Showing posts with label Kesehatan Jiwa. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Jiwa. Show all posts

Tuesday, July 5, 2011

Cedera Kepala Bisa Bikin Gangguan Jiwa

Sehat-Enak.Blogspot.com - Dari tahun ke tahun, jumlah pengendara sepeda motor semakin bertambah. Data tahun 2009 saja mengatakan bahwa jumlah pengendara sepeda motor berjumlah lebih dari 52 juta (BPS). Hal ini tentunya selain akan membuat masalah kemacetan, juga akan meningkatkan risiko kecelakaan yang terjadi di jalan raya.

Harian Republika pada tanggal 14 Juni 2011 mengatakan bahwa dari total kejadian kecelakaan sepanjang 2010 yang berjumlah 5.798 kecelakaan, kebanyakan terjadi pada pengendara bermotor.

Melihat kondisi ini, pada 2 Juli 2011 lalu saya menyampaikan presentasi dalam Pertemuan Ilmiah Dua Tahunan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia di Bandung dengan judul "Gangguan Psikiatrik pada Trauma Kepala: Peluang dan Tantangan".

Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa dari sekitar 1,4 juta kasus per tahun di Amerika Serikat, hanya sekitar 235.000 orang yang dirawat intensif di rumah sakit dan 80.000 di antaranya mengalami kecacatan. Saat ini saja terdapat sekitar 5,3 juta orang Amerika yang mengalami cacat berkepanjangan akibat trauma kepala.

Trauma kepala dapat disebabkan oleh kecelakaan bermotor, kecelakaan olahraga, tindak kekerasan, ataupun ledakan bahan peledak. Kondisi ini menimbulkan luka baik terbuka maupun tertutup pada bagian kepala manusia. Beberapa korban mungkin hanya mengalami cedera kepala ringan yang sering disebut gegar otak. Namun, selebihnya ada yang mengalami gejala-gejala terkait dengan perilaku dan perasaan pascacedera kepala tersebut.

Beberapa kondisi gangguan psikiatrik yang dihubungkan dengan kejadian cedera kepala adalah depresi, gangguan pascatrauma, kecemasan, kemarahan, agitasi, agresi, gangguan perilaku, tidak adanya kesadaran diri, gangguan fungsi seksual, gangguan penyalahgunaan alkohol dan napza, serta gangguan psikotik.

Sayangnya, sering kali gejala ini dianggap normal dan bagian yang alami dari proses cedera kepala tersebut. Apalagi, bagi para dokter sering "kelupaan" melihat hal ini dikarenakan timbulnya gangguan ini yang sering kali tidak selalu langsung terjadi setelah peristiwa trauma kepala.

Maka dari itu, penanganan yang baik dan terarah adalah bagian yang sangat penting dalam penanganan kasus-kasus cedera kepala ini. Selain penanganan untuk pasiennya, dokter yang menangani pasien dengan gangguan cedera kepala ini juga harus memberikan informasi yang sebaik-baiknya kepada keluarga, terutama terkait dengan pengharapan dan tujuan pengobatan. Sering kali ini menjadi masalah karena pengharapan pasien dan dokter sering tidak dikomunikasikan dengan baik.

Satu hal yang paling penting adalah upaya pengobatan digunakan untuk mengembalikan fungsi pasien seoptimal mungkin dan mengurangi penderitaannya.

Salam sehat jiwa!

* Psikiater Bidang Psikosomatik Medis

Thursday, December 17, 2009

Informasi Tentang Depresi Dan Dorongan Bunuh Diri

Suicide Behavior


Makin maraknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini mungkin menggelitik rasa ingin tahu kita tentang apa sih yang sedang terjadi pada diri mereka yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Mulai gantung diri, minum racun, bakar diri, menabrakkan diri ke kereta api yang melintas, sampai yang (beberapa hari terakhir sebelum artikel ini ditulis) seperti menjadi tren yaitu terjun bebas dari gedung bertingkat. Di akhir Nopember hingga minggu pertama Desember 2009 saja terjadi 3 Kasus Bunuh Diri dengan cara menjatuhkan diri dari gedung atau mall di Wilayah Jakarta, Anda mau pilih Cara yang Mana ?
(Ha..ha.. ha… ha.. saya bercanda, kalau Anda Muslim pilihlah cara meninggal yang Khusnul Khotimah)

Kira – kira apa ya yang terjadi dengan mereka (yang ingin bunuh diri atau sudah bunuh diri) ?
Menurut ahlinya, Dorongan Bunuh Diri dapat berawal dari DEPRESI.

Apa itu DEPRESI ?

Anda, saya dan setiap orang pasti pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, merasa sedih, dan tidak gembira. Namun jika perasaan sedih itu menjadi perasaan sedih yang tidak kunjung hilang atau terus menerus muncul maka hal itu dapat merupakan tanda-tanda Anda mengalami depresi, dan memerlukan penanganan yang serius.

Hampir semua orang dapat mengalami Depresi. Perlu dicatat, Depresi tidak disebabkan oleh kelemahan pribadi seseorang, Depresi diduga terjadi karena ketidakseimbangan kimiawi di otak. Seseorang dengan Depresi dapat tampak normal di depan orang lain, sementara dalam hatinya ia merasa sedih dan tertekan.

Orang dengan Depresi sering tidak mau mencari pertolongan dokter(Psikiater) atau Psikolog. Alasan yang sering dikemukakan adalah “Tidak ada yang bisa membantu Saya” , tentu saja hal ini Tidak Benar, karena Depresi dapat dihilangkan dengan penanganan yang tepat.

