Showing posts with label asma. Show all posts
Showing posts with label asma. Show all posts

Wednesday, August 22, 2012

Perusahaan Tambang Emas Menghadapi Gugatan Karena Penyakit Paru-Paru


Perusahaan tambang emas terkemuka di Afrika Selatan menghadapi gugatan ribuan pekerja yang mengklaim mereka terkena Silikosis(penyakit paru-paru) karena kelalaian perusahaan.
Seorang pengacara Afrika Selatan mengajukan surat pertama melawan AngloGold Ashanti,Gold Fields and Harmony,dalam langkah awal untuk menentukan apakah pengadilan mengakui kasus ini sebagai gugatan class action.

Perusahaan tambang telah menolak memberikan komentar secara rinci menjelang pengajuan .Seorang juru bicara Gold Fields mengatakan ia tidak akan berkomentar ,sementara para pejabat di dua perusahaan lain datang.

Silikosis adalah penyakit yang menyebabkan sesak napas ,batuk terus menerus dan nyeri dada yang membuat orang sangat rentan terhadap TBC .
Richard Spoor yang mewakili ribuan penuntut mengatakan akan segera mengajukan materi class action kepada perusahaan tambang.

Graham Briggs ,kepala eksekutif Harmony ,menyebutkan bahwa awal tahun lalu isu silikosis menjadi topik yang hangat.Tapi ia tidak berpikir itu adalah materi class action.


SUMBER

Sunday, April 22, 2012

Latihan Renang Ternyata Olahraga yang Sangat Dianjurkan untuk Penderita Asma

Sudah tahukah anda kalau  latihan renang ternyata olahraga yang sangat dianjurkan untuk penderita asma ? Mungkin selama ini asumsi kita bahwa penderita asma  dianjurkan sedikit mungkin melakukan olahraga karena khawatir kekambuhan dan keparahan penyakitnya. Tapi penelitian terbaru menyatakan bahwa latihan renang dianjurkan untuk penderita asma.

Dahulu saya punya teman yang menderita penyakit asma. Kebetulan dia teman satu kamar saya di asrama saat kuliah, jadi saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana menderitanya dia saat penyakit asmanya kambuh. Waktu itu pernah jam 12 malam dia menderita sesak nafas, dia hanya bisa  duduk di kursi , sambil berusaha menyeimbangkan nafasnya. Sangat menderita sekali saat dia menarik nafas dan mengeluarkan nafasnya. Dengan sangat panik, kami kemudian menelepon orangtuanya. Jam 12 siang orang tuanya baru datang, dan dia segera dibawa ke dokter. Dia punya dokter keluarga sendiri, yang katanya dokter lain tidak akan bisa meredakan sakitnya kecuali dokter keluarganya itu. Entahlah, mungkin dia punya sugesti dengan dokternya karena dokter itu yang merawatnya sejak kecil. Selanjutya beberapa kali teman saya itu masih juga kambuh. Pokok asma sudah menjadi teman sehari-harinya. Walaupun demikian teman saya merupakan pejuang sejati, katanya waktu kecil dia pernah divonis meninggal di usia remaja, ternyata dia tetap bisa survive, sampai sekarang bisa menjadi ibu dengan 2 anak kembarnya. Tapi yang saya tahu dia memang tidak begitu berani melakukan olahraga, mungkin takut hal itu akan memicu kekambuhan penyakit.

Penelitian tentang pengaruh latihan renang dan senam asma terhadap Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) dan Kadar Hormon Kortisol pada Penderita Asma, disampaikan oleh Rahmaya Nova Handayani pada Seminar Nasional FKIK Unsoed Maret 2012 kemarin. Kebetulan hari ini saya membuka-buka Proceeding yang saya punya, dan menemukan artikel penelitiannya yang menarik bagi saya.

Penelitiannya merupakan penelitian quasi eksperimen. Subyek penelitian terdiri dari 20 orang  penderita asma yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok yang diberi latihan renang  20-30 menit dan yang diberi latihan senam  30-45 menit  selama 3 kali seminggu dengan total latihan 12 minggu.

Hasilnya menunjukan bahwa kedua latihan tersebut  terdapat peningkatan nilai FEV1 dan hormon kortisol , tapi yang peningkatannnya lebih tinggi adalah latihan renang.  

