Tuesday, September 13, 2011

Ca Cervix / Kanker Serviks

Beberapa saat yang lalu ada salah satu kerabat yang meninggal lantaran mengidap kanker serviks tahap lanjut. Menurut info yang didapat, sudah dua tahun yang lalu ketika almarhumah didiagnosa kanker serviks tahap awal. 

Sebegitu mengerikannya kah penyakit ini??

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun di dunia terdapat 500.000 kasus baru kanker serviks. Separuh dari jumlah tersebut, yaitu 250.000 kasus, berakhir dengan kematian dan hampir 80 persen terjadi di negara berpendapatan rendah.
Di Indonesia, lebih dari 70 persen kasus kanker serviks ditemukan saat sudah stadium lanjut (di atas 2B), dengan kejadian setiap satu jam seorang perempuan meninggal.

Menurut www.kankerserviks.com, kanker leher rahim ini merupakan kanker nomor satu di indonesia. Ada sekitar 40-45 wanita yang terdiagnosa setiap harinya dan 20-25 meninggal karenanya dan sekitar 270.000 wanita yang meninggal tiap tahunnya.



Jadi... Apa dan bagaimana Kanker Serviks atau Kanker Mulut Rahim itu?

Definisi




sumber: dari sini
Kanker serviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang tidak normal pada serviks (leher rahim). Yaitu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim. Letaknya antara rahim (uterus) dengan liang senggama wanita (vagina).
Perubahan ini biasanya memakan waktu beberapa tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Oleh sebab itu sebenarnya terdapat kesempatan yang cukup lama untuk mendeteksi apabila terjadi perubahan pada sel serviks melalui skrining (papsmear atau IVA) dan menanganinya sebelum menjadi kanker serviks.

Etiologi
Human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. HPV 16 dan 18 secara bersama mewakili 70% penyebab kanker serviks. 


Yang perlu diketahui mengenai virus HPV:

   - HPV dapat ditularkan melalui hubungan seksual.
   - Penularan dapat juga terjadi meski tidak melalui hubungan seksual.
   - HPV dapat bertahan dalam suhu panas.


Faktor Resiko
  • Penyakit Menular Seksual (PMS). PMS merupakan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dengan salah satu gejalanya adalah keputihan terus menerus. PMS yang cukup sering dijumpai antara lain sifilis, gonore, herpes simpleks, HIV-AIDS, kutil kelamin, dan terutama virus HPV. Berganti-ganti lebih dari satu partner seks akan meningkatkan risiko penularan penyakit kelamin, termasuk virus HPV.
  • Berhubungan seksual pertama kali di usia terlalu muda (kurang dari 16 tahun). Hubungan seksual pada usia terlalu dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker leher rahim sebesar 2 kali dibandingkan perempuan yang melakukan hubungan seksual setelah usia 20 tahun
  • Memiliki banyak anak (lebih dari 5 orang). Saat dilahirkan, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks. 
  • Wanita berusia lebih dari 40 tahun
  • Merokok merupakan penyebab penting terjadinya kanker leher rahim jenis karsinoma sel skuamosa. Faktor risiko meningkat 2 kali dengan risiko tertinggi didapatkan pada orang yang merokok dalam jangka waktu lama dengan intensitas yang tinggi (jumlah yang banyak)
  • Imunosupresif atau kekebalan tubuh yang rendah, kurangnya konsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat. Pada wanita imunokompromise (penurunan kekebalan tubuh) seperti transplantasi ginjal dan HIV, dapat mengakselerasi (mempercepat) pertumbuhan sel kanker dari noninvasif menjadi invasif (tidak ganas menjadi ganas)
  • Tidak melakukan Pap Smear secara rutin. Pap Smear merupakan pemeriksaan sederhana yang dapat mengenali kelainan pada serviks. Dengan rutin melakukan papsmear, kelainan pada serviks akan semakin cepat diketahui sehingga memberikan hasil pengobatan semakin baik.


Tidak seperti kanker pada umumnya, faktor genetik tidak terlalu berperan dalam terjadinya kanker serviks. Ini tidak berarti Anda yang memiliki keluarga bebas kanker serviks dapat merasa aman dari ancaman kanker serviks. Anda dianjurkan tetap melindungi diri Anda terhadap kanker serviks.