Ciri Anda Mengalami Depresi

Selain kalimat “Tidak ada yang bisa membantu Saya”, berhati-hatilah dan sadarilah bila tanda dan gejala berikut ada pada diri Anda…
  1. Perasaan sedih terus menerus
  2. Merasa diri sendiri tidak berguna
  3. Gelisah/ cemas tanpa sebab yang jelas
  4. Kehilangan minat terhadap hobi/ hal-hal yang digemari
  5. Sulit tidur atau sebaliknya tidur berlebihan
  6. Nafsu makan berkurang atau mungkin malah meningkat
  7. Suka menyendiri
  8. Mudah tersinggung/ mudah menangis
  9. Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan
  10. Malas melakukan segala aktivitas
  11. Gairah seksual menurun
  12. Dorongan ingin Bunuh Diri

Faktor Penyebab

Seringkali tidak dapat diterangkan dengan jelas mengapa seseorang menjadi depresi. Namun beberapa Faktor yang bisa menyebabkan Depresi antara lain :
1. Faktor keturunan
2. Perubahan besar dalam kehidupan seseorang, seperti : kematian orang yang dicintai, perceraian, kehilangan pekerjaan, tertimpa musibah atau bencana, dll.
3. Menderita penyakit kronis
4. Efek samping dari obat-obat tertentu
5. Keadaan yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan hormonal seperti pasca kehamilan dan menopause .

Penanganan yang dapat dilakukan

Jika tidak ditangani dengan tepat, Depresi dapat berakhir dengan Bunuh Diri. Penanganan yang dilakukan dapat berupa Upaya Medis, Non medis atau kombinasi keduanya.
Upaya Non Medis dilakukan dengan upaya spiritual keagamaan, lebih mendekatkan diri pada Tuhan, serta dukungan penuh dari keluarga.
Upaya Medis dilakukan melalui Konseling (Konsultasi) dengan Psikolog atau Psikiater, serta Pengobatan dengan obat-obat Anti depresi di bawah pengawasan dokter.
Namun perlu diperhatikan bahwa cara-cara tersebut tidak serta merta akan memberikan efek penyembuhan, dibutuhkan waktu beberapa saat dan kesabaran sampai Anda dapat merasakan adanya perbaikan.
Tips Untuk Anda Tentang Depresi
  • Jangan malu untuk mengakui bahwa Anda sedang mengalami Depresi dan segera meminta pertolongan.
  • Jangan mengurung diri, cobalah untuk bertemu dengan orang lain dan lakukan aktivitas bersama seperti berolahraga.
  • Pilih aktivitas yang cukup mudah bagi Anda dan dapat Anda kerjakan dengan baik.
  • Jangan membuat perubahan yang besar sampai kondisi Anda benar-benar membaik.
  • Hindari Narkoba dan Alkohol
  • Berhenti menyalahkan diri sendiri
  • Jangan berkecil hati
  • Jangan menyerah ! Jika Anda mulai ada pikiran untuk Bunuh Diri segera beritahu keluarga/ sahabat atau dokter Anda.
  • Dengan pengobatan yang tepat, mayoritas penderita Depresi dapat sembuh kembali dan memperoleh kebahagiaan hidupnya… (sumber:RSJ Prop.Bali, dll)
Semoga Bermanfaat

Informasi Tentang Depresi Dan Dorongan Bunuh Diri

Suicide Behavior


Makin maraknya kasus bunuh diri akhir-akhir ini mungkin menggelitik rasa ingin tahu kita tentang apa sih yang sedang terjadi pada diri mereka yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Mulai gantung diri, minum racun, bakar diri, menabrakkan diri ke kereta api yang melintas, sampai yang (beberapa hari terakhir sebelum artikel ini ditulis) seperti menjadi tren yaitu terjun bebas dari gedung bertingkat. Di akhir Nopember hingga minggu pertama Desember 2009 saja terjadi 3 Kasus Bunuh Diri dengan cara menjatuhkan diri dari gedung atau mall di Wilayah Jakarta, Anda mau pilih Cara yang Mana ?
(Ha..ha.. ha… ha.. saya bercanda, kalau Anda Muslim pilihlah cara meninggal yang Khusnul Khotimah)

Kira – kira apa ya yang terjadi dengan mereka (yang ingin bunuh diri atau sudah bunuh diri) ?
Menurut ahlinya, Dorongan Bunuh Diri dapat berawal dari DEPRESI.

Apa itu DEPRESI ?

Anda, saya dan setiap orang pasti pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, merasa sedih, dan tidak gembira. Namun jika perasaan sedih itu menjadi perasaan sedih yang tidak kunjung hilang atau terus menerus muncul maka hal itu dapat merupakan tanda-tanda Anda mengalami depresi, dan memerlukan penanganan yang serius.

Hampir semua orang dapat mengalami Depresi. Perlu dicatat, Depresi tidak disebabkan oleh kelemahan pribadi seseorang, Depresi diduga terjadi karena ketidakseimbangan kimiawi di otak. Seseorang dengan Depresi dapat tampak normal di depan orang lain, sementara dalam hatinya ia merasa sedih dan tertekan.

Orang dengan Depresi sering tidak mau mencari pertolongan dokter(Psikiater) atau Psikolog. Alasan yang sering dikemukakan adalah “Tidak ada yang bisa membantu Saya” , tentu saja hal ini Tidak Benar, karena Depresi dapat dihilangkan dengan penanganan yang tepat.

