mengerjakan amalan ketaatan dan membiasakan mereka untuk beribadah walau mereka bukan mukallaf.” (Syarh An-Nawawi, 8:14)

Terbukti, para shahabat dahulu sangat antusias untuk mengikutsertakan anak-anak mereka dalam ketaatan serta melatih dan membiasakan mereka dalam ketaatan. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Sa’d dan lainnya meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu ‘Abbas; beliau berkata, “Tanyailah aku tentang tafsir, sesungguhnya aku telah menghafal Alquran pada usia dini.” (Fathul Bari, 9:84)

Ringkasnya, anak-anak diperintahkan untuk mengerjakan amal ketaatan supaya mereka terbiasa dan bersimpati sebelum menginjak usia baligh. Dengan demikian, mereka akan mudah melaksanakannya saat berusia baligh.

Disarikan dari buku Mendakwahi Anak (Dasar dan Tahapannya), hlm. 58—66, karya Dr. Fadhl Ilahi, Cetakan Kedua (Mei 2006), Darus Sunnah Press, Jakarta Timur.

Saturday, July 7, 2012

Bantu Anak Temukan Bakat Cemerlang yang Tersembunyi

Tahun ajaran baru segara dimulai. Mungkin hampir setiap orangtua tidak menyadari, jutaan pelajar di usia awal sekolah diseleksi, dites dan dipilih demi menemukan mereka yang membutuhkan dukungan pendidikan bakat agar lebih berkembang.

  Bantu Anak Temukan Bakat Cemerlang yang TersembunyiYang terjadi, anak-anak dengan kemampuan lebih dianggap sama dengan yang lain. Celakanya, mereka dipandang sudah seharusnya mampu mengikuti setiap program yang diberikan.

Dalam kapasitas otak, mungkin iya, tetapi bagaimana dengan mental mereka? Jangan heran bila lazim dijumpai anak-anak cermerlang kita menjadi bosan, frustasi, dan bahkan berubah secara sosial dan akademis.

Padahal bisa jadi mereka membutuhkan program khusus untuk belajar dengan kurikulum sesuai percepatan mereka, dan berhubungan ''kawan setingkat'' yang mungkin memiliki ketertarikan sama
Ketika sekolah menjalankan tugas luar biasa untuk menemukan anak-anak hebat dengan metode pemindaian seperti rekomendasi guru dan tes IQ, orang tua jangan lantas tergantung sepenuhnya terhadap sekolah dan hasil pengetesan.

Perlu pula dipahami. program pelatihan guru hanya memberi sedikit--jika ada--pengajaran terhadap anak berbakat lebih. Ironisnya, sistem pengajaran yang ada membuat banyak anak dengan kemampuan lebih, justru tidak mencapai prestasi tinggi di kelas. Prestasinya biasa, atau malah tak begitu bagus dalam hasil ujian.

Anak-anak semacam ini bisa jadi memiliki masalah dalam fokus, perhatian, kemampuan organisasi yang lemah, atau sederhana, tidak cocok dengan gaya pengajaran di kelas. Sehingga mereka dipantau berlebihan dan dicap sebagai anak tertinggal. Mereka pun luput diperhatikan ketika ada seleksi atau program pemilihan anak berbakat.

Cerita seperti ini bukan hal baru. Beberapa pengamat tumbuh kembang anak memperkirakan, mayoritas anak berkemampuan di sekolah sering tidak teridentifikasi. Itu mungkin bukan tragedi besar bagi si anak, tapi sebaliknya, musibah besar dalam dunia pendidikan, bila ternyata terbukti mereka adalah anak-anak cemerlang yang butuh program khusus demi mendukung proses pendidikannya.
 
Sebuah cerita dituturkan oleh David Palmer, seorang doktor psikologi pendidikan di Amerika Serikat. Seorang bocah lelaki tinggal di Arizona dites privat atas permintaan ibunya yang prihatin karena nilai-nilai sang anak di kelas semakin jeblok. Si anak juga kerap berkonflik dengan guru, menjadi semakin tidak tertarik ke sekolah. Dalam hubungan sosial ia pun sering diejek dan diintimidasi secara fisik oleh teman-temannya. Rupaya teman-teman yang mengolok semakin antusias melihat reaksi berlebihan si bocah saat diprovokasi.

 Akhirnya orang tua mempertimbangkan home-schooling, sejak anak mereka kian sulit dan sulit keluar pintu rumah untuk pergi ke sekolah. Baginya sekolah adalah siksaan. Usut punya usut sekolah tidak pernah mengetes anak tersebut demi mengetahui bakat dan kelebihannya. Tes spesifik juga luput dilakukan padanya.

Sangat mungkin, sang anak tidak cocok dengan kompetisi meraih prestasi tinggi, kerjasama, citra anak manis, yang kerap dijadikan pertimbangan para guru saat menyeleksi anak berbakat. Tapi faktanya, ketika anak dipisahkan dari orang tuanya lalu menjalani tes IQ, hasil yang keluar 160. Itu angka serius, menunjukkan anak tersebut memiliki tingkat kecerdasan di luar kebiasaan.

Kisah semacam tadi sebenarnya bukan hal baru dalam kasus anak-anak dengan bakat dan kecerdasan lebih. Akhirnya si anak dites dengan metoda lebih cocok dan ditempatkan di program alternatif, di mana masalah akademis dan sosial dapat dihindari. Pada intinya, orang tua dan guru perlu menjalin pemahaman terhadap permasalah setiap murid dan berkolaborasi dalam prespektif lebih luas dengan solusi.

Karena tak jarang sekolah luput melihat seorang siswa berbakat yang sangat butuh program khusus. Pandangan orang tua sangat pun penting dan dibutuhkan. Semakin banyak pengetahuan yang dimilki orang tua, semakin baik posisi orang tua untuk berkolaborasi dengan sekolah demi memastikan potensi dan kebutuhan sang anak tidak luput dari perhatian.



Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Thursday, June 28, 2012

Permainan yang Harus Dijajal Anak Sebelum Berusia 12 Tahun


Semakin bertambah umur, anak makin malas bermain di alam. Anak sekarang cenderung lebih suka berkutat di depan TV, komputer atau video game. Ajak anak mengenal 20 permainan ini sebelum ia berumur 12 tahun.

Kadang tak cuma anaknya saja yang enggan bermain di luar, orangtuanya pun punya andil membuat anak malas bermain di luar. Alasannya adalah ketika anak bermain bebas di luar rumah, anak akan lebih berisiko untuk jatuh dan terluka.

Berdasarkan survei di Inggris oleh Play England, dari sekian banyak anak, hanya seperempatnya saja yang pernah bermain bebas di luar, sepertiga tidak pernah memanjat pohon dan sisanya bahkan tidak bisa naik sepeda.

Menurut sebuah laporan yang dibuat oleh National Trust, lebih dari 80 persen dari anak-anak ingin memiliki lebih banyak kebebasan untuk bermain di luar, tetapi yang mendapatkan izin dari orang tuanya hanya kurang dari 10 persen saja.

"Bermain adalah bagian yang penting dalam masa perkembangan anak menjadi menjadi dewasa karena dapat menanamkan ketrampilan," kata Adrian Voce, mantan direktur Play England, Inggris seperti dilansir dari mirror, Kamis (28/6/2012).

National Trust kini telah meluncurkan kampanye untuk mendorong anak mendapatkan kebebasan bermain di luar rumah tetapi masih dalam batas yang aman. Pilihlah permainan alam untuk anak yang akan memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan dan ketrampilannya.

