Showing posts with label PHEIC. Show all posts
Showing posts with label PHEIC. Show all posts

Saturday, April 14, 2012

Penyakit Tangan Kaki dan Mulut

Penyakit Tangan, kaki, dan mulut adalah penyakit virus yang biasanya menyerang bayi dan anak dibawah 5 tahun. Namun, kadang-kadang dapat terjadi pada orang dewasa. Gejala penyakit tangan, kaki, dan mulut dapat berupa demam,   luka seperti melepuh di mulut (Herpangina), dan ruam kulit.
(sering disebut HFMD /Hand Foot and Mouth Disease dan ada yang menyebutnya dengan Flu Singapura :red.)
Penyakit Tangan, kaki, dan mulut merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Enterovirus (Grup). Kelompok ini mencakup virus polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses, dan enterovirus.

Coxsackievirus A16 adalah penyebab paling umum dari tangan, kaki, dan penyakit mulut di Amerika Serikat, tetapi coxsackieviruses lainnya telah dikaitkan dengan penyakit ini.
Enterovirus 71 (EV71) juga telah dikaitkan dengan penyakit tangan, kaki, dan mulut serta wabah penyakit ini.

Penyakit Tangan, kaki, dan mulut seringkali disamakan dengan penyakit kaki dan mulut (juga disebut kuku dan mulut penyakit) yaitu penyakit pada ternak, domba, dan babi. Namun, sebenarnya kedua penyakit tersebut disebabkan oleh virus yang berbeda dan tidak berhubungan.
Manusia tidak mendapatkan penyakit hewan, dan hewan tidak mendapatkan penyakit manusia.

Tanda dan Gejala
Penyakit Tangan, kaki, dan mulut biasanya
Baca selengkapnya »

Penyakit Tangan Kaki dan Mulut

Penyakit Tangan, kaki, dan mulut adalah penyakit virus yang biasanya menyerang bayi dan anak dibawah 5 tahun. Namun, kadang-kadang dapat terjadi pada orang dewasa. Gejala penyakit tangan, kaki, dan mulut dapat berupa demam,   luka seperti melepuh di mulut (Herpangina), dan ruam kulit.
(sering disebut HFMD /Hand Foot and Mouth Disease dan ada yang menyebutnya dengan Flu Singapura :red.)
Penyakit Tangan, kaki, dan mulut merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang termasuk dalam genus Enterovirus (Grup). Kelompok ini mencakup virus polioviruses, coxsackieviruses, echoviruses, dan enterovirus.

Coxsackievirus A16 adalah penyebab paling umum dari tangan, kaki, dan penyakit mulut di Amerika Serikat, tetapi coxsackieviruses lainnya telah dikaitkan dengan penyakit ini.
Enterovirus 71 (EV71) juga telah dikaitkan dengan penyakit tangan, kaki, dan mulut serta wabah penyakit ini.

Penyakit Tangan, kaki, dan mulut seringkali disamakan dengan penyakit kaki dan mulut (juga disebut kuku dan mulut penyakit) yaitu penyakit pada ternak, domba, dan babi. Namun, sebenarnya kedua penyakit tersebut disebabkan oleh virus yang berbeda dan tidak berhubungan.
Manusia tidak mendapatkan penyakit hewan, dan hewan tidak mendapatkan penyakit manusia.

Tanda dan Gejala
Penyakit Tangan, kaki, dan mulut biasanya
Baca selengkapnya »

Tuesday, May 12, 2009

Hikmah "Pandemi Influenza" Bagi Indonesia

Masih ingatkah Anda kapan pertama kali flu burung di temukan di Indonesia? Benar, kasus flu burung pertama di Indonesia yang menimpa Iwan Siswara dan kedua anaknya terjadi pada pertengahan Juli 2005 lalu. Sejak saat itu kasus demi kasus terus bertambah, sampai dengan Juni 2007 tercatat 101 kasus Flu burung di Indonesia dengan 80 orang meninggal dunia, serta 21 orang dinyatakan sehat kembali. Bahkan hingga tanggal 28 Januari 2008 jumlah kasus mencapai 124 orang, 100 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 80.6%. Oleh karenanya Indonesia tercatat sebagai salah satu Negara dengan kasus flu burung dengan kematian terbanyak di dunia.

Setiap Kejadian Pasti Ada Hikmahnya

Guna melindungi masyarakat dan mencegah jatuhnya korban, maka tingkat alert (kewaspadaan) sistem surveilans ditingkatkan baik di masyarakat maupun institusi kesehatan (rumah sakit, Puskesmas, dan lain-lain). Sejak itu pula Depkes mempunyai prosedur tetap (protap) yaitu kewaspadan dini, dimana bila ada pasien yang menderita pneumonia berat dengan disertai adanya faktor risiko dan atau hasil laboratorium penunjang mengarah ke infeksi virus, diperlakukan sebagai under investigation ( dalam penylidikan ), sehingga penderita tersebut dilakukan pengambilan sample dan pemeriksaan ke arah AI serta ditelusuri faktor risiko dan riwayat kontaknya dan seterusnya.

Tidak hanya sampai disitu saja, berbagai langkah pun di tempuh pemerintah melalui Departemen Kesehatan. Mulai dari dibentuknya KOMNAS FLU BURUNG (FBPI), pendistribusian Oseltamivir/Tamiflu sampai tingkat puskesmas, melengkapi berbagai alat dan sarana kesehatan seperti thermo scanner, body cleaner, ambulans di Pelabuhan dan Bandara, sampai disiapkannya rumah sakit – rumah sakit rujukan khusus flu burung. Dan yang menjadi perhatian dunia adalah pelaksanaan Simulasi penanggulangan Pandemi Influenza April 2008 di Bali dan April 2009 lalu di Makassar (Sulsel) serta mungkin akan berlanjut di beberapa daerah lainnya.