Gejala dan Tanda
Pada fase prakanker 
Kebanyakan infeksi HPV dan kanker serviks stadium dini berlangsung tanpa menimbulkan gejala atau tanda-tanda, namun jika dilakukan pemeriksaan deteksi dini dapat ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal . 
Kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut : 
  • Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. 
  • Nyeri ketika berhubungan seksual
  • Perdarahan setelah berhubungan seksual yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal. 
  • Timbulnya perdarahan setelah masa menopause
Pada fase invasif 
  • Dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah. 
  • Anemia bila terjadi perdarahan kronis. 
  • Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
Pada stadium lanjut
  • Badan menjadi kurus kering karena kurang gizi
  • Edema (bengkak) kaki
  • Sakit di otot bagian paha
  • Timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum)
  • Terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal
  • Gejala-gejala akibat metastasis jauh
Penularan
Penularan virus HPV bisa terjadi melalui hubungan seksual, terutama yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan. Penularan virus ini dapat terjadi baik dengan cara transmisi melalui organ genital ke organ genital, oral ke genital, maupun secara manual ke genital.
Karenanya, penggunaan kondom saat melakukan hubungan intim tidak terlalu berpengaruh mencegah penularan virus HPV. Sebab, tak hanya menular melalui cairan, virus ini bisa berpindah melalui sentuhan kulit.

Cara mendeteksinya / Screening
Penting dilakukan pada perempuan yang pernah berhubungan seksual
Pap smear
Pemeriksaan pap smear memiliki berbagai kelebihan: biaya murah, waktu cepat dan hasil akurat. Tes ini dapat dilakukan kapan saja kecuali saat masa haid atau menstruasi; setidaknya satu tahun sekali. Pemeriksaan dilakukan di atas meja periksa kandungan oleh dokter/bidan yang sudah terlatih dengan menggunakan spekulum untuk membantu membuka alat kelamin wanita. Setelah vagina terbuka, bagian leher rahim diusap dengan spatula secara melingkar untuk mengambil contoh sel endoserviks. Kemudian hasil usapan tersebut diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui apakah ada sel abnormal, infeksi atau radang. Melakukan pap smear secara teratur dapat mengurangi risiko kematian akibat kanker serviks.







IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat) 
Caranya dengan mengoleskan larutan asam asetat 3%-5% ke leher rahim, kemudian mengamati apakah ada perubahan warna, misalnya muncul bercak putih. Jika ada, berarti kemungkinan terdapat infeksi pada serviks dan harus dilakukan pemeriksaaan lanjutan.



Kolposkopi
Pemeriksaan kolposkopi merupakan pemeriksaan standar bila ditemukan hasil pap smear yang abnormal.
Pemeriksaan dengan kolposkop, merupakan pemeriksaan dengan pembesaran untuk melihat kelainan epitel serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Pemeriksaan kolposkopi tidak hanya terbatas pada serviks, tetapi meliputi vulva dan vagina.
Prosedurnya sama dengan pap smear, tenaga medis dapat melihat lebih dekat dengan alat kolposkop sehingga dapat memberikan saran pengobatan atau terapi atau tindak lanjut apa yang perlu dilakukan.

Biopsi
Pengambilan contoh jaringan (biopsi) kadang perlu dilakukan untuk diagnosa lebih lanjut, atau kadang serviks yang abnormal justru diterapi saat biopsi.
Apabila Anda merasa khawatir atau membutuhkan informasi lain, konsultasikan kepada Dokter atau pusat pelayanan kesehatan untuk informasi lebih lanjut.

Thin prep 
Merupakan metode berbasis cairan yang lebih akurat dari pap smear, karena pap smear hanya mengambil sebagian sel dari leher rahim, sedangkan thin prep memeriksa seluruh bagian serviks. Sampel yang diambil dari leher rahim dimasukkan ke dalam vial / botol yang berisi cairan, kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Di lab, sampel tersebut dijadikan slide dan diberi pewarna khusus agar lebih jelas. Membran khusus digunakan untuk membuat preparat dengan irisan tipis, yang akan memperlihatkan infeksi atau jaringan abnormal. Tingkat akurasi metode ini hampir mencapai 100%.