Ada 20 permainan yang bisa dilakukan anak sebelum ia berumur 12 tahun yaitu:
1. Memanjat pohon
2. Berguling menuruni bukit
3. Berkemah di alam bebas
4. Membuat kandang hewan peliharaan
5. Bermain Congklak
6. Berlarian di tengah hujan
7. Bermain layang-layang
8. Menangkap ikan dengan jaring
9. Memetik buah-buahan langsung dari pohon
10. Mencari kerang di pantai
11. Membuat kue dari lumpur
12. Bermain ayunan
13. Menyaksikan matahari terbit
14. Mendaki bukit kecil
15. Bermain di air terjun
16. Memberi makan burung dari tangan
17. Berburu serangga seperti belalang
18. Menangkap kupu-kupu dengan jaring
19. Menanam bunga
20. Bermain masak-masakan di atas tungku batu

Friday, June 22, 2012

Tanda-Tanda Anak Berbakat

Banyak orangtua memberikan anaknya mainan terbaru. Namun, kebanyakan balita akan terlihat jenius hanya di mata orangtua mereka. Ada juga balita yang sudah berbakat sejak lahir. 

Tanda-Tanda Anak Anda BerbakatBagaimana melacak bakat anak Anda? Menurut Lilsugar, ada 10 petunjuk untuk menjawab pertanyaan itu.

Mengumpulkan informasi
Mereka yang memiliki kecerdasan mampu menangkap berbagai informasi yang didengar dan kemudian menceritakannya kembali. National Association of Gifted Children (NAGC) memberi contoh, “Seorang anak berusia enam tahun baru saja kembali dari perjalanan ke museum dan mampu menggambarkan roket yang dia lihat secara akurat.”

Besar rasa tertariknya
Anak-anak berbakat umumnya menunjukkan minat pada berbagai topik. Mereka mungkin tertarik pada dinosaurus di waktu tertentu, lalu tertarik pada ruang angkasa di bulan berikutnya, dan seterusnya.

Menulis dan membaca lebih dini
Jika anak Anda pintar, dia akan dapat membaca dan menulis pada usia dini tanpa pendidikan formal sebelumnya.

Berbakat di bidang seni
Anak-anak yang menunjukkan bakat luar biasa dalam seni, music, atau lainnya, terkadang diyakini menjadi anak yang berbakat. Balita yang mampu menggambar sesuatu yang jelas, mampu membuat garis sempurna atau menggambarkan tingkat tinggi pemahaman tentang seni secara umum dikategorikan sebagai anak-anak berbakat.

Menunjukkan konsentrasi
Anak-anak dikenal suka lama berkonsentrasi. Tapi jika anak Anda termasuk yang suka berkonsentrasi atau tertarik pada sesuatu dengan waktu yang panjang, maka anak Anda dapat dianggap berbakat.

Memiliki memori yang baik
Beberapa balita yang berbakat mampu mengingat sesuatu dengan baik sejak mereka masih kecil. Contohnya, anak umur dua tahun mampu mengingat dan menceritakan kembali peristiwa sejak berumur 18 bulan.

Memiliki kosakata lanjutan
Balita yang dapat berbicara pada usia dini tidak dapat dimasukkan dalam tanda-tanda anak berbakat. Tapi, jika si kecil dapat menggunakan kosakata dan kalimat lebih, maka mereka lebih pandai daripada yang Anda pikir. Contohnya, menurut NAGC, jika anak pada usia dua tahun umumnya membuat kalimat, “Ada anjing.” Anak berbakat akan mampu membuat kalimat lagi, seperti “Ada anjing cokelat di halaman belakang dan mengendus bunga kami.”

Perhatian pada detail
Anak berbakat memiliki perhatian pada detail. Anak yang lebih besar mungkin ingin mengetahui secara khusus bagaimana cara sesuatu bekerja. Sementara anak yang lebih besar lagi mampu menempatkan kembali di mana mereka mengambil mainan atau tahu ketika ada sesuatu yang dipindahkan dari tempat asalnya.

Peduli dengan orang lain
Secara umum, anak-anak tidak terlalu peduli dengan diri sendiri atau orang lain, kecuali teman mereka memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Tapi tidak demikian halnya dengan anak-anak berbakat, mereka peduli pada orang lain dan juga sangat memperhatikan diri mereka sendiri.

Memahami sesuatu yang kompleks
Balita yang memiliki kecerdasan tinggi memiliki kemampuan untuk memahami sesuatu yang kompleks, yang berkaitan dengan hubungan dan berpikir secara abstrak. Mereka mampu memahami masalah secara mendalam dan memikirkan solusinya.

Thursday, June 21, 2012

Mitos Yang Salah Seputar Ayah



Seorang laki-laki yang baru saja menjadi ayah mungkin memiliki beberapa asumsi mengenai apa peran dari ayah. Tapi beberapa asumsi ini sebenarnya salah dan hanya mitos saja, karenanya ketahui asumsi apa saja yang salah.

Selama ini banyak orang menganggap bahwa ayah tidak memiliki peran yang utama bagi bayi yang baru dilahirkan, sehingga seringkali muncul asumsi-asumsi yang salah. Padahal seorang ayah juga memiliki peran yang penting dalam perkembangan dan pertumbuhan bayi.

Kemungkinan mitos yang terbesar adalah tidak adanya definisi untuk seorang ayah yang baik, padahal mitos tersebut salah. Seperti dikutip dari Babycenter, ada empat mitos seputar ayah yang sering dipercaya banyak laki-laki, yaitu:

Mitos 1: Hanya perasaan seorang ibu yang penting untuk diperhatikan
Perubahan tubuh yang terjadi selama hamil, serta tingginya perhatian terhadap proses kelahiran membuat semua orang berpikir bahwa perasaan ibu adalah sesuatu yang penting. Namun dibalik semua itu perasaan dari ayah juga penting untuk diperhatikan termasuk kesehatan fisik dan mental.

Sebenarnya perasaan takut dan khawatir juga bisa melanda seorang ayah, seperti perubahan yang terjadi setelah memiliki anak, atau apakah memiliki anak akan menghambat karirnya. Namun karena tak ingin menambah kekhawatiran istrinya ia akan memilih diam. Padahal pasangan juga mengharapkan interaksi timbal balik, selain itu berbagi perasaan bersama bisa menambah kedekatan keduanya.

Mitos 2: Bayi yang baru lahir tidak benar-benar membutuhkan ayah
Meskipun seorang ayah tidak bisa menyusui bayinya, bukan berarti bayi tidak membutuhkan sosok ayah. Bagi bayi ayah tetaplah orang yang penting dalam hidupnya. Seorang ayah bisa membantu pasangannya dalam mengurus bayi seperti saat mandi, mengganti popok, menghibur dan menenangkan bayi yang menangis. Kegiatan ini juga bisa menambah ikatan antara ayah dan bayi, sehingga peran seorang ayah tetaplah diperlukan.

Mitos 3: Laki-laki tidak tahu cara merawat anak-anak
Mitos ini salah satu kesalahan besar, karena meskipun seorang ayah terlihat cuek tapi ia tetap bisa merawat anak-anaknya. Dr Spock, seorang dokter anak mengungkapkan bahwa ayah bisa menjadi pengasuh utama anak-anak. Jika ayah banyak menghabiskan waktu bersama anak-anaknya maka ia bisa mengetahui hal-hal apa saja yang dibutuhkan oleh anaknya.

Mitos 4: Ayah yang terlalu fokus pada anak tidak bisa bekerja maksimal
Selama ini ada anggapan bahwa orang yang memilih berkorban untuk keluarga tidak bisa sukses di tempat kerja, tapi mitos ini tidaklah benar. Karena bisa menjadi ayah yang baik bagi keluarga merupakan prestasi yang penting dalam sebuah kehidupan. Sementara itu banyak diantaranya yang bisa memiliki karir bagus sekaligus menjadi ayah yang baik untuk keluarganya.a


Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Friday, June 8, 2012

Ternyata Sifat Buruk Orang Tua Berpengaruh Terhadap Anak

Seorang anak yang keras kepala dan temperamental mungkin dapat dibentuk oleh lingkungan di mana anak-anak dibesarkan. Tetapi ternyata sifat orangtua juga dapat mempengaruhi kepribadian anak.