Dari sekian upaya yang dilakukan (masih banyak lagi) diharapkan Indonesia menjadi lebih siap untuk menghadapi pandemi influenza terutama bila bila terjadi sinyal epidemiologi berupa penularan dari orang ke orang yang pernah kontak serta diperkuat oleh adanya sinyal virologi yaitu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap virus.

Apa yang Terjadi Kemudiaan ?

Tanpa diduga dunia dikagetkan oleh merebaknya FLU BABI (Swine Influenza) yang pertama kali ditemukan kasusnya pada manusia 15 Pebruari 2009 di Meksiko, yang kemudian disebut Flu Meksiko dan terakhir menjadi Influenza A H1N1.
Dimana hingga tanggal 10 mei 2009 sudah 29 negara yang melaporkan terjadi 4379 kasus infeksi influenza A(H1N1). Di Meksiko (10/5) telah dilaporkan 1626 hasil laboratorium konfirmasi kasus infeksi pada manusia, termasuk 45 orang diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di Amerika dilaporkan 2254 hasil laboratorium konfirmasi kasus infeksi pada manusia, serta termasuk dua orang meninggal dunia (WHO).
WHO sendiri telah menetapkan status Pandemi pada level 5 untuk kasus influenza H1N1 ini, satu tingkat dibawah pandemi influenza yang dapat menyebar keseluruh penjuru dunia, serta memperingatkan negara-negara di dunia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebarannya.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Bersama negara-negara anggota ASEAN +3 (Jepang, Korea, dan China) Indonesia mengadakan pertemuan “Joint Ministerial Statement ASEAN +3 Ministers Special Meeting on Influenza A H1N1” di Bangkok Thailand tanggal 7-8 Mei 2009. Dalam pertemuan tersebut delegasi Indonesia dipimpin Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dengan anggota Dirjen P2PL Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Litbangkes Prof. dr. Agus Puwadianto SH, dan Staf Khusus Menkes Bidang Kesehatan Publik dr. Wijaya Lukito, Ph.D.

Usul Indonesia yang disepakati sebagai salah satu klausul adalah agar WHO merevisi parameter dalam menentukan status pandemi karena status pandemi yang ditetapkan dapat membawa konsekuensi yang cukup berat bagi suatu negara (dalam hal ini contohnya Meksiko). Dalam menetapkan status pandemi hendaknya bukan hanya berdasarkan transmissibillity (penularan antar manusia) saja tetapi harus juga memasukkan pertimbangan determinan klinis (morbiditas dan mortalitas) serta determinan virologi/gen sequencing (high atau low pathogenic).

Di dalam Joint Ministerial Statement, Indonesia juga mengingatkan meskipun dunia sedang menghadapi outbreak influenza A H1N1 tetapi ASEAN + 3 tetap akan terus menyelesaikan proses perjuangan Indonesia dalam virus sharing dan benefit sharing di WHO (IGM-PIP) yang akan berlangsung di WHA minggu depan, kata dr. Siti Fadilah Supari. Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mengemukakan bahwa telah melaksanakan pandemic preparedness plan secara komprehensif. (depkes.go.id)

Apakah Indonesia Terbebas dari Ancaman Pandemi Influenza ?

Tentu saja tidak bukan ? Indonesia mungkin lebih siap menghadapinya namun jangan lupa bahwa terlalu banyak faktor risiko yang mungkin menjadi penyebab pandemi influenza terjadi di negeri ini.

Kita bahkan tidak pernah tahu masalah kesehatan apalagi yang akan muncul dan dapat menjadi perhatian dunia internasional atau yang sering disebut sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern). Kapan, dimana, dan siapa yang akan terkena kita juga tidak tahu, tetapi kita bisa mengambil hikmah dan belajar dari apa yang pernah dan sedang terjadi.

Apa yang dilakukan pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya hanyalah sebuah upaya melindungi masyarakat dan menjaga kesehatannya.
Hal yang terpenting adalah bagaimana kita meningkatkan kewaspadaan diri terhadap kemungkinan terjadinya masalah kesehatan apapun itu, dengan berpola dan berprilaku hidup sehat.(F.Isnaini)

Pandemi atau tidak harus tetap waspada!


Semoga Bermanfaat

Hikmah "Pandemi Influenza" Bagi Indonesia

Masih ingatkah Anda kapan pertama kali flu burung di temukan di Indonesia? Benar, kasus flu burung pertama di Indonesia yang menimpa Iwan Siswara dan kedua anaknya terjadi pada pertengahan Juli 2005 lalu. Sejak saat itu kasus demi kasus terus bertambah, sampai dengan Juni 2007 tercatat 101 kasus Flu burung di Indonesia dengan 80 orang meninggal dunia, serta 21 orang dinyatakan sehat kembali. Bahkan hingga tanggal 28 Januari 2008 jumlah kasus mencapai 124 orang, 100 orang diantaranya meninggal dunia. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) mencapai 80.6%. Oleh karenanya Indonesia tercatat sebagai salah satu Negara dengan kasus flu burung dengan kematian terbanyak di dunia.

