Thursday, March 5, 2009

Secondhand Smoke



Definition of Secondhand Smoke


• Secondhand smoke, also known as environmental tobacco smoke, is a complex mixture of gases and particles that includes smoke from the burning cigarette, cigar, or pipe tip (sidestream smoke) and exhaled mainstream smoke.
• Secondhand smoke contains at least 250 chemicals known to be toxic, including more than 50 that can cause cancer.

Health Effects of Secondhand Smoke Exposure
• Secondhand smoke exposure causes heart disease and lung cancer in nonsmoking adults.
• Nonsmokers who are exposed to secondhand smoke at home or work increase their heart disease risk by 25–30% and their lung cancer risk by 20–30%.
• Breathing secondhand smoke has immediate harmful effects on the cardiovascular system that can increase the risk of heart attack. People who already have heart disease are at especially high risk.
• Secondhand smoke exposure causes respiratory symptoms in children and slows their lung growth.
• Secondhand smoke causes sudden infant death syndrome (SIDS), acute respiratory infections, ear problems, and more frequent and severe asthma attacks in children.
• There is no risk-free level of secondhand smoke exposure. Even brief exposure can be dangerous.

Current Estimates of Secondhand Smoke Exposure
• Exposure to nicotine and secondhand smoke is measured by testing the saliva, urine, or blood for the presence of a chemical called cotinine. Cotinine is a byproduct of nicotine metabolization, and tobacco is the only source of this marker.
• From 1988–91 to 2001–02, the proportion of nonsmokers with detectable levels cotinine was halved (from 88% to 43%).
• Over that same time period, cotinine levels in those who were exposed to secondhand smoke fell by 70%.
• More than 126 million nonsmoking Americans continue to be exposed to secondhand smoke in homes, vehicles, workplaces, and public places.
• Most exposure to tobacco smoke occurs in homes and workplaces.
• Almost 60% of U.S. children aged 3–11 years—or almost 22 million children—are exposed to secondhand smoke.
• About 25% of children aged 3–11 years live with at least one smoker, compared to only about 7% of nonsmoking adults.
• The California Environmental Protection Agency estimates that secondhand smoke exposure causes approximately 3,400 lung cancer deaths and 22,700–69,600 heart disease deaths annually among adult nonsmokers in the United States.
• Each year in the United States, secondhand smoke exposure is responsible for 150,000–300,000 new cases of bronchitis and pneumonia in children aged less than 18 months. This results in 7,500–15,000 hospitalizations, annually.

Secondhand Smoke



Definition of Secondhand Smoke


• Secondhand smoke, also known as environmental tobacco smoke, is a complex mixture of gases and particles that includes smoke from the burning cigarette, cigar, or pipe tip (sidestream smoke) and exhaled mainstream smoke.
• Secondhand smoke contains at least 250 chemicals known to be toxic, including more than 50 that can cause cancer.

Health Effects of Secondhand Smoke Exposure
• Secondhand smoke exposure causes heart disease and lung cancer in nonsmoking adults.
• Nonsmokers who are exposed to secondhand smoke at home or work increase their heart disease risk by 25–30% and their lung cancer risk by 20–30%.
• Breathing secondhand smoke has immediate harmful effects on the cardiovascular system that can increase the risk of heart attack. People who already have heart disease are at especially high risk.
• Secondhand smoke exposure causes respiratory symptoms in children and slows their lung growth.
• Secondhand smoke causes sudden infant death syndrome (SIDS), acute respiratory infections, ear problems, and more frequent and severe asthma attacks in children.
• There is no risk-free level of secondhand smoke exposure. Even brief exposure can be dangerous.

