Showing posts with label Penyakit Bersumber Binatang. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Bersumber Binatang. Show all posts

Saturday, August 14, 2010

Sejarah Chikungunya dan Penyebarannya

Virus Chikungunya adalah Arthopod borne yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk. Hasil uji Hemaglutinasi Inhibisi dan uji Komplemen Fiksasi, virus ini termasuk genus alphavirus ( “Group A” Arthropod-borne viruses) dan famili dari Togaviridae. Sedangkan DBD disebabkan oleh “Group B” arthrophod-borne viruses (flavi virus).
Vektor utama penyakit ini sama dengan DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut.

Dari sejarah diduga KLB Chikungunya pernah terjadi pada tahun 1779 di Batavia dan Kairo; 1823 di Zanzibar ; 1824 di India ; 1870 di Zanzibar ; 1871 di India ;1901 di Hongkong , Burma, dan Madras ; 1923 di Calcuta.

Pada tahun 1928 di Cuba pertama kali digunakan istilah “dengue”, ini dapat diartikan bahwa infeksi Chikungunya sangat mirip dengan Dengue. Istilah “Chikungunya ” berasal dari bahasa suku Swahili yang berarti “Orang yang jalannya membungkuk dan menekuk lututnya”, suku ini bermukim di dataran tinggi Makonde Provinsi Newala, Tanzania (yang sebelumnya bernama Tanganyika). Istilah Chikungunya juga digunakan untuk menamai virus yang pertama kali diisolasi dari serum darah penderita penyakit tersebut pada tahun 1953 saat terjadi KLB di negara tersebut. Pada demam Chikungunya adanya gejala khas dan dominan yaitu nyeri sendi.

Dari tahun 1952 sampai kini virus telah tersebar luas di daerah Afrika dan menyebar ke Amerika dan Asia. Virus Chikungunya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara sejak tahun 1954. Pada akhir tahun 1950 dan 1960 virus berkembang di Thailand, Kamboja, Vietnam, Manila dan Burma. Tahun 1965 terjadi KLB di Srilanka.

Di Indonesia, KLB penyakit Chikungunya pertama kali dilaporkan dan tercatat pada tahun 1973 terjadi di Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dan di DKI Jakarta, Tahun 1982 di Kuala Tungkal Provinsi Jambi dan tahun 1983 di Daerah Istimewa Yogyakarta. KLB Chikungunya mulai banyak dilaporkan sejak tahun 1999 yaitu di Muara Enim (1999), Aceh (2000), Jawa Barat ( Bogor, Bekasi, Depok ) pada tahun 2001, yang menyerang secara bersamaan pada penduduk di satu kesatuan wilayah (RW/Desa ).

Pada tahun 2002 banyak daerah melaporkan terjadinya KLB Chikungunya seperti Palembang, Semarang, Indramayu, Manado, DKI Jakarta , Banten, Jawa Timur dan lain-lain. Pada tahun 2003 KLB Chikungunya terjadi di beberapa wilayah di pulau Jawa, NTB, Kalimantan Tengah. Tahun 2006 dan 2007 terjadi KLB di Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Selatan.
Dari tahun 2000-2007 di Indonesia terjadi KLB Chikungunya pada hampir semua provinsi dengan 18.169 kasus tanpa kematian.

Penyebaran penyakit Chikungunya biasanya terjadi pada daerah endemis Demam Berdarah Dengue. Banyaknya tempat perindukan nyamuk sering berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit Chikungunya
Saat ini hampir seluruh provinsi di Indonesia potensial untuk terjadinya KLB Chikungunya. KLB sering terjadi pada awal dan akhir musim hujan. Penyakit Chikungunya lebih sering terjadi di daerah sub urban.

Faktor Resiko
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya, yaitu: manusia, virus dan vektor perantara. Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.

Beberapa faktor penyebab timbulnya KLB demam Chikungunya adalah :
1. Perpindahan penduduk dari daerah terinfeksi
2. Sistem pengelolaan limbah dengan penyediaan air bersih yang tidak memadai.
3. Berkembangnya penyebaran dan kepadatan nyamuk ( sanitasi lingkungan yang buruk)

Ada gelombang epidemi 20 tahunan mungkin terkait perubahan iklim dan cuaca. Anti bodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali.
(Sumber: Buku Chikungunya PP&PL Kemenkes RI)
Semoga Bermanfaat

Sejarah Chikungunya dan Penyebarannya

Virus Chikungunya adalah Arthopod borne yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk. Hasil uji Hemaglutinasi Inhibisi dan uji Komplemen Fiksasi, virus ini termasuk genus alphavirus ( “Group A” Arthropod-borne viruses) dan famili dari Togaviridae. Sedangkan DBD disebabkan oleh “Group B” arthrophod-borne viruses (flavi virus).
Vektor utama penyakit ini sama dengan DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut.

Dari sejarah diduga KLB Chikungunya pernah terjadi pada tahun 1779 di Batavia dan Kairo; 1823 di Zanzibar ; 1824 di India ; 1870 di Zanzibar ; 1871 di India ;1901 di Hongkong , Burma, dan Madras ; 1923 di Calcuta.

Pada tahun 1928 di Cuba pertama kali digunakan istilah “dengue”, ini dapat diartikan bahwa infeksi Chikungunya sangat mirip dengan Dengue. Istilah “Chikungunya ” berasal dari bahasa suku Swahili yang berarti “Orang yang jalannya membungkuk dan menekuk lututnya”, suku ini bermukim di dataran tinggi Makonde Provinsi Newala, Tanzania (yang sebelumnya bernama Tanganyika). Istilah Chikungunya juga digunakan untuk menamai virus yang pertama kali diisolasi dari serum darah penderita penyakit tersebut pada tahun 1953 saat terjadi KLB di negara tersebut. Pada demam Chikungunya adanya gejala khas dan dominan yaitu nyeri sendi.

Dari tahun 1952 sampai kini virus telah tersebar luas di daerah Afrika dan menyebar ke Amerika dan Asia. Virus Chikungunya menjadi endemis di wilayah Asia Tenggara sejak tahun 1954. Pada akhir tahun 1950 dan 1960 virus berkembang di Thailand, Kamboja, Vietnam, Manila dan Burma. Tahun 1965 terjadi KLB di Srilanka.

Di Indonesia, KLB penyakit Chikungunya pertama kali dilaporkan dan tercatat pada tahun 1973 terjadi di Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dan di DKI Jakarta, Tahun 1982 di Kuala Tungkal Provinsi Jambi dan tahun 1983 di Daerah Istimewa Yogyakarta. KLB Chikungunya mulai banyak dilaporkan sejak tahun 1999 yaitu di Muara Enim (1999), Aceh (2000), Jawa Barat ( Bogor, Bekasi, Depok ) pada tahun 2001, yang menyerang secara bersamaan pada penduduk di satu kesatuan wilayah (RW/Desa ).

Pada tahun 2002 banyak daerah melaporkan terjadinya KLB Chikungunya seperti Palembang, Semarang, Indramayu, Manado, DKI Jakarta , Banten, Jawa Timur dan lain-lain. Pada tahun 2003 KLB Chikungunya terjadi di beberapa wilayah di pulau Jawa, NTB, Kalimantan Tengah. Tahun 2006 dan 2007 terjadi KLB di Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Selatan.
Dari tahun 2000-2007 di Indonesia terjadi KLB Chikungunya pada hampir semua provinsi dengan 18.169 kasus tanpa kematian.

Penyebaran penyakit Chikungunya biasanya terjadi pada daerah endemis Demam Berdarah Dengue. Banyaknya tempat perindukan nyamuk sering berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit Chikungunya
Saat ini hampir seluruh provinsi di Indonesia potensial untuk terjadinya KLB Chikungunya. KLB sering terjadi pada awal dan akhir musim hujan. Penyakit Chikungunya lebih sering terjadi di daerah sub urban.

Faktor Resiko
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan dalam penularan penyakit Chikungunya, yaitu: manusia, virus dan vektor perantara. Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih lanjut. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit.

Beberapa faktor penyebab timbulnya KLB demam Chikungunya adalah :
1. Perpindahan penduduk dari daerah terinfeksi
2. Sistem pengelolaan limbah dengan penyediaan air bersih yang tidak memadai.
3. Berkembangnya penyebaran dan kepadatan nyamuk ( sanitasi lingkungan yang buruk)

Ada gelombang epidemi 20 tahunan mungkin terkait perubahan iklim dan cuaca. Anti bodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Oleh karena itu perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali.
(Sumber: Buku Chikungunya PP&PL Kemenkes RI)
Semoga Bermanfaat

Saturday, July 31, 2010

Kenapa Harus Chikungunya

Dewasa ini Indonesia menghadapi beban ganda dalam pembangunan kesehatan, karena meningkatnya beberapa penyakit menular (re-emerging diseases), sementara penyakit tidak menular dan penyakit degeneratif mulai meningkat. Di samping itu telah timbul pula berbagai penyakit baru (new-emerging diseases), seperti SARS, Avian Influenza dll. Salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian adalah perkembangan Chikungunya yang jumlah kasusnya cenderung meningkat serta penyebarannya semakin luas.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Chikungunya pertama kali dilaporkan pada tahun 1973 di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur dan di Jakarta. Sejak tahun 1985 seluruh provinsi di Indonesia pernah melaporkan adanya KLB Chikungunya. Dari tahun 2000-2007 di Indonesia terjadi KLB Chikungunya pada hampir semua provinsi dengan 18.169 kasus tanpa kematian. KLB sering terjadi pada awal dan akhir musim hujan dan penyakit ini lebih sering terjadi di daerah sub urban. Pada tahun 2009, terjadi 71.318 kasus demam Chikungunya yang tersebar di 17 propinsi di Indonesia. Kasus tertinggi terjadi di Propinsi Babel dengan 24.291 kasus. (www.penyakitmenular.info)