Ciri Anda Mengalami Depresi

Selain kalimat “Tidak ada yang bisa membantu Saya”, berhati-hatilah dan sadarilah bila tanda dan gejala berikut ada pada diri Anda…
  1. Perasaan sedih terus menerus
  2. Merasa diri sendiri tidak berguna
  3. Gelisah/ cemas tanpa sebab yang jelas
  4. Kehilangan minat terhadap hobi/ hal-hal yang digemari
  5. Sulit tidur atau sebaliknya tidur berlebihan
  6. Nafsu makan berkurang atau mungkin malah meningkat
  7. Suka menyendiri
  8. Mudah tersinggung/ mudah menangis
  9. Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan
  10. Malas melakukan segala aktivitas
  11. Gairah seksual menurun
  12. Dorongan ingin Bunuh Diri

Faktor Penyebab

Seringkali tidak dapat diterangkan dengan jelas mengapa seseorang menjadi depresi. Namun beberapa Faktor yang bisa menyebabkan Depresi antara lain :
1. Faktor keturunan
2. Perubahan besar dalam kehidupan seseorang, seperti : kematian orang yang dicintai, perceraian, kehilangan pekerjaan, tertimpa musibah atau bencana, dll.
3. Menderita penyakit kronis
4. Efek samping dari obat-obat tertentu
5. Keadaan yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan hormonal seperti pasca kehamilan dan menopause .

Penanganan yang dapat dilakukan

Jika tidak ditangani dengan tepat, Depresi dapat berakhir dengan Bunuh Diri. Penanganan yang dilakukan dapat berupa Upaya Medis, Non medis atau kombinasi keduanya.
Upaya Non Medis dilakukan dengan upaya spiritual keagamaan, lebih mendekatkan diri pada Tuhan, serta dukungan penuh dari keluarga.
Upaya Medis dilakukan melalui Konseling (Konsultasi) dengan Psikolog atau Psikiater, serta Pengobatan dengan obat-obat Anti depresi di bawah pengawasan dokter.
Namun perlu diperhatikan bahwa cara-cara tersebut tidak serta merta akan memberikan efek penyembuhan, dibutuhkan waktu beberapa saat dan kesabaran sampai Anda dapat merasakan adanya perbaikan.
Tips Untuk Anda Tentang Depresi
  • Jangan malu untuk mengakui bahwa Anda sedang mengalami Depresi dan segera meminta pertolongan.
  • Jangan mengurung diri, cobalah untuk bertemu dengan orang lain dan lakukan aktivitas bersama seperti berolahraga.
  • Pilih aktivitas yang cukup mudah bagi Anda dan dapat Anda kerjakan dengan baik.
  • Jangan membuat perubahan yang besar sampai kondisi Anda benar-benar membaik.
  • Hindari Narkoba dan Alkohol
  • Berhenti menyalahkan diri sendiri
  • Jangan berkecil hati
  • Jangan menyerah ! Jika Anda mulai ada pikiran untuk Bunuh Diri segera beritahu keluarga/ sahabat atau dokter Anda.
  • Dengan pengobatan yang tepat, mayoritas penderita Depresi dapat sembuh kembali dan memperoleh kebahagiaan hidupnya… (sumber:RSJ Prop.Bali, dll)
Semoga Bermanfaat

Wednesday, September 2, 2009

Kecerdasan Emosi

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda!

Ditulis oleh: Anne Ahira

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada
orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang
tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik,
bukanlah hal mudah."
-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang menganggap remeh
pada masalah ini. Padahal, kecerdasan otak saja tidak cukup
menghantarkan seseorang mencapai kesuksesan. Justru,
pengendalian emosi yang baik menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran mental dari
seseorang yang cerdas dalam menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang ringan hingga
kompleks. Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa memahami,
mengenal, dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia.

Orang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang
lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak. Lebih
dari itu, kecerdasan ini terkait erat dengan bagaimana
seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan berinteraksi dengan
sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan bertanggung jawab
dalam segala hal yang terjadi dalam hidupnya, sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada pencapaian kesuksesan
hidup yang *tidak tampak*. Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan dengan melibatkan emosi,
perasaan dan interaksi dengan sesamanya. Terbukti, pencapaian
kesuksesan secara materi tidak menjamin kepuasan hati
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang juga dikenal dengan
sebutan "EQ"), dikenalkan melalui pasar dunia. Dinyatakan
bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menggunakan
emosi secara tepat dalam setiap bentuk interaksi lebih
dibutuhkan daripada kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana emosi bisa mengubah
segala keterbatasan menjadi hal yang luar biasa....

Seorang miliuner kaya di Amerika Serikat, Donald Trump,
adalah contoh apik dalam hal ini. Di tahun 1980 hingga
1990, Trump dikenal sebagai pengusaha real estate yang
cukup sukses, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan
sebesar satu miliar US dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak karirnya, yaitu "The
Art of The Deal dan Surviving at the Top"
. Namun jalan yang
dilalui Trump tidak selalu mulus...