Nilai FEV1 menunjukkan jumlah udara yang dikeluarkan secepat-cepatnya pada satu detk pertama sesudah mengambil nafas daam-dalam. Pada penyakit obstruksi (gangguan) pernafasan, volume yang dikeluarkan akan lebih lembat. Sedangkan hormon kortisol berfungsi untuk mengurangi hiperresponsifitas saluran nafas.
Dikatakan bahwa latihan renang lebih banyak membutuhkan energi dibanding latihan lain (lari atau berjalan) karena latihan renang lebih menekankan pada gerakan kaki dan lengan sehingga fungsi paru-paru dan otot pernafasan lebih baik. Latihan fisik yang dilakukan teratur akan menyebabkan peningkatan kapasitas mitokondria pada otot saluran pernafasan, dengan demikian nafas akan lebih mudah dikeluarkan.

Dianjurkan untuk penderita asma untuk selalu melakukan latihan secara rutin dengan memperhatikan frekuensi, intensitas, tipe dan waktu pelaksanaan latihan. Adapun bagi penderita asma yang tidak bisa berenang dapat melakukan latihan senam asma dengan waktu yang lebih lama.

Sumber :
Handayani, RN. Pengaruh Latihan Renang dan Senam Asma terhadap Forced Expiratory Volume in 1 Second (FEV1) dan Kadar Hormon Kortisol pada Penderita Asma. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK Unsoed. Purwokerto 31 Maret 2012 ISBN: 978-602-98319-1-6

Ingin baca artikel menarik lainnya lihat di Daftar Isi ARTIKEL GIZI DAN KESEHATAN


Monday, January 30, 2012

Pusat Kesehatan Asma

Semua asma tidak sama. Akibatnya,
sebuah studi baru menunjukkan
banyak orang dengan asma tidak
dibantu oleh obat kortikosteroid yang
diresepkan untuk mengontrol masalah
pernapasan mereka. Penelitian yang
didanai pemerintah adalah salah satu
yang terbesar untuk menggali ke
dalam biologi asma. Para peneliti
mengumpulkan data pada hampir
1.000 orang dengan asma yang
terdaftar di sembilan uji klinis yang
disponsori oleh National Heart, Lung
dan Darah Institute. Sebagian besar
penelitian mengikuti pasien dari
waktu ke waktu dan mengumpulkan
sampel dari lendir dari bagian bawah
paru-paru. Para peneliti memeriksa
sampel untuk jenis tertentu dari sel
darah putih, yang disebut eosinofil,
yang menyebabkan peradangan
saluran napas. Banyak obat asma
bekerja dengan mengurangi
peradangan. Anehnya, peneliti
menemukan bahwa hampir setengah
(47%) daripenderita asma tidak
eosinofil dalam lendir mereka,
menunjukkan bahwa sesuatu yang lain
yang menyebabkan asma pada pasien
ini. Mereka juga menemukan bahwa
orang dengan apa yang disebut non-
asma eosinofilik tidak merespon
dengan baik terhadap pengobatan
dengan kortikosteroid oral dan
inhalasi, seperti prednison, Aerobid,
Azmacort, Flovent, dan Symbicort,
yang melawan peradangan. "Saat ini
digunakan antiperadangan tampaknya
tidak menjadi yang efektif,
setidaknya selama periode dua-
minggu, dalam subkelompok pasien
yang memiliki penyakit non-
eosinofilik," kata peneliti John V.
Fahy, MD, seorang profesor
kedokteran dan direktur Pusat
Penelitian Klinis Airway di University
of California di San Francisco. Pasien
dengan non-eosinofilik asma juga
tidak menanggapi obat albuterol.
Albuterol bekerja dengan relaksasi
otot-otot sekitar saluran udara, yang
membantu mereka membuka
sehingga orang bisa bernapas lebih
mudah. Ini biasanya diresepkan
sebagai obat penyelamatan. Studi ini
dipublikasikan dalam American
Journal of Medicine Respiratory
Critical Care.