Penyakit Chikungunya ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus seperti halnya vektor penular penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Banyaknya tempat perindukan nyamuk sering berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit Chikungunya. Sebagaimana halnya dengan cara penanggulangan terhadap vektor penyakit Demam Berdarah Dengue yang telah dikenal oleh masyarakat dan telah dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, maka cara penanggulangan penyakit Chikungunya bukan merupakan sesuatu hal yang sangat khusus, namun dapat dilakukan secara bersamaan dengan upaya pengendalian penyakit DBD.
(Bersambung)
Semoga Bermanfaat

Kenapa Harus Chikungunya

Dewasa ini Indonesia menghadapi beban ganda dalam pembangunan kesehatan, karena meningkatnya beberapa penyakit menular (re-emerging diseases), sementara penyakit tidak menular dan penyakit degeneratif mulai meningkat. Di samping itu telah timbul pula berbagai penyakit baru (new-emerging diseases), seperti SARS, Avian Influenza dll. Salah satu penyakit menular yang menjadi perhatian adalah perkembangan Chikungunya yang jumlah kasusnya cenderung meningkat serta penyebarannya semakin luas.

Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Chikungunya pertama kali dilaporkan pada tahun 1973 di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur dan di Jakarta. Sejak tahun 1985 seluruh provinsi di Indonesia pernah melaporkan adanya KLB Chikungunya. Dari tahun 2000-2007 di Indonesia terjadi KLB Chikungunya pada hampir semua provinsi dengan 18.169 kasus tanpa kematian. KLB sering terjadi pada awal dan akhir musim hujan dan penyakit ini lebih sering terjadi di daerah sub urban. Pada tahun 2009, terjadi 71.318 kasus demam Chikungunya yang tersebar di 17 propinsi di Indonesia. Kasus tertinggi terjadi di Propinsi Babel dengan 24.291 kasus. (www.penyakitmenular.info)

Penyakit Chikungunya ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus seperti halnya vektor penular penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Banyaknya tempat perindukan nyamuk sering berhubungan dengan peningkatan kejadian penyakit Chikungunya. Sebagaimana halnya dengan cara penanggulangan terhadap vektor penyakit Demam Berdarah Dengue yang telah dikenal oleh masyarakat dan telah dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan, maka cara penanggulangan penyakit Chikungunya bukan merupakan sesuatu hal yang sangat khusus, namun dapat dilakukan secara bersamaan dengan upaya pengendalian penyakit DBD.
(Bersambung)
Semoga Bermanfaat

Tuesday, May 18, 2010

Tentang Demam Kuning


Apa itu demam kuning?
Demam kuning merupakan penyakit virus yang ditularkan kepada manusia oleh nyamuk di bagian tertentu Amerika Selatan dan Afrika.

Apa gejalanya?
• Gejala infeksi termasuk demam mendadak, kedinginan, sakit otot, sakit punggung, sakit kepala, mual dan muntah tidak sampai enam hari setelah virus memasuki tubuh. Setelah tiga sampai empat hari kebanyakan pasien semakin sembuh dan gejalanya hilang.
• Namun, kira-kira 15% pasien kemudian akan mengalami pendarahan (dari mulut, hidung dan mata dan/atau perut), sakit kuning (kulit dan mata menjadi kuning), sakit perut dengan muntah dan masalah fungsi ginjal. Separuh dari pasien ini sembuh tetapi separuh lagi meninggal dalam waktu 10-14 hari setelah gejala-gejala ini timbul.

Bagaimana penyakit ini ditularkan?
• Manusia dan monyet merupakan binatang utama yang terinfeksi oleh virus ini
• Spesies nyamuk tertentu yang dikenal sebagai Aedes aegypti perlu untuk menularkan virus ini
• Memakan waktu tiga sampai enam hari untuk penyakit ini mulai setelah seseorang digigit nyamuk yang terinfeksi
• Orang yang terinfeksi dapat menularkan infeksi ini kepada nyamuk selama sampai 5 hari setelah gejala timbul
• Infeksi ini tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang atau dari binatang ke manusia.

Siapa saja yang menghadapi risiko?

Demam kuning hanya terjadi di Afrika dan Amerika Selatan di negara yang terletak dekat khatulistiwa. Pengunjung yang belum diimunisasi, dan orang tinggal di kawasan-kawasan ini menghadapi risiko infeksi.

Bagaimana penyakit ini dicegah?
Vaksinasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah demam kuning.
• Vaksinasi harus diberikan di pusat vaksinasi yang disetujui dan harus diberikan sertifikat vaksinasi demam kuning internasional. Unit kesehatan umum setempat dapat memberikan daftar pusat vaksinasi yang disetujui (Indonesia: di Semua Kantor Kesehatan Pelabuhan seluruh Indonesia-red)
• Menurut Undang-undang Karantina Australia 1908, siapapun yang berusia lebih dari satu tahun harus mempunyai sertifikat vaksinasi demam kuning jika telah menginap semalam atau tinggal lebih lama di negara yang dinyatakan terinfeksi demam kuning, dalam waktu enam hari sebelum kedatangan ke Australia. Daftar negara yang dinyatakan terinfeksi demam kuning dapat diperoleh dari:
http://www.health.gov.au/internet/wcms/publishing.nsf/content/healthpubhlth-strateg-communic-factsheets-yellow.htm
• Negara-negara dapat menolak masuk siapapun yang tidak mempunyaisertifikat sah vaksinasi demam kuning, yang baru-baru ini berada di negara yang terinfeksi demam kuning, dan ada antaranya yang hanya akan memperbolehkan masuk orang yang belum divaksinasi setelah divaksinasi di perbatasan. Sterilitas vaksin yang diberikan dalam situasi tersebut tidak selalu terjamin
• Orang yang datang ke Australia dari negara yang terinfeksi demam kuning, yang tidak mempunyai sertifikat vaksinasi demam kuning, akan diwawancarai saat ketibaan oleh petugas dari Pelayanan Pemeriksaan Karantina Australia (AQIS). Petugas AQIS hanya dapat memperbolehkan masuk orang yang belum divaksinasi jika mereka menyetujui secara tertulis untuk memberi tahu dinas kesehatan jika mengalami gejala manapun infeksi demam kuning, dalam waktu enam hari setelah keberangkatan dari tempat yang dinyatakan terinfeksi demam kuning.
Pengunjung ke negara yang terinfeksi demam kuning juga harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah digigit nyamuk:
• Memakai pakaian longgar dengan lengan panjang
• Menggunakan pencegah nyamuk (berisi DEET atau picardin) pada bagian tubuh yang terekspos
• Tinggal di akomodasi yang tahan nyamuk (mis. menggunakan kelambu).
Bagaimana penyakit ini didiagnosis?
Demam kuning sulit ditentukan pada tahap-tahap awal karena ada sejumlah infeksi yang mempunyai tanda dan gejala yang serupa. Diagnosis memerlukan tes darah.
Bagaimana penyakit ini dirawat?
• Tidak ada perawatan spesifik untuk demam kuning. Pasien dapat dirawat untuk dehidrasi dan demam. Perawatan intensif mungkin diperlukan bagi pasien yang sakit parah
• Di kawasan di mana nyamuk Aedes aegypti hidup (misalnya di Queensland Utara), pasien harus dirawat di kamar yang tahan nyamuk.
From: NSW Health: www.health.nsw.gov.au

Tentang Demam Kuning


Apa itu demam kuning?
Demam kuning merupakan penyakit virus yang ditularkan kepada manusia oleh nyamuk di bagian tertentu Amerika Selatan dan Afrika.

Apa gejalanya?
• Gejala infeksi termasuk demam mendadak, kedinginan, sakit otot, sakit punggung, sakit kepala, mual dan muntah tidak sampai enam hari setelah virus memasuki tubuh. Setelah tiga sampai empat hari kebanyakan pasien semakin sembuh dan gejalanya hilang.
• Namun, kira-kira 15% pasien kemudian akan mengalami pendarahan (dari mulut, hidung dan mata dan/atau perut), sakit kuning (kulit dan mata menjadi kuning), sakit perut dengan muntah dan masalah fungsi ginjal. Separuh dari pasien ini sembuh tetapi separuh lagi meninggal dalam waktu 10-14 hari setelah gejala-gejala ini timbul.

Bagaimana penyakit ini ditularkan?
• Manusia dan monyet merupakan binatang utama yang terinfeksi oleh virus ini
• Spesies nyamuk tertentu yang dikenal sebagai Aedes aegypti perlu untuk menularkan virus ini
• Memakan waktu tiga sampai enam hari untuk penyakit ini mulai setelah seseorang digigit nyamuk yang terinfeksi
• Orang yang terinfeksi dapat menularkan infeksi ini kepada nyamuk selama sampai 5 hari setelah gejala timbul
• Infeksi ini tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang atau dari binatang ke manusia.

Siapa saja yang menghadapi risiko?

Demam kuning hanya terjadi di Afrika dan Amerika Selatan di negara yang terletak dekat khatulistiwa. Pengunjung yang belum diimunisasi, dan orang tinggal di kawasan-kawasan ini menghadapi risiko infeksi.