Setiap Kejadian Pasti Ada Hikmahnya

Guna melindungi masyarakat dan mencegah jatuhnya korban, maka tingkat alert (kewaspadaan) sistem surveilans ditingkatkan baik di masyarakat maupun institusi kesehatan (rumah sakit, Puskesmas, dan lain-lain). Sejak itu pula Depkes mempunyai prosedur tetap (protap) yaitu kewaspadan dini, dimana bila ada pasien yang menderita pneumonia berat dengan disertai adanya faktor risiko dan atau hasil laboratorium penunjang mengarah ke infeksi virus, diperlakukan sebagai under investigation ( dalam penylidikan ), sehingga penderita tersebut dilakukan pengambilan sample dan pemeriksaan ke arah AI serta ditelusuri faktor risiko dan riwayat kontaknya dan seterusnya.

Tidak hanya sampai disitu saja, berbagai langkah pun di tempuh pemerintah melalui Departemen Kesehatan. Mulai dari dibentuknya KOMNAS FLU BURUNG (FBPI), pendistribusian Oseltamivir/Tamiflu sampai tingkat puskesmas, melengkapi berbagai alat dan sarana kesehatan seperti thermo scanner, body cleaner, ambulans di Pelabuhan dan Bandara, sampai disiapkannya rumah sakit – rumah sakit rujukan khusus flu burung. Dan yang menjadi perhatian dunia adalah pelaksanaan Simulasi penanggulangan Pandemi Influenza April 2008 di Bali dan April 2009 lalu di Makassar (Sulsel) serta mungkin akan berlanjut di beberapa daerah lainnya.

Dari sekian upaya yang dilakukan (masih banyak lagi) diharapkan Indonesia menjadi lebih siap untuk menghadapi pandemi influenza terutama bila bila terjadi sinyal epidemiologi berupa penularan dari orang ke orang yang pernah kontak serta diperkuat oleh adanya sinyal virologi yaitu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap virus.

Apa yang Terjadi Kemudiaan ?

Tanpa diduga dunia dikagetkan oleh merebaknya FLU BABI (Swine Influenza) yang pertama kali ditemukan kasusnya pada manusia 15 Pebruari 2009 di Meksiko, yang kemudian disebut Flu Meksiko dan terakhir menjadi Influenza A H1N1.
Dimana hingga tanggal 10 mei 2009 sudah 29 negara yang melaporkan terjadi 4379 kasus infeksi influenza A(H1N1). Di Meksiko (10/5) telah dilaporkan 1626 hasil laboratorium konfirmasi kasus infeksi pada manusia, termasuk 45 orang diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di Amerika dilaporkan 2254 hasil laboratorium konfirmasi kasus infeksi pada manusia, serta termasuk dua orang meninggal dunia (WHO).
WHO sendiri telah menetapkan status Pandemi pada level 5 untuk kasus influenza H1N1 ini, satu tingkat dibawah pandemi influenza yang dapat menyebar keseluruh penjuru dunia, serta memperingatkan negara-negara di dunia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebarannya.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Bersama negara-negara anggota ASEAN +3 (Jepang, Korea, dan China) Indonesia mengadakan pertemuan “Joint Ministerial Statement ASEAN +3 Ministers Special Meeting on Influenza A H1N1” di Bangkok Thailand tanggal 7-8 Mei 2009. Dalam pertemuan tersebut delegasi Indonesia dipimpin Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dengan anggota Dirjen P2PL Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Litbangkes Prof. dr. Agus Puwadianto SH, dan Staf Khusus Menkes Bidang Kesehatan Publik dr. Wijaya Lukito, Ph.D.

Usul Indonesia yang disepakati sebagai salah satu klausul adalah agar WHO merevisi parameter dalam menentukan status pandemi karena status pandemi yang ditetapkan dapat membawa konsekuensi yang cukup berat bagi suatu negara (dalam hal ini contohnya Meksiko). Dalam menetapkan status pandemi hendaknya bukan hanya berdasarkan transmissibillity (penularan antar manusia) saja tetapi harus juga memasukkan pertimbangan determinan klinis (morbiditas dan mortalitas) serta determinan virologi/gen sequencing (high atau low pathogenic).

Di dalam Joint Ministerial Statement, Indonesia juga mengingatkan meskipun dunia sedang menghadapi outbreak influenza A H1N1 tetapi ASEAN + 3 tetap akan terus menyelesaikan proses perjuangan Indonesia dalam virus sharing dan benefit sharing di WHO (IGM-PIP) yang akan berlangsung di WHA minggu depan, kata dr. Siti Fadilah Supari. Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mengemukakan bahwa telah melaksanakan pandemic preparedness plan secara komprehensif. (depkes.go.id)

Apakah Indonesia Terbebas dari Ancaman Pandemi Influenza ?

Tentu saja tidak bukan ? Indonesia mungkin lebih siap menghadapinya namun jangan lupa bahwa terlalu banyak faktor risiko yang mungkin menjadi penyebab pandemi influenza terjadi di negeri ini.

Kita bahkan tidak pernah tahu masalah kesehatan apalagi yang akan muncul dan dapat menjadi perhatian dunia internasional atau yang sering disebut sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern). Kapan, dimana, dan siapa yang akan terkena kita juga tidak tahu, tetapi kita bisa mengambil hikmah dan belajar dari apa yang pernah dan sedang terjadi.

Apa yang dilakukan pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya hanyalah sebuah upaya melindungi masyarakat dan menjaga kesehatannya.
Hal yang terpenting adalah bagaimana kita meningkatkan kewaspadaan diri terhadap kemungkinan terjadinya masalah kesehatan apapun itu, dengan berpola dan berprilaku hidup sehat.(F.Isnaini)

Pandemi atau tidak harus tetap waspada!