Oleh karena itu orangtua harus menyesuaikan gaya pengasuhan anak untuk mengatasi masalah kepribadian anaknya.


Banyak penelitian dilakukan terhadap anak yang temperamental, salah satunya oleh psikiater Alexander Thomas dan Catur Stella di New York tahun 1956 yang mengamati perkembangan sekelompok anak dari lahir sampai awal masa dewasa.


Thomas dan Catur menemukan bahwa kepribadian anak-anak dapat dimasukkan ke dalam tiga kategori dasar yaitu mudah, sulit, dan lambat merespons sesuatu dengan kemarahan.


Penelitian tersebut juga mengidentifikasi variabel lain yang diukur dari perilaku anak seperti keinginan, kemurungan, tingkat aktivitas, perhatian, keteraturan dalam tidur, kelaparan dan fungsi biologi lainnya.


Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang temperamental secara otomatis kesulitan untuk berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Anda harus memiliki cara yang tepat untuk menangani anak Anda yang mudah marah tersebut.


Arthur Robin, direktur pelatihan psikologi di Children's Hospital of Michigan di Detroit seperti dilansir dari huffingtonpost, Selasa (7/5/2012) menjelaskan beberapa sifat orangtua yang bisa berpengaruh pada kelakuan anak:


1. Salah satu masalah umum yang ditemukan pada anak dengan ADHD atau yang temperamental adalah memiliki ibu yang pasif, depresi dan lesu.


"Anak akan bisa melakukan apapun yang dia suka karena si ibu tidak memiliki ketegasan untuk merawat dan mendidik anaknya," kata Robin.


2. Orang tua yang terlalu fleksibel dapat membuat anaknya mungkin sengaja bertingkah kaku dan keras kepala.

3. Orangtua yang selalu memenuhi keinginan anaknya akan memiliki sifat yang manja dan akan mudah marah jika keinginannya tidak segera dipenuhi.


4. Kadang-kadang masalah berakar pada sikap temperamental orang tua, bukan anak. Jika orang tua sangat moody, anak akan cenderung mudah marah,ketakutan dan mengembangkan sikap yang tertutup karena pengaruh sikap ekstrim orang tuanya.


Orang tua dapat memilih alternatif dengan mengikut sertakan anak ke dalam kegiatan positif seperti les musik atau kesenian lain yang selain dapat meningkatkan kreatifitas anak juga dapat membuat anak dapat mengontrol emosinya. Biarkan juga anak memilih sendiri baju mana yang ingin dikenakan dan jangan memaksakan sesuatu yang tidak disukainya.


Terapi psikologi pada anak mungkin perlu dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab lain mengapa anak begitu temperamental seperti gangguan koordinasi motorik halus. Gangguan tersebut bahkan dapat mengakibatkan anak kesulitan untuk mengikat sepatunya sendiri.


Orangtua harus mulai bersikap disiplin dan lebih perhatian untuk mengatasi masalah terhadap kepribadian anaknya.


Sumber

Sunday, March 11, 2012

10 Cara Bicara Agar Anak Mau Mendengar.

Anak-anak sering tidak tampak antusias untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang tua mereka. Ini, tentu saja, bisa sangat menjengkelkan bagi orangtua dan situasi dapat dengan cepat berubah menjadi konfrontasi yang "hangat". Anda pun mengeluarkan mantra sakti dengan nada tinggi, "Nak, dengarkan omongan ibu, dong!".  Anak prasekolah umumnya memang sudah bisa memahami perkataan orang lain dengan baik. Tapi jika anak merespons hanya untuk hal-hal yang menguntungkan dirinya saja, lantaran karena mereka masih memiliki sifat egosentris. Ini menjawab mengapa anak 3-5 tahun tak melulu mau mendengar perkataan orangtua.

LIHAT SITUASI DAN KONDISI

Jadi bagaimana dong biar si prasekolah mau mendengarkan kita? Berhubung anak hanya mau mendengar hal yang menurutnya menyenangkan, cara kita menyampaikan isi pesan perlu diubah sehingga tak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang. Coba saja pada anak yang sedang asyik nonton teve, mana mau dia mendengarkan permintaan kita untuk mematikan teve, karena itu mengganggu kesenangannya.

Jadi? Yuk kita bersama-sama belajar bagaimana berbicara dengan si prasekolah. Berikut kiat-kiat yang disarankan psikolog Sritje H. Hikmat, Psi :

* Ketahui kemampuan pemahamannya

Misal, orangtua bertanya, "Kenapa kamu melakukan itu?" Barangkali akan lebih enak bila mengatakan, "Ibu ingin tahu apa yang baru kamu lakukan itu." Kalimat yang bernada menghakimi, mengancam, atau bahkan menuduh, membuat anak terpojok. Ketimbang bilang, "Kamu harus tidur siang," coba katakan, "Kamu, kan, sejak pagi capek main. Sepertinya, sih, sekarang enakan tidur siang deh." Hindari berkata, "Kamu harus membereskan mainan," gantilah dengan, "Yuk, ibu bantu kamu untuk membereskan mainanmu."

Jangan ucapkan kalimat bertanya yang mendorong anak berkata tidak. Misal, "Mau enggak kamu membereskan mainanmu?" Tapi cukup katakan, "Sayang deh kalau mainanmu berantakan di mana-mana. Kita bereskan yuk!" Ingat, anak tak mau diperintah. Daripada mengatakan, "Awas, makan jangan sampai berantakan, ya. Habis makan, taruh piring di tempat cucian," lebih baik ucapkan, "Sayang, coba di mana sebaiknya kamu menyimpan piring ini?" Dengan begitu, anak juga belajar untuk berpikir mencari solusi.

Berbicaralah dengan kalimat-kalimat yang tak sekadar menjurus pada jawaban ya atau tidak. Contoh, "Senang di sekolah tadi?" alternatif yang lebih bijak adalah, "Tadi main apa yang seru di sekolah?" Setelah itu, bicarakan topik-topik yang menarik bagi si prasekolah.

* Gunakan kalimat pendek

Kata-kata yang diucapkan sebaiknya pendek atau sederhana. Tidak terlalu berpanjang-panjang apalagi berbelit-belit. Sesekali perhatikan bagaimana si prasekolah berkomunikasi dengan teman sebayanya. Cermatilah caranya. Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol , boleh jadi itu karena ucapan kita tak dipahaminya entah karena bertele-tele, atau karena berupa kalimat-kalimat perintah dan melarang. Semakin kita bertele-tele, maka anak akan semakin menutup telinganya.

* Posisi badan sejajar

Posisikan badan kita sejajar dengan tinggi badan si prasekolah dan jangan terlalu jauh darinya. Dengan begitu, perhatian anak bisa lebih mudah terfokus dan menangkap pesan atau dialog yang dilontarkan orangtua. Jika anak terlihat tidak memerhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap itu menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, dekap anak saat kita mengajaknya berbicara.

Jarak yang jauh atau kesibukan Anda pada kegiatan tertentu membuat alur komunikasi takkan sampai dengan baik. Umpama, Anda bicara kepada anak sambil membaca koran di ruang tamu atau menonton teve. Tentu anak merasa dirinya tidak dianggap penting, omongan kita pun tidak dianggapnya penting. Akhirnya anak tidak menangkap pesan yang dimaksud.

* Kontak mata

Adanya kontak mata juga menandakan kita bersungguh-sungguh terhadap apa yang diucapkan. Dengan menatap matanya, anak pun merasa mendapat perhatian dan keberadaannya begitu penting. Teguran kitayang sebaiknya disampaikan dengan kalimat-kalimat positifdengan begitu akan dianggap penting juga oleh anak. Misalnya, dalam rangka menegur perbuatan salahnya. Kontak mata pun tetap diperlukan manakala orangtua dan anak berdialog biasa, memberi perintah, atau menanyakan sesuatu.