Bagaimana penyakit ini dicegah?
Vaksinasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah demam kuning.
• Vaksinasi harus diberikan di pusat vaksinasi yang disetujui dan harus diberikan sertifikat vaksinasi demam kuning internasional. Unit kesehatan umum setempat dapat memberikan daftar pusat vaksinasi yang disetujui (Indonesia: di Semua Kantor Kesehatan Pelabuhan seluruh Indonesia-red)
• Menurut Undang-undang Karantina Australia 1908, siapapun yang berusia lebih dari satu tahun harus mempunyai sertifikat vaksinasi demam kuning jika telah menginap semalam atau tinggal lebih lama di negara yang dinyatakan terinfeksi demam kuning, dalam waktu enam hari sebelum kedatangan ke Australia. Daftar negara yang dinyatakan terinfeksi demam kuning dapat diperoleh dari:
http://www.health.gov.au/internet/wcms/publishing.nsf/content/healthpubhlth-strateg-communic-factsheets-yellow.htm
• Negara-negara dapat menolak masuk siapapun yang tidak mempunyaisertifikat sah vaksinasi demam kuning, yang baru-baru ini berada di negara yang terinfeksi demam kuning, dan ada antaranya yang hanya akan memperbolehkan masuk orang yang belum divaksinasi setelah divaksinasi di perbatasan. Sterilitas vaksin yang diberikan dalam situasi tersebut tidak selalu terjamin
• Orang yang datang ke Australia dari negara yang terinfeksi demam kuning, yang tidak mempunyai sertifikat vaksinasi demam kuning, akan diwawancarai saat ketibaan oleh petugas dari Pelayanan Pemeriksaan Karantina Australia (AQIS). Petugas AQIS hanya dapat memperbolehkan masuk orang yang belum divaksinasi jika mereka menyetujui secara tertulis untuk memberi tahu dinas kesehatan jika mengalami gejala manapun infeksi demam kuning, dalam waktu enam hari setelah keberangkatan dari tempat yang dinyatakan terinfeksi demam kuning.
Pengunjung ke negara yang terinfeksi demam kuning juga harus mengambil langkah-langkah untuk mencegah digigit nyamuk:
• Memakai pakaian longgar dengan lengan panjang
• Menggunakan pencegah nyamuk (berisi DEET atau picardin) pada bagian tubuh yang terekspos
• Tinggal di akomodasi yang tahan nyamuk (mis. menggunakan kelambu).
Bagaimana penyakit ini didiagnosis?
Demam kuning sulit ditentukan pada tahap-tahap awal karena ada sejumlah infeksi yang mempunyai tanda dan gejala yang serupa. Diagnosis memerlukan tes darah.
Bagaimana penyakit ini dirawat?
• Tidak ada perawatan spesifik untuk demam kuning. Pasien dapat dirawat untuk dehidrasi dan demam. Perawatan intensif mungkin diperlukan bagi pasien yang sakit parah
• Di kawasan di mana nyamuk Aedes aegypti hidup (misalnya di Queensland Utara), pasien harus dirawat di kamar yang tahan nyamuk.
From: NSW Health: www.health.nsw.gov.au

Thursday, April 22, 2010

Tentang Demam Berdarah Dengue

Demam Dengue
1. Identifikasi
Penyakit virus dengan demam akut dengan ciri khas muncul tiba-tiba, demam biasanya berlangsung selama 3 – 5 hari (jarang lebih dari 7 hari dan kadang-kadang bifasik), disertai dengan sakit kepala berat, mialgia, artralgia, sakit retro orbital, tidak nafsu makan, gangguan gastro intestinal dan timbul ruam. Eritema awal diseluruh badan tejadi pada beberapa kasus. Ruam makulopapuler biasanya muncul pada masa deverfescence. Fenomena perdarahan minor, seperti petechiae, epistaksis atau perdarahan gusi bisa terjadi selama demam. Pada kulit yang berwarna gelap, ruam biasanya tidak kelihatan. Dengan adanya penyakit lain yang mendasari penyakit demam berdarah pada orang dewasa bisa terjadi perdarahan, seperti perdarahan gastro intestinal misalnya pada penderita tukak lambung atau pada penderita menorrhagia. Infeksi dengue disertai peningkatan permeabilitas vaskuler, dengan manifestasi perdarahan disertai dengan kerusakan organ-organ tertentu disajikan dalam bab demam berdarah dengue. Penyembuhan, dapat disertai dengan rasa lelah dan depresi yang berkepanjangan. Limfadenopati dan lekopeni pada penderita Demam Dengue dengan limfositosis relatif sering terjadi; trombositopeni (< 100 x 103/cu mm; unit Standard Internasional < 100 x 109/L) dan meningkatnya transaminase lebih jarang terjadi. Penyakit ini biasa muncul sebagai KLB yang eksplosif namun jarang terjadi kematian kecuali terjadi perdarahan pada DBD.


Diferensial diagnosa dari Demam Dengue adalah semua penyakit yang secara epidemiologis termasuk di dalam kelompok demam virus yang ditularkan oleh artropoda, demam kuning, campak, rubella, malaria, leptospira dan penyakit demam sistemik lainnya terutama yang disertai dengan ruam.
Pemeriksaan laboratorium seperti HI, CF, ELISA IgG dan IgM, dan tes netralisasi adalah alat bantu diagnostik. Antibodi IgM, mengindikasikan infeksi yang sedang atau baru saja terjadi, biasanya dapat dideteksi 6 – 7 hari sesudah onset penyakit. Virus diisolasi dari darah dengan cara inokulasi pada nyamuk, atau inokulasi pada kultur jaringan nyamuk, atau pada kultur jaringan vertebrata, lalu diidentifikasi dengan antibodi monoklonal serotipe spesifik.

2. Penyebab penyakit – Virus penyebab Demam Dengue adalah flavivirus dan terdiri dari 4 serotipe yaitu serotipe 1,2,3 dan 4 (dengue –1,-2,-3 dan –4). Virus yang sama menyebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD) (lihat di bawah).

3. Distibusi penyakit
Virus dengue berbagai serotipe sekarang menjadi endemis dibanyak negara tropis. Di Asia, virus dengue sangat endemis di Cina Selatan dan Hainan, Vietnam, Laos, Kampuchea, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Sri Lanka, Indonesia, Filipina, Malaysia dan Singapura; negara dengan endemisitas rendah adalah Papua New Guinea, Bangladesh, Nepal, Taiwan dan sebagian besar negara Pasifik. Virus dengue dari berbagai serotipe ditemukan di Queensland, Australia Utara, sejak tahun 1981.
Dengue -1,-2,-3 dan -4 sekarang endemis di Afrika. Di wilayah yang luas di Afrika Barat, virus dengue mungkin di tularkan sebagai penyakit epizootic pada monyet; dengue perkotaan yang menyerang manusia juga sering terjadi di wilayah ini. Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB demam dengue terjadi di pantai timur Afrika dari Mozambik ke Etiopia dan di kepulauan lepas pantai seperti Seychelles dan Komoro, sedangkan penderita demam dengue dan penderita mirip DHF dilaporan dari Saudi Arabia, namun jumlahnya sedikit.


Di Amerika, masuk dan beredarnya ke 4 serotipe virus dengue ini berturut-turut terjadi di Karibia dan Amerika Tengah dan Selatan sejak tahun 1977 dan meluas hingga Texas pada tahun 1980, 1986, 1995 dan 1997. Pada akhir tahun 1990 an, dua atau lebih serotipe virus dengue endemis atau kadang-kadang muncul sebagai KLB di Meksiko, begitu pula di Karibia dan Amerika Tengah, Kolombia, Bolivia, Ekuador, Peru, Venezuela, Guyana, Suriname, Brazil, Paraguay dan Argentina. KLB bisa terjadi jika vector dan virus penyakit ini ada didaerah tersebut baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan.

4. Reservoir – Virus dengue bertahan melalui siklus nyamuk Aedes aegypti-manusia di daerah perkotaan negara tropis; sedangkan siklus monyet-nyamuk menjadi reservoir di Asia Tenggara dan Afrika Barat.

5. Cara penularan
Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama Aedes aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Aedes aegypti maupun Aedes albopictus ditemukan didaerah perkotaan; kedua species nyamuk ini ditemukan juga di AS. Ae. Albopictus, sangat banyak ditemukan di Asia, tidak begitu antropofilik dibandingkan dengan Ae. Aegypti sehingga merupakan vector yang kurang efisien. Di Polinesia, salah satu jenis dari Ae. Scutellaris spp, bertindak sebagai vector. Di Malaysia, vectornya sdslsh kompleks Ae. Niveus dan di Afrika Barat adalah kompleks nyamuk Ae. furcifer-taylori berperan sebagai vector penularan nyamuk-monyet.

6. Masa inkubasi – Dari 3 – 14 hari, biasanya 4 – 7 hari.

7. Masa penularan
Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi nyamuk pada saat viremia yaitu : sejak beberapa saat sebelum panas sampai saat masa demam berakhir, biasanya berlangsung selama 3 – 5 hari. Nyamuk menjadi infektif 8 – 12 hari sesudah mengisap darah penderita viremia dan tetap infektif selama hidupnya.

8. Kerentanan dan kekebalan
Semua orang rentan terhadap penyakit ini, anak-anak biasanya menunjukkan gejala lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Sembuh dari infeksi dengan satu jenis serotipe akan memberikan imunitas homolog seumur hidup tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi serotipe lain dan bisa terjadi eksaserbasi infeksi berikutnya (lihat Demam Berdarah Dengue, dibawah).

