Showing posts with label Tentang Alergi. Show all posts
Showing posts with label Tentang Alergi. Show all posts

Thursday, December 1, 2011

Anak Alergi Aman Divaksin ?



AHLI vaksin menyatakan,hampir seluruh anak penderita alergi vaksin dapat divaksinasi secara aman melalui pengawasan ketat dengan perlengkapan dan standar pencegahan.

Merujuk hasil laporan pada September lalu dari para dokter anak, sebuah tim yang dikepalai Johns Hopkins Children’s Center memberikan instruksi langkah-langkah untuk membantu dokter mengevaluasi dan mengimunisasikan anak-anak yang diduga mengidap alergi vaksin.

Reaksi alergi terhadap vaksinasi memang jarang ditemukan, hanya satu atau dua anak dari jutaan vaksinasi yang dilakukan. Namun, hal itu dapat menjadi hal serius yang bisa mengancam nyawa anak.

Gejala yang ditimbulkan dari suatu reaksi alergi yang tidak semestinya, biasanya akan cepat terlihat,seperti gatal-gatal, kemerahan pada kulit, bengkak, menggigil, batuk, tekanan darah menurun, muntah atau diare, dan dapat memicu sesak napas hingga ancaman kematian.

Untuk membantu dokter dalam membedakan antara reaksi serius dan permulaan reaksi, peneliti mencoba menganalisis fakta-fakta mengenai vaksinasi yang aman dan alergi-alerginya.

”Kami tidak dapat menyatakan bahwa vaksin yang diberikan selama ini sudah benar-benar aman, tapi terhadap anak-anak,vaksin dapat pula menjadi pencetus suatu alergi yang serius,” kata Kepala Dokter Anak Bagian Alergi dan Imunologi di Hopkins Children’s Center, Robert Wood.

Dalam rilisnya, dia juga mengatakan bagian terpenting adalah ketika anak-anak yang telah diketahui menderita alergi dapat divaksin dengan aman. Rangkaian instruksi baru yang dikembangkan tim peneliti bertujuan untuk dapat digunakan pada anak.

Si anak telah diketahui menderita atau memiliki risiko tinggi terhadap reaksi alergi terhadap vaksin. Dalam kasus tersebut, pendapat algoritma yang diberikan ahli alergi dapat ditunjukkan dari tes terhadap kulit ataupun tes darah, untuk mendeteksi keberadaan suatu alergi hingga dugaan terhadap penyebab alergi di dalam vaksin.

Pada sejumlah kasus, seorang anak menderita alergi terhadap penyebab alergi vaksin, sebuah bentuk alternatif bahwa vaksin tersebut bebas dari penyebab alergi sehingga dapat digunakan. Nah, bila sebuah vaksin terbebas dari penyebab alergi, banyak anak dapat tetap divaksin di bawah pengawasan dokter untuk beberapa jam ke depan pascavaksinasi.

Sejatinya,imunisasi terhadap anak yang diketahui menderita alergi vaksin harus mendapat perawatan di klinik khusus.Tempat yang menyediakan peralatan pendukung terhadap ancaman kematian atau setidaknya di ICU (Intensive Care Unit) rumah sakit. Dokter juga memberikan pilihan untuk memeriksakan kekebalan anak terhadap suatu penyakit yang menjadi penolakan terhadap vaksin.

Jika anak tersebut telah menerima imunisasi, dosis lanjutan dari vaksin tidak lagi dibutuhkan. ”Kebanyakan anak yang menderita reaksi alergi setelah vaksin dapat tetap menolak menerima vaksin meskipun tidak menderita suatu penyakit.

Beberapa di antaranya dapat tetap menerima dosis tambahan dari vaksin yang mungkin dapat juga menyebabkan reaksi serupa,” ungkap spesialis penyakit infeksi Hopkins Children’s Center dan Profesor di bidang Kesehatan Internasional Johns Hopkins University School of Public Health, Neal Halsey.

Alergi adalah kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respons imun) yang berlebihan. Ini diakibatkan sejumlah penyebab atau pencetus. ”Alergi dapat diturunkan dari orangtua si penderita.