Current Estimates of Secondhand Smoke Exposure
• Exposure to nicotine and secondhand smoke is measured by testing the saliva, urine, or blood for the presence of a chemical called cotinine. Cotinine is a byproduct of nicotine metabolization, and tobacco is the only source of this marker.
• From 1988–91 to 2001–02, the proportion of nonsmokers with detectable levels cotinine was halved (from 88% to 43%).
• Over that same time period, cotinine levels in those who were exposed to secondhand smoke fell by 70%.
• More than 126 million nonsmoking Americans continue to be exposed to secondhand smoke in homes, vehicles, workplaces, and public places.
• Most exposure to tobacco smoke occurs in homes and workplaces.
• Almost 60% of U.S. children aged 3–11 years—or almost 22 million children—are exposed to secondhand smoke.
• About 25% of children aged 3–11 years live with at least one smoker, compared to only about 7% of nonsmoking adults.
• The California Environmental Protection Agency estimates that secondhand smoke exposure causes approximately 3,400 lung cancer deaths and 22,700–69,600 heart disease deaths annually among adult nonsmokers in the United States.
• Each year in the United States, secondhand smoke exposure is responsible for 150,000–300,000 new cases of bronchitis and pneumonia in children aged less than 18 months. This results in 7,500–15,000 hospitalizations, annually.

Download Gratis

Berikut ini kumpulan cerita anak, dongeng anak, cerita dari mancanegara,  kisah para Nabi, cerita Islami dan lain-lain yang bisa Anda download secara gratis. Anda tinggal klik judulnya..
Semoga bermanfaat!

Cerita Anak/Dongeng Anak
* Panji Semirang
* Cindelaras
* Malin Kundang
* Sunan Drajat
* Putri Melati Wangi
* Hikayat Bunga Kemuning
* Asal Usul Danau Toba
* Keong Emas
* Telaga Bidadari
*

Wednesday, March 4, 2009

Sakit Gigi oh jangan....

Ini adalah salah satu penyakit saya yang sering terjadi kalau tidak sikat gigi sebelum tidur. Dan parahnya kalau lagi sakit gigi, segala pekerjaan jadi terbengkalai.
Artikel ini buat saya pribadi dan orang-orang yang sering mengalami sakit gigi.
Sedikit penjelasan mengenai gigi berlubang :
Gigi yang berlubang bukanlah disebabkan ulat seperti anggapan orang pada zaman dahulu. Teori ini bertahan hingga tahun 1700-an hingga Willoughby Miller seorang dokter gigi Amerika yang bekerja di Universitas Berlin menemukan penyebab pembusukan gigi. Ia menemukan bahwa lubang gigi disebabkan oleh pertemuan antara bakteri dan gula. Bakteri akan mengubah gula dari sisa makanan menjadi asam yang menyebabkan lingkungan gigi menjadi asam (lingkungan alami gigi seharusnya adalah basa) dan asam inilah yang akhirnya membuat lubang kecil pada email gigi.
Saat lubang terjadi pada email gigi, kita belum merasakan sakit gigi. Tetapi, lubang kecil pada email selanjutnya dapat menjadi celah sisa makanan dan adanya bakteri akan membuat lubang semakin besar yang melubangi dentin. Pada saat ini kita akan merasakan linu pada gigi saat makan. Bila dibiarkan, lubang akan sampai pada lubang saraf sehingga kita akan mulai merasakan sakit gigi. Proses ini tidak akan berhenti sampai akhirnya gigi menjadi habis dan hanya tersisa akar gigi.
Sakit gigi tidak dapat dipandang sebelah mata seperti anggapan beberapa orang, karena bila didiamkan, dapat membuat gigi menjadi bengkak dan meradang. Selain itu gigi berlubang dapat menjadi sarana saluran masuknya kuman penyakit menuju saluran darah yang dapat menyebabkan penyakit ginjal, paru-paru, jantung maupun penyakit lainnya.
Agar tidak semakin bertambah parah, maka bila Anda memiliki gigi berlubang sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter gigi untuk mengobatinya. Walaupun banyak orang tidak suka pergi ke dokter gigi dengan alasan tidak peduli dengan keadaan gigi, khawatir biayanya mahal, takut atau malu diejek karena gigi yang rusak, namun pergi ke dokter gigi adalah solusi terbaik untuk mengatasi sakit gigi. Gigi berlubang tidak dapat sembuh dengan sendirinya. Walaupun, mungkin setelah menderita sakit gigi, rasa sakitnya dapat hilang tetapi tidak memperbaiki keadaan gigi. Gigi akan tetap berlubang, bahkan lubangnya akan terus semakin membesar.
Langkah yang umumnya akan diambil dokter gigi adalah menambal gigi yang rusak, bila lubangnya belum terlalu besar. Tetapi, bila kita merasakan sakit gigi, proses penambalan tidak dapat langsung dilakukan karena dengan demikian gas dalam gigi tidak dapat keluar. Dokter akan memberikan obat penghilang rasa sakit atau akan mematikan saraf gigi agar kita tidak tersiksa dengan rasa sakitnya. Pada kunjungan selanjutnya barulah gigi akan dibersihkan dan ditambal sementara, penambalan secara permanen dilakukan pada kunjungan berikutnya lagi.
Salah satu solusinya :
Bila lubang terlalu besar dan tidak memungkinkan untuk ditambal, berarti gigi harus dicabut. Sama seperti proses penambalan gigi, maka gigi juga tidak dapat langsung dicabut saat gigi masih terasa sakit. Hal ini disebabkan saat kita merasakan sakit gigi, maka obat anestesi (obat kebal agar tidak terasa sakit saat gigi dicabut) tidak dapat menembus akar gigi, sehingga saat dicabut akan menyebabkan sakit yang luar biasa. Proses pencabutan gigi baru bisa dilakukan saat gigi sudah tidak terasa sakit dan untuk menghilangkan rasa sakit dokter akan mematikan saraf gigi.