9. Cara- cara pemberantasan
A. Cara-cara pencegahan
1) Beri penyuluhan, informasikan kepada masyarakat untuk membersihkan tempat perindukan nyamuk dan melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan memasang kawat kasa, perlindungan dengan pakaian dan menggunakan obat gosok anti nyamuk (lihat Malaria, 9A3, 9A4).
2) Lakukan survei di masyarakat untuk mengetahui tingkat kepadatan vector nyamuk, untuk mengetahui tempat perindukan dan habitat larva, biasanya untuk Ae. Aegypti adalah tempat penampungan air buatan atau alam yang dekat dengan pemukiman manusia (misalnya ban bekas, vas bunga, tandon penyimpanan air) dan membuat rencana pemberantasan sarang nyamuk serta pelaksanaannya.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat; laporan resmi wajib dilakukan bila terjadi KLB, laporan kasus, kelas 4 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2) Isolasi : Kewaspadaan universal terhadap darah. Sampai dengan demam hilang, hindari penderita demam dari gigitan nyamuk pada siang hari dengan memasang kasa pada ruang perawatan penderita dengan menggunakan kelambu, lebih baik lagi dengan kelambu yang telah di rendam di dalam insektisida, atau lakukan penyemprotan tempat pemukinan dengan insektisida yang punya efek knock down terhadap nyamuk dewasa ataupun dengan insektisida yang meninggalkan residu.
3) Disinfeksi serentak: tidak dilakukan.
4) Karantina: Tidak dilakukan.
5) Imunisasi kontak: tidak dilakukan. Jika Demam Dengue terjadi disekitar daerah fokus demam kuning, lakukan imunisasi terhadap penduduk dengan vaksin demam kuning sebab vektor untuk daerah perktoaan kedua penyakit ini sama.
6) Lakukan Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : Selidiki tempat tinggal penderita 2 minggu sebelum sakit dan cari penderita tambahan yang tidak dilaporkan atau tidak terdiagnosa.
7) Pengobatan spesifik : Pengobatan spesifik tidak ada, yang diberikan adalah pengobatan suportif atau penunjang. Aspirin merupakan kontraindikasi.

C. Penanggulangan wabah:
1) Temukan dan musnahkan spesies Aedes di lingkungan pemukiman, bersihkan tempat perindukan atau taburkan larvasida di semua tempat yang potensial sebagai tempat perindukan larva Ae. Aegypti.
2) Gunakan obat gosok anti nyamuk bagi orang-orang yang terpajan dengan nyamuk.

D. Implikasi bencana : Wabah atau KLB dapat menjadi intensif dan dapat menyerang sebagian besar penduduk.

E. Tindakan internasional :
Terapkan kesepakatan internasional yang di buat untuk mencegah penyebaran Ae. Aegypti melalui kapal, pesawat udara dan alat transportasi darat dari daerah endemis atau daerah KLB. Tingkatkan surveilans internasional dan lakukan pertukaran informasi antar negara. Manfaatkan Pusat Kerjasama WHO
(dari Manual Pemberantasan Penyakit Ditjen PP&PL)

Semoga Bermanfaat

Tentang Demam Berdarah Dengue

Demam Dengue
1. Identifikasi
Penyakit virus dengan demam akut dengan ciri khas muncul tiba-tiba, demam biasanya berlangsung selama 3 – 5 hari (jarang lebih dari 7 hari dan kadang-kadang bifasik), disertai dengan sakit kepala berat, mialgia, artralgia, sakit retro orbital, tidak nafsu makan, gangguan gastro intestinal dan timbul ruam. Eritema awal diseluruh badan tejadi pada beberapa kasus. Ruam makulopapuler biasanya muncul pada masa deverfescence. Fenomena perdarahan minor, seperti petechiae, epistaksis atau perdarahan gusi bisa terjadi selama demam. Pada kulit yang berwarna gelap, ruam biasanya tidak kelihatan. Dengan adanya penyakit lain yang mendasari penyakit demam berdarah pada orang dewasa bisa terjadi perdarahan, seperti perdarahan gastro intestinal misalnya pada penderita tukak lambung atau pada penderita menorrhagia. Infeksi dengue disertai peningkatan permeabilitas vaskuler, dengan manifestasi perdarahan disertai dengan kerusakan organ-organ tertentu disajikan dalam bab demam berdarah dengue. Penyembuhan, dapat disertai dengan rasa lelah dan depresi yang berkepanjangan. Limfadenopati dan lekopeni pada penderita Demam Dengue dengan limfositosis relatif sering terjadi; trombositopeni (< 100 x 103/cu mm; unit Standard Internasional < 100 x 109/L) dan meningkatnya transaminase lebih jarang terjadi. Penyakit ini biasa muncul sebagai KLB yang eksplosif namun jarang terjadi kematian kecuali terjadi perdarahan pada DBD.


Diferensial diagnosa dari Demam Dengue adalah semua penyakit yang secara epidemiologis termasuk di dalam kelompok demam virus yang ditularkan oleh artropoda, demam kuning, campak, rubella, malaria, leptospira dan penyakit demam sistemik lainnya terutama yang disertai dengan ruam.
Pemeriksaan laboratorium seperti HI, CF, ELISA IgG dan IgM, dan tes netralisasi adalah alat bantu diagnostik. Antibodi IgM, mengindikasikan infeksi yang sedang atau baru saja terjadi, biasanya dapat dideteksi 6 – 7 hari sesudah onset penyakit. Virus diisolasi dari darah dengan cara inokulasi pada nyamuk, atau inokulasi pada kultur jaringan nyamuk, atau pada kultur jaringan vertebrata, lalu diidentifikasi dengan antibodi monoklonal serotipe spesifik.

2. Penyebab penyakit – Virus penyebab Demam Dengue adalah flavivirus dan terdiri dari 4 serotipe yaitu serotipe 1,2,3 dan 4 (dengue –1,-2,-3 dan –4). Virus yang sama menyebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD) (lihat di bawah).

3. Distibusi penyakit
Virus dengue berbagai serotipe sekarang menjadi endemis dibanyak negara tropis. Di Asia, virus dengue sangat endemis di Cina Selatan dan Hainan, Vietnam, Laos, Kampuchea, Thailand, Myanmar, India, Pakistan, Sri Lanka, Indonesia, Filipina, Malaysia dan Singapura; negara dengan endemisitas rendah adalah Papua New Guinea, Bangladesh, Nepal, Taiwan dan sebagian besar negara Pasifik. Virus dengue dari berbagai serotipe ditemukan di Queensland, Australia Utara, sejak tahun 1981.
Dengue -1,-2,-3 dan -4 sekarang endemis di Afrika. Di wilayah yang luas di Afrika Barat, virus dengue mungkin di tularkan sebagai penyakit epizootic pada monyet; dengue perkotaan yang menyerang manusia juga sering terjadi di wilayah ini. Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB demam dengue terjadi di pantai timur Afrika dari Mozambik ke Etiopia dan di kepulauan lepas pantai seperti Seychelles dan Komoro, sedangkan penderita demam dengue dan penderita mirip DHF dilaporan dari Saudi Arabia, namun jumlahnya sedikit.


Di Amerika, masuk dan beredarnya ke 4 serotipe virus dengue ini berturut-turut terjadi di Karibia dan Amerika Tengah dan Selatan sejak tahun 1977 dan meluas hingga Texas pada tahun 1980, 1986, 1995 dan 1997. Pada akhir tahun 1990 an, dua atau lebih serotipe virus dengue endemis atau kadang-kadang muncul sebagai KLB di Meksiko, begitu pula di Karibia dan Amerika Tengah, Kolombia, Bolivia, Ekuador, Peru, Venezuela, Guyana, Suriname, Brazil, Paraguay dan Argentina. KLB bisa terjadi jika vector dan virus penyakit ini ada didaerah tersebut baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan.

4. Reservoir – Virus dengue bertahan melalui siklus nyamuk Aedes aegypti-manusia di daerah perkotaan negara tropis; sedangkan siklus monyet-nyamuk menjadi reservoir di Asia Tenggara dan Afrika Barat.

5. Cara penularan
Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama Aedes aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Aedes aegypti maupun Aedes albopictus ditemukan didaerah perkotaan; kedua species nyamuk ini ditemukan juga di AS. Ae. Albopictus, sangat banyak ditemukan di Asia, tidak begitu antropofilik dibandingkan dengan Ae. Aegypti sehingga merupakan vector yang kurang efisien. Di Polinesia, salah satu jenis dari Ae. Scutellaris spp, bertindak sebagai vector. Di Malaysia, vectornya sdslsh kompleks Ae. Niveus dan di Afrika Barat adalah kompleks nyamuk Ae. furcifer-taylori berperan sebagai vector penularan nyamuk-monyet.

6. Masa inkubasi – Dari 3 – 14 hari, biasanya 4 – 7 hari.

7. Masa penularan
Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi nyamuk pada saat viremia yaitu : sejak beberapa saat sebelum panas sampai saat masa demam berakhir, biasanya berlangsung selama 3 – 5 hari. Nyamuk menjadi infektif 8 – 12 hari sesudah mengisap darah penderita viremia dan tetap infektif selama hidupnya.

8. Kerentanan dan kekebalan
Semua orang rentan terhadap penyakit ini, anak-anak biasanya menunjukkan gejala lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Sembuh dari infeksi dengan satu jenis serotipe akan memberikan imunitas homolog seumur hidup tetapi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi serotipe lain dan bisa terjadi eksaserbasi infeksi berikutnya (lihat Demam Berdarah Dengue, dibawah).