Thursday, January 26, 2012

Cara Mencegah Serangan Asma

Orang-orang dengan asma tentunya
memiliki pemicu munculnya gejala yang
dapat berbeda pada masing-masing
orang. Pemicu munculnya gejala bisa
karena alergi, polusi, virus, dingin,
olahraga.
Faktor pemicu ini bisa membuat
terjadinya peradangan di paru-paru
yang memburuk dan menyebabkan
saluran udara untuk menghasilkan lendir
membengkak dan berpotensi
menyempit.
Untuk mencegah sesak napas, batuk
dan serangan asma
, maka perlu
menghindari pemicu dan mengurangi
peradangan kronis. Berikut adalah 13
cara untuk mencegah serangan asma

antara lain:
1. Gunakan inhaler
Inhalasi kortikosteroid adalah cara yang
paling efektif untuk mengontrol gejala
dan mencegah serangan. Tetapi banyak
orang yang menggunakannya hanya
ketika gejala timbul.
Peneliti dari Henry Ford Hospital
menemukan bahwa, hampir 25 persen
serangan asma dapat dicegah pada
pasien dengan asma berat jika mereka
mengambil obat mereka pada waktu
yang ditentukan setiap hari atau
setidaknya 75 persen dari waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa,
orang dengan asma ringan hingga
sedang mungkin tidak perlu
menggunakan inhaler setiap hari.
"Jika telah bebas serangan asma selama
beberapa bulan, maka berkonsultasilah
dengan dokter mengenai pengurangan
dosis atau frekensi obat secara
perlahan-lahan. Tetapi jika terjadi tanda
pertama dari ketidaknyamanan, seperti
pengetatan dada, peningkatan batuk
atau sesak napas ringan, maka
sebaiknya langsung kembali periksa ke
dokter," kata David Rosenstreich, MD,
kepala divisi alergi dan imunologi di
Montefiore Medical Center, Bronx, NY.
2. Proaktif mencegah gejala dengan
obat
Jika mengetahui bahwa rentan
terhadap serangan asma selama waktu
tertentu, seperti ketika musim demam
atau dingin. Maka mulailah
mengonsumsi obat 3 atau 4 minggu
sebelum musim dimulai daripada
menunggu sampai merasakan gejala
pertama. Lebih mudah untuk mencegah
serangan daripada mengobatinya.
3. Tes alergi
Hasil penelitian baru menemukan bahwa,
alergi memicu lebih dari 50 persen kasus
asma. Tetapi banyak orang tidak
menyadari bahwa mereka memiliki
alergi, terutama terhadap alergen dalam
ruangan atau makanan.
Satu hasil studi menemukan bahwa,
hampir 16 persen orang yang pergi ke
UGD karena serangan asma memiliki
peningkatan kadar antibodi IgE.
Peningkatan kadar antibodi IgE
mengindikasikan kemungkinan alergi
makanan. Berkonsultasilah dengan
dokter mengenai tes darah alergi atau
melakukan tes alergi kulit.
National Heart, Lung and Blood
Institute (NHLBI) sangat menganjurkan
bahwa, orang dengan asma alergi
sebaiknya di bawah kontrol untuk
mengurangi serangan asma.
4. Menghilangkan alergen di kamar tidur
Semakin dapat menghindari paparan
semua alergen, seperti debu, bulu, dan
iritasi dalam ruangan lainnya. Maka
semakin besar kemungkinan untuk
mengurangi frekuensi dan keparahan
serangan dan kebutuhan obat asma.
Mulailah dari kamar tidur. Singkirkan
bantal dan selimut dari bulu, serta
buku-buku lama, surat kabar dan
merapikan kamar.
Jangan menggunakan humidifier, dan
pastikan tidak ada jamur yang tumbuh
di kamar tidur. Dibutuhkan waktu lama
untuk mengurangi peradangan pada
saluran udara, sehingga mungkin tidak
melihat peningkatan yang signifikan
selama berbulan-bulan.
5. Di dalam rumah dapat tersembunyi
pemicu alergi
Rumah mungkin memiliki beberapa
pemicu asma tersembunyi, seperti asap
dan bau dari perapian, lilin, dupa dan