Teknologi Hybrid Capture II System (HCII)

Stadium Kanker Serviks
International of Gynecology and Obstetrics (FIGO) staging system digunakan untuk evaluasi dan diagnosis dari kanker leher rahim berdasarkan gejala yang terjadi.

Stadium berdasarkan FIGO :
Stadium I. Kanker leher rahim hanya terdapat pada daerah leher rahim (serviks)
  • Stadium IA. Kanker invasive didiagnosis melalui mikroskopik (menggunakan mikroskop), dengan penyebaran sel tumor mencapai lapisan stroma tidak lebih dari kedalaman 5 mm dan lebar 7 mm
  • Stadium IA1. Invasi lapisan stroma sedalam 3 mm atau kurang dengan lebar 7 mm atau kurang
  • Stadim IA2. Invasi stroma antara 3- 5 mm dalamnya dan dengan lebar 7 mm atau kurang
  • Stadium IB. Tumor yang terlihat hanya terdapat pada leher rahim atau dengan pemeriksaan mikroskop lebih dalam dari 5 mm dengan lebar 7 mm
  • Stadium IB1. Tumor yang terlihat sepanjang 4 cm atau kurang
  • Stadium IB2. Tumor yang terlihat lebih panjang dari 4 cm
Stadium II. Kanker meluas keluar dari leher rahim namun tidak mencapai dinding panggul. Penyebaran melibatkan vagina 2/3 bagian atas.
  • Stadium IIA. Kanker tidak melibatkan jaringan penyambung (parametrium) sekitar rahim, namun melibatkan 2/3 bagian atas vagina
  • Stadium IIB. Kanker melibatkan parametrium namun tidak melibatkan dinding samping panggul
Stadium III. Kanker meluas sampai ke dinding samping panggul dan melibatkan 1/3 vagina bagian bawah. Stadium III mencakup kanker yang menghambat proses berkemih sehingga menyebabkan timbunan air seni di ginjal dan berakibat gangguan ginjal
  • Stadium IIIA. Kanker melibatkan 1/3 bagian bawah vagina namun tidak meluas sampai dinding panggul
  • Stadium IIIB. Kanker meluas sampai dinding samping vagina yang menyebabkan gangguan berkemih sehingga berakibat gangguan ginjal
Stadium IV. Tumor menyebar sampai ke kandung kemih atau rectum, atau meluas melampaui panggul
  • Stadium IVA. Kanker menyebar ke kandung kemih atau rectum
  • Stadium IVB. Kanker menyebar ke organ yang jauh
Sumber : dari sini
Sumber : dari sini
Terapi
Penanganan dan pengobatan kanker serviks tergantung pada pemeriksaan klinis oleh dokter. Penentuan stadium dan besarnya kanker, juga gejala-gejala yang menyertai akan menentukan jenis penanganan terbaik terhadap kasus tersebut.
Tindakan pengobatan atau terapi sangat bergantung pada stadium kanker serviks saat didiagnosis. Dikenal beberapa tindakan (modalitas) dalam tata laksana kanker serviks antara lain: (16)
  • Tindakan bedah (surgical treatment).
  • Radioterapi
  • Kemoterapi
  • Terapi paliatif (supportive care) yang lebih difokuskan pada peningkatan kualitas hidup pasien. Contohnya: makan makanan yang mengandung nutrisi, pengontrol sakit (pain control).
Jika Anda sudah dideteksi menderita kanker serviks, jangan khawatir. Sekarang ini sudah ada sejumlah metode untuk mengobati kanker serviks. Pada stadium awal, pengobatan kanker serviks dilakukan dengan cara menyingkirkan bagian yang sudah terkena kanker. Misalnya dengan pembedahan listrik, laser atau cyrosurgery (membekukan dan membuang jaringan abnormal).
Untuk pengobatan kanker serviks stadium lanjut, dilakukan terapi kemoterapi dan radioterapi. Pada stadium akhir atau kasus yang parah maka terpaksa dilakukan histerektomi, yaitu bedah pengangkatan rahim (uterus) secara total agar sel-sel kanker yang sudah berkembang dalam kandungan tidak menyebar ke bagian lain dalam tubuh.