* Momen yang tepat

Tunggu momen yang tepat. Perhatikan, apakah anak sedang asyik dengan kegiatannya? Kalau ya, mungkin percuma saja mengajaknya bicara. Lebih bijak kalau kita tunggu dulu sejenak, sampai setidaknya ia tak sibuk-sibuk amat atau sudah menyelesaikan aktivitasnya. Kadang, sulit mengalihkan perhatian anak dari hal yang sedang ditekuninya. Kalau dia sedang asyik main mobil-mobilan, jangan langsung diinterupsi. Mulailah dengan pendekatan dulu agar anak tak merasa kegiatannya diganggu atau tak dipaksa menimpali omongan kita. Apalagi kalau yang dikatakan orangtua berupa perintah atau larangan. Beri waktu beberapa menit sebelum meminta anak melakukan sesuatu. Contoh, "Nak, kalau jarum jam yang pendek menunjuk angka 12, kamu makan ya. Setelah makan, kamu boleh main lagi." Dengan begitu si prasekolah relatif tak merasa aktivitasnya terganggu. Lagi pula, dengan cara itu anak memiliki persiapan ketika harus menghentikan kegiatannya.

* Minta Tolong

Berbicaralah kepada anak dengan cara seperti yang kita harapkan jika orang lain berbicara kepada kita. Jika hendak minta bantuan, yang pertama kali harus diucapkan adalah "tolong", bukan? Niscaya anak tak merasa dipaksa saat diperintah. Sekaligus orangtua juga mengajari anak untuk bersikap santun.

* Beri contoh

Ajarkan bagaimana pentingnya mendengarkan. Jika anak merasa dirinya didengar, maka ia pun akan belajar mendengarkan kita. Berilah contoh atau teladan yang baik dengan memberi perhatian yang tulus saat si prasekolah berbicara. Dengan contoh konkret, anak akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik.

* Lakukan bersama

Saat melihat mainan si prasekolah begitu berantakan, takkan efektif bila kita hanya menyuruhnya membereskan semua. Alangkah bijak bila kita mengajaknya "Kak, ayo kita beresin mainannya." Dengan begitu, unsur perintah lebih tersamar. Sekali lagi, anak membutuhkan contoh konkret dari orangtua. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari, anak akan mau melakukan yang kita harapkan tanpa menunggu disuruh. Langkah ini juga memupuk sikap mandirinya, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, maka pekerjaan akan lebih cepat selesai.

* Sesekali bersikap tegas

Bersikap selalu lembut sebenarnya kurang baik juga bagi perkembangan si prasekolah. Agar anak bisa taat aturan, sikap tegas juga perlu ditunjukkan. Misalnya saat anak melakukan ketidakdisiplinan, tak ada salahnya ditegur. "Kakak, ini sudah waktunya mandi. Ayo matikan tevenya." Sikap tegas berarti mengatakan apa yang perlu/harus dilakukan dengan nada bicara yang datar namun jelas. Dengan bersikap tegas, anak akan merasa segan pada orangtua sehingga tak mau lagi melanggar aturan.

* Kenali karakter

Satu hal yang tak kalah penting, kenali karakter si prasekolah untuk menemukan gaya berkomunikasi yang pas dengannya. Anak yang cenderung pemalu atau pasif memang biasanya lebih cuek ketimbang anak yang terbuka atau aktif. Orangtua yang sehari-hari berhadapan dengan anaknya diharapkan mau lebih jeli mencoba gaya bicara yang paling efektif untuk masing-masing karakter. Sesekali mungkin Anda lepas kontrol, kembali ke gaya lama atau cenderung emosional menghadapi anak yang cuek . Tidak mengapa, tapi ubahlah segera gaya bicara Anda sebelum anak menutup telinganya rapat-rapat. Selamat mencoba!

Wednesday, March 7, 2012

Menggendong bayi bikin anak pintar..


Ada yang bilang keseringan digendong akan membuat anak manja saat dewasa kelak. Pernyataan itu pun membuat sebagian orang tua enggan menggendong bayinya. Padahal banyak keuntungan menggendong bayi, satu di antaranya membuat si buah hati lebih pintar.

Bayi yang sering digendong akan menghabiskan waktu lebih sedikit untuk menangis atau rewel. Si kecil memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk tumbuh kembang. Ia pun akhirnya bisa berinteraksi dengan lingkungannya.

Jika bayi diposisikan dalam gendongan, ia bisa melihat sekelilingnya. Ia bisa mencoba untuk memilih serta mengambil apa yang diinginkannya. Kemampuan belajarnya meningkat.

Selain itu, bayi juga terlibat langsung pada dunia orang yang menggendongnya. Seperti bayi melihat apa yang orang tuanya lihat, mendengar apa yang orang tuanya dengar serta turut merasakan yang orang lain rasakan.

Menurut William dan Martha Sears, bayi yang digendong akan menjadi lebih sadar serta dapat memahami wajah, ritme langkah, dan juga aroma orang tuanya. Mereka mengenal ekspresi wajah, bahasa tubuh, naik turun suara, pola pernapasan, dan emosi dari orang yang menggendongnya.

Hal lainnya adalah orang tua menjadi lebih sering berinteraksi dengan bayinya sehingga membantu si kecil belajar menjadi manusia.

Pengalaman itu bisa menstimulasi saraf-saraf untuk berkembang dan berhubungan dengan saraf lainnya di dalam tubuh. Sehingga, pertumbuhan dan perkembangan otaknya berkoneksi lebih baik.

Karena berbagai stimulasi yang diterimanya tersebut bayi akan dirangsang untuk belajar sehingga kemungkinan meningkatkan kemampuan kognitifnya. Kemampuan yang dapat ditingkatkan dengan menggendong bayi salah satunya peningkatan perkembangannya berbicara dan mendengar.

Suara-suara normal yang didengarnya seperti suara aktivitas sehari-hari bisa memiliki nilai belajar bagi bayi atau justru dapat mengganggunya. Jika bayi sedang sendiri, suara tersebut bisa membuatnya takut, tapi jika bayi dalam posisi digendong, hal itu memiliki arti pembelajaran buat si kecil.

Manfaat lain yang bisa didapatkan dengan seringnya menggendong bayi adalah ikatan yang kuat antara orang tua dan bayinya. Menggendong juga memberikan cara pengasuhan yang tepat karena keduanya saling memberi dan membentuk interaksi dua arah.

Nah, gendonglah si kecil. Semoga kelak ia lebih pintar ya!

Sunday, March 4, 2012

Kata-kata Sepele Yg Ga Boleh Diucapkan Pada Anak Kecil

Berikut ini ada Beberapa larangan yang tidak boleh kamu ucapkan kepada buah hati kamu diantaranya sebagai berikut.

[imagetag]

Memiliki dan membesarkan sang buah hati punya seni tersendiri. Apalagi, kata para pemerhati anak, tidak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tak jarang, kita terlalu yakin mampu membesarkan buah hati dengan cara sendiri. Ternyata, tidak semudah itu. Berawal dari komunikasi sehari-hari, perkembangan anak pun bisa saja terganggu. Nah, bapak dan ibu, ada kata-kata yang sebaiknya tidak kamu lontarkan untuk buah hati tercinta.
Apa itu?

''Pergi sana! Bapak Mau Sendiri!''
Ketika kamu kerap melontarkan kata-kata ini pada anak, Suzette Haden Elgin, pendiri Ozark Center, mengatakan anak-anak akan berpikir tidak ada gunanya berbicara dengan orang tuanya karena mereka selalu diusir. ''Jika kamu terbiasa mengatakan hal-hal itu pada anak-anak sejak mereka kecil, biasanya mereka akan mengatakan hal serupa ketika dewasa.''

''Kamu Itu...''
Pelabelan pada anak adalah cara pintas untuk mengubah anak-anak. Jika seorang ibu mengatakan, ''Anak saya memang pemalu'', maka anak akan menelan begitu saja label itu tanpa bertanya apa pun. Apalagi, bila kita memberikan label buruk pada anak-anak, itulah yang akan melekat dalam benak mereka. Seumur hidup.