bahkan pengharum ruangan.
"Dari semua penderita asma, iritasi
pernapasan seperti asap, terutama asap
rokok, dapat berkontribusi untuk
peradangan saluran napas," kata John
McBride, MD, seorang dokter anak di
Akron Children’s Hospital di Ohio.
6. Mendapatkan suntikan alergi
Setelah suntikan alergi biasa, yang
dikenal sebagai immunotherapy dapat
membangun toleransi dan mengurangi
reaksi terhadap alergen. Sebuah meta
analisis oleh Cochrane Collaboration
menemukan bahwa, imunoterapi secara
signifikan mengurangi gejala asma dan
menggunakan obat asma.
7. Perhatikan berat badan
Hasil studi menunjukkan hubungan
antara obesitas dan serangan asma lebih
sering dan parah dan penggunaan obat
yang lebih besar. Risiko asma meningkat
bersama dengan indeks massa tubuh.
8. Dapatkan lebih banyak vitamin D
Kekurangan vitamin D berhubungan
dengan fungsi paru-paru yang lebih
buruk, alergi lebih buruk, dan
penggunaan obat asma yang lebih
banyak. Selain itu, studi yang
dipublikasikan dalam Journal of Allergy
and Clinical Immunology menemukan
bahwa, vitamin D meningkatkan
efektivitas inhaler kortikosteroid.
Tidak diketahui apakah vitamin
tersebut memiliki dampak langsung
pada terapi kortikosteroid atau dengan
mengurangi gejala, akan membuat lebih
mudah untuk mengobati asma. Data
menunjukkan bahwa tiga perempat dari
semua orang dewasa mungkin
kekurangan vitamin D.
9. Menghinadari Acetaminophen
Mengonsumsi obat penghilang nyeri
yang mengandung acetaminophen
dapat meningkatkan risiko mengalami
serangan asma. Hasil studi menemukan
bahwa, penggunaan acetaminophen
mingguan dikaitkan dengan hampir tiga
kali lipat peningkatan risiko asma.
"Ada juga hubungan antara kenaikan
penggunaan asetaminofen dari waktu
ke waktu dan peningkatan tingkat
asma. Acetaminophen tampaknya
menyebabkan penurunan molekul yang
disebut glutathione yang membantu
mengurangi peradangan," kata Dr.
McBride.
10. Lebih memperhatikan olahraga
Jika tidak mengontrol asma, maka
berada pada risiko mengalami serangan
saat berolahraga. Pernapasan yang
cepat, dan mungkin udara dingin, dapat
menyebabkan kejang pada saluran
napas.
Gunakan inhaler sebelum berolahraga.
Latihan dengan intensitas rendah
seperti pelatihan kekuatan dan yoga
mungkin lebih mudah pada paru-paru
daripada lari jarak jauh atau sepak bola.
Hal yang sama berlaku untuk olahraga
jangka pendek dengan intensitas tinggi.
Hindari olahraga ketika sedang demam,
dan berolahraga di ruangan latihan
selama musim dingin.
11. Mendapatkan vaksin flu
Virus flu dapat tersebar di saluran udara
dan memicu serangan asma. Untuk
mengurangi risiko terkena sakit,
mendapatkan vaksinasi flu tahunan dan
cucilah tangan denagn rutin.
12. Melakukan yoga secara rutin
Beberapa studi telah menemukan
bahwa, yoga membantu penderita asma
dengan meningkatkan fungsi paru-paru
dan saluran napas dan mengurangi
hyperresponsivity jumlah serangan. Hal
ini juga dapat mengurangi kebutuhan
obat dan mengurangi latihan yang
mmepengaruhi konstriksi bronkus.
13. Rencana tertulis perawatan
Setiap orang dengan asma harus
memiliki asma rencana tertulis
pengelolaan diri. Tetapi hasil studi
menunjukkan bahwa, hanya 34 persen
penderita asma yang memiliki rencana
tertulis pengelolaan diri.
Rencana termasuk untuk menghindari
pemicu, bagaimana mengambil obat
dengan benar, kesadaran terhadap
gejala dan apa yang harus dilakukan
ketika gejala memburuk.
sumber:ivelage