Pencegahan
Meski menempati peringkat tertinggi di antara berbagai jenis penyakit kanker yang menyebabkan kematian, kanker serviks merupakan satu-satunya jenis kanker yang telah diketahui penyebabnya. Karena itu, upaya pencegahannya pun sangat mungkin dilakukan. Yaitu dengan cara :
1. Menjauhi/mencegah faktor resiko
2. Rutin melakukan screening berupa pap smear atau IVA untuk deteksi kanker serviks secara dini.
3. Vaksinasi HPV
  • Vaksinasi dapat diberikan mulai remaja putri berusia 9 sampai 26 tahun yang belum aktif secara seksual. 
  • Vaksinasi diberikan sebanyak tiga kali: Bulan 0, 1 atau 2, dan bulan 6.

5 Penyakit Kulit yang Sering Menyerang Bayi



Penyakit kulit bisa menyerang siapa saja, baik laki-laki, perempuan, orang dewasa, kanak-kanak bahkan bayi. Karena anatomi kulit yang sangat berbeda dengan orang dewasa, bayi merupakan kelompok usia yang sangat rentan terhadap gangguan kulit. 

Menurut Bernard Cohen, M.D, direktur ilmu kesehatan kulit anak dari Johns Hopkins Children's Center, kulit merupakan organ bertindak sebagai benteng pertahanan terhadap beragam elemen yang mengancam tubuh mulai dari sinar matahari hinga bakteri. 

Pada tahun pertama, seorang bayi akan sangat rentan terhadap gangguan karena lapisan kulit mereka belum sempurna. Pasalnya dibutuhkan waktu hingga satu tahun bagi epidermis kulit untuk berkembang dengan cepat dan berfungsi secara efektif. 

Pada bayi, struktur kulitnya lebih tipis, ikatan antar selnya lebih lemah dan lebih halus. Kulit bayi juga memiliki pigmen yang lebih sedikit, dan tidak mampu mengatur temperatur seperti halnya anak-anak dengan usia lebih tua atau orang dewasa.

Munculnya kemerahan dan peradangan pada kulit merupakan salah satu gejala dari reaksi alergi pada tubuh bayi. Berikut ini adalah beberapa jenis penyakit kulit yang umum dijumpai pada bayi :

1. Intertrigo
Intertrigo mengacu pada suatu peradangan pada lipatan tubuh. Hal ini biasanya terletak di paha bagian dalam, ketiak, dan bagian bawah payudara atau perut. Lipatan tersebut membuat kulit tampak merah, gatal dan menyebabkan rasa sakit bila terjadi gesekan. Umumnya terjadi pada bayi yang gemuk.

Penyebab : Bisa terjadi karena lembab berlebihan pada lipatan bayi, yang tidak pernah mendapatkan udara.

Yang harus dilakukan : Cuci bagian dalam lipatan kulit bayi Anda dengan air dan oleskan krim penghalang zinc-oxide atau petroleum jelly untuk melindungi kulit bayi.

2. Biang keringat Biang keringat atau lebih dikenal dengan sebutan miliaria, biasanya terjadi pada leher, wajah, punggung, atau bokong bayi. Secara klinis miliari terlihat dengan adanya kulit kemerahan disertai rasa gatal sehingga bayi rewel, dengan gelembung-gelembung kecil berair.

Penyebab : Udara panas, cuaca lembab, pakaian yang ketat dan aktivitas bayi yang tinggi dapat memicu ruam biang keringat.

Yang harus dilakukan : Sedapat mungkin hindari bayi Anda dari suhu yang terlalu panas dan berikan pakaian yang longgar. Dengan begitu, ruam akan terlihat lebih baik dalam waktu sekitar 30 menit.

3. Seborrhea Seborrhea adalah suatu peradangan pada kulit bagian atas, yang menyebabkan timbulnya sisik pada kulit kepala, wajah, kadang pada bagian tubuh lainnya seperti belakang telinga, leher, pipi, dan dada. Penyakit ini yang paling sering terjadi pada bayi di bawah usia 6 bulan. Pada kulit kepala, seborrhea tampak seperti ketombe, sisik kuning atau berkerak. 