''Jangan Nangis''
Atau, kata-kata serupa seperti, ''Jangan cengeng'' atau ''Nangis melulu''. Padahal, untuk anak-anak yang belum dapat mengekspresikan emosi lewat kata-kata, mereka hanya dapat menyalurkannya dengan cara menangis. Adalah wajar, bila anak-anak merasa sedih atau ketakutan. ''Sebenarnya, wajar saja bila ortu ingin melindungi anak mereka dari perasaan-perasaan itu. Tapi, dengan mengatakan ''jangan'' tidak berarti anak-anak akan lebih baik. ''Ini juga akan memberikan kesan bahwa emosi mereka tidak benar, bahwa tidak baik untuk merasa takut atau sedih,'' ujar Debbie Glasser, direktur Family Support Services.
Lebih baik, katakan pada anak bahwa kamu memahami perasaan sedih yang dia alami. ''Ibu paham kamu takut dengan ombak. Ibu janji tidak akan melepaskan tanganmu lagi, Nak...''

''Kenapa kamu tidak bisa seperti saudaramu?''
''Lihat tuh, Doni rapi banget mengancing bajunya. Kok kamu tidak bisa?''
Para pakar menilai wajar orang tua membandingkan anak-anaknya. Ini akan menjadi referensi terhadap perkembangan anak-anak. Namun, tolong, jangan katakan ini di depan anak-anak. Ini karena tiap anak adalah individu yang berbeda. Mereka punya kepribadian tersendiri. Membandingkan anak dengan orang lain berarti kamu menginginkan anak kamu menjadi orang yang berbeda.

Semoga beberapa referensi kata-kata diatas bisa di jadikan untuk pedoman atau pegangan, salam.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Friday, February 24, 2012

Kasih Sayang Ibu Jauhkan Anak dari Penyakit


Tidak ada cinta yang tulus dan abadi selain kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya. Bahkan, sebuah riset teranyar menunjukkan, cinta seorang ibu kepada anak dapat mencegah penyakit hingga anak menginjak usia dewasa.

Kesimpulan ini diambil setelah peneliti menemukan bukti bahwa ada beberapa anak yang hidup di daerah miskin, namun tidak menderita penyakit kronis ketika beranjak dewasa. Padahal menurut peneliti, anak-anak itu seharusnya memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita berbagai penyakit kronis.

Setelah ditelusuri, para ahli akhirnya menemukan bahwa mereka yang menderita penyakit kronis ketika dewasa, berasal dari latar belakang di mana masa kecilnya mengalami penuh tekanan, sehingga meningkatkan kemungkinan anak menderita penyakit seperti diabetes, stroke atau hipertensi di kemudian hari.

Namun, mereka yang dibesarkan dengan penuh cinta ibu diketahui memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan ketimbang mereka yang tidak dekat dengan ibu mereka. Peneliti berpikir, hal ini mungkin disebabkan karena adanya rasa empati dan harga diri yang diajarkan oleh ibu kepada anak-anak mereka.

Dalam riset yang dipublikasikan jurnal Psychological Science itu, peneliti mengamati 1.200 orang selama sepuluh tahun untuk melihat apakah pola asuh ibu memengaruhi kondisi kesehatan anak secara keseluruhan. "Literatur menunjukkan bahwa orang-orang yang berada dalam status sosial ekonomi rendah memiliki kesehatan lebih buruk," kata Profesor Margie Lachman, salah seorang peneliti.

"Faktor-faktor yang dapat dimodifikasi memainkan peran penting. Kami menyadari bahwa ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kesenjangan kesehatan," tambahnya.

Sudah jelas bahwa uang dan akses perawatan kesehatan adalah salah satu bagiannya, kata Lachman. Tetapi sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hal itu hanya memainkan peran yang sangat kecil.

"Literatur mengungkapkan bahwa banyak masalah kesehatan di usia pertengahan, termasuk sindrom metabolik, dapat ditelusuri kembali dengan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi pada masa kanak-kanak," jelasnya.

"Tekanan yang dialami saat masa kanak-kanak dapat berdampak buruk terhadap kesehatan di kemudian hari. Tetapi anak yang sejak kecil diasuh dengan penuh cinta oleh ibunya cenderung memiliki kesehatan fisik lebih baik saat dewasa," tutupnya.

Thursday, February 9, 2012

Memukul dan Membentak Bisa Membuat Anak Depresi


Gangguan ini berkembang hingga mereka beranjak dewasa, ditambah dengan sikap agresif dan kerap membantah orang-orang di sekitarnya.

MEMUKUL, menampar, atau membentak saat si kecil berbuat nakal dapat memancing tindakan agresif saat mereka dewasa nanti.

Demikian kesimpulan dari studi selama 20 tahun yang digelar para peneliti dari University of Manitoba dan Children’s Hospital of Eastern Ontario.

Joan Durrant, anggota tim peneliti, menemukan hukuman fisik berkaitan dengan tingginya sikap agresif dan pemberontak yang dirasakan anak terhadap orang tua, saudara dan teman-temannya.

Dari 500 keluarga yang menjadi bahan riset ini, terdapat sejumlah anak yang kerap mendapat hukuman secara fisik, seperti dipukul, ditampar atau dibentak oleh orang tuanya.

Akibat hukuman itu, mereka diketahui rentan terhadap depresi dan gangguan mental lainnya. Gangguan ini berkembang hingga mereka beranjak dewasa, ditambah dengan sikap agresif dan kerap membantah orang-orang di sekitarnya.

Seperti diberitakan Daily Mail, Rabu (8/2), selama 20 tahun pengamatan, para peneliti telah menemukan banyak perubahan pola pikir masyarakat mengenai metode hukuman bagi anak.

Membentak, menampar, memukul, atau menepuk bokong sebagai tindakan sanksi bagi anak mulai diatur secara hukum di beberapa negara.

Memukul anak sebagai bentuk hukuman dilegalkan di AS dengan batasan-batasan tertentu yang berbeda di masing-masing negara bagian. Namun tindakan ini dilarang keras di 20 negara Eropa, termasuk Jerman, Spanyol dan Belanda.

Di Inggris, hukuman secara fisik masih diperbolehkan, asalkan tidak meninggalkan bekas luka di tubuh. Peraturan ini dibuat sejak 2004, tapi tidak menghentikan 71% persen orangtua yang masih keukeuh mendukung hukuman fisik terhadap anak.

Para peneliti menyarankan agar orang tua memberlakukan sanksi yang tidak menyakiti fisik anak dan meamhami apa pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku anak.

di like dikomentari ya boi....

Wednesday, February 8, 2012

18 Trik Mendisiplinkan Anak

Sering kali, orangtua terus berkutat dengan masalah kedisiplinan yang idealnya selalu dipatuhi anak-anak. Orangtua terkadang harus memaksa anak-anaknya untuk disiplin di rumah, menghormati orangtua, bicara dengan nada yang santun, rajin belajar, tidur siang tepat waktu, yang intinya mengatur semua gerak-gerik Si Kecil.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNqOAVrYnE4rktDajptAoDzwLQAnCnBhR0hhQVwyBOmNsm7OEepCxDcuY3N5wr2wBjMAeLWcmuu3lq_S4dkMBk9hXgazvyz-ehCeL7fvFp8CvK4QhNe7SOeGlRLPLXa0LygMffTdWqLpc/s1600/ibu-dan-anak.jpg

Namun, harus tetap ingat, kedisiplinan yang Anda maksud tak hanya melakukan koreksi pada tingkah laku anak-anak saja. Tapi juga mengajarkan kepada mereka cara untuk bisa mengontrol dirinya, serta peduli akan lingkungannya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi orang yang berhasil di kemudian hari.

Untuk itu, ada beberapa pendekatan yang dapat Anda lakukan untuk membantu anak-anak mendisiplinkan dirinya.