Semoga Bermanfaat

Pandemi atau Tidak, Waspadai Flu Babi

INILAH.COM, London - Jumlah kasus Influenza A (H1N1) atau yang lebih dikenal sebagai flu babi terus melonjak. Dunia pun terbagi dalam memandang virus yang pertama kali ditemukan di Meksiko itu. Bahkan, sekelompok ilmuwan percaya flu A akan menjadi pandemi global.
Periset dari MRC Centre for Outbreak Analysis and Modelling di Imperial College London, Inggris, dalam riset terbaru mereka menyimpulkan bahwa wabah flu A ini menunjukkan tahap awal terjadinya pandemi. Dalam riset itu, MRC berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah otoritas kesehatan di Meksiko.

Menurut estimasi periset, berdasarkan kasus yang terjadi di Meksiko, tingkat kefatalan kasus flu A mencapai empat dari seribu kasus. Artinya, rangkaian virus yang menyerang kali ini sama mematikannya seperti pandemi flu pada 1957. Meski demikian, para ahli mengatakan tak perlu panik dengan fakta bahwa dunia medis lebih maju saat ini dibandingkan 1957.
“Hasil studi ini menunjukkan penyebaran virus sama seperti tahap awal sebuah pandemi flu. Sejauh ini hampir mirip dengan pandemi 1957 dalam hal proporsional orang yang terinfeksi dan prosentase kasus fatal,” ujar seorang periset MRC, Profesor Neil Ferguson.

Para ahli memperkirakan kasus H1N1 pertama kali terjadi di Meksiko pada 15 Februari 2009. Pada akhir April, para ahli memprediksikan virus ini akan menjangkiti minimal 6 ribu orang dan maksimal 23 ribu penduduk. Jumlah kematian positif dan dugaan flu A sudah lebih dari 100 kasus.

Prediksi itu benar-benar terjadi. Hingga kini virus itu sudah menginfeksi lebih dari 3.000 orang di Meksiko. Sementara angka kematiannya mencapai lebih dari 150 orang baik yang positif H1N1 maupun dugaan.
Rasio kematian (CFR) akibat flu A diduga berada di kisaran 0,4% (4 kematian dari 1.000 kasus). Ada juga kalangan ahli lain yang masih memproyeksikan CFR pada level 0,3-1,5%.
Untuk setiap orang yang terinfeksi, ada kemungkinan terkena kasus kedua dengan rasio 1,2-1,6 kali. Rasio itu cukup tinggi dibandingkan flu musiman biasa yang menginfeksi 10-15% populasi dunia. Meski demikian, jumlah itu masih lebih rendah pada skala pandemi flu yang menginfeksi 20-30% populasi.

Dalam penyebaran virus H1N1 yang terjadi di tempat asalnya, desa terpencil La Gloria di Meksiko, risiko bagi anak-anak dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Sebanyak 61% anak-anak di bawah 15 tahun terjangkiti flu A dan orang dewasa di atas 15 tahun hanya 29%. Hal ini disebabkan karena anak-anak lebih rentan atau karena mereka berinteraksi jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa, misalnya di sekolah.

“Apa yang kita saksikan ini tak sama dengan flu musiman biasa dan masih ada kekhawatiran mengenai flu ini. Jika benar, maka pandemi akan melukai sistem kesehatan kita. Meski demikian, H1N1 tidak bertransmisi dengan mudah seperti pandemi 1918,” lanjut Ferguson.
Pandemi flu Spanyol (H1N1) pada 1918 menewaskan sekitar 50-100 juta penduduk dunia karena belum adanya sistem medis yang memadai. Tidak ada catatan yang bisa memastikan kawasan asal virus itu.

Sementara pandemi flu Asia (H2N2) yang terjadi pada 1957 berasal dari bebek liar yang pertama kali terjadi di China. Diperkirakan 1-4 juta penduduk dunia tewas saat itu.
Untuk kasus virus H1N1 Meksiko ini, WHO masih menetapkan status kewaspadaan di level 5 atau satu tingkat di bawah pandemi.

Beberapa negara, seperti ASEAN+3, berpendapat status itu terlalu berlebihan karena berdampak buruk bagi suatu negara. Misalnya Meksiko yang langsung mengalami defisit anggaran, mereka terpukul secara ekonomi dan politik.

“Meski demikian, kami memahami WHO mewaspadai gelombang kedua virus ini,” ujar Menkes Siti Fadillah Supari saat memberikan keterangan pers akhir pekan lalu. Kemungkinan terjadinya pandemi selalu ada, namun ada pula kemungkinan hal itu tak akan terjadi. Meski demikian, tak ada salahnya menerapkan gaya hidup sehat sebagai perlindungan diri.

Semoga Bermanfaat

Pandemi atau Tidak, Waspadai Flu Babi

INILAH.COM, London - Jumlah kasus Influenza A (H1N1) atau yang lebih dikenal sebagai flu babi terus melonjak. Dunia pun terbagi dalam memandang virus yang pertama kali ditemukan di Meksiko itu. Bahkan, sekelompok ilmuwan percaya flu A akan menjadi pandemi global.
Periset dari MRC Centre for Outbreak Analysis and Modelling di Imperial College London, Inggris, dalam riset terbaru mereka menyimpulkan bahwa wabah flu A ini menunjukkan tahap awal terjadinya pandemi. Dalam riset itu, MRC berkolaborasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan sejumlah otoritas kesehatan di Meksiko.