Anda ingat depresi yang melanda dunia di akhir
tahun 1990? Pada saat itu harga saham properti pun ikut
anjlok dengan drastis. Hingga dalam waktu semalam,
kehidupan Trump menjadi sangat berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada bisnis propertinya ini
harus menanggung hutang sebesar 900 juta US Dollar! Bahkan
Bank Dunia sudah memprediksi kebangkrutannya. Beberapa
temannya yang mengalami nasib serupa berpikir bahwa inilah
akhir kehidupan mereka, hingga benar-benar mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump benar-benar diuji. Bagaimana
tidak, ketika ia mengharap simpati dari mantan istrinya, ia
justru diminta memberikan semua harta yang tersisa sebagai
ganti rugi perceraian mereka. Orang-orang yang dianggap
sebagai teman dekatnya pun pergi meninggalkannya begitu
saja. Alasan yang sangat mendukung bagi Trump untuk putus
asa dan menyerah pada hidup. Namun itu tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini kesempatan untuk bekerja
dan mengubah keadaan. Meski secara finansial ia telah
kehilangan segalanya, namun ada "intangible asset" yang tetap
dimilikinya. Ya, Trump memiliki pengalaman dan pemahaman
bisnis yang kuat, yang jauh lebih berharga dari semua
hartanya yang pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump sudah berhasil membuat
kesepakatan terbesar dalam sejarah bisnisnya. Tiga tahun
berikutnya, Trump mampu mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis kembali buku terbarunya
yang diberi judul "The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita bagaimana kebangkrutan
yang menimpanya justru menjadikannya lebih bijaksana, kuat
dan fokus daripada sebelumnya. Bahkan ia berpikir, jika
saja musibah itu tidak terjadi, maka ia tidak akan pernah
tahu teman sejatinya dan tidak akan menjadikannya lebih
kaya dari yang sebelumnya. Luar biasa bukan?

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang keteguhan untuk
bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan otak atau IQ, kecerdasan
emosi hadir pada setiap orang dan bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara mengasah kecerdasan
emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.

Latihan dan berani mencoba hal-hal baru akan memberikan
beragam pengalaman dan membuka pikiran dengan berbagai
kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam segala hal.

Ini akan menjadi jalan untuk bisa mendapatkan kepercayaan
orang lain dan mengendalikan kita untuk tidak mudah
menyerah. "being accountable is being dependable"

3. Berani keluar dari zona nyaman.

Mencoba keluar dari zona nyaman akan membuat kita bisa
mengeksplorasi banyak hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya.

Melakukan hal ini akan membangun rasa percaya diri dan
dapat menjadi jaminan bahwa segala sesuatu pasti ada
solusinya.

5. Bersikap rendah hati.

Mau mengakui kesalahan dalam hidup justru dapat
meningkatkan harga diri kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi Anda!

Karena mengendalikan emosi merupakan salah satu
faktor penting yang bisa mengendalikan Anda menuju
sukses dan juga menikmati warna-warni kehidupan.
Semoga Bermanfaat

Tuesday, June 16, 2009

Mengenal Anoreksia dan Bulimia

Sebagai Sebuah Gangguan Psikologis



Mengenali anoreksia dan bulimia pada tahap dini bukanlah hal yang gampang dilakukan. Ini pula yang mempersulit terapi. Namun demikian, ada sejumlah gejala yang biasanya dialami oleh penderita. Keluarga dan teman-teman dekat penderita penting mewaspadai gejala-gejala tersebut agar dapat memberikan bantuan:

Pertama, penderita anoreksia dan bulimia umumnya tidak pernah merasa puas pada berat tubuh diri sendiri meski bobotnya terhitung normal. Bahkan pun jika berat badannya di bawah ideal ia tetap akan merasa kegemukan.

Kedua, kehilangan berat badan dalam waktu singkat, sekurangnya 15 persen dari berat badan normal).

Ketiga, melakukan latihan atau olah raga secara berlebihan dengan tujuan menurunkan berat badannya.

Keempat, terobsesi untuk diet mati-matian.

Pada taraf yang lebih lanjut, penderita akan mulai kehilangan siklus haid, bahkan bisa sampai tiga kali berturut-turut. Penderita juga biasanya mengalami kerontokan rambut, sensitif terhadap rasa dingin, menarik diri dari keluarga dan pergaulan, sulit mengenali kebutuhan dasar seperti rasa lapar atau sedih, dan sulit berkonsentrasi.

Korban terbanyak dari gangguan pola makan ini adalah perempuan, khususnya mereka yang masih berusia muda dan mengalami masalah emosional seperti kurangnya rasa percaya diri. Namun di beberapa negara di antara korban yang memerlukan terapi banyak pula yang berasal dari golongan wanita karir berusia dewasa. Kebanyakan dari mereka terobsesi menjadi ''superwoman''. Mereka umumnya ''termakan'' oleh citra sosial bahwa seorang wanita sukses adalah pintar dan cantik, serta -- tentu saja -- langsing.

Dalam mengobati atau memberikan terapi pada kasus gangguan pola makan khususnya bulimia, dokter terkadang menggunakan obat antidepresi. Masih belum diketahui secara pasti mengapa obat tersebut bisa bermanfaat pada kasus-kasus tersebut. Namun kandungan zat fluoxetine pada obat tersebut ternyata bisa mengatur kadar serotonin dalam otak yang berfungsi mengatur suasana hati.
''Obat tersebut mengurangi tingkah laku impulsif dan mengurangi desakan untuk makan secara tak terkontrol (pada kasus bulimia),'' ujar dr Ung, dari Singapura.