1. Tegas
Jika Anda melarang anak-anak untuk tidak melakukan sesuatu, buatlah alasan-alasan yang masuk akal, dengan memberikan penjelasan dan bimbingan padanya. Anak jaman sekarang pasti tidak akan mau menerima alasan seperti, "Jangan duduk di depan pintu, pamali!" Atau, "Jangan main terlalu sore, nanti diculik Kalong Wewe!" Beritahu alasannya, kenapa dia tidak boleh duduk di depan pintu atau bermain sore-sore, menjelang malam.

2. Jangan Plin Plan
Pada dasarnya, Si Kecil akan meniru apa yang orang dewasa lakukan. Begitu pun jika Anda dan pasangan bertindak plin-plan terhadap suatu keputusan. Misalnya, Anda tak setuju dia melompat-lompat di tempat tidur, sementara pasangan Anda membiarkannya. Hal ini hanya akan membuat dia bingung, akibatnya dia jadi mengabaikan ketidaksetujuan Anda. Jadi, buatlah kesepakatan keputusan dengan pasangan agar anak-anak jadi mudah dalam bersikap.

3. Kompromi
Anak-anak tak selalu bisa mengatasi dan membedakan antara persoalan yang besar dan kecil. Sesekali, berkompromi dan mengertilah diri mereka. Tindakan kompromi akan membuat anak-anak menjadi lebih mudah menghadapi persoalan yang lebih besar nantinya. Misalnya, jika dia lalai menengok ke kiri-kanan saat akan menyeberang jalan, lain kali dia tak akan begitu lagi. Jika Anda keberatan dengan sikapnya, nyatakan dengan jelas. Misalnya, "Berhentilah melempar-lempar mainanmu, Nak!" Tapi, jangan katakan, "Hei, mainannya jangan dilempar-lempar, dong!"

4. Beri Bimbingan
Jika anak Anda mengobrak-abrik buku dari lemari yang ada di ruang keluarga, katakan saja, "Maukah kamu berhenti 'bermain' buku? Baca saja, ya di kamarmu?" Jika dia tak memedulikan perkataan Anda, dengan cara yang lembut namun tegas, Anda bisa membimbingnya ke kamar dan katakan padanya, dia boleh kembali ke ruang keluarga jika mau mendengarkan kata-kata Anda.

5. Beri Peringatan
Jika anak tahu aturan yang telah Anda buat, pada usia tertentu, Anda hanya perlu bertanya padanya, ketika melakukan pelanggaran. Dia akan langsung merasa segan pada Anda, karena ada konsekuensi atau sanki yang harus diterimanya segera, setelah pelanggaran dibuat. Jika Anda terbiasa membuat batasan peringatan sampai hitungan 5, kali ini kurangi sampai hitungan ke 3, sehingga anak akan belajar untuk segera mengubah sikap setelah diberi peringatan.

6. Beri Alasan
Jika anak bermain-main dengan benda tajam, Anda tentu harus lebih berhati-hati memperingatinya. Terangkan dengan bahasa yang jelas dan sederhana, apa yang akan Anda lakukan dan sebutkan alasannya. Misalnya, "Mama simpan pisaunya ya, Sayang, nanti bisa melukai tanganmu!" Atau, "Mama minta kamu jangan main air ya, nanti lantainya jadi licin dan bisa bikin kamu terjatuh."

7. Jangan Tunda Hukuman
Jika Anda ingin menghukum anak yang tidak disiplin, hukumlah segera setelah Anda tahu dia tidak disiplin. Jangan sampai Anda menunda memberi hukuman padanya. Sebab, anak-anak tidak akan mau menerima hukuman beruntun atau mengulangi kesalahan. Berilah hukuman yang mendidik, seperti menyapu lantai, merapikan tempat tidur, tidak main play station atau barbie, atau membersihkan kamar mandi.

8. Tetap Tenang
Marah sambil berteriak, membentak, atau menceramahi anak tanpa henti, akan membuat Anda menjadi orang yang melakukan tindak kekerasan verbal terhadap anak. Tindakan ini justru bisa merusak rasa penghargaan diri pada anak Anda. Akibatnya, anak jadi tidak memiliki rasa pede di ahdapan orangtuanya.

9. Bertekuk Lutut
Menunduklah saat berbicara pada Si Kecil, terutama saat memberi kritikan padanya. Tekuklah lutut Anda atau ambil posisi duduk di hadapnnya, agar pandangan mata Anda sejajar dengannya. Dengan sikap seperti ini, Anda tak perlu merasa khawatir akan kehilangan respek darinya. Justru sebaliknya, dia akan semakin menghormati dan menghargai Anda sebagai orangtua.

10. Jangan Ceramah
Ajaklah Si Kecil ngobrol dan berdiskusi, dari pada diceramahi panjang lebar. Meskipun tampaknya pernyataan ini tidak bernada keras, seperti, "Sudah berkali-kali Mama bilang ..." Atau, "Setiap saat kamu kok ...", tetap memberi kesan seolah-olah dia ditakdirkan untuk selalu mengecewakan Anda, apapun yang dia perbuat.

Cobalah gulirkan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Merokok, kan, enggak baik untuk anak-anak, ya?" Atau, "Apakah kamu suka jika temanmu mengganggu terus di sekolah, Nak?" Kritiklah sikapnya, jangan salahkan dirinya.

11. Tunjukkan Sikap PositifTerlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk Si Kecil. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula."

12. Bermain Bersama
Jika sempat, tak ada salahnya Anda meluagkan waktu sebenatr dan ikut bermain-main denganyya. Buatlah permainan bernuansa perlombaan semacam "siapa cepat dia dapat." Permainan ini akan melatih anak Anda bertindak cepat setelah ada aba-aba dari Anda, atau yang dia ucapkan sendiri.

13. Hindari Rasa Jengkel
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak.

14. Jangan Menampar!
Tamparan keras yang Anda berikan di wajahnya, akan berpengaruh buruk bagi diri anak, juga Anda. Anak yang pernah ditampar orangtuanya akan merasa lebih menderita, dari pada perasaan tidak dihargai atau depresi sekalipun. Tindakan ini pun sekaligus bisa mengajarkan, secara tidak langung pada anak, untuk menyelesaikan segala persoalan dengan cara kekerasan.

15. Jangan Menyuap
Jangan membiasakan memberi uang atau hadiah kepada anak saat Anda memintanya untuk mengerjakan atau melarang sesuatu. Kebiasaan seperti ini bisa membuat anak jadi tidak mau mengerjakan atau menghindari sesuatu, jika belum diberi uang atau hadiah.

16. Bersikap Dewasa
Bersenda gurau dengan cara melucu berlebihan, dengan menggigiti atau menarik-narik rambut anak Anda, untuk menunjukkan rasa sayang, merupakan tindakan yang salah. Bersikaplah sewajarnya, sebagai orang dewasa seperti menggenggam tangannya, memeluknya, atau memberi ciuman di kedua pipi atau kepalanya.

17. Hadapi Rengekan
Katakan kepada anak-anak untuk tidak merengek saat meminta sesuatu dan tegaskan pula, Anda tidak akan mengabulkan permintaannya jika disampaikan dengan cara merengek atau menangis. Kecuali, jika dia meminta sesuatu dengan sikap yang manis dan sopan.

18. Contoh Baik
Jika suatu kali anak Anda pernah memerogoki Anda sedang berdebat dengan pasangan tanpa menggunakan kekerasan, dia akan meniru sikap baik itu. Tapi, jika Anda dan pasangan bertengkar dengan saling menghina, memukul, atau berteriak, anak Anda akan meniru sikap-sikap buruk itu di kemudian hari.

Dari 18 trik di atas, yang terpenting, Anda harus mengerti terlebih dulu kondisi anak-anak. Berusaha untuk membuatnya menjadi lebih disiplin, tanpa memahami bagaimana dan apa yang dia lakukan, sama halnya seperti menuangkan sirup ke dalam botol tertutup. Dengan kata lain, percuma saja dan hanya akan memperburuk keadaan di kemudian hari.