Penyebab : belum diketahui.
Yang harus dilakukan : Lakukan pengobatan tradisional dengan menggosokan minyak zaitun atau baby oil pada kulit kepala bayi Anda, kemudian sikat dengan lembut.

4. Eksim Eksim dapat muncul di manapun pada tubuh bayi mulai dari usia 3 sampai 4 bulan, meskipun sangat jarang ditemukan di daerah bekas pemakaian popok. Eksim atau sering disebut eksema, atau dermatitis adalah peradangan hebat yang menyebabkan pembentukan lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan. Kondisi yang lebih parah, penyakit ini juga dapat menyebabkan kulit berubah menjadi merah, mengeluarkan nanah, dan kerak.

Penyebab : Apa pun bisa menjadi pemicu bayi rentan terhadap eksim (dengan predisposisi genetik atau riwayat alergi dalam keluarga). Setiap bayi mempunyai pencetus eksim yang berbeda-beda. Ada orang yang setelah memegang sabun atau deterjen akan merasakan gatal yang luar biasa, ada pula yang disebabkan oleh bahan atau alat rumah tangga yang lain.

Yang harus dilakukan : Tujuan utama dari pengobatan adalah menghilangkan rasa gatal untuk mencegah terjadinya infeksi. Ketika kulit terasa sangat kering dan gatal, lotion dan krim pelembab sangat dianjurkan untuk membuat kulit menjadi lebih lembab. Untuk kasus yang lebih parah, konsultasikan dengan dokter Anda soal penggunaan salep steroid, untuk mengurangi peradangan.

5. Dermatitis kontak Dermatitis kontak adalah inflamasi pada kulit yang terjadi karena kulit telah terpapar oleh bahan yang mengiritasi atau menyebabkan reaksi alergi. Dermatitis kontak akan menyebabkan ruam yang besar, gatal dan rasa terbakar.

Penyebab : Jika ruam terjadi di seluruh tubuh bayi Anda, maka sabun atau deterjen mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Jika dada dan lengan yang terkena, pelakunya bisa dari baju yang kotor.

Yang harus dilakukan : Pada kasus ringan dan sedang, penghindaran bahan iritan (penyebab iritasi) dan penggunaan krim yang mengandung hidrokortison (kortikosteroid) dapat membantu mengurangi gatal dan kemerahan di kulit. Pada kasus yang berat, obat yang diminum jenis kortikosteroid dan antiradang diperlukan untuk mengurangi peradangan dan gatal. Sebaiknya lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda sebelum menggunakan krim hidrokortison atau antihistamin.

Friday, September 9, 2011

Obat alami mujarab untuk asam urat

Penyebab penyakit asam urat saya sendiri kurang begitu tahu pasti, namun dari hasil browsing di internet dan mampir di portal konsultasi dokter bahwa penyakit asam urat diakibatkan menumpuknya kristal-kristal purin (nah makin bingung saya bahasa dokternya).

Okelah saya nulis pakai bahasa sendiri saja, bukan bahasa kedokteran. Biasanya penyakit asam urat ini banyak di derita kaum adam or pria, kenapa wanita tidak? Karena kata dokter karena wanita memiliki hormon khusus untuk menetralisir kadar asam atau sumber penyebab asam urat.

Penyebab asam urat banyak yang belum tahu, tapi kalau dari makanan semua sudah pada tahu pastinya yaitu, jeroan (seluruh makanan yang berasal dari dalam perut hewan) seperti babat, hati, ampela, empedu etc. Kemudian makanan laut seperti kerang, udang dan sebagainya. Hasil survey saya pribadi (ceileh bahasanya) penyebab lain yaitu: terlalu sering begadang, stress, kurang gerak (olahraga), kurang minum air putih.

Ciri-ciri jika terkena asam urat: mata merah, gigi kuning Persendian terasa pegel dan ngilu biasanya lebih sering di daerah mata kaki, siku dan pangkal lengan, urat di belikat serasa sakit. Nah hati-hati kalau ada gejala itu, karena anda bisa saja tiba-tiba tidak bisa jalan karena sakit di mata kaki seperti keseleo malah lebih parah.