Mencegah Gigi Berlubang
Untuk mencegah terjadinya lubang pada gigi, Anda dapat melakukan langkah-langkah berikut:
* Memeriksa gigi secara rutin
Kunjungi dokter gigi setiap 6 bulan sekali walaupun Anda tidak merasakan sakit gigi. Hal ini diperlukan agar dokter dapat mendeteksi lubang kecil yang terjadi pada gigi dan dapat ditangani segera agar lubang tidak semakin besar. Dapat juga dideteksi bagian gigi yang tidak rata atau berlekuk yang dapat menyebabkan gigi sulit dibersihkan.
* Menyikat gigi secara teratur dan pada waktu yang tepat
Pagi hari setelah sarapan dan malam sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk menyikat gigi. Air liur tidak banyak keluar pada waktu kita tidur, sehingga gigi akan rusak bila Anda membiarkan sisa makanan pada gigi tanpa menyikatnya. Air liur berguna untuk memlinfungi gigi dari bakteri penyebab gigi berlubang.
* Menyikat gigi dengan cara yang benar
Walau menyikat gigi telah dilakukan secara teratur namun bila dilakukan dengan cara yang tidak benar, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Cara yang benar adalah dengan menyikat ke arah bawah untuk gigi depan (gigi seri) bagian atas, menyikat gigi ke arah atas untuk gigi depan bagian bawah dan menyikat secara mendatar untuk gigi geraham. Menyikat gigi geraham hendaknya dilakukan lebih lama, karena pada gigi ini berpotensi menempelnya sisa-sisa makanan.
* Kumur setelah makan
Menyikat gigi tidak mungkin dilakukan sehabis kita makan, maka cara terbaik adalah berkumur-kumur agar sisa makanan tidak terus menempel dan mengurangi keadaan asam dalam gigi.
* Gunakan benang gigi untuk mengeluarkan sisa makanan
Sisa makanan yang tertinggal, hendaknya tidak dikeluarkan dengan menggunakan tusuk gigi. Penggunaan tusuk gigi dapat menyebabkan celah antar gigi semakin besar disamping dapat menyebabkan luka pada gusi.
* Pilih pasta gigi yang mengandung fluorida
Menggunakan pasta gigi yang mengandung fluorida. Zat ini merupakan salah satu bahan pembentuk email gigi. Adanya zat ini dapat mencegah pembusukan pada gigi.
* Makan makanan yang berserat
Mengkonsumsi sayuran atau buah terbukti dapat membuat gigi lebih kuat dan mencegah terjadinya gigi berlubang.
* Kurangi makanan yang mengandung gula dan tepung
Makanan jenis ini bila tertinggal di gigi dan adanya bakteri akan menyebabkan asam yang membuat gigi berlubang.