Sayangnya, tidak ada obat yang benar-benar efektif untuk anoreksia. Ini berarti, terapi kasus ini lebih dilakukan pada konseling dan bujukan. Terapi fisik seperti rehidrasi, pemberian makanan melalui infus, dan obat untuk mengurangi gangguan lambung biasa digunakan.
Semua pengobatan nutrisi tersebut diharapkan mampu mencegah komplikasi seperti busung lapar dan gangguan kerja jantung pada kasus yang amat berat.

Yang tak kalah pentingnya dalam terapi tersebut, dokter atau terapis harus berhasil menggali masalah emosional yang ditanggung si pasien. Biasanya, si pasien akan mendapat terapi konseling satu per satu untuk membangun rasa percaya dirinya.

Peran keluarga juga amat penting dalam terapi ini. Pasalnya, keluarga diharapkan bisa memberikan bantuan terus-menerus untuk menyembuhkan gangguan pola makan sejak pertama kalinya. Setelah terapi atau pengobatan berjalan sukses, efek samping masih tetap mungkin muncul. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pasien masih terus berjuang untuk ''menerima'' makanan. Tujuan utama dari berbagai terapi ini adalah bagaimana si pasien bisa mengontrol pola makannya, bukan malah pola makan yang mengaturnya (Sumber : Republika)

Istilah :
Bulimia : Bulimia adalah gangguan pola makan yang serius, dimana seseorang makan makanan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat (misalnya saat pesta) dan kemudian dia membersihkan diri dari makanan itu dengan memuntahkan kembali makanan tersebut, dengan cara merangsang dirinya untuk muntah untuk menghindari bertambahnya berat badan . Mereka mungkin juga menggunakan laxatives (obat Pencahar) guna membuat makanan cepat meninggalkan system pencernaan mereka sehingga penyerapan makanan akan kurang. Orang dengan bulimia mungkin juga melakukan penyalahgunaan obat diit atau latihan fisik yang berlebihan agar mendapatkan berat badan yang ideal menurut mereka. Efek dari bulemia sangat serius.


Anorexia : Penderita Anorexia memiliki tujuan yang sama dengan Bulimia yaitu ingin mendapatkan berat badan yang ideal menurut mereka, namun bedanya orang Anorexia dengan sengaja membatasi diriya dari makan (membuat dirinya sendiri seperti kelaparan). Selalu merasa tubuhnya gemuk meskipun terkadang berat badannya sampai 15% di bawah berat badan normal. Mereka juga melakukan hal yang sama demi berat badan idealnya seperti olah raga yang berlebihan, bahkan sampai terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).

Apakah Anda termasuk salah satu diatas ?

Mengenal Anoreksia dan Bulimia

Sebagai Sebuah Gangguan Psikologis



Mengenali anoreksia dan bulimia pada tahap dini bukanlah hal yang gampang dilakukan. Ini pula yang mempersulit terapi. Namun demikian, ada sejumlah gejala yang biasanya dialami oleh penderita. Keluarga dan teman-teman dekat penderita penting mewaspadai gejala-gejala tersebut agar dapat memberikan bantuan:

Pertama, penderita anoreksia dan bulimia umumnya tidak pernah merasa puas pada berat tubuh diri sendiri meski bobotnya terhitung normal. Bahkan pun jika berat badannya di bawah ideal ia tetap akan merasa kegemukan.

Kedua, kehilangan berat badan dalam waktu singkat, sekurangnya 15 persen dari berat badan normal).

Ketiga, melakukan latihan atau olah raga secara berlebihan dengan tujuan menurunkan berat badannya.

Keempat, terobsesi untuk diet mati-matian.

Pada taraf yang lebih lanjut, penderita akan mulai kehilangan siklus haid, bahkan bisa sampai tiga kali berturut-turut. Penderita juga biasanya mengalami kerontokan rambut, sensitif terhadap rasa dingin, menarik diri dari keluarga dan pergaulan, sulit mengenali kebutuhan dasar seperti rasa lapar atau sedih, dan sulit berkonsentrasi.

Korban terbanyak dari gangguan pola makan ini adalah perempuan, khususnya mereka yang masih berusia muda dan mengalami masalah emosional seperti kurangnya rasa percaya diri. Namun di beberapa negara di antara korban yang memerlukan terapi banyak pula yang berasal dari golongan wanita karir berusia dewasa. Kebanyakan dari mereka terobsesi menjadi ''superwoman''. Mereka umumnya ''termakan'' oleh citra sosial bahwa seorang wanita sukses adalah pintar dan cantik, serta -- tentu saja -- langsing.

Dalam mengobati atau memberikan terapi pada kasus gangguan pola makan khususnya bulimia, dokter terkadang menggunakan obat antidepresi. Masih belum diketahui secara pasti mengapa obat tersebut bisa bermanfaat pada kasus-kasus tersebut. Namun kandungan zat fluoxetine pada obat tersebut ternyata bisa mengatur kadar serotonin dalam otak yang berfungsi mengatur suasana hati.
''Obat tersebut mengurangi tingkah laku impulsif dan mengurangi desakan untuk makan secara tak terkontrol (pada kasus bulimia),'' ujar dr Ung, dari Singapura.

Sayangnya, tidak ada obat yang benar-benar efektif untuk anoreksia. Ini berarti, terapi kasus ini lebih dilakukan pada konseling dan bujukan. Terapi fisik seperti rehidrasi, pemberian makanan melalui infus, dan obat untuk mengurangi gangguan lambung biasa digunakan.
Semua pengobatan nutrisi tersebut diharapkan mampu mencegah komplikasi seperti busung lapar dan gangguan kerja jantung pada kasus yang amat berat.