Hubungan dan komunikasi yang baik dengan anak memang sangat perlu dilakukan. Yang bisa Anda lakukan segera untuk mengatasi masalah ini, yaitu Anda hanya perlu bertanya kepada anak, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa dia berbuat begitu. Pada beberapa kasus, anak-anak dapat berterus terang tentang masalahnya kepada orangtua. Namun, jika dia tak mau berterus terang, sementara Anda tidak mempunyai cara lain untuk bertindak, tetaplah berpikir positif.

Sunday, January 29, 2012

10 TEKNIK BICARA Kepada Balita :


10 TEKNIK BICARA
Kepada Balita

Diajak bicara tak menoleh, bukan tanda si kecil tak tahu sopan santun. Di usia balita, perhatian mudah teralih dan anak belum paham dengan tata laksana berbicara dengan orang lain yang benar. Anda perlu membuatnya menatap Anda saat Anda mengajaknya bicara.

1. Minta untuk menatap
Setiap anak terlihat tidak mendengar perkataan Anda, ulangi terus. Jika tetap tampak tidak mendengar, segera minta dia untuk menatap Anda. “Adik, lihat Bunda dong.

Bunda sedang bicara dengan adik, lho!” Katakan dengan nada halus agar si kecil tidak merasa diintimidasi. Permintaan untuk menatap ini menjadi salah satu cara belajar anak, bahwa berbicara dengan orang lain harus dengan cara menatap lawan bicaranya.

2. Posisi badan sejajar

Posisikan badan Anda sejajar dengan tinggi badan anak dengan jarak tidak terlalu jauh. Posisi seperti ini membantu anak fokus pada Anda. Ia dapat menangkap pesan yang Anda berikan dan berdialog dengan Anda. Ketika si kecil masih terlihat tidak menoleh atau memerhatikan Anda, sentuh pundaknya sebagai bentuk meminta perhatiannya.

Bila jarak Anda dan si kecil jauh, Anda akan kesulitan untuk menyentuhnya, bahkan ia bisa merasa Anda tidak menganggapnya sebagai lawan bicara yang penting, begitu juga dengan pesan yang Anda sampaikan.

3. Kontak mata
Anda sering mendengar “bicara empat mata” yang artinya pembicaraan yang membutuhkan kontak mata yang kuat. Kontak mata sangat dibutuhkan ketika Anda berbicara dengan anak.

Kontak mata menandakan Anda bersungguh-sungguh mengajaknya berbicara. Si kecil juga merasa dirinya dianggap sebagai orang penting bagi Anda. Bukan hanya kalimat menegur atau perintah yang membutuhkan kontak mata dengan anak, dialog sederhana juga membutuhkan kontak mata.

4. Bermain peran berbicara dengan orang lain
Bisa jadi anak tidak paham bagaimana memperlakukan lawan bicaranya. Dia sebenarnya mengerti apa yang Anda bicarakan, dia juga mau melakukan apa yang Anda minta. Ajarkan cara berbicara pada orang lain dengan mengajaknya bermain peran. Gunakan boneka-boneka milik anak.

Berikan peran kepada masing-masing boneka. Posisikan wajah boneka berhadap-hadapan ketika sedang berbicara agar si kecil tahu begitulah sikap yang baik ketika berbicara dengan orang lain.

5. Cari perhatian anak
Kemampuan si kecil tentang pemahaman dan tingkat konsentrasi yang belum sempurna mengharuskan Anda selalu mencari perhatian anak.

Satu kali dipanggil tidak menengok, dua kali dan ketiga kali masih juga belum menengok ke arah Anda, segera cari perhatiannya, misalnya dengan menghampiri kemudian menyodorkannya satu barang yang membuat si kecil tertarik berbicara dengan Anda. Meski begitu hati-hati, jangan sampai barang tersebut malah terlalu mengalihkan perhatiannya. Jika ini terjadi, langsung jauhi barang tersebut.

6. Beri penjelasan
“Adik, lihat Bunda dong kalau diajak bicara?!” Anda sering mengucapkan kalimat ini ketika si kecil tak juga memerhatikan Anda. Berhasil?

Tidak selalu! Ia bosan mengapa harus menatap Anda ketika berbicara dengan Anda. Dia tidak tahu kenapa itu harus dilakukannya. Anda perlu memberikan penjelasan mengapa Anda mengharapkan si kecil menatap Anda. Lengkapi kalimat “Lihat, Bunda dong” dengan “Lihat Bunda dong, karena kamu perlu melihat ini adalah mainan yang harus kamu bereskan.”

Jelaskan pula bahwa menatap orang yang sedang berbicara merupakan bentuk penghargaan dan bersikap santun kepada orang tersebut.

7. Ketahui kemampuan pemahaman anak
Setiap anak punya kemampuan pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang sudah paham bila Anda bertanya “Alasan apa yang membuat kamu melakukan itu?” Namun, ada juga yang baru bisa paham bila Anda bertanya “Adik, Bunda ingin bertanya, kamu tadi kenapa membuang gelas-gelas itu?”

Alasan anak tidak menatap Anda ketika diajak berbicara, bisa saja karena dia tidak paham kepada siapa Anda bicara dan Anda bicara tentang apa. Gunakan kalimat pendek, dan sederhana sebab kemampuan konsentrasi anak usia 2-3 tahun masih belum berkembang sempurna.

8. Pilih momen
Menunggu momen yang tepat untuk berbicara dengan orang lain, termasuk si kecil, merupakan cara yang jitu. Orang dewasa saja tidak mau diganggu bila sedang asyik dengan aktivitasnya, begitu juga anak. Jika Anda bisa menunggu dia hingga tidak terlalu sibuk, mengapa tak menunggu? Kalau anak sudah selesai dengan aktivitasnya, mudah untuk Anda mengajaknya berbicara berhadapan.

Untuk mengetahui, mulailah pendekatan terlebih dahulu sebagai bentuk interupsi. Cara ini membuat anak memiliki persiapan untuk menghentikan aktivitasnya.

9. Minta tolong
Percaya dengan salah satu dari 6 huruf ajaib, “TOLONG”? Coba, katakan “Tolong...” ketika berbicara pada anak sebelum mengemukakan kalimat perintah. Si kecil niscaya tidak merasa dipaksa dan diperintah sehingga ia tidak lagi mengulang perilaku tidak mau melihat, sebagai bentuk atau cara pura-pura tidak mendengar ucapan Anda.

Cara ini sekaligus mengajarkan anak bagaimana bersikap santun.

10. Beri contoh
Mengajarkan bagaimana mendengarkan dan menatap si pembicara butuh contoh konkret. Jika anak merasa didengar dan ditatap ketika sedang berbicara, ia akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik atau merespons sumber pembicara.

Wednesday, January 25, 2012

Beberapa Penyebab Anak Malas Belajar

Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.


1. Komunikasi tidak efektif



Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”

Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”

Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.


2. Tak terbantahkan

‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.

Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?


3. Target tidak pas



Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.

Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.

Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.


4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik



Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek

Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.

Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”

Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”
Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.

Saturday, January 21, 2012

Ternyata Video Game Bikin Anak Lambat Membaca


SEBAIKNYA Anda harus berpikir ulang untuk memberikan hadiah video game bagi si buah hati. Sebab, mainan digital tersebut dapat mengganggu perkembangan akademis mereka. Sehingga, mereka jadi lambat membaca dan menulis.
Video game tak sepenuhnya jahat. Tapi orang tua harus memantau penggunaan video game agar tak berlebihan. Jadi, orang tua tak harus menyingkirkan berbagai jenis vide game seperti Playstation.

Sebuah penelitian yang dilakukan Robert Weis, psikolog di Denison University di Ohio, memantau efek bermain video game pada kemampuan belajar anak laki-laki. Mereka tak melibatkan anak-anak perempuan karena tak bermain video layaknya bocah laki-laki.