Menurut estimasi periset, berdasarkan kasus yang terjadi di Meksiko, tingkat kefatalan kasus flu A mencapai empat dari seribu kasus. Artinya, rangkaian virus yang menyerang kali ini sama mematikannya seperti pandemi flu pada 1957. Meski demikian, para ahli mengatakan tak perlu panik dengan fakta bahwa dunia medis lebih maju saat ini dibandingkan 1957.
“Hasil studi ini menunjukkan penyebaran virus sama seperti tahap awal sebuah pandemi flu. Sejauh ini hampir mirip dengan pandemi 1957 dalam hal proporsional orang yang terinfeksi dan prosentase kasus fatal,” ujar seorang periset MRC, Profesor Neil Ferguson.

Para ahli memperkirakan kasus H1N1 pertama kali terjadi di Meksiko pada 15 Februari 2009. Pada akhir April, para ahli memprediksikan virus ini akan menjangkiti minimal 6 ribu orang dan maksimal 23 ribu penduduk. Jumlah kematian positif dan dugaan flu A sudah lebih dari 100 kasus.

Prediksi itu benar-benar terjadi. Hingga kini virus itu sudah menginfeksi lebih dari 3.000 orang di Meksiko. Sementara angka kematiannya mencapai lebih dari 150 orang baik yang positif H1N1 maupun dugaan.
Rasio kematian (CFR) akibat flu A diduga berada di kisaran 0,4% (4 kematian dari 1.000 kasus). Ada juga kalangan ahli lain yang masih memproyeksikan CFR pada level 0,3-1,5%.
Untuk setiap orang yang terinfeksi, ada kemungkinan terkena kasus kedua dengan rasio 1,2-1,6 kali. Rasio itu cukup tinggi dibandingkan flu musiman biasa yang menginfeksi 10-15% populasi dunia. Meski demikian, jumlah itu masih lebih rendah pada skala pandemi flu yang menginfeksi 20-30% populasi.

Dalam penyebaran virus H1N1 yang terjadi di tempat asalnya, desa terpencil La Gloria di Meksiko, risiko bagi anak-anak dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.
Sebanyak 61% anak-anak di bawah 15 tahun terjangkiti flu A dan orang dewasa di atas 15 tahun hanya 29%. Hal ini disebabkan karena anak-anak lebih rentan atau karena mereka berinteraksi jauh lebih banyak ketimbang orang dewasa, misalnya di sekolah.

“Apa yang kita saksikan ini tak sama dengan flu musiman biasa dan masih ada kekhawatiran mengenai flu ini. Jika benar, maka pandemi akan melukai sistem kesehatan kita. Meski demikian, H1N1 tidak bertransmisi dengan mudah seperti pandemi 1918,” lanjut Ferguson.
Pandemi flu Spanyol (H1N1) pada 1918 menewaskan sekitar 50-100 juta penduduk dunia karena belum adanya sistem medis yang memadai. Tidak ada catatan yang bisa memastikan kawasan asal virus itu.

Sementara pandemi flu Asia (H2N2) yang terjadi pada 1957 berasal dari bebek liar yang pertama kali terjadi di China. Diperkirakan 1-4 juta penduduk dunia tewas saat itu.
Untuk kasus virus H1N1 Meksiko ini, WHO masih menetapkan status kewaspadaan di level 5 atau satu tingkat di bawah pandemi.

Beberapa negara, seperti ASEAN+3, berpendapat status itu terlalu berlebihan karena berdampak buruk bagi suatu negara. Misalnya Meksiko yang langsung mengalami defisit anggaran, mereka terpukul secara ekonomi dan politik.

“Meski demikian, kami memahami WHO mewaspadai gelombang kedua virus ini,” ujar Menkes Siti Fadillah Supari saat memberikan keterangan pers akhir pekan lalu. Kemungkinan terjadinya pandemi selalu ada, namun ada pula kemungkinan hal itu tak akan terjadi. Meski demikian, tak ada salahnya menerapkan gaya hidup sehat sebagai perlindungan diri.

Semoga Bermanfaat

Sunday, May 10, 2009

Influenza A(H1N1)

Keep your sick kids home from school. Visit www.cdc.gov/h1n1 for more information.


WHO is not recommending travel restrictions related to the outbreak of the influenza A(H1N1) virus.
Individuals who are ill should delay travel plans and returning travelers who fall ill should seek appropriate medical care. These recommendations are prudent measures which can limit the spread of many communicable diseases, including influenza.
Further information on the situation will be available on the WHO web site on a regular basis.
For the Question and Answear about Influenza A H1N1 HERE !

Wash your hands with soap and clean running water. Visit www.cdc.gov/h1n1 for more information.

Semoga Bermanfaat

Influenza A(H1N1)

Keep your sick kids home from school. Visit www.cdc.gov/h1n1 for more information.


WHO is not recommending travel restrictions related to the outbreak of the influenza A(H1N1) virus.
Individuals who are ill should delay travel plans and returning travelers who fall ill should seek appropriate medical care. These recommendations are prudent measures which can limit the spread of many communicable diseases, including influenza.
Further information on the situation will be available on the WHO web site on a regular basis.
For the Question and Answear about Influenza A H1N1 HERE !

Wash your hands with soap and clean running water. Visit www.cdc.gov/h1n1 for more information.

Semoga Bermanfaat

Saturday, May 9, 2009

Indonesia Usulkan Revisi Parameter Status Pandemi

www.depkes.go.id

Indonesia mengusulkan agar WHO merevisi parameter dalam menentukan status pandemi karena status pandemi yang ditetapkan dapat membawa konsekuensi yang cukup berat bagi suatu negara (dalam hal ini contohnya Meksiko). Dalam menetapkan status pandemi hendaknya bukan hanya berdasarkan transmissibillity (penularan antar manusia) saja tetapi harus juga memasukkan pertimbangan determinan klinis (morbiditas dan mortalitas) serta determinan virologi/gen sequencing (high atau low pathogenic).