Thursday, September 1, 2011

Pengobatan Asma Kronis

Penelitian baru yang dilakukan di Inggris
Dalam satu, pasien dengan asma kronis
dirawat setiap hari dengan LTRA atau
inhalasi steroid untuk mencegah serangan
asma.
Di lain suatu LTRA atau
bronkodilator long-acting inhalasi (NET)
ditambahkan ke pengobatan dengan
steroid inhalasi. Semua pasien asma terus
menggunakan short-acting
"penyelamatan" inhaler bila diperlukan
untuk membuka saluran udara menyempit
dan membantu mereka bernapas ketika
serangan asma terjadi. Tidak seperti studi
sebelumnya, yang dikeluarkan hingga 95%
pasien asma untuk satu alasan atau yang
lain, pasien hanya dikecualikan dari dua
studi mereka dengan kanker terminal atau
diagnosis penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK), peneliti Stanley Musgrave, MD, dari
University of East Anglia di Norwich,
Inggris mengatakan kepada WebMD. "Uji
obat lisensi dikecualikan, perokok tua,
mereka yang mengalami depresi, penderita
diabetes dan daftar panjang kondisi lain
yang orang benar-benar memiliki,"
katanya. "Tujuannya adalah untuk
menentukan seberapa baik obat bekerja
dalam situasi yang terbaik, tapi itu tidak
selalu memberitahu Anda bagaimana
orang-orang nyata lakukan pada
perawatan tertentu." Pil vs inhaler Dalam
kedua percobaan, LTRAs muncul untuk
bekerja serta yang dihirup pengobatan
untuk mencegah gejala asma lebih dari dua
tahun tindak lanjut, dan dalam kedua
percobaan, pasien di bagian LTRA penelitian
terbukti lebih tunduk dengan perawatan.
Tingkat kepatuhan pengobatan adalah
65% dan 74% di antara pasien yang
mengambil pil LTRA, dibandingkan dengan
41% dan 46% di antara pasien yang diobati
dengan steroid inhalasi pencegahan.

Pil vs inhaler
Dalam kedua percobaan,
LTRAs muncul untuk bekerja serta
pengobatan dihirup untuk mencegah gejala
asma lebih dari dua tahun tindak lanjut, dan
dalam kedua percobaan, pasien di bagian
LTRA penelitian terbukti lebih sesuai
dengan perawatan. Tingkat kepatuhan
pengobatan adalah 65% dan 74% di antara
pasien yang mengambil pil LTRA,
dibandingkan dengan 41% dan 46% di
antara pasien yang diobati dengan steroid
inhalasi pencegahan. "Kami pikir ini
pendekatan alternatif bekerja di setting
dunia nyata terutama karena lebih mudah
untuk mengambil pil sekali atau dua kali
sehari daripada menggunakan obat
semprot," asma peneliti Sven-Erik Dahlen,
MD, PhD, dari Stockholm, Swedia
Karolinska Institute dan rekan menulis
dalam editorialnya. Obat oral secara
tradisional lebih mahal daripada perawatan
pencegahan dihirup, tapi Dahlen
mengatakan ini harus segera berubah
sebagai versi generik dari kedua Singular
dan Accolate memasuki pasar. "Obat ini
merupakan alternatif yang dapat diterima
ke lini pertama pengobatan tradisional
pencegahan," katanya pada WebMD.
"Dalam praktek umum, di mana obat ini
paling sering diresepkan, ada mungkin tidak
cukup waktu untuk mengajarkan pasien
cara benar menggunakan inhaler. Dengan
pil kita dapat melihat kepatuhan jauh lebih
baik. "

Sumber:WebMD

Tuesday, June 24, 2008

ASMA

Asma adalah suatu kondisi alergi ketika reaksi tubuh tidak normal terhadap sesuatu zat seperti jamur, serbuk, bulu hewan, zat kimia, uap, parfum, makanan atau obat tertentu. Kuman-kuman pada hidung dan tenggorokan mungkin pula ,menyebabkan serangan asma.

Ketika asma mulai dari masa anak-anak, umumnya disebabkan oleh makanan, tetapi ketika menyerang pada akhir masa anak-anak atau pada awal masa remaja dan dewasa, asma biasanya disebabkan oleh serbuk, debu, zat kimia. Dan bila lebih dari 45 tahun , asma seringkali dikarenakan oleh infeksi. Kadangkala, pasien dengan serangan jantung mendapatkan serangan asma yang serupa, tetapi bukan asma yang sebenarnya.