Yang tak kalah pentingnya dalam terapi tersebut, dokter atau terapis harus berhasil menggali masalah emosional yang ditanggung si pasien. Biasanya, si pasien akan mendapat terapi konseling satu per satu untuk membangun rasa percaya dirinya.

Peran keluarga juga amat penting dalam terapi ini. Pasalnya, keluarga diharapkan bisa memberikan bantuan terus-menerus untuk menyembuhkan gangguan pola makan sejak pertama kalinya. Setelah terapi atau pengobatan berjalan sukses, efek samping masih tetap mungkin muncul. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pasien masih terus berjuang untuk ''menerima'' makanan. Tujuan utama dari berbagai terapi ini adalah bagaimana si pasien bisa mengontrol pola makannya, bukan malah pola makan yang mengaturnya (Sumber : Republika)

Istilah :
Bulimia : Bulimia adalah gangguan pola makan yang serius, dimana seseorang makan makanan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat (misalnya saat pesta) dan kemudian dia membersihkan diri dari makanan itu dengan memuntahkan kembali makanan tersebut, dengan cara merangsang dirinya untuk muntah untuk menghindari bertambahnya berat badan . Mereka mungkin juga menggunakan laxatives (obat Pencahar) guna membuat makanan cepat meninggalkan system pencernaan mereka sehingga penyerapan makanan akan kurang. Orang dengan bulimia mungkin juga melakukan penyalahgunaan obat diit atau latihan fisik yang berlebihan agar mendapatkan berat badan yang ideal menurut mereka. Efek dari bulemia sangat serius.


Anorexia : Penderita Anorexia memiliki tujuan yang sama dengan Bulimia yaitu ingin mendapatkan berat badan yang ideal menurut mereka, namun bedanya orang Anorexia dengan sengaja membatasi diriya dari makan (membuat dirinya sendiri seperti kelaparan). Selalu merasa tubuhnya gemuk meskipun terkadang berat badannya sampai 15% di bawah berat badan normal. Mereka juga melakukan hal yang sama demi berat badan idealnya seperti olah raga yang berlebihan, bahkan sampai terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).

Apakah Anda termasuk salah satu diatas ?

Thursday, May 7, 2009

Cari: Penyebab Stres yang Tak Terungkap


KOMPAS.com — Memang tak disebutkan di kontrak kerja, namun stres adalah bagian dari semua pekerjaan. Sebuah survei yang diadakan oleh www.careerbuilder.com menyatakan, sebanyak 78 persen pekerja mengalami stres dan kelelahan di tempat kerjanya. Lho kok?

Memang ada faktor-faktor yang jelas bisa menambahkan tingkat stres, seperti tuntutan pekerjaan, deadline yang mengimpit setiap waktu, dan atasan yang terus-terusan meminta lebih. Namun, ada pula hal-hal yang tak terlalu kelihatan dan bisa bikin stres. Dan hal-hal inilah yang menimbulkan pengalaman dan perasaan negatif di tempat kerja yang menyebabkan kelelahan berlebihan di tempat kerja.

Ukur tingkat stres

Dalam buku terbarunya yang berjudul Overworked, Overwhelmed, and Underpaid, Louis Barajas menunjukkan beberapa tanda jika Anda mengalami kelelahan dan stres berat, yakni;
*Anda bekerja lebih dari 40 jam per minggu.
*Anda berpikiran serius untuk berhenti bekerja atau mencoba mencari pekerjaan baru setidaknya sekali di bulan lalu.
*Anda pernah lalai setidaknya sekali deadline penting dalam 6 bulan terakhir.
*Anda menunda cek rutin ke dokter karena Anda tak pernah punya waktu senggang atau pun uang untuk pergi.
*Anda merasa stres dan merasa tak aman dengan keuangan Anda dari pada 5 tahun lalu.


Penyebab stres tersembunyi
Beberapa faktor yang berkontribusi pada tingkat stres tak selalu berbentuk nyata, seperti rekan kerja atau manajer, ataupun tumpukan pekerjaan yang tak terselesaikan di meja. Namun, elemen-elemen ini juga meningkatkan level stres Anda, antara lain adalah;

1. Memikirkan masalah pekerjaan ke rumah dan membiarkannya mengganggu kehidupan personal Anda. Anda mungkin sulit membatasi antara pekerjaan dan hal di rumah. Ketika pekerjaan mulai sibuk, kehidupan profesional bisa merasuki kehidupan personal Anda. Jika ketidakseimbangan ini mencapai kembali ke kehidupan pekerjaan Anda, akan terjadi sebuah lingkaran setan.

2. Tak memiliki waktu untuk berlibur atau bekerja saat berlibur. Jika Anda tak bisa benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan, Anda tak akan bisa benar-benar merasakan keuntungan beristirahat dan rileksasi. Jika perusahaan Anda sedang mengalami kesulitan dan terjadi pengurangan karyawan, maka Anda harus kerja ekstra keras, dan perusahaan tak akan mengijinkan Anda untuk berlibur.

3. Kompetisi antarpekerja dan gosip. Ini bisa jadi tantangan untuk bisa menggapai tujuan dan tenggat waktu pekerjaan yang sedang Anda kerjakan. Namun, jika Anda berada dalam lingkungan kerja yang penuh kompetisi, Anda juga harus mewaspadai rekan kerja Anda. Jika Anda adalah target gosip yang beredar di kantor, atau berada dalam sebuah perebutan kekuasaan, tingkat stres Anda bisa melebihi atap kantor.