Obat alami dan paling mujarab untuk mengobati asam urat adalah buah "sirsak" atau kalau di daerah sumatra lebih dikenal dengan nama buah "nangka belanda". Jika terkenan asam urat, langsung minum/ makan buah sirsak tersebut.

Kalau asam uratnya parah dan mau lebih ampuh lagi obatnya yaitu daunnya buah sirsak, caranya daun sirsak direbus lalu airnya diminum.
Catatan: ini berdasarkan pengalaman saudara, mertua saya. Sebenarnya saya juga habis kena asam urat saat nulis artikel ini (hehehe)

Thanks, semoga bermanfaat..

Friday, September 2, 2011

Hati-Hati Mengonsumsi Obat Osteoporosis

FDA memperingatkan bahwa obat
osteoporosis Reclast (zoledronat asam)
meningkatkan risiko gagal ginjal.
Peringatan itu ditujukan pada pasien yang
sudah menderita kerusakan ginjal. Ini juga
ditujukan bagi mereka yang mengambil
berpotensi merusak ginjal (nefrotoksik)
obat atau diure

Peringatan itu ditujukan pada pasien yang
sudah menderita kerusakan ginjal. Ini juga
ditujukan bagi mereka yang mengambil
berpotensi merusak ginjal (nefrotoksik)
obat atau diuretik pada saat yang sama
Reclast. Menurut peringatan baru, Reclast
akibat gagal ginjal juga dapat terjadi antara
pasien menderita dehidrasi parah. Pasien
yang lebih tua dengan gangguan ginjal
berada pada risiko tinggi gagal ginjal.
Peringatan FDA mengatakan bahwa gagal
ginjal merupakan komplikasi yang jarang
namun serius untuk di-risiko pasien yang
memakai Reclast. Obat disetujui pada
bulan April 2007. Dua lusin kasus
kerusakan ginjal atau kegagalan, termasuk
lima kematian, dilaporkan dalam review
keselamatan diterbitkan pada Januari
2009. Yang memimpin FDA untuk
merekomendasikan kreatinin serum
pemantauan - ukuran kesehatan ginjal -
sebelum setiap dosis obat disuntikkan.
Pada April 2011, ada 11 lebih banyak
kematian Reclast terkait karena gagal
ginjal. Sembilan kasus cedera ginjal juga
dilaporkan. Setiap dialisis diperlukan.

Bagaimana Reclast Apakah Digunakan
Reclast diproduksi oleh Novartis. Hal ini
diresepkan untuk mengobati atau
mencegah osteoporosis pada wanita
postmenopause. Pada wanita-wanita obat
mengurangi risiko patah tulang pinggul dan
tulang belakang. Reclast diberikan dalam
infus setiap satu sampai dua tahun. Ini
dapat digunakan untuk mendukung massa
tulang pada pria osteoporosis. Obat ini
diresepkan untuk pria dan wanita yang
mengambil obat kortikosteroid untuk
setidaknya satu tahun untuk mencegah
osteoporosis. Hal ini juga diresepkan untuk
orang dengan kondisi tulang melemah
yang dikenal sebagai penyakit Paget
tulang. Peringatan baru memberitahu
dokter dan pasien berikut: Jangan
meresepkan Reclast untuk pasien dengan
bersihan kreatinin kurang dari 35 mL /
menit atau untuk mereka dengan bukti
kerusakan ginjal akut. Pasien harus
dipantau sebelum mengambil obat untuk
gangguan ginjal yang mendasarinya serta
untuk dehidrasi. Ginjal penyakit yang
mendasari dan dehidrasi yang disebabkan
oleh demam, sepsis, kerugian pencernaan,
obat diuretik, dan faktor lainnya dapat
meningkatkan risiko gagal ginjal akut.
Bersihan kreatinin harus dihitung sebelum
setiap dosis Reclast. Hal ini juga harus
dipantau antara dosis dalam pasien berisiko.
Setiap peristiwa yang merugikan harus
dilaporkan ke program MedWatch FDA.
Peringatan itu juga menawarkan saran
berikut untuk pasien: Gagal ginjal adalah
efek samping yang serius namun jarang
Reclast. Fungsi ginjal Anda akan dinilai
sebelum dan setelah diberi infus Reclast.
Obat lain selain Reclast mungkin lebih
cocok untuk Anda jika Anda memiliki
masalah ginjal. Diskusikan pilihan dengan
dokter Anda. Dokter Anda harus
menyadari semua obat yang sedang Anda
pakai. Menyimpan daftar dengan Anda
sehingga Anda dapat dengan mudah
berbagi dengan dokter Anda. Asam
zoledronic juga dipasarkan dengan nama
Zometa untuk pengobatan kanker yang
berhubungan dengan kerusakan tulang.
Label Zometa sudah berisi peringatan
tentang toksisitas ginjal.
Sumber : WebMD