Bagi yang takut ke Dokter Gigi :
Jika Anda merasa takut saat dokter gigi menangani gigi Anda, silahkan beritahukan ke dokter Anda. Ia tentu senang membantu Anda mengatasinya. Anda bisa memberitahunya bahwa Anda akan memberi isyarat dengan tangan bahwa Anda takut atau merasa sakit saat ia sedang menangani gigi Anda. Banyak pasien mendapati bahwa hal tersebut membuat mereka lebih tenang.
Selain itu kebanyakan dokter gigi sering mengajak bicara pasiennya saat menangani gigi pasien. Hal ini bertujuan menenangkan hati pasien tersebut.
Ingatlah bahwa gigi yang sehat menunjang kesehatan tubuh. Jika Anda segera memperbaiki gigi Anda yang berlubang, hal ini akan menghindari problem dan perawatan yang mahal di kemudian hari.

Infonya dari kumpulan info

Luka Bakar


DEFINISI :
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api,cairan panas, listrik, dll) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat).

TINDAKAN TERPENTING :
Segera menghentikan paparan panas
Mencegah meluas dan mendalamnya kerusakan jaringan kulit
Mencegah dan mengatasi infeksi
Mencegah kontraktur dan perlengketan jari tangan/kaki
Segera tentukan diagnosis dengan mencantumkan derajat dan berat luka bakar

DERAJAT LUKA BAKAR (BERDASARKAN KEDALAMANLAPISAN KULIT YANG TERKENA)

• Derajat 1: mengenai lapisan luar epidermis, kulit merah, sedikit oedem, dan nyeri


• Derajat 2: mengenai epidermis dan sebagian dermis, terbentuk bulla,sedikit oedem,nyeri berat. Bila bulla pecah tampak agak kemerahan


• Derajat 3: mengenai seluruh lapisan kulit, lesi pucat, warna kecoklatan dengan permukaan lebih rendah dari bagian yang tidak terbakar


BERATNYA LUKA BAKAR (BERDASAR DERAJAT DAN LUASNYA KULIT YANG TERKENA)
Ringan : luka bakar derajat I atau derajat I atau derajat II seluas <> 20% atau derajat III seluas > 10% atau mengenai wajah, tangan-kaki, alat kelamin/persendian sekitar ketiak atau akibat listrik tegangan tinggi (> 1000 V) atau dengan komplikasi patah tulang/kerusakan jaringan lunak/gangguan jalan nafas

PERHITUNGAN LUASNYA LUKA BAKAR
Anak-anak (dihitung menurut rumus Lund dan Browder : dalam %), sedangkan dewasa (dihitung menurut rumus Rule of Nine)



PERTOLONGAN PERTAMA (DI TEMPAT KEJADIAN):
1. Matikan api dengan memutuskan hubungan (suplay) Oksigen dengan menutup tubuh penderita dengan selimut, handuk, seprai, karung, dll
2. Perhatikan Keadaan Umum penderita
3. Pendinginan:
Buka pakaian penderita
Rendam dalam air atau air mengalir 20 – 30 menit, derah wajah dikompres air
Yang disebabkan zat kimia: selain air dapat dapat digunakan NaCI (untuk zat korosif) atau gliserin (untuk fenol)
4. Mencegah infeksi:
Luka ditutup dengan perban/ kain kering bersih yang tidak dapat melekat pada luka Penderita ditutup kain bersih
Jangan beri zat yang tidak larut dalam air seperti: mentega, menyak, kecap, pasta gigi,telor, dll
5. Rujuk ke Puskesmas
6. Perhatian: pendinginan tidak ada gunanya jika luka bakar > 1 Jam.