4. Merasa tak dianggap. Kebanyakan pekerja tak merasa dianggap penting oleh tempat kerja mereka. Tentu, kompensasi dan fasilitas adalah sebuah pengenalan dan apresiasi atas hasil kerja Anda. Namun, hanya sedikit kata "terima kasih" atau foto bahwa Anda adalah karyawan terbaik bulan ini lupa dipajang, membuat para pekerja merasa hasil kerja mereka hanya sia-sia.

Semoga Bermanfaat

Cari: Penyebab Stres yang Tak Terungkap


KOMPAS.com — Memang tak disebutkan di kontrak kerja, namun stres adalah bagian dari semua pekerjaan. Sebuah survei yang diadakan oleh www.careerbuilder.com menyatakan, sebanyak 78 persen pekerja mengalami stres dan kelelahan di tempat kerjanya. Lho kok?

Memang ada faktor-faktor yang jelas bisa menambahkan tingkat stres, seperti tuntutan pekerjaan, deadline yang mengimpit setiap waktu, dan atasan yang terus-terusan meminta lebih. Namun, ada pula hal-hal yang tak terlalu kelihatan dan bisa bikin stres. Dan hal-hal inilah yang menimbulkan pengalaman dan perasaan negatif di tempat kerja yang menyebabkan kelelahan berlebihan di tempat kerja.

Ukur tingkat stres

Dalam buku terbarunya yang berjudul Overworked, Overwhelmed, and Underpaid, Louis Barajas menunjukkan beberapa tanda jika Anda mengalami kelelahan dan stres berat, yakni;
*Anda bekerja lebih dari 40 jam per minggu.
*Anda berpikiran serius untuk berhenti bekerja atau mencoba mencari pekerjaan baru setidaknya sekali di bulan lalu.
*Anda pernah lalai setidaknya sekali deadline penting dalam 6 bulan terakhir.
*Anda menunda cek rutin ke dokter karena Anda tak pernah punya waktu senggang atau pun uang untuk pergi.
*Anda merasa stres dan merasa tak aman dengan keuangan Anda dari pada 5 tahun lalu.


Penyebab stres tersembunyi
Beberapa faktor yang berkontribusi pada tingkat stres tak selalu berbentuk nyata, seperti rekan kerja atau manajer, ataupun tumpukan pekerjaan yang tak terselesaikan di meja. Namun, elemen-elemen ini juga meningkatkan level stres Anda, antara lain adalah;

1. Memikirkan masalah pekerjaan ke rumah dan membiarkannya mengganggu kehidupan personal Anda. Anda mungkin sulit membatasi antara pekerjaan dan hal di rumah. Ketika pekerjaan mulai sibuk, kehidupan profesional bisa merasuki kehidupan personal Anda. Jika ketidakseimbangan ini mencapai kembali ke kehidupan pekerjaan Anda, akan terjadi sebuah lingkaran setan.

2. Tak memiliki waktu untuk berlibur atau bekerja saat berlibur. Jika Anda tak bisa benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan, Anda tak akan bisa benar-benar merasakan keuntungan beristirahat dan rileksasi. Jika perusahaan Anda sedang mengalami kesulitan dan terjadi pengurangan karyawan, maka Anda harus kerja ekstra keras, dan perusahaan tak akan mengijinkan Anda untuk berlibur.

3. Kompetisi antarpekerja dan gosip. Ini bisa jadi tantangan untuk bisa menggapai tujuan dan tenggat waktu pekerjaan yang sedang Anda kerjakan. Namun, jika Anda berada dalam lingkungan kerja yang penuh kompetisi, Anda juga harus mewaspadai rekan kerja Anda. Jika Anda adalah target gosip yang beredar di kantor, atau berada dalam sebuah perebutan kekuasaan, tingkat stres Anda bisa melebihi atap kantor.

4. Merasa tak dianggap. Kebanyakan pekerja tak merasa dianggap penting oleh tempat kerja mereka. Tentu, kompensasi dan fasilitas adalah sebuah pengenalan dan apresiasi atas hasil kerja Anda. Namun, hanya sedikit kata "terima kasih" atau foto bahwa Anda adalah karyawan terbaik bulan ini lupa dipajang, membuat para pekerja merasa hasil kerja mereka hanya sia-sia.

Semoga Bermanfaat

Wednesday, May 6, 2009

Cari: 4 Cara Mengkontrol Penyebab Stres



KOMPAS.com -- Ketika tekanan hidup mulai menghimpit, antara pekerjaan, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, dan lainnya nampak mulai berat, diperlukan usaha lebih dan kemauan untuk menyeimbangkan hidup.