Usul Indonesia itu disepakati sebagai salah satu klausul dalam Joint Ministerial Statement ASEAN +3 Ministers Special Meeting on Influenza A H1N1 di Bangkok Thailan tanggal 7-8 Mei 2009.

Hal itu disampaikan Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K ) kepada para wartawan saat Jumpa Pers setibanya di tanah air usai menghadiri pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN +3 (China, Jepang dan Korea) tanggal 9 Mei 2009.

Dalam pertemuan tersebut delegasi Indonesia dipimpin Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dengan anggota Dirjen P2PL Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Litbangkes Prof. dr. Agus Puwadianto SH, dan Staf Khusus Menkes Bidang Kesehatan Publik dr. Wijaya Lukito, Ph.D.

Di dalam Joint Ministerial Statement, Indonesia juga mengingatkan meskipun dunia sedang menghadapi outbreak influenza A H1N1 tetapi ASEAN + 3 tetap akan terus menyelesaikan proses perjuangan Indonesia dalam virus sharing dan benefit sharing di WHO (IGM-PIP) yang akan berlangsung di WHA minggu depan, kata dr. Siti Fadilah Supari.

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mengemukakan bahwa telah melaksanakan pandemic preparedness plan secara komprehensif, bahkan sudah melaksanakan 2 kali simulasi berskala lengkap (full scale simulation) kesiapsiagaan menghadapi pandemi yang dilakukan di Jembrana Bali pada April 2008 dan di Makassar Sulsel pada April 2009, ujar Menkes.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh semua negara-negara ASEAN + 3, yaitu 10 negara ASEAN (Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapura, Vietnam) dengan China, Jepang dan Korea, telah menyepakati berbagai hal.

1. Pertemuan ini merupakan komitmen politik yang tinggi untuk menunjukkan solidaritas ASEAN + 3 Members State untuk menghadapi ancaman outbreak dari influenza A H1N1 baru. Semua sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan di negaranya masing-masing dalam menghadapi influenza A H1N1.

2. Semua member state, sepakat bahwa outbreak kali ini belum mencapai status 6 Pandemi. Semua juga sepakat bahwa ancaman pandemi ini secara klinis ringan, tetapi kita semua harus tetap waspada dan melakukan upaya kesiapsiagaan yang baik.

3. Joint Ministerial Statement pada pertemuan ini juga telah memutuskan beberapa hal antara lain :

1. Melanjutkan implementasi Pandemic Preparedness Plan masing-masing negara
2. Meningkatkan efektifitas komunikasi publik agar masyarakat tidak panik
3. Mempertimbangkan sistem di dalam negara ASEAN + 3 untuk memfasilitasi ketersediaan suplai esensial bila terjadi keadaan emergency

Indonesia Usulkan Revisi Parameter Status Pandemi

www.depkes.go.id

Indonesia mengusulkan agar WHO merevisi parameter dalam menentukan status pandemi karena status pandemi yang ditetapkan dapat membawa konsekuensi yang cukup berat bagi suatu negara (dalam hal ini contohnya Meksiko). Dalam menetapkan status pandemi hendaknya bukan hanya berdasarkan transmissibillity (penularan antar manusia) saja tetapi harus juga memasukkan pertimbangan determinan klinis (morbiditas dan mortalitas) serta determinan virologi/gen sequencing (high atau low pathogenic).

Usul Indonesia itu disepakati sebagai salah satu klausul dalam Joint Ministerial Statement ASEAN +3 Ministers Special Meeting on Influenza A H1N1 di Bangkok Thailan tanggal 7-8 Mei 2009.

Hal itu disampaikan Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K ) kepada para wartawan saat Jumpa Pers setibanya di tanah air usai menghadiri pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN +3 (China, Jepang dan Korea) tanggal 9 Mei 2009.

Dalam pertemuan tersebut delegasi Indonesia dipimpin Menkes Dr.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) dengan anggota Dirjen P2PL Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Litbangkes Prof. dr. Agus Puwadianto SH, dan Staf Khusus Menkes Bidang Kesehatan Publik dr. Wijaya Lukito, Ph.D.

Di dalam Joint Ministerial Statement, Indonesia juga mengingatkan meskipun dunia sedang menghadapi outbreak influenza A H1N1 tetapi ASEAN + 3 tetap akan terus menyelesaikan proses perjuangan Indonesia dalam virus sharing dan benefit sharing di WHO (IGM-PIP) yang akan berlangsung di WHA minggu depan, kata dr. Siti Fadilah Supari.

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga mengemukakan bahwa telah melaksanakan pandemic preparedness plan secara komprehensif, bahkan sudah melaksanakan 2 kali simulasi berskala lengkap (full scale simulation) kesiapsiagaan menghadapi pandemi yang dilakukan di Jembrana Bali pada April 2008 dan di Makassar Sulsel pada April 2009, ujar Menkes.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh semua negara-negara ASEAN + 3, yaitu 10 negara ASEAN (Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philipina, Singapura, Vietnam) dengan China, Jepang dan Korea, telah menyepakati berbagai hal.

1. Pertemuan ini merupakan komitmen politik yang tinggi untuk menunjukkan solidaritas ASEAN + 3 Members State untuk menghadapi ancaman outbreak dari influenza A H1N1 baru. Semua sepakat untuk meningkatkan kewaspadaan di negaranya masing-masing dalam menghadapi influenza A H1N1.