Misalnya saja pada alergi udara,” ucap konsultan gizi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak di Ampera,Kemang, Putri Gita Menur SKM. Putri menuturkan, alergi dapat timbul oleh beberapa pencetus, yaitu alergi akibat makanan atau intoleransi makanan,dan bisa juga karena inhalasi/hirupan atau udara tadi.

Untuk makanan penyebabnya berhubungan dengan imunoglobin E, sedangkan pada intoleransi makanan berhubungan dengan bahan yang terdapat dalam makanan itu./healthyday
oleh www.infeksi.com (2008)

Anak Alergi Aman Divaksin ?



AHLI vaksin menyatakan,hampir seluruh anak penderita alergi vaksin dapat divaksinasi secara aman melalui pengawasan ketat dengan perlengkapan dan standar pencegahan.

Merujuk hasil laporan pada September lalu dari para dokter anak, sebuah tim yang dikepalai Johns Hopkins Children’s Center memberikan instruksi langkah-langkah untuk membantu dokter mengevaluasi dan mengimunisasikan anak-anak yang diduga mengidap alergi vaksin.

Reaksi alergi terhadap vaksinasi memang jarang ditemukan, hanya satu atau dua anak dari jutaan vaksinasi yang dilakukan. Namun, hal itu dapat menjadi hal serius yang bisa mengancam nyawa anak.

Gejala yang ditimbulkan dari suatu reaksi alergi yang tidak semestinya, biasanya akan cepat terlihat,seperti gatal-gatal, kemerahan pada kulit, bengkak, menggigil, batuk, tekanan darah menurun, muntah atau diare, dan dapat memicu sesak napas hingga ancaman kematian.

Untuk membantu dokter dalam membedakan antara reaksi serius dan permulaan reaksi, peneliti mencoba menganalisis fakta-fakta mengenai vaksinasi yang aman dan alergi-alerginya.

”Kami tidak dapat menyatakan bahwa vaksin yang diberikan selama ini sudah benar-benar aman, tapi terhadap anak-anak,vaksin dapat pula menjadi pencetus suatu alergi yang serius,” kata Kepala Dokter Anak Bagian Alergi dan Imunologi di Hopkins Children’s Center, Robert Wood.

Dalam rilisnya, dia juga mengatakan bagian terpenting adalah ketika anak-anak yang telah diketahui menderita alergi dapat divaksin dengan aman. Rangkaian instruksi baru yang dikembangkan tim peneliti bertujuan untuk dapat digunakan pada anak.

Si anak telah diketahui menderita atau memiliki risiko tinggi terhadap reaksi alergi terhadap vaksin. Dalam kasus tersebut, pendapat algoritma yang diberikan ahli alergi dapat ditunjukkan dari tes terhadap kulit ataupun tes darah, untuk mendeteksi keberadaan suatu alergi hingga dugaan terhadap penyebab alergi di dalam vaksin.

Pada sejumlah kasus, seorang anak menderita alergi terhadap penyebab alergi vaksin, sebuah bentuk alternatif bahwa vaksin tersebut bebas dari penyebab alergi sehingga dapat digunakan. Nah, bila sebuah vaksin terbebas dari penyebab alergi, banyak anak dapat tetap divaksin di bawah pengawasan dokter untuk beberapa jam ke depan pascavaksinasi.

Sejatinya,imunisasi terhadap anak yang diketahui menderita alergi vaksin harus mendapat perawatan di klinik khusus.Tempat yang menyediakan peralatan pendukung terhadap ancaman kematian atau setidaknya di ICU (Intensive Care Unit) rumah sakit. Dokter juga memberikan pilihan untuk memeriksakan kekebalan anak terhadap suatu penyakit yang menjadi penolakan terhadap vaksin.

Jika anak tersebut telah menerima imunisasi, dosis lanjutan dari vaksin tidak lagi dibutuhkan. ”Kebanyakan anak yang menderita reaksi alergi setelah vaksin dapat tetap menolak menerima vaksin meskipun tidak menderita suatu penyakit.

Beberapa di antaranya dapat tetap menerima dosis tambahan dari vaksin yang mungkin dapat juga menyebabkan reaksi serupa,” ungkap spesialis penyakit infeksi Hopkins Children’s Center dan Profesor di bidang Kesehatan Internasional Johns Hopkins University School of Public Health, Neal Halsey.

Alergi adalah kumpulan gejala akibat reaksi kekebalan tubuh (respons imun) yang berlebihan. Ini diakibatkan sejumlah penyebab atau pencetus. ”Alergi dapat diturunkan dari orangtua si penderita.

Misalnya saja pada alergi udara,” ucap konsultan gizi dari Rumah Sakit Ibu dan Anak di Ampera,Kemang, Putri Gita Menur SKM. Putri menuturkan, alergi dapat timbul oleh beberapa pencetus, yaitu alergi akibat makanan atau intoleransi makanan,dan bisa juga karena inhalasi/hirupan atau udara tadi.

Untuk makanan penyebabnya berhubungan dengan imunoglobin E, sedangkan pada intoleransi makanan berhubungan dengan bahan yang terdapat dalam makanan itu./healthyday
oleh www.infeksi.com (2008)

Sunday, August 29, 2010

KANDUNGAN MAKSIMUM MELAMIN DALAM SUSU BUBUK 1 MG/KG

Jumlah maksimum melamin yang diperbolehkan dalam susu bubuk untuk bayi adalah 1 mg/kg dan jumlah maksimum bahan kimia yang diperbolehkan untuk makanan lain dan makanan binatang adalah 2,5 mg/kg, berdasarkan peraturan baru dari Komisi Standarisasi Makanan PBB, Codex Alimentarius Commission, demikian siaran pers World Health Organitation (WHO) 6 Juli 2010.
Melamin adalah bahan kimia yang digunakan dalam berbagai macam proses pengolahan termasuk pabrik plastik untuk peralatan makan dan peralatan dapur, pelapis kaleng – dan sisa-sisanya tercampur bersama makanan tanpa menyebabkan gangguan kesehatan, namun berbahaya dalam jumlah banyak.

“Penentuan tingkat maksimum ini membantu pemerintah membedakan antara tingkat rendah melamin yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan menghindari pemalsuan yang disengaja - untuk melindungi kesehatan masyarakat tanpa menghambat perdagangan internasional” kata Martijn Weijtens, Ketua Komite Codex. Walaupun tidak mengikat secara hukum, batasan baru ini memungkinkan negara untuk menolak izin impor produk dengan level melamin yang berlebihan.

Sidang Komisi Standarisasi Makanan dihadiri 500 delegasi dari 130 negara. Keputusan lain yang diambil yaitu :
Ukuran sehat untuk sayuran dan makanan laut yang sehat, segar dan aman
Sayuran segar dan berdaun merupakan bagian dari diet sehat dan tumbuh dalam kondisi yang beragam yang dipasarkan ditingkat lokal maupun global untuk memberikan ketersediaan konsumen sepanjang tahun. Produk ini bergerak dari peternakan ke meja, yang dapat terkontaminasi oleh patogen seperti salmonella, e. coli, dan virus hepatitis A.

Sidang ini juga menghasilkan panduan spesifik untuk produksi, panen, pengepakan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, pemasaran dan pendidikan konsumen untuk mengurangi risiko keamanan pangan yang berkaitan dengan produk ini. Panduan lain meliputi aspek seperti pengendalian air irigasi, pendinginan, penyimpanan dan cara mencuci tangan yang benar oleh konsumen.

Komisi ini juga memberikan saran spesifik tentang cara mengontrol bakteri dalam makanan laut. Dalam beberapa tahun terakhir, dilaporkan telah terjadi peningkatan wabah penyakit bawaan makanan yang disebabkan oleh bakteri yang disebut spesies Vibrio, yang biasanya dikaitkan dengan konsumsi makanan laut, terutama tiram yang sering dimakan mentah. Peraturan baru dari Komisi ini akan membantu meminimalkan risiko.

Aflatoksin
Tingkat maksimum 10 mikrogram / kg khusus untuk aflatoksin dalam kacang Brasil (dikupas dan siap dimakan) dan 15 mikrogram / kg untuk kacang Brasil yang dikupas (dimaksudkan untuk diproses lebih lanjut), Komisi ini juga mengadopsi kode praktis untuk mencegah kontaminasi alfatoksin .
Aflatoksin adalah jamur karsinogenik yang dapat mencemari jagung, kacang tanah dan tanaman pangan lainnya seperti kacang-kacangan dalam kondisi tertentu.

Metode baru untuk menentukan kadar makanan
Metode yang digunakan untuk analisa dan sampling merupakan dasar untuk kontrol dan pemeriksaan terhadap makanan. Pedoman baru yang diadopsi oleh Komisi ini memungkinkan untuk menjalankan tes untuk menentukan apakah makanan yang berasal dari bioteknologi modern, untuk mengotentikasi variasi makanan seperti spesies ikan dan untuk mendeteksi adanya alergen .

Persetujuan tentang pedoman ini menandai sebuah konsensus internasional penting di bidang bioteknologi di mana Komisi ini telah mengembangkan beberapa pedoman yang berkaitan dengan penilaian keamanan pangan untuk makanan yang berasal dari bioteknologi modern.

Codex Alimentarius Commission, dijalankan bersama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan WHO selama 47 tahun, menetapkan standar makanan internasional untuk melindungi kesehatan konsumen dan memastikan praktek yang adil dalam perdagangan makanan. Hasil pekerjaan Komisi itu bernama Codex Alimentarius (Latin untuk "kode makanan"), satu set standar internasional keamanan pangan berkualitas. Standar-standar ini, ketika diperkenalkan dalam undang-undang nasional, memberikan kontribusi bagi keamanan makanan dan perdagangan pangan internasional.

The Codex Alimentarius adalah contoh kerja sama antar-lembaga yang paling lama berdiri dalam sistem PBB. Lembaga ini memiliki anggota 182 negara dan satu organisasi anggota, Uni Eropa.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , info@depkes.go.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , kontak@depkes.go.id
Semoga Bermanfaat

KANDUNGAN MAKSIMUM MELAMIN DALAM SUSU BUBUK 1 MG/KG

Jumlah maksimum melamin yang diperbolehkan dalam susu bubuk untuk bayi adalah 1 mg/kg dan jumlah maksimum bahan kimia yang diperbolehkan untuk makanan lain dan makanan binatang adalah 2,5 mg/kg, berdasarkan peraturan baru dari Komisi Standarisasi Makanan PBB, Codex Alimentarius Commission, demikian siaran pers World Health Organitation (WHO) 6 Juli 2010.
Melamin adalah bahan kimia yang digunakan dalam berbagai macam proses pengolahan termasuk pabrik plastik untuk peralatan makan dan peralatan dapur, pelapis kaleng – dan sisa-sisanya tercampur bersama makanan tanpa menyebabkan gangguan kesehatan, namun berbahaya dalam jumlah banyak.

“Penentuan tingkat maksimum ini membantu pemerintah membedakan antara tingkat rendah melamin yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan menghindari pemalsuan yang disengaja - untuk melindungi kesehatan masyarakat tanpa menghambat perdagangan internasional” kata Martijn Weijtens, Ketua Komite Codex. Walaupun tidak mengikat secara hukum, batasan baru ini memungkinkan negara untuk menolak izin impor produk dengan level melamin yang berlebihan.

Sidang Komisi Standarisasi Makanan dihadiri 500 delegasi dari 130 negara. Keputusan lain yang diambil yaitu :
Ukuran sehat untuk sayuran dan makanan laut yang sehat, segar dan aman
Sayuran segar dan berdaun merupakan bagian dari diet sehat dan tumbuh dalam kondisi yang beragam yang dipasarkan ditingkat lokal maupun global untuk memberikan ketersediaan konsumen sepanjang tahun. Produk ini bergerak dari peternakan ke meja, yang dapat terkontaminasi oleh patogen seperti salmonella, e. coli, dan virus hepatitis A.

Sidang ini juga menghasilkan panduan spesifik untuk produksi, panen, pengepakan, pengolahan, penyimpanan, distribusi, pemasaran dan pendidikan konsumen untuk mengurangi risiko keamanan pangan yang berkaitan dengan produk ini. Panduan lain meliputi aspek seperti pengendalian air irigasi, pendinginan, penyimpanan dan cara mencuci tangan yang benar oleh konsumen.

Komisi ini juga memberikan saran spesifik tentang cara mengontrol bakteri dalam makanan laut. Dalam beberapa tahun terakhir, dilaporkan telah terjadi peningkatan wabah penyakit bawaan makanan yang disebabkan oleh bakteri yang disebut spesies Vibrio, yang biasanya dikaitkan dengan konsumsi makanan laut, terutama tiram yang sering dimakan mentah. Peraturan baru dari Komisi ini akan membantu meminimalkan risiko.

Aflatoksin
Tingkat maksimum 10 mikrogram / kg khusus untuk aflatoksin dalam kacang Brasil (dikupas dan siap dimakan) dan 15 mikrogram / kg untuk kacang Brasil yang dikupas (dimaksudkan untuk diproses lebih lanjut), Komisi ini juga mengadopsi kode praktis untuk mencegah kontaminasi alfatoksin .
Aflatoksin adalah jamur karsinogenik yang dapat mencemari jagung, kacang tanah dan tanaman pangan lainnya seperti kacang-kacangan dalam kondisi tertentu.

Metode baru untuk menentukan kadar makanan
Metode yang digunakan untuk analisa dan sampling merupakan dasar untuk kontrol dan pemeriksaan terhadap makanan. Pedoman baru yang diadopsi oleh Komisi ini memungkinkan untuk menjalankan tes untuk menentukan apakah makanan yang berasal dari bioteknologi modern, untuk mengotentikasi variasi makanan seperti spesies ikan dan untuk mendeteksi adanya alergen .

Persetujuan tentang pedoman ini menandai sebuah konsensus internasional penting di bidang bioteknologi di mana Komisi ini telah mengembangkan beberapa pedoman yang berkaitan dengan penilaian keamanan pangan untuk makanan yang berasal dari bioteknologi modern.

Codex Alimentarius Commission, dijalankan bersama oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan WHO selama 47 tahun, menetapkan standar makanan internasional untuk melindungi kesehatan konsumen dan memastikan praktek yang adil dalam perdagangan makanan. Hasil pekerjaan Komisi itu bernama Codex Alimentarius (Latin untuk "kode makanan"), satu set standar internasional keamanan pangan berkualitas. Standar-standar ini, ketika diperkenalkan dalam undang-undang nasional, memberikan kontribusi bagi keamanan makanan dan perdagangan pangan internasional.

The Codex Alimentarius adalah contoh kerja sama antar-lembaga yang paling lama berdiri dalam sistem PBB. Lembaga ini memiliki anggota 182 negara dan satu organisasi anggota, Uni Eropa.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , info@depkes.go.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , kontak@depkes.go.id
Semoga Bermanfaat

Monday, June 21, 2010

Informasi Tentang Alergi

“Bu Ani, kenapa tu si Andi bentol – bentol badannya, aduh... bibirnya juga sampai bengkak gitu ?“. “Ini bu RT, tadi pagi saya buatin susu formula, kebetulan saya baru coba nih.., tapi beberapa jam kemudian Andi mengeluh gatal dan sampai begini akhirnya, mungkin Andi nggak cocok susunya ya bu RT ?”. “Mungkin saja bu Ani, anak saya tuh si Toni dulu waktu kecil juga pernah diare waktu pertama kali coba minum susu formula, kata dokter sih dia alergi “.

Obrolan diatas hanya salah satu pertanyaan dari sekian banyak tanda tanya kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anak kita. Apakah benar anak kita tidak cocok dengan susu ini atau susu itu ? Apakah anak kita mengalami Alergi Susu? lalu apa yang harus kita lakukan ? kemana harus bertanya dan mencari informasi yang tepat ?

Tidak jarang dan tanpa disadari kita sibuk berspekulasi dan menebak – nebak tentang apa yang terjadi pada buah hati kita, seperti si Badu yang selalu bersin – bersin di pagi hari, gatal –gatal setelah menyantap telur rebus, bahkan sampai tidak pernah bisa menikmati hidangan sari laut yang terkenal lezatnya karena takut hidungnya kemerahan dan gatal, apa benar itu alergi ?

Tahukah Anda bahwa diperkirakan sekitar 6 sampai 8 dari 100 bayi memiliki alergi terhadap satu atau beberapa jenis makanan. Dari 8 allergen (allergen : agen penyebab/pemicu timbulnya reaksi alergi-red) makanan yang sering ditemukan adalah protein yang terdapat pada susu, kacang kedelai, gandum, telur, kacang-kacangan, ikan, seafood yang bercangkang (mis. kepiting, udang, kerang) dan kacang pohon.

Menentukan seseorang mengalami alergi ternyata tidaklah semudah yang dikatakan. Banyak hal yang harus ditegaskan dan tidak sedikit pula pertanyaan harus terjawab. Tapi minimnyanya referensi yang ada ditambah lagi kurangnya kesadaran di masyarakat tentang apa itu alergi membuatnya menjadi hal biasa yang tidak perlu terlalu dipermasalahkan, padahal alergi bukanlah masalah yang bisa diabaikan begitu saja.

Sudah saatnya kita lebih peduli tentang Alergi. Temukan lebih banyak informasi serta pengetahuan dasar yang perlu Anda pahami tentang Alergi, jawab semua pertanyaan Anda tentang Alergi di www.aksisadaralergi.org, dan Jadilah salah seorang dari mereka yang Sadar Alergi.

Informasi Tentang Alergi

“Bu Ani, kenapa tu si Andi bentol – bentol badannya, aduh... bibirnya juga sampai bengkak gitu ?“. “Ini bu RT, tadi pagi saya buatin susu formula, kebetulan saya baru coba nih.., tapi beberapa jam kemudian Andi mengeluh gatal dan sampai begini akhirnya, mungkin Andi nggak cocok susunya ya bu RT ?”. “Mungkin saja bu Ani, anak saya tuh si Toni dulu waktu kecil juga pernah diare waktu pertama kali coba minum susu formula, kata dokter sih dia alergi “.

Obrolan diatas hanya salah satu pertanyaan dari sekian banyak tanda tanya kita tentang apa yang sebenarnya terjadi pada anak kita. Apakah benar anak kita tidak cocok dengan susu ini atau susu itu ? Apakah anak kita mengalami Alergi Susu? lalu apa yang harus kita lakukan ? kemana harus bertanya dan mencari informasi yang tepat ?

Tidak jarang dan tanpa disadari kita sibuk berspekulasi dan menebak – nebak tentang apa yang terjadi pada buah hati kita, seperti si Badu yang selalu bersin – bersin di pagi hari, gatal –gatal setelah menyantap telur rebus, bahkan sampai tidak pernah bisa menikmati hidangan sari laut yang terkenal lezatnya karena takut hidungnya kemerahan dan gatal, apa benar itu alergi ?

Tahukah Anda bahwa diperkirakan sekitar 6 sampai 8 dari 100 bayi memiliki alergi terhadap satu atau beberapa jenis makanan. Dari 8 allergen (allergen : agen penyebab/pemicu timbulnya reaksi alergi-red) makanan yang sering ditemukan adalah protein yang terdapat pada susu, kacang kedelai, gandum, telur, kacang-kacangan, ikan, seafood yang bercangkang (mis. kepiting, udang, kerang) dan kacang pohon.

Menentukan seseorang mengalami alergi ternyata tidaklah semudah yang dikatakan. Banyak hal yang harus ditegaskan dan tidak sedikit pula pertanyaan harus terjawab. Tapi minimnyanya referensi yang ada ditambah lagi kurangnya kesadaran di masyarakat tentang apa itu alergi membuatnya menjadi hal biasa yang tidak perlu terlalu dipermasalahkan, padahal alergi bukanlah masalah yang bisa diabaikan begitu saja.

Sudah saatnya kita lebih peduli tentang Alergi. Temukan lebih banyak informasi serta pengetahuan dasar yang perlu Anda pahami tentang Alergi, jawab semua pertanyaan Anda tentang Alergi di www.aksisadaralergi.org, dan Jadilah salah seorang dari mereka yang Sadar Alergi.