Dalam bukunya yang berjudul Overworked, Overwhelmed, and Underpaid, Barajas menceritakan tentang orang-orang yang memiliki tipe dualsentris. Orang-orang semacam ini menempatkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya dalam level yang sama. Dan ketika terjadi keseimbangan seperti ini, maka stres tak akan terlalu terasa menekan. Barajas menekankan 4 poin untuk membantu kita menyeimbangkan hidup;
1. Tetapkan batasan tegas antara pekerjaan dan sisa hidup Anda lainnya. Barajas mengatakan pentingnya untuk mendefinisikan garis antara rumah dan pekerjaan. Ketika orang yang memiliki dualsentris tadi bekerja, mereka fokus dalam pekerjaan. Ketika mereka pulang ke rumah, pekerjaan dan segala hal yang terkait dengannya ditinggalkan di kantor. Mereka jarang membawa pulang pekerjaan, dan tak membuka jalur komunikasi yang berurusan dengan pekerjaan di luar jam kantor.
2. Fokus dengan apa yang Anda kerjakan di saat ini. Berada di suatu tempat tidak berarti Anda bisa fokus dengan keadaan. Ketika Anda memberikan atensi terbesar di manapun Anda berada, secara fisik, mental, dan emosional, Anda akan mendapati bahwa Anda bisa memberi sekaligus mendapatkan lebih banyak, baik itu dari tugas kantor, maupun hubungan Anda. Usahakan untuk berada di suatu tempat dan fokus, jangan biarkan pikiran Anda mengembara ke mana-mana saat Anda seharusnya melakukan sesuatu.
3. Ambil waktu untuk beristirahat dan menyembuhkan diri. Akan sangat baik untuk bisa mencapai atau melebih ekspektasi di pekerjaan, namun yang tak kalah pentingnya untuk memperhatikan jangka panjang, yakni kesehatan Anda. Menjaga diri Anda adalah investasi jangka panjang yang amat berharga secara profesional dan personal. Barajas memberi saran untuk menciptakan sebuah atmosfer untuk kemungkinan hal ini. Manjakan diri Anda untuk me-recharge kembali energi Anda, dengan kata lain, jangan lupa untuk mencari ‘me-time’.
4. Tetapkan prioritas Anda. Ketika Anda merasa kelelahan kala bekerja, kenyataannya, Anda sudah kehilangan prioritas Anda. Anda harus memutuskan apa yang penting untuk Anda. Salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menciptakan sebuah cetak biru hidup. Tetapkan apa tujuan hidup, peran yang ingin Anda emban, nilai-nilai, dan arti hubungan Anda. Ketika Anda mendesain cetak biru hidup Anda, kerjakan dan lakukan semampunya, niscaya stres akan menjauh dan hidup Anda lebih penuh. Tentunya ciptakan cetak biru dan cita-cita yang realistis agar tak menjadi beban yang berat di pundak Anda.

Semoga Bermanfaat

Cari: 4 Cara Mengkontrol Penyebab Stres



KOMPAS.com -- Ketika tekanan hidup mulai menghimpit, antara pekerjaan, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, dan lainnya nampak mulai berat, diperlukan usaha lebih dan kemauan untuk menyeimbangkan hidup.

Dalam bukunya yang berjudul Overworked, Overwhelmed, and Underpaid, Barajas menceritakan tentang orang-orang yang memiliki tipe dualsentris. Orang-orang semacam ini menempatkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya dalam level yang sama. Dan ketika terjadi keseimbangan seperti ini, maka stres tak akan terlalu terasa menekan. Barajas menekankan 4 poin untuk membantu kita menyeimbangkan hidup;
1. Tetapkan batasan tegas antara pekerjaan dan sisa hidup Anda lainnya. Barajas mengatakan pentingnya untuk mendefinisikan garis antara rumah dan pekerjaan. Ketika orang yang memiliki dualsentris tadi bekerja, mereka fokus dalam pekerjaan. Ketika mereka pulang ke rumah, pekerjaan dan segala hal yang terkait dengannya ditinggalkan di kantor. Mereka jarang membawa pulang pekerjaan, dan tak membuka jalur komunikasi yang berurusan dengan pekerjaan di luar jam kantor.
2. Fokus dengan apa yang Anda kerjakan di saat ini. Berada di suatu tempat tidak berarti Anda bisa fokus dengan keadaan. Ketika Anda memberikan atensi terbesar di manapun Anda berada, secara fisik, mental, dan emosional, Anda akan mendapati bahwa Anda bisa memberi sekaligus mendapatkan lebih banyak, baik itu dari tugas kantor, maupun hubungan Anda. Usahakan untuk berada di suatu tempat dan fokus, jangan biarkan pikiran Anda mengembara ke mana-mana saat Anda seharusnya melakukan sesuatu.
3. Ambil waktu untuk beristirahat dan menyembuhkan diri. Akan sangat baik untuk bisa mencapai atau melebih ekspektasi di pekerjaan, namun yang tak kalah pentingnya untuk memperhatikan jangka panjang, yakni kesehatan Anda. Menjaga diri Anda adalah investasi jangka panjang yang amat berharga secara profesional dan personal. Barajas memberi saran untuk menciptakan sebuah atmosfer untuk kemungkinan hal ini. Manjakan diri Anda untuk me-recharge kembali energi Anda, dengan kata lain, jangan lupa untuk mencari ‘me-time’.
4. Tetapkan prioritas Anda. Ketika Anda merasa kelelahan kala bekerja, kenyataannya, Anda sudah kehilangan prioritas Anda. Anda harus memutuskan apa yang penting untuk Anda. Salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menciptakan sebuah cetak biru hidup. Tetapkan apa tujuan hidup, peran yang ingin Anda emban, nilai-nilai, dan arti hubungan Anda. Ketika Anda mendesain cetak biru hidup Anda, kerjakan dan lakukan semampunya, niscaya stres akan menjauh dan hidup Anda lebih penuh. Tentunya ciptakan cetak biru dan cita-cita yang realistis agar tak menjadi beban yang berat di pundak Anda.

Semoga Bermanfaat