2. Semua member state, sepakat bahwa outbreak kali ini belum mencapai status 6 Pandemi. Semua juga sepakat bahwa ancaman pandemi ini secara klinis ringan, tetapi kita semua harus tetap waspada dan melakukan upaya kesiapsiagaan yang baik.

3. Joint Ministerial Statement pada pertemuan ini juga telah memutuskan beberapa hal antara lain :

1. Melanjutkan implementasi Pandemic Preparedness Plan masing-masing negara
2. Meningkatkan efektifitas komunikasi publik agar masyarakat tidak panik
3. Mempertimbangkan sistem di dalam negara ASEAN + 3 untuk memfasilitasi ketersediaan suplai esensial bila terjadi keadaan emergency

Sunday, May 3, 2009

VIRUS INFLUENZA A H1N1 DI RUMAH PAMAN SAM

226 Orang Terjangkit Flu Babi di AS

Negara mana yang bisa luput dari serangan Influenza A H1N1, atau virus apapun. rasanya belum ada teknologi yang bisa menghambat atau bahkan mencegah penyebaran virus. Toh begitu juga virus tidak memandang klasifikasi negara apakah itu negara maju, berkembang, kecil besar, atau tanggung sekalipun. Mau bukti ? simak berita Kompas langsung dari Negeri Paman Sam...

WASHINGTON,KOMPAS.com-Virus baru influenza H1N1 meluas ke 30 negara bagian AS dan menjangkiti 226 orang, demikian diumumkan Pusat Pengendali dan Pencegahan Penyakit (CDC), Minggu (3/5).
CDC sebelumnya memastikan 160 kasus di 21 negara bagian di Amerika Serikat.
New York memiliki jumlah penderita paling banyak dengan 63 kasus, banyak dari mereka terkait dengan sebuah sekolah di Queens. Texas memiliki 40 kasus. Satu orang yang meninggal adalah seorang anak yang mengunjungi Texas dari Meksiko.
Penjabat Direktur CDC Dr. Richard Besser telah berulang kali mengatakan, ia memperkirakan ada kasus-kasus lain, sementara pemeriksaan atas flu baru itu terus dilakukan.
Para pejabat Meksiko mengatakan, Minggu, wabah itu tampaknya mulai mereda, namun mereka tidak memiliki gambaran kerangka waktu jelas mengenai penyakit itu, berapa hari atau pekan, karena banyak waktu diperlukan untuk memeriksa orang dengan gejala-gejala pernapasan biasa.

Semoga Bermanfaat

VIRUS INFLUENZA A H1N1 DI RUMAH PAMAN SAM

226 Orang Terjangkit Flu Babi di AS

Negara mana yang bisa luput dari serangan Influenza A H1N1, atau virus apapun. rasanya belum ada teknologi yang bisa menghambat atau bahkan mencegah penyebaran virus. Toh begitu juga virus tidak memandang klasifikasi negara apakah itu negara maju, berkembang, kecil besar, atau tanggung sekalipun. Mau bukti ? simak berita Kompas langsung dari Negeri Paman Sam...

WASHINGTON,KOMPAS.com-Virus baru influenza H1N1 meluas ke 30 negara bagian AS dan menjangkiti 226 orang, demikian diumumkan Pusat Pengendali dan Pencegahan Penyakit (CDC), Minggu (3/5).
CDC sebelumnya memastikan 160 kasus di 21 negara bagian di Amerika Serikat.
New York memiliki jumlah penderita paling banyak dengan 63 kasus, banyak dari mereka terkait dengan sebuah sekolah di Queens. Texas memiliki 40 kasus. Satu orang yang meninggal adalah seorang anak yang mengunjungi Texas dari Meksiko.
Penjabat Direktur CDC Dr. Richard Besser telah berulang kali mengatakan, ia memperkirakan ada kasus-kasus lain, sementara pemeriksaan atas flu baru itu terus dilakukan.
Para pejabat Meksiko mengatakan, Minggu, wabah itu tampaknya mulai mereda, namun mereka tidak memiliki gambaran kerangka waktu jelas mengenai penyakit itu, berapa hari atau pekan, karena banyak waktu diperlukan untuk memeriksa orang dengan gejala-gejala pernapasan biasa.

Semoga Bermanfaat

Friday, May 1, 2009

Nama Flu Babi Diganti Jadi Influenza A H1N1

Saturday, 01 May 2009

JENEWA (SI) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak akan lagi memakai sebutan flu babi (swine flu) untuk merujuk wabah penyakit berbahaya yang meresahkan dunia itu.

WHO lebih memilih menyebut virus influenza baru itu dengan “influenza A” (H1N1). Menurut WHO nama flu babi sudah menimbulkan kesalahpahaman hingga menyebabkan beberapa negara melarang daging babi.Mesir bahkan memerintahkan pembantaian hewan babi. “Mulai hari ini (30 April) WHO akan menyebut virus influenza baru tersebut sebagai influenza A H1N1,” jelas WHO dalam situs resmi mereka kemarin.

WHO sebelumnya sudah berulang kali menegaskan bahwa manusia tidak dapat terinfeksi virus H1N1 melalui konsumsi daging babi yang sudah dimasak dengan baik. “Bahkan sekalipun virus tersebut berasal dari babi, kami tidak percaya orang bisa terinfeksi oleh babi. Ini benar-benar virus yang menular dari manusia ke manusia. Kami yakin, bila diolah dengan benar,memakan daging babi tidak akan menimbulkan bahaya bagi manusia,”tutur Fukuda.