Serangan lebih sering terasa jika seorang penderita lelah atau mendapat tekanan emosi yang hebat, bahkan perubahan iklimpun mungkin juga dapat menyebabkan serangan tersebut. Selama tekanan yang hebat, beberapa pipa-pipa udara tersumbat oleh lendir kental. Inilah yang menyebabkan sulit bernafas dan suara yang nyaring. Akibatnya, gelembung-gelembung udara menyebar dengan luas dan beberapa dindingnya pecah. Pada serangan yang hebat, pendarahan juga bisa terjadi pada gelembung-gelembung udara tersebut dalam paru-paru.

Asma mungkin berkembang secara bertahap selama serangan peradangan pada tenggorokan atau mulai dengan tiba-tiba ketika seseorang mendapat zat rangsangan. Pertama, seseorang memiliki perasaan yang kencang pada dada. Rasa ini mereda dalam 1-2 jam atau terus menerus berjam-jam atau berhari-hari. Akhirnya, serangan tiba-tiba mengeluarkan lendir kental dan membuka saluran-saluran udara.

Untuk menjaga tetap baik, penderita asma harus tetap tenang dan tidak mengungkapkan perasaan terlalu berlebihan karena membuat mereka lebih sukar bernafas. Penghirupan aerosol sangat berguna selama serangan asma, termasuk mereka harus menghindari dari pilek/flu dan dingin.

Dalam pandangan lain, Normalisasi PENNASIA menyatakan bahwa asma terjadi karena paru-paru tidak dapat berfungsi dan berkembang dengan maksimal karena pembesaran pembungkus paru-paru (pleura), sehingga ekspansi keluar terhalang oleh dada dan punggung dan justru pembungkus paru-paru tersebut menekan ke dalam menuju paru-paru, akhirnya perkembangan paru-paru tidak dapat maksimal and pengisian oksigen berkurang.

Pembesaran atau pembengkakan pembungkus paru-paru berasal dari kelenturan rusuk, tepatnya pada bagian dada mayor ataupun minor, lalu menyebabkan suplai cairan di pembungkus paru-paru terhalang. Karena kekurangan cairan ini, sentuhan paru-paru dan pembungkus paru-paru dalam setiap tarikan nafas menyebabkan memar dan bengkak.

Penyebab yang lain adalah kelenturan yang menurun pada diafragma yang membatasi dada dan perut dan sebagai otot yang utama dalam proses pernafasan. Oleh karena itu, pengerasan di bagian ini benar-benar mengganggu ekspansi menuju perut. Kadangkala, penderita asma juga memiliki keluhan pada perutnya karena ulu hati mengeras dan merasa nyeri ketika sedang ditekan.

Bagi penderita kronis, asma dapat menyebabkan lematian karena kekejangan pada leher. Tarikan nafas yang sering menyebabkan leher kejang, bahkan ketika asma kambuh, leher menjadi kejang dan mencekik saluran pernafasan, lalu nafas berhenti termasuk suplai oksigen ke otak dan seluruh tubuh juga berhenti. Kematian datang setelah itu karena kondisi tersebut.

Dari beberapa kasus, asma tidak dapat ditentukan dalam satu lokasi , seperti di dada saja, tetapi juga di bahu atau di perut. Ketidaknormalan antara satu lokasi dengan lokasi yang lain mempunyai hubungan timbale-balik. Misalnya, asma dapat mulai dari kelainan di dada pada awalnya lalu menyebabkan kambuh dengan kelainan di perut.

Para penderita asma akan mengalami lebih tersiksa jika mereka terlentang karena organ perut sejajar dengan dada lalu menekan paru-paru kebawah. Engsel rusuk di punggung juga tertekan dan sulit untuk berkembang, sehingga pembungkus yang mengelilingi paru-paru akan lebih menekan dan menyebabkan sakit yang hebat. Untuk tidur yang baik, posisinya duduk di atas kursi dan kepala diletakkan pada bantal yang ada diatas meja. Selain itu, kepala yang menunduk masih berguna karena membantu paru-paru melakukan ekspansi ke perut ketika trachea terjulur kebawah dan memberikan ruang bagi paru-paru untuk berekspansi ketika organ perut memusat kebawah.

Untuk pencegahan asma, seseorang sebaiknya menghindari bersin-bersin ataubatuk-batuk dalam jangka waktu yang lama, pekerjaan-pekerjaan yang berat, kondisi tergesa-gesa, makanan yang tak layak, minuman dingin, udara kotor, udara dingin terus menerus dan sebagainya.