9. Cara- cara pemberantasan
A. Cara-cara pencegahan
1) Beri penyuluhan, informasikan kepada masyarakat untuk membersihkan tempat perindukan nyamuk dan melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan memasang kawat kasa, perlindungan dengan pakaian dan menggunakan obat gosok anti nyamuk (lihat Malaria, 9A3, 9A4).
2) Lakukan survei di masyarakat untuk mengetahui tingkat kepadatan vector nyamuk, untuk mengetahui tempat perindukan dan habitat larva, biasanya untuk Ae. Aegypti adalah tempat penampungan air buatan atau alam yang dekat dengan pemukiman manusia (misalnya ban bekas, vas bunga, tandon penyimpanan air) dan membuat rencana pemberantasan sarang nyamuk serta pelaksanaannya.

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
1) Laporan kepada instansi kesehatan setempat; laporan resmi wajib dilakukan bila terjadi KLB, laporan kasus, kelas 4 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2) Isolasi : Kewaspadaan universal terhadap darah. Sampai dengan demam hilang, hindari penderita demam dari gigitan nyamuk pada siang hari dengan memasang kasa pada ruang perawatan penderita dengan menggunakan kelambu, lebih baik lagi dengan kelambu yang telah di rendam di dalam insektisida, atau lakukan penyemprotan tempat pemukinan dengan insektisida yang punya efek knock down terhadap nyamuk dewasa ataupun dengan insektisida yang meninggalkan residu.
3) Disinfeksi serentak: tidak dilakukan.
4) Karantina: Tidak dilakukan.
5) Imunisasi kontak: tidak dilakukan. Jika Demam Dengue terjadi disekitar daerah fokus demam kuning, lakukan imunisasi terhadap penduduk dengan vaksin demam kuning sebab vektor untuk daerah perktoaan kedua penyakit ini sama.
6) Lakukan Investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi : Selidiki tempat tinggal penderita 2 minggu sebelum sakit dan cari penderita tambahan yang tidak dilaporkan atau tidak terdiagnosa.
7) Pengobatan spesifik : Pengobatan spesifik tidak ada, yang diberikan adalah pengobatan suportif atau penunjang. Aspirin merupakan kontraindikasi.

C. Penanggulangan wabah:
1) Temukan dan musnahkan spesies Aedes di lingkungan pemukiman, bersihkan tempat perindukan atau taburkan larvasida di semua tempat yang potensial sebagai tempat perindukan larva Ae. Aegypti.
2) Gunakan obat gosok anti nyamuk bagi orang-orang yang terpajan dengan nyamuk.

D. Implikasi bencana : Wabah atau KLB dapat menjadi intensif dan dapat menyerang sebagian besar penduduk.

E. Tindakan internasional :
Terapkan kesepakatan internasional yang di buat untuk mencegah penyebaran Ae. Aegypti melalui kapal, pesawat udara dan alat transportasi darat dari daerah endemis atau daerah KLB. Tingkatkan surveilans internasional dan lakukan pertukaran informasi antar negara. Manfaatkan Pusat Kerjasama WHO
(dari Manual Pemberantasan Penyakit Ditjen PP&PL)

Semoga Bermanfaat

Saturday, May 23, 2009

Vaksin Untuk Flu Babi

Ada kabar yang cukup baik dari WHO di Jenewa, yang kemarin saya sempat baca beritanya di detiknews.com. menurut keterangan pejabat sementara Asisten Dirjen WHO Keiji Fukuda, bahwa vaksin untuk pencegahan terhadap Virus Influenza A H1N1 akan siap akhir Juni ini. Bagi saya kabar ini cukup baik, namun yang terbaik adalah tetap melakukan upaya pencegahan agar Si Virus "Nakal" ini jangan sampai masuk ke Indonesia tercinta...
ini beritanya...


Jenewa - Vaksin untuk mengobati flu babi ditargetkan selesai akhir Juni. Vaksin ini sangat penting artinya untuk mencegah menyebarnya virus H1N1 lebih luas ke seluruh dunia. Namun masih ada masalah terkait ketersediaan vaksin itu bagi negara-negara miskin.

"Kami jarap akhir Juni atau awal Juli perusahaan-perusahaan komersial akan bisa membuat vaksinnya," kata pejabat sementara Asisten Dirjen WHO Keiji Fukuda seperti dikutip AFP, Jumat (22/5/2009).

Menurut Fukuda, saat ini para ahli tengah menimbang-nimbang apakah produksi vaksin tersebut akan dilakukan secara terus-menerus. Sebab produksi vaksin itu telah mengurangi atau bahkan menghentikan pembuatan vaksin flu musiman.

"Kami akan menunda sementara keputusan soal hal ini," kata Fukuda.

Produksi vaksin untuk mengobati virus H1N1 ini bisa mencapai 4,9 miliar dosis per tahun. Namun selain dampak atas produksi vaksin flu musiman, yang juga harus diperhatikan adalah isu tentang dosis dan uji keamanan dari vaksin tersebut.

WHO menargetkan mengirim sampel virus ke perusahaan-perusahaan farmasi akhir bulan ini. 30 Perusahaan pembuat vaksin dari 19 negara maju dan berkembang diundang oleh WHO dalam pertemuan pada Selasa (19/5/2009) lalu untuk membahas produksi vaksin tersebut.

Isu kunci dalam pertemuan itu adalah biaya pembuatan vaksin dan ketersediaannya bagi negara-negara miskin. WHO tengah berupaya mencari dana dari Bank Dunia dan yayasan kesehatan internasional untuk membiayai suplai vaksin tersebut ke negara-negara miskin.
(sho/sho)

Catatan saya:
Sayangnya Virus Influenza A H1N1 ini tidak memandang "bulu", apakah Negara Miskin, Kaya, berkembang, tidak berkembang, Maju atau Mundur sekalipun. Semuanya punya risiko yang sama untuk disinggahi...

Semoga Bermanfaat

Vaksin Untuk Flu Babi

Ada kabar yang cukup baik dari WHO di Jenewa, yang kemarin saya sempat baca beritanya di detiknews.com. menurut keterangan pejabat sementara Asisten Dirjen WHO Keiji Fukuda, bahwa vaksin untuk pencegahan terhadap Virus Influenza A H1N1 akan siap akhir Juni ini. Bagi saya kabar ini cukup baik, namun yang terbaik adalah tetap melakukan upaya pencegahan agar Si Virus "Nakal" ini jangan sampai masuk ke Indonesia tercinta...
ini beritanya...


Jenewa - Vaksin untuk mengobati flu babi ditargetkan selesai akhir Juni. Vaksin ini sangat penting artinya untuk mencegah menyebarnya virus H1N1 lebih luas ke seluruh dunia. Namun masih ada masalah terkait ketersediaan vaksin itu bagi negara-negara miskin.

"Kami jarap akhir Juni atau awal Juli perusahaan-perusahaan komersial akan bisa membuat vaksinnya," kata pejabat sementara Asisten Dirjen WHO Keiji Fukuda seperti dikutip AFP, Jumat (22/5/2009).

Menurut Fukuda, saat ini para ahli tengah menimbang-nimbang apakah produksi vaksin tersebut akan dilakukan secara terus-menerus. Sebab produksi vaksin itu telah mengurangi atau bahkan menghentikan pembuatan vaksin flu musiman.

"Kami akan menunda sementara keputusan soal hal ini," kata Fukuda.

Produksi vaksin untuk mengobati virus H1N1 ini bisa mencapai 4,9 miliar dosis per tahun. Namun selain dampak atas produksi vaksin flu musiman, yang juga harus diperhatikan adalah isu tentang dosis dan uji keamanan dari vaksin tersebut.

WHO menargetkan mengirim sampel virus ke perusahaan-perusahaan farmasi akhir bulan ini. 30 Perusahaan pembuat vaksin dari 19 negara maju dan berkembang diundang oleh WHO dalam pertemuan pada Selasa (19/5/2009) lalu untuk membahas produksi vaksin tersebut.

Isu kunci dalam pertemuan itu adalah biaya pembuatan vaksin dan ketersediaannya bagi negara-negara miskin. WHO tengah berupaya mencari dana dari Bank Dunia dan yayasan kesehatan internasional untuk membiayai suplai vaksin tersebut ke negara-negara miskin.
(sho/sho)

Catatan saya:
Sayangnya Virus Influenza A H1N1 ini tidak memandang "bulu", apakah Negara Miskin, Kaya, berkembang, tidak berkembang, Maju atau Mundur sekalipun. Semuanya punya risiko yang sama untuk disinggahi...

Semoga Bermanfaat

Tuesday, May 12, 2009

Pandemi atau Tidak, Waspadai Flu Babi

INILAH.COM, London - Jumlah kasus Influenza A (H1N1) atau yang lebih dikenal sebagai flu babi terus melonjak. Dunia pun terbagi dalam memandang virus yang pertama kali ditemukan di Meksiko itu. Bahkan, sekelompok ilmuwan percaya flu A akan menjadi pandemi global.
Periset dari MRC Centre for Outbreak Analysis and Modelling di Imperial College London, Inggris, dalam riset terbaru mereka menyimpulkan bahwa wabah flu A ini menunjukkan tahap awal terjadinya pandemi. Dalam riset itu, MRC berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah otoritas kesehatan di Meksiko.

Menurut estimasi periset, berdasarkan kasus yang terjadi di Meksiko, tingkat kefatalan kasus flu A mencapai empat dari seribu kasus. Artinya, rangkaian virus yang menyerang kali ini sama mematikannya seperti pandemi flu pada 1957. Meski demikian, para ahli mengatakan tak perlu panik dengan fakta bahwa dunia medis lebih maju saat ini dibandingkan 1957.
“Hasil studi ini menunjukkan penyebaran virus sama seperti tahap awal sebuah pandemi flu. Sejauh ini hampir mirip dengan pandemi 1957 dalam hal proporsional orang yang terinfeksi dan prosentase kasus fatal,” ujar seorang periset MRC, Profesor Neil Ferguson.