Nama flu babi dari awal sudah menimbulkan protes termasuk dari Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Janet Napolitano serta Menteri Pertanian AS Tom Vilsack.Apalagi sejauh ini tak ada babi yang ditemukan menderita penyakit tersebut. “Ini bukanlah penyakit yang ditularkan melalui makanan, melainkan virus.Tidak tepat menyebut penyakit ini sebagai flu babi karena bukan itu masalah utamanya,” kataVilsack.

Nama flu babi sudah membuat produsen daging babi di AS merugi besar.Pemerintah di sana memang sudah menyatakan daging babi Amerika aman dikonsumsi tapi nyatanya hal ini tidak terlalu berguna. Virus flu babi atau H1N1 memang diketahui berasal dari babi, namun virus flu yang sedang mewabah ini merupakan keturunan baru yang memiliki gen dari virus manusia,burung,dan babi.

Sementara itu, WHO belum akan meningkatkan level siaga wabah flu babi ke level tertinggi karena belum ada alasan untuk melakukan itu. WHO menaikkan tingkat siaga dari level empat ke level lima, Rabu (29/4), setelah penyebaran flu babi meningkat tajam. Level lima menunjukkan kemungkinan pandemi global flu babi sudah di ambang pintu atau akan segera terjadi.

Adapun level enam menunjukkan pandemi sudah benar-benar terjadi. “Laporan kasus yang masuk hari menunjukkan angka yang stabil. Kami tidak memiliki bukti lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan level siaga ke level enam atau untuk menyatakan pandemi sedang terjadi,” tutur Asisten Jenderal Direktur Ad-Interim WHO Keiji Fukuda. Fukuda menambahkan flu babi yang berasal dari virus H1N1 memiliki sifat yang mirip virus influenza sehingga mudah menyebar di musim dingin.

Karena itu Fukuda memperingatkan bahwa penyebaran wabah flu babi paling banyak terjadi di belahan bumi bagian selatan seperti Afrika Selatan atau Zimbabwe.Ancaman wabah di kedua negara ini meningkat dalam beberapa waktu ke depan mengingat wilayah itu sedang memasuki musim dingin yang rentan penyebaran flu.

Wilayah bumi bagian utara seperti Amerika Serikat dan Meksiko kini sedang memasuki musim semi sehingga penyebarannya relatif bisa ditekan. Risiko di belahan bumi bagian selatan semakin besar mengingat infrastruktur serta staf medis kesehatan di sana sangat minim.

Rumah-rumah sakit di Zimbabwe dan Mozambik tidak berfungi sebagaimana mestinya,sementara rumah sakit di beberapa wilayah Afrika Selatan sangat minim peralatan dan staf medis sehingga dikhawatirkan tidak bisa menangani wabah flu babi jika menyebar ke sana.

Beberapa negara melaporkan adanya tambahan pasien yang menderita flu babi. Di Belanda seorang bocah berusia tiga tahun sudah dipastikan menderita flu babi. Bocah ini baru saja kembali dari Meksiko bersama orang tuanya pada 27 April lalu. (AFP/NewYorkTimes/ maesaroh).seputar-indonesia.com

Semoga Bermanfaat

Nama Flu Babi Diganti Jadi Influenza A H1N1

Saturday, 01 May 2009

JENEWA (SI) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak akan lagi memakai sebutan flu babi (swine flu) untuk merujuk wabah penyakit berbahaya yang meresahkan dunia itu.

WHO lebih memilih menyebut virus influenza baru itu dengan “influenza A” (H1N1). Menurut WHO nama flu babi sudah menimbulkan kesalahpahaman hingga menyebabkan beberapa negara melarang daging babi.Mesir bahkan memerintahkan pembantaian hewan babi. “Mulai hari ini (30 April) WHO akan menyebut virus influenza baru tersebut sebagai influenza A H1N1,” jelas WHO dalam situs resmi mereka kemarin.

WHO sebelumnya sudah berulang kali menegaskan bahwa manusia tidak dapat terinfeksi virus H1N1 melalui konsumsi daging babi yang sudah dimasak dengan baik. “Bahkan sekalipun virus tersebut berasal dari babi, kami tidak percaya orang bisa terinfeksi oleh babi. Ini benar-benar virus yang menular dari manusia ke manusia. Kami yakin, bila diolah dengan benar,memakan daging babi tidak akan menimbulkan bahaya bagi manusia,”tutur Fukuda.

Nama flu babi dari awal sudah menimbulkan protes termasuk dari Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Janet Napolitano serta Menteri Pertanian AS Tom Vilsack.Apalagi sejauh ini tak ada babi yang ditemukan menderita penyakit tersebut. “Ini bukanlah penyakit yang ditularkan melalui makanan, melainkan virus.Tidak tepat menyebut penyakit ini sebagai flu babi karena bukan itu masalah utamanya,” kataVilsack.

Nama flu babi sudah membuat produsen daging babi di AS merugi besar.Pemerintah di sana memang sudah menyatakan daging babi Amerika aman dikonsumsi tapi nyatanya hal ini tidak terlalu berguna. Virus flu babi atau H1N1 memang diketahui berasal dari babi, namun virus flu yang sedang mewabah ini merupakan keturunan baru yang memiliki gen dari virus manusia,burung,dan babi.

Sementara itu, WHO belum akan meningkatkan level siaga wabah flu babi ke level tertinggi karena belum ada alasan untuk melakukan itu. WHO menaikkan tingkat siaga dari level empat ke level lima, Rabu (29/4), setelah penyebaran flu babi meningkat tajam. Level lima menunjukkan kemungkinan pandemi global flu babi sudah di ambang pintu atau akan segera terjadi.

Adapun