PENATALAKSANAAN:

Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis, covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan

Clothing :

singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.

Cooling :
Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar
Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi
Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia
Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk, maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir.

Cleaning :

pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Dengan membuang jaringan yang sudah mati, proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang.

Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus, dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial- thickness. Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi, dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Tidak boleh diberikan pada wajah, riwayat alergi sulfa, perempuan hamil, bayi baru lahir, ibu menyusui dengan bayi kurang dari 2 bulan

Covering :

penutupan luka bakar dengan kassa. Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Jangan berikan mentega, minyak, oli atau larutan lainnya, menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi.

Comforting :

dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri. Dapat diberikan penghilang nyeri berupa : Paracetamol dan codein (PO-per oral)- 20-30mg/kg, Morphine (IV-intra vena) 0,1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus Morphine (I.M-intramuskular) 0,2mg/kg

Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tana bahaya dari ABC (airway, breathing, Circulation)

Airway and breathing
Perhatikan adanya stridor (mengorok), suara serak, dahak berwana jelaga (black sputum), gagal napas, bulu hidung yang terbakar, bengkak pada wajah. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap.

Circulation
Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh.

Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat, NaCl 0,9%/normal Saline). Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : 3-4 cc x berat badan (kg) x %TBSA + cairan rumatan (maintenance per 24 jam). Cairan rumatan adalah 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20kg) dan 1cc/kgBB untuk tiap kg diatas 20 kg. Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x %TBSA) diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam berikutnya. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu 1cc/kgBB/jam.

Pemberian anti tetanus diperlukan pada luka-luka sebagai berikut :

  1. Disertai patah tulang
  2. Luka yang menembus ke dalam
  3. Luka dengan kontaminasi benda asing (terutama serpihan kayu)
  4. Luka dengan komplikasi infeksi
  5. Luka dengan kerusakan jaringan yang besar (contoh luka bakar)
  6. Luka dengan kontaminasi tanah, debu atau produk cairan atau kotoran kuda
  7. Implantasi ulang dari gigi yang tanggal.

Menurut derajat Luka Bakar

• Derajat 1: cuci dengan larutan antiseptik dan beri analgesik. Bila mengenai daerah muka, genital rawat inap
• Derajat 2: inj. ATS 1500 IU im atau inj. Tetanus Toksoid (TT) 1 ml im
• Derajat 2 tidak luas tetapi terbuka : dicuci dengan larutan antiseptik, ditutup kasa steril, beri zalf levertran. Bila tidak ada tanda infeksi, kasa diganti tiap 2 minggu
• Derajat 3: rujuk ke RSUD dengan infus terpasang

Menurut Beratnya Luka Bakar
• Ringan tanpa komplikasi: berobat jalan
• Sedang: sebaiknya rawat inap untuk observasi
• Berat : rujuk ke RSUD dengan infus terpasang

Rujukan
Keadaaan dimana luka bakar perlu untuk dirujuk :
- Luka bakar Partial thickness (superficial) dengan luas daerah >10%, kecuali luka bakar yang - sangat superfisial
- Semua luka bakar full thickness, kecuali daerah yang sangat kecil
- Semua luka bakar yang mengenai wajah, mata, telapak tangan, telapak kaki, genitalia, perineum (sekitar anus) sekalipun daerah luka bakar kurang dari 5-10%
- Luka bakar yang melingkar
- Luka bakar oleh cairan kimia
- Luka bakar akibat aliran listrik (termasuk petir), disebabkan kerusakan jaringan dalam tubuh dapat terjadi akibat aliran listrik yang masuk ke dalam tubuh
- Luka bakar yang mencederai saluran napas
- Luka bakar pada usia kurang dari 12 bulan
- Luka bakar kecil pada pasien dengan permasalahan sosial, termasuk pada anak yang berisiko tinggi

INDIKASI RAWAT INAP
1. Luka bakar didaerah wajah dan leher
2. Luka bakar di daerah tangan
3. Luka bakar di daerah mata
4. Inhalasi