Sebagian bocah laki-laki itu diberikan video game di awal penelitian. Sedangkan sebagian lain hanya mendapat video game di akhir penelitian. Anak-anak yang mendapatkan video game di awal penelitian lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain game ketimbang kelompok kedia.

Hasil survei menunjukkan anak-anak kelompok pertama lebih sulit mencapai prestasi bagus karena terlalu sering bermain video game. Mereka lebih senang bermain ketimbang mengerjakan pekerjaan rumah.

Bermain video game mungkin telah menggantikan kegiatan akademis tradisional, seperti pekerjaan rumah dan membaca. Nah, orangtua pun sangat berperan untuk membantu mendorong anak-anak mereka agar dapat berprestasi di sekolah, misalnya membantu mereka belajar, membahas apa yang mereka pelajari hari itu, atau orangtua membacakan cerita untuk mereka.

Tetapi, hasil studi itu tidak menyebutkan bahwa video game tidak memiliki manfaat sama sekali. Sebagai contoh, permainan edukatif justru dapat membantu belajar anak, dan studi sebelumnya menyebutkan bahwa game laga dapat meningkatkan daya penglihatan. Dan game mungkin memiliki manfaat sosial juga, karena anak laki-laki tampaknya memiliki ikatan kuat dengan sesama rekannya sambil bermain video game.

Menurut Weis, diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan apakah temuan ini berlaku selama jangka panjang.

"Bisa jadi bahwa kebaruan video game mulai pudar setelah empat, enam atau delapan bulan, dan mereka pada dasarnya tidak bermain sebanyak yang mereka lakukan ketika mereka pertama kali mendapatkan game ini," katanya dalam jurnal Psychological Science.

Studi di masa mendatang juga perlu untuk melihat apakah temuan ini berlaku juga untuk anak perempuan, yang pada umumnya menghabiskan lebih sedikit waktu untuk bermain video game daripada anak laki-laki dan memilih permainan yang sedikit mengandung kekerasan.

Mengenal Lebih Dekat Anak Perfeksionis

Perfeksionis ditunjukkan dengan keinginan anak untuk meraih nilai sesempurna mungkin dalam setiap hal.
Wajar bila setiap orang tua ingin anaknya mandiri dan terbaik dalam segala hal. Namun, perlu juga diwaspadai bila ternyata anak terus-menerus menuntut dirinya untuk melakukan segala sesuatunya dengan prima, sangat detail, dan tanpa kesalahan atau kekurangan sedikit pun. Untuk itu, kenali tanda-tandanya lebih dulu sebelum menyelami untung ruginya lebih jauh.
TANDA-TANDA PERFEKSIONIS
PERFEKSIONIS, menurut Dra. Tisna Chandra, Psi ., direktur Lembaga Konsultasi Psikologi Keluarga Parents Partner, Bintaro, adalah perilaku di mana seseorang selalu ingin menjadi sempurna dalam berbagai hal. Inilah tanda-tandanya.
* Serbabersih dan rapi
Pada anak misalnya, ketika sedang menggambar dia tidak mau bukunya tercoret sedikit pun, ketika mewarnai dia tidak mau pewarnaannya melewati garis atau tidak mau tersobek sedikit pun, atau ketika ingin memakai baju dia tidak mau pakaiannya bernoda sedikit pun.
* Serbasepadan
Dalam penampilan pun, anak perfeksionis ingin terlihat sempurna. Misalnya warna antara baju, celana, dan sepatu harus sesuai. Bila bajunya berwarna dominan kuning, maka celana dan sepatunya pun harus ada unsur kuningnya. Bila warnanya berbeda sama sekali, anak perfeksionis umumnya tidak akan mau memakainya. Aksesori dan tatanan rambutnya pun harus rapi, serasi, serta terpenuhi semuanya.
* Kegagalan kecil dianggap fatal
Ketika orang tua tidak mewujudkan keinginannya, berbagai perilaku negatif bakal timbul. Misalnya, ketika tidak puas dengan gambar dan mewarnai, anak akan menyobek kertas, membuang bukunya atau malah menangis karena menganggap bahwa dia telah melakukan kesalahan fatal. Bila pun kita memaksanya dengan berbagai alasan, timbul rasa tidak nyaman dan cemas yang berujung pada tidak optimalnya kretivitas anak.
Namun, dikatakan Tisna, sikap perfeksionis hanya terjadi pada beberapa kasus dan tidak umum dimiliki anak balita. Kalau ia hanya cerewet saat memilih atau memakai baju, memilih media gambar, bersikap terlalu disiplin, tapi di lain waktu tidak bersikap demikian, maka belum tentu hal itu merupakan wujud sikap perfeksionis. Bisa saja ia hanya berkeinginan tampil lebih baik dalam sesaat. Sebaliknya, jika ia seorang perfeksionis sejati, keinginan untuk jadi lebih sempurna akan terus berlanjut.
ASAL-USUL PERFEKSIONIS
* Meniru orang tua yang perfeksionis
Menurut Tisna, banyak hal yang bisa membentuk anak menjadi perfeksionis. Yang paling utama, orang tua perfeksionis akan menciptakan anak perfeksionis pula. Prosesnya berhubungan erat dengan perilaku anak yang paling menonjol saat balita, yakni kekuatan peniruan. Anak akan meniru dari lingkungannya, terutama lingkungan terdekat, seperti orang tua dan keluarga.
* Dituntut selalu berdisiplin tinggi
Selain itu, sejak anaknya masih bayi, orang tua perfeksionis biasanya menerapkan berbagai aturan yang kaku dan harus selalu dipenuhi. Hal inilah yang menurut Tisna juga berpengaruh terhadap pembentukan sikap anak yang perfeksionis. Contohnya penerapan kedisiplinan, pukul 6 pagi anak harus sudah bangun, pukul 7 makan pagi, pukul 9 tidur, pukul 12 makan siang, dan seterusnya. "Waktu yang terjadwal dan tidak boleh mulur sedikit pun akan memperkuat anak untuk berperilaku yang memupuknya menjadi perfeksionis."
Bila orang tua meminta anak untuk mematuhi segala peraturan dan tidak boleh sedikit pun melanggarnya, maka wujud perfeksionis akan muncul dengan sendirinya. Belum lagi dengan hal lain, misalnya harus selalu menjaga kebersihan kamar, harus bisa melakukan sesuatu sendiri sejak kecil, harus makan dengan posisi yang terbaik, dan segala macam peraturan lain yang harus dilakukan anak.
* Dituntut tanggung jawab di luar kemampuan usia
Asal tahu saja, anak yang terlalu dituntut bertanggung jawab terhadap hal-hal di luar kemampuan usianya, secara tidak langsung juga dibentuk berperilaku perfeksionis. Misalnya, anak usia 3 tahun harus bisa menjaga dan melindungi adiknya yang masih bayi, harus bisa membeli telur di warung, harus bisa membereskan tempat tidur sendiri, dan sebagainya. Lambat laun, karena terbiasa dengan berbagai tanggung jawab, sikap perfeksionis itu akan semakin terpupuk.
* Selalu menerima kritik
Demikian pula dengan orang tua yang terlalu banyak mengkritik. Anak akan berusaha tampil atau menghasilkan sesuatu sesempurna mungkin demi menghindari kritikan dan memenuhi kemauan orang tuanya. Contoh kecil, ketika anak tidak mampu mengikat tali sepatunya, orang tua mengkritik, "Masak begitu saja tidak bisa!"
Bila anak melakukan kesalahan, kemudian berbagai teguran diterimanya, ia akan ketakutan dan berusaha melakukan tugasnya dengan benar. Dengan kata lain, ia tidak akan berhenti mengerjakan atau meminta sesuatu sampai dia merasa terpuaskan.



Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini :



Powered by FeedBlitz