Thursday, September 1, 2011

Pengobatan Asma Kronis

Penelitian baru yang dilakukan di Inggris
Dalam satu, pasien dengan asma kronis
dirawat setiap hari dengan LTRA atau
inhalasi steroid untuk mencegah serangan
asma.
Di lain suatu LTRA atau
bronkodilator long-acting inhalasi (NET)
ditambahkan ke pengobatan dengan
steroid inhalasi. Semua pasien asma terus
menggunakan short-acting
"penyelamatan" inhaler bila diperlukan
untuk membuka saluran udara menyempit
dan membantu mereka bernapas ketika
serangan asma terjadi. Tidak seperti studi
sebelumnya, yang dikeluarkan hingga 95%
pasien asma untuk satu alasan atau yang
lain, pasien hanya dikecualikan dari dua
studi mereka dengan kanker terminal atau
diagnosis penyakit paru obstruktif kronik
(PPOK), peneliti Stanley Musgrave, MD, dari
University of East Anglia di Norwich,
Inggris mengatakan kepada WebMD. "Uji
obat lisensi dikecualikan, perokok tua,
mereka yang mengalami depresi, penderita
diabetes dan daftar panjang kondisi lain
yang orang benar-benar memiliki,"
katanya. "Tujuannya adalah untuk
menentukan seberapa baik obat bekerja
dalam situasi yang terbaik, tapi itu tidak
selalu memberitahu Anda bagaimana
orang-orang nyata lakukan pada
perawatan tertentu." Pil vs inhaler Dalam
kedua percobaan, LTRAs muncul untuk
bekerja serta yang dihirup pengobatan
untuk mencegah gejala asma lebih dari dua
tahun tindak lanjut, dan dalam kedua
percobaan, pasien di bagian LTRA penelitian
terbukti lebih tunduk dengan perawatan.
Tingkat kepatuhan pengobatan adalah
65% dan 74% di antara pasien yang
mengambil pil LTRA, dibandingkan dengan
41% dan 46% di antara pasien yang diobati
dengan steroid inhalasi pencegahan.

Pil vs inhaler
Dalam kedua percobaan,
LTRAs muncul untuk bekerja serta
pengobatan dihirup untuk mencegah gejala
asma lebih dari dua tahun tindak lanjut, dan
dalam kedua percobaan, pasien di bagian
LTRA penelitian terbukti lebih sesuai
dengan perawatan. Tingkat kepatuhan
pengobatan adalah 65% dan 74% di antara
pasien yang mengambil pil LTRA,
dibandingkan dengan 41% dan 46% di
antara pasien yang diobati dengan steroid
inhalasi pencegahan. "Kami pikir ini
pendekatan alternatif bekerja di setting
dunia nyata terutama karena lebih mudah
untuk mengambil pil sekali atau dua kali
sehari daripada menggunakan obat
semprot," asma peneliti Sven-Erik Dahlen,
MD, PhD, dari Stockholm, Swedia
Karolinska Institute dan rekan menulis
dalam editorialnya. Obat oral secara
tradisional lebih mahal daripada perawatan
pencegahan dihirup, tapi Dahlen
mengatakan ini harus segera berubah
sebagai versi generik dari kedua Singular
dan Accolate memasuki pasar. "Obat ini
merupakan alternatif yang dapat diterima
ke lini pertama pengobatan tradisional
pencegahan," katanya pada WebMD.
"Dalam praktek umum, di mana obat ini
paling sering diresepkan, ada mungkin tidak
cukup waktu untuk mengajarkan pasien
cara benar menggunakan inhaler. Dengan
pil kita dapat melihat kepatuhan jauh lebih
baik. "

Sumber:WebMD