Para ahli memperkirakan kasus H1N1 pertama kali terjadi di Meksiko pada 15 Februari 2009. Pada akhir April, para ahli memprediksikan virus ini akan menjangkiti minimal 6 ribu orang dan maksimal 23 ribu penduduk. Jumlah kematian positif dan dugaan flu A sudah lebih dari 100 kasus.

Prediksi itu benar-benar terjadi. Hingga kini virus itu sudah menginfeksi lebih dari 3.000 orang di Meksiko. Sementara angka kematiannya mencapai lebih dari 150 orang baik yang positif H1N1 maupun dugaan.
Rasio kematian (CFR) akibat flu A diduga berada di kisaran 0,4% (4 kematian dari 1.000 kasus). Ada juga kalangan ahli lain yang masih memproyeksikan CFR pada level 0,3-1,5%.
Untuk setiap orang yang terinfeksi, ada kemungkinan terkena kasus kedua dengan rasio 1,2-1,6 kali. Rasio itu cukup tinggi dibandingkan flu musiman biasa yang menginfeksi 10-15% populasi dunia. Meski demikian, jumlah itu masih lebih rendah pada skala pandemi flu yang menginfeksi 20-30% populasi.

Dalam penyebaran virus H1N1 yang terjadi di tempat asalnya, desa terpencil La Gloria di Meksiko, risiko bagi anak-anak dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Sebanyak 61% anak-anak di bawah 15 tahun terjangkiti flu A dan orang dewasa di atas 15 tahun hanya 29%. Hal ini disebabkan karena anak-anak lebih rentan atau karena mereka berinteraksi jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa, misalnya di sekolah.

“Apa yang kita saksikan ini tak sama dengan flu musiman biasa dan masih ada kekhawatiran mengenai flu ini. Jika benar, maka pandemi akan melukai sistem kesehatan kita. Meski demikian, H1N1 tidak bertransmisi dengan mudah seperti pandemi 1918,” lanjut Ferguson.
Pandemi flu Spanyol (H1N1) pada 1918 menewaskan sekitar 50-100 juta penduduk dunia karena belum adanya sistem medis yang memadai. Tidak ada catatan yang bisa memastikan kawasan asal virus itu.

Sementara pandemi flu Asia (H2N2) yang terjadi pada 1957 berasal dari bebek liar yang pertama kali terjadi di China. Diperkirakan 1-4 juta penduduk dunia tewas saat itu.
Untuk kasus virus H1N1 Meksiko ini, WHO masih menetapkan status kewaspadaan di level 5 atau satu tingkat di bawah pandemi.

Beberapa negara, seperti ASEAN+3, berpendapat status itu terlalu berlebihan karena berdampak buruk bagi suatu negara. Misalnya Meksiko yang langsung mengalami defisit anggaran, mereka terpukul secara ekonomi dan politik.

“Meski demikian, kami memahami WHO mewaspadai gelombang kedua virus ini,” ujar Menkes Siti Fadillah Supari saat memberikan keterangan pers akhir pekan lalu. Kemungkinan terjadinya pandemi selalu ada, namun ada pula kemungkinan hal itu tak akan terjadi. Meski demikian, tak ada salahnya menerapkan gaya hidup sehat sebagai perlindungan diri.

Semoga Bermanfaat

Pandemi atau Tidak, Waspadai Flu Babi

INILAH.COM, London - Jumlah kasus Influenza A (H1N1) atau yang lebih dikenal sebagai flu babi terus melonjak. Dunia pun terbagi dalam memandang virus yang pertama kali ditemukan di Meksiko itu. Bahkan, sekelompok ilmuwan percaya flu A akan menjadi pandemi global.
Periset dari MRC Centre for Outbreak Analysis and Modelling di Imperial College London, Inggris, dalam riset terbaru mereka menyimpulkan bahwa wabah flu A ini menunjukkan tahap awal terjadinya pandemi. Dalam riset itu, MRC berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah otoritas kesehatan di Meksiko.

Menurut estimasi periset, berdasarkan kasus yang terjadi di Meksiko, tingkat kefatalan kasus flu A mencapai empat dari seribu kasus. Artinya, rangkaian virus yang menyerang kali ini sama mematikannya seperti pandemi flu pada 1957. Meski demikian, para ahli mengatakan tak perlu panik dengan fakta bahwa dunia medis lebih maju saat ini dibandingkan 1957.
“Hasil studi ini menunjukkan penyebaran virus sama seperti tahap awal sebuah pandemi flu. Sejauh ini hampir mirip dengan pandemi 1957 dalam hal proporsional orang yang terinfeksi dan prosentase kasus fatal,” ujar seorang periset MRC, Profesor Neil Ferguson.

Para ahli memperkirakan kasus H1N1 pertama kali terjadi di Meksiko pada 15 Februari 2009. Pada akhir April, para ahli memprediksikan virus ini akan menjangkiti minimal 6 ribu orang dan maksimal 23 ribu penduduk. Jumlah kematian positif dan dugaan flu A sudah lebih dari 100 kasus.

Prediksi itu benar-benar terjadi. Hingga kini virus itu sudah menginfeksi lebih dari 3.000 orang di Meksiko. Sementara angka kematiannya mencapai lebih dari 150 orang baik yang positif H1N1 maupun dugaan.
Rasio kematian (CFR) akibat flu A diduga berada di kisaran 0,4% (4 kematian dari 1.000 kasus). Ada juga kalangan ahli lain yang masih memproyeksikan CFR pada level 0,3-1,5%.
Untuk setiap orang yang terinfeksi, ada kemungkinan terkena kasus kedua dengan rasio 1,2-1,6 kali. Rasio itu cukup tinggi dibandingkan flu musiman biasa yang menginfeksi 10-15% populasi dunia. Meski demikian, jumlah itu masih lebih rendah pada skala pandemi flu yang menginfeksi 20-30% populasi.

Dalam penyebaran virus H1N1 yang terjadi di tempat asalnya, desa terpencil La Gloria di Meksiko, risiko bagi anak-anak dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Sebanyak 61% anak-anak di bawah 15 tahun terjangkiti flu A dan orang dewasa di atas 15 tahun hanya 29%. Hal ini disebabkan karena anak-anak lebih rentan atau karena mereka berinteraksi jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa, misalnya di sekolah.

“Apa yang kita saksikan ini tak sama dengan flu musiman biasa dan masih ada kekhawatiran mengenai flu ini. Jika benar, maka pandemi akan melukai sistem kesehatan kita. Meski demikian, H1N1 tidak bertransmisi dengan mudah seperti pandemi 1918,” lanjut Ferguson.
Pandemi flu Spanyol (H1N1) pada 1918 menewaskan sekitar 50-100 juta penduduk dunia karena belum adanya sistem medis yang memadai. Tidak ada catatan yang bisa memastikan kawasan asal virus itu.

Sementara pandemi flu Asia (H2N2) yang terjadi pada 1957 berasal dari bebek liar yang pertama kali terjadi di China. Diperkirakan 1-4 juta penduduk dunia tewas saat itu.
Untuk kasus virus H1N1 Meksiko ini, WHO masih menetapkan status kewaspadaan di level 5 atau satu tingkat di bawah pandemi.

Beberapa negara, seperti ASEAN+3, berpendapat status itu terlalu berlebihan karena berdampak buruk bagi suatu negara. Misalnya Meksiko yang langsung mengalami defisit anggaran, mereka terpukul secara ekonomi dan politik.

“Meski demikian, kami memahami WHO mewaspadai gelombang kedua virus ini,” ujar Menkes Siti Fadillah Supari saat memberikan keterangan pers akhir pekan lalu. Kemungkinan terjadinya pandemi selalu ada, namun ada pula kemungkinan hal itu tak akan terjadi. Meski demikian, tak ada salahnya menerapkan gaya hidup sehat sebagai perlindungan diri.

Semoga Bermanfaat

Sunday, April 26, 2009

Swine influenza


From Wikipedia, the free encyclopedia

Swine influenza virus (referred to as Swine influenza viruses or SIV) refers to influenza cases that are caused by Orthomyxoviruses endemic to populations of pigs. SIV strains isolated to date have been classified either as Influenzavirus C or one of the various subtypes of the genus Influenzavirus A.[1]
Swine flu infects people every year and is found typically in people who have been in contact with pigs, although there have been cases of person-to-person transmission.[2] Symptoms include: fever, disorientation, stiffness of the joints, vomiting, and loss of conciousness ending in death.[3] Influenza A virus subtypes H1N1, H1N2, H3N1 and H3N2 are all known to cause SIV infections.[4][5] and H2N3.[6]
In swine, three influenza A virus subtypes (H1N1, H3N2, and H1N2) are circulating throughout the world.[citation needed] In the United States, the H1N1 subtype was exclusively prevalent among swine populations before 1998; however, since late August 1998, H3N2 subtypes have been isolated from pigs. Most H3N2 virus isolates are triple reassortants, meaning that it contains genes from human (HA, NA, and PB1), swine (NS, NP, and M), and avian (PB2 and PA) lineages.[citation needed]


Semoga Bermanfaat

Swine influenza


From Wikipedia, the free encyclopedia

Swine influenza virus (referred to as Swine influenza viruses or SIV) refers to influenza cases that are caused by Orthomyxoviruses endemic to populations of pigs. SIV strains isolated to date have been classified either as Influenzavirus C or one of the various subtypes of the genus Influenzavirus A.[1]
Swine flu infects people every year and is found typically in people who have been in contact with pigs, although there have been cases of person-to-person transmission.[2] Symptoms include: fever, disorientation, stiffness of the joints, vomiting, and loss of conciousness ending in death.[3] Influenza A virus subtypes H1N1, H1N2, H3N1 and H3N2 are all known to cause SIV infections.[4][5] and H2N3.[6]
In swine, three influenza A virus subtypes (H1N1, H3N2, and H1N2) are circulating throughout the world.[citation needed] In the United States, the H1N1 subtype was exclusively prevalent among swine populations before 1998; however, since late August 1998, H3N2 subtypes have been isolated from pigs. Most H3N2 virus isolates are triple reassortants, meaning that it contains genes from human (HA, NA, and PB1), swine (NS, NP, and M), and avian (PB2 and PA) lineages.[citation needed]


Semoga Bermanfaat

Tentang Flu BABI (Swine Flu)

depkes.go.id

Seperti disampaikan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS., kepada para wartawan di Makassar tanggal 25 April 2009 saat berlangsungnya kegiatan simulasi penanggulangan episenter pandemi influenza.
Menurut Prof. Tjandra, penyakit flu babi adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan penularan antar manusia.

Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (Influenza Like Illness-ILI)

Gejala Klinis : demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah dan diare.

Virus H1N1 sebenarnya biasa ditemukan pada manusia dan hewan terutama babi tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Begitu juga dengan virus flu burung H5N1 meskipun sama-sama virus influenza tipe A.

Cara penularan : flu babi melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita.

Masa inkubasi: 3 sampai 5 hari.

Pencegahan Dan Kewaspadaan :
Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai seperti halnya terhadap flu burung dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menutup hidung dan mulut apabila bersin, mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas, dan segera memeriksakan kesehatan apabila mengalami gejala flu.

DON'T TRY THIS AT HOME !



Semoga Bermanfaat

Tentang Flu BABI (Swine Flu)

depkes.go.id

Seperti disampaikan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS., kepada para wartawan di Makassar tanggal 25 April 2009 saat berlangsungnya kegiatan simulasi penanggulangan episenter pandemi influenza.
Menurut Prof. Tjandra, penyakit flu babi adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan penularan antar manusia.

Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (Influenza Like Illness-ILI)

Gejala Klinis : demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah dan diare.

Virus H1N1 sebenarnya biasa ditemukan pada manusia dan hewan terutama babi tetapi keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Begitu juga dengan virus flu burung H5N1 meskipun sama-sama virus influenza tipe A.

Cara penularan : flu babi melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita.

Masa inkubasi: 3 sampai 5 hari.

Pencegahan Dan Kewaspadaan :
Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai seperti halnya terhadap flu burung dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menutup hidung dan mulut apabila bersin, mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas, dan segera memeriksakan kesehatan apabila mengalami gejala flu.

DON'T TRY THIS AT HOME !



Semoga Bermanfaat

Monday, September 29, 2008

TORCH pada Kehamilan

Infeksi Torch Pada Kehamilan
Berbahaya bagi janin
TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakti infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.

kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah pemeriksaan secara imunologis.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG)

TOXOPLASMA

Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi.
Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesipik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi

Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.

Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).

Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan atelinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis.

Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.

Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.

RUBELLA

Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.

Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).

Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM.

Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.

Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan <>CYTOMEGALOVIRUS (CMV)

Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.

Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, ekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.

Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

HERPES SIMPLEKS TIPE II

Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kuli, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus)

Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.

Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat.

Panel TORCH
● Anti Toxoplasma IgG dan IgM
● Anti Rubella IgG dan IgM
● Anti CMV IgG dan IgM
● Anti HSV II IgG dan IgM

www.infeksi.com
Semoga Bermanfaat

TORCH pada Kehamilan

Infeksi Torch Pada Kehamilan
Berbahaya bagi janin
TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakti infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil.

kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah pemeriksaan secara imunologis.
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG)

TOXOPLASMA

Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi.
Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesipik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi

Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah.

Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun).

Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelinan mata dan atelinga, retardasi mental, kejang-kejang dn ensefalitis.

Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG.

Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.

RUBELLA

Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda.

Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).

Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM.

Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi.

Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan <>CYTOMEGALOVIRUS (CMV)

Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil.

Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, ekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain.

Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

HERPES SIMPLEKS TIPE II

Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kuli, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus)

Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.

Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat.

Panel TORCH
● Anti Toxoplasma IgG dan IgM
● Anti Rubella IgG dan IgM
● Anti CMV IgG dan IgM
● Anti HSV II IgG dan IgM

www.infeksi.com
Semoga Bermanfaat

Friday, September 19, 2008

Antrax

Anthrax adalah penyakit hewan yang dapat menular ke manusia dan bersifat akut. Penyebabnya bakteri Bacillus anthracis. Menurut drh Suprodjo Hardjo Utomo MS APU dari Balitvet, bakteri ini bersifat aerob, memerlukan oksigen untuk hidup. Di alam bebas bakteri ini membentuk spora yang tahan puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia. Kasus di Bogor tejadi karena spora terbawa banjir. Hewan tertular akibat makan spora yang menempel pada tanaman yang dimakan. Hewan yang mati akibat anthrax harus langsung dikubur atau dibakar, tidak boleh dilukai supaya bakteri tidak menyebar.
Anthrax.jpg
Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah). Mengonsumsi produk hewan yang kena anthrax atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Karenanya ada empat tipe anthrax, yaitu anthrax kulit, pencernaan/anthrax usus, pernapasan/anthrax paru dan anthrax otak. Anthrax otak terjadi jika bakteri terbawa darah masuk ke otak.
Masa inkubasi anthrax kulit sekitar dua sampai lima hari. Mula-mula kulit gatal, kemudian melepuh yang jika pecah membentuk keropeng hitam di tengahnya. Di sekitar keropeng bengkak dan nyeri.
Pada anthrax yang masuk tubuh dalam 24 jam sudah tampak tanda demam. Mual, muntah darah pada anthrax usus, batuk, sesak napas pada anthrax paru, sakit kepala dan kejang pada anthrax otak. Jika tak segera diobati bisa meninggal dalam waktu satu atau dua hari. Namun obatnya sudah ada, yakni penisilin dan derivatnya. Karena setiap petugas kesehatan sudah dilatih untuk menangani, sebaiknya penderita segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit.
Untuk mencegah tertular anthrax dianjurkan untuk membeli daging dari tempat pemotongan resmi, memasak daging secara matang untuk mematikan kuman, serta mencuci tangan sebelum makan.
Menurut staf ahli Bidang Kesehatan Lingkungan dan Epidemiologi Depkes dr I Nyoman Kandun MPH, pemerintah menyediakan obat untuk anthrax di seluruh kabupaten endemis anthrax, memberikan pelatihan surveillance dan diagnosis klinis serta laboratorium di empat provinsi endemis, mendistribusikan poster, leaflet, dan buku petunjuk penanganan anthrax. Serta melakukan kerja sama lintas sektoral dalam pemberantasan anthrax dan langkah penanggulangan lain.
Tingkat Kematian Manusia Akibat Anthrax Mencapai 18 Persen. Penyakit Anthrax memang layak ditakuti karena sangat mematikan. Sapi, domba atau kambing yang terserang, akan menemui ajal dalam hitungan jam. Kemampuan membunuh yang sangat cepat ini justru ada baiknya, karena penularan penyakit anthrak sangat lambat dan tak meluas (endemik, sporadik). Lain dengan flu yang bisa mewabah hampir di semua muka bumi dengan begitu cepatnya.
Penyakit Anthrax termasuk kelompok penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (Zoonosis). Penyakit ini paling sering menyerang ternak herbivora terutama Sapi, domba, Kambing dan selalu berakhir pada kematian. Sasaran berikutnya kuda dan babi. Hewan kelompok omnivora ini bisa lebih bertahan sehingga sebagian penderita selamat dari maut. Serangan pada ayam, belum pernah ada laporan. Berdasar penelitan yang selama ini telah dilakukan, pada manusia, dilaporkan tingkat kematian mencapai 18 persen (dari 100 kasus, 18 penderita meninggal). Penyebab Anthrax, bernama Bacillus anthracis, dapat bersembunyi dalam tanah selama 70 tahun. Bila situasi lingkungan cocok bagi pertumbuhan kuman, misalnya karena tergenang air, B anthracis akan bangkit dari kubur dan menyerang hewan yang ada di sekitarnya. Karenanya, tanah yang tercemar merupakan sumber infeksi dan bersifat bahaya laten. Kumannya dapat terserap akar tumbuh-tumbuhan hingga mencapai daun maupun buah sehingga akan menginfeksi ternak maupun manusia yang mengkonsumsinya.
Sumber infeksi lainnya adalah bangkai ternak pengindap anthrax. Miliaran B anthracis memadati darah (septisemia), organ-organ dalam. Pokoknya seluruh tubuh bangkai, termasuk benda yang keluar dari bangkai, mengandung kuman penyebab anthrax. Dalam 1 mililiter darah setidaknya mengandung 1 miliar B anthracis. Bila B anthracis aktif bersinggungan dengan Oksigen, segera mengubah diri dalam bentuk spora yang memiliki daya tahan hidup lebih tinggi. Dalam bentuk spora ini, kuman penyebab anthrax dapat bertahan hidup sampai 70 tahun di dalam tanah. Spora-spora tersebut dapat diterbangkan angin, atau dihanyutkan aliran air kemudian mencemari apa saja (air, pakan, rumput, peralatan, kendaraan, hewan dan sebagainya). Spora B anthracis yang menempel pada pakan atau air minum dan benda lainnya, bila termakan atau terhirup pernafasan atau menempel pada kulit yang luka akan berubah menjadi bentuk aktif dan masuk ke dalam jaringan serta berkembang biak. Sejak kuman masuk ke dalam tubuh ternak sampai menimbulkan gejala sakit yang disebut masa inkubasi memerlukan waktu antara 1 - 2 minggu.



PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT ANTRAKS PADA MANUSIA

PENDAHULUAN

Penyakit Antraks merupakan penyakit menular yang umumnya menyerang hewan ( herbivora ) dan dapat

menyebabkan kesakitan sampai kematian pada manusia. Dalam keadaan sehari-hari penyakit ini sangat jarang dijumpai pada manusia. Hal ini disebabkan karena pada umumnya kesakitan pada manusia selalu berhubungan dengan kejadian kesakitan pada hewan ternak dalam skala wabah, atau kontak manusia dengan ternak dan produknya didaerah endemis. Angka resiko terinfeksi pada manusia berkisar 1/ 100.000 dan sebagian besar merupakan antraks kulit (cutaneous anthrax). (Kenneth,1999)
Oleh karena jarangnya penyakit ini pada manusia menyebabkan lemahnya sector medis dalam mendeteksi secara dini (early detection) gejala penyakit dan melakukan pengobatan yang tepat (prompt treatment) sehingga menyebabkan terjadinya keterlambatan penanganan yang dapat menyebabkan bertambah beratnya penyakit sampai dengan tingkat kematian. Dalam upaya untuk mengeleminir penyakit ini perlu kiranya dilakukan sosialisasi sekaligus pengenalan manifestasi klinis sekaligus bagaimana pengobatan dan pencegahannya bagi tenaga medis khususnya yang berada di wilayah endemis dan perbatasan.

PENANGANAN PENYAKIT

Penanganan yang baik senantiasa harus berpedoman pada pengamatan komprehensif. Sehubungan dengan penanganan penyakit antraks ini perlu kiranya dilakukan :

Anamnesa terarah
Suatu early diagnosis (diagnosa dini) penyakit antraks umumnya sulit ditegakkan karena pada awalnya menunjukkan gejala dan tanda yang bersifat umum. Seperti demam subfebris, sakit kepala, kelainan kulit, akut abdomen dan sesak nafas. Yang mudah ditegakkan adalah bila gejala penyakit tersebut sudah menampakkan tanda pathognomonik seperti ?eschar? pada antraks kulit.Oleh karena sebagian besar manifestasi klinis penyakit antraks adalah antraks kulit (90%) , ( Marc, La Force, 1994) ; maka umumnya penderita datang dengan keluhan demam, sakit kepala disertai tumbuhnya papel yang gatal atau vesikel yang berisi cairan. Pada keadaan seperti inilah perlu dilakukan anamnesa terarah seperti :

Riwayat sering kontak dengan ternak atau produknya (kulit, tulang).
Riwayat kontak dengan ternak sakit
Riwayat mengkonsumsi daging ternak sakit

Status pekerjaan (petani ladang, peternak, RPH, penyamak kulit).
Tidak kalah pentingnya bagi kalangan medis adalah mengetahui dimana dia berada, di wilayah endemis atau perbatasan.

Pengenalan penyakit
Mendeteksi secara dini penyakit antraks dapat mudah dilakukan bila kalangan medis sudah pernah melihat secara langsung kelainan pathognomonis yang ada seperti eschar pada kulit, yaitu kerak hitam yang berada ditengah ulkus yang mongering. Untuk mengenal penyakit antraks tersebut maka harus diketahui manifestasi klinisnya.

Antraks kulit
Keluhan penderita : demam subfebris, sakit kepala.
Pada pemeriksaan, umumnya di daerah terbuka seperti muka, leher, lengan dan tangan ditemukan kelainan berupa papel, vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam, kering yang disebut eschar ( pathognomonik ) disekitar ulkus, sering didapatkan eritema dan edema. Pada perabaan edema tersebut tidak lunak dan tidak lekuk ( non pitting ) bila ditekan, disebut juga malignant pustule.

Antraks saluran pencernaan
Keluhan penderita : rasa sakit perut yang hebat, mual, muntah, tidak napsu makan, suhu badan meningkat, hematemesis.
Pemeriksaan fisik : perut membesar dan keras, dapat berkembang menjadi ascites dan edema scrotum.

Antraks paru-paru
Keluhan penderita : demam subfebris, batuk non produktif, lesu, lemah. Dalam 2 ? 4 hari gangguan pernafasan menjadi hebatdisertai suhu yang meningkat, sianosis. Dispneu, keringat berlebihan, detak jantung menjadi lebih cepat.
Pemeriksaan fisik : edema subkutan di daerah dada dan leher.

Antraks meningitis : akibat dari komplikasi bentuk antraks yang lain. Gejala klinis seperti randang otak maupun selaput otak yaitu demam, sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, kaku kuduk.

PENGOBATAN

Penisilin merupakan obat antibiotika yang paling ampuh untuk penderita antraks yang alami dan jarang resisten. Pengobatan penderita/ tersangka antraks, tergantung dari tipe atau gejala klinisnya yaitu;

Antraks kulit ;
Prokain penisilin 2 x 1,2 juta IU diberikan secara IM selama 5 s.d 7 hari. Atau dapat juga dengan menggunakan benzil penicillin 2500 IU secara IM setiap 6 jam. Perlu diperhatikan mengingat drug of choise untuk antraks adalah penicillin sehingga sebelum diberikan suntikan harus dilakukan skin test terlebih dahulu.
Bila penderita/ tersangka hipersensitif terhadap penisilin dapat diganti dengan memberikan tetrasiklin, klorampenikol atau eritromisin.

Antraks intestinal dan pulmonal
Penisilin G 18 ? 24 juta IU / hari, IVFD ditambah dengan streptomisin 1 ? 2 gram untuk tipe pulmonal, dan untuk tipe gastro intestinal tetrasiklin 1 gram/ hari.
Terapi supportif dan simptomatis perlu diberikan, biasanya plasma ekspander dan regiment vasopresor bila diperlukan. (Nalin, dkk 1977), antraks intestinal menggunakan klorampenikol 6 garam/ hari selama 5 hari, kemudian diteruskan 4 gram/ hari selama 18 hari, diteruskan dengan eritromisin 4 garam/ hari untuk menghindari supresi sumsum tulang

Antraks pulmonal oleh karena bioterrorism
o Pengobatan profilaksis ( terpapar ) ;

Type Pengobatan
Dewasa
Anak-anak
HUBUNGI DOKTER ATAU PELAYANAN KESEHATAN TERDEKAT !

Pengobatan awal
Ciprofloxacin, dosis 500 mg, setiap 12 jam
Atau
Doxycycline, 100 mg oral,
2 kali/hari

Ciprofloxacin, 10-15 mg per Kg BB, oral setiap 12 jam
Atau Doxycycline, 100 mg per oral, 2 kali/ hari ( > 8 th dan > 45 th)

Pengobatan Optimal
Amoxicilin 500 mg per oral setiap 8 jam
Atau
Doxycycline, 100 mg oral, setiap 12 jam
Amoxicilin 500 mg per oral setiap 8 jam
( BB > 20 kg)
Untuk BB < 20 kg diberikan 40mg/kg BB per oral dibagi 3 dosis ( setiap 8 jam )

Pengobatan terhadap klinis antraks

Type Pengobatan
Dewasa
Anak-anak

Pengobatan awal
Ciprofloxacine, dosis 400 mg, intra

vena setiap 1 jam
Ciprofloxacin, 20-30 mg, per kg BB per hari ( IV ), dibagi 2 dosis

Pengobatan Optimal
Penicilin G, 4 juta U, intra vena setiap 4 jam
Atau
Doxycycline, 100 mg Intra Vena , setiap 12 ja
Ciprofloxacin, 20-30 mg, per kg BB per hari setiap 12 jam
Atau
Penicilin G, 50.000 Unit, intra vena setiap 6 jam ( <12 th )
Umur >12 th diberikan Penicilin G, 4 juta U, intra vena setiap 4 hari

Catatan : lamanya pengobatan sampai dengan 60 hari
Sumber : - Departement of Medicine, Bullfinch 127, Massachusetts Generak HospitL, 55Fruit St, Boston, MA 02114-2696 Children And Antrax : A fact Sheet For Clinicion, Nov 7 Th, 2001, U.s Deparrtment OF Health and Human Services, CDC ATLANTA.

PENANGANAN DI RUMAH SAKIT

Penderita antraks yang dirujuk ke RS umumnya penderita yang penyakitnya makin memburuk seperti septikemi, syok, dehidrasi.

Untuk itu penanganannya adalah:

Rawat di ruang isolasi
Tindakan medik dan pemberian obat-obatan simptomatis/ supportif
Pemberian antibiotik
Desinfeksi terhadap ekreta dan sekreta yang dikeluarkan penderita
Pengambilan dan pengiriman spesimen ke Laboratorium

PENCEGAHAN

Hindari kontak langsung dengan bahan atau makanan yang berasal dari hewan yang dicurigai terkena antraks.

Cuci tangan dengan sabun sebelum makan

Cuci sayuran/ buah-buahan sebelum dimakan

Memasak daging sampai matang sempurna

Vaksinasi antraks ( penggunaannya selektif dan efek samping tinggi ).

by: www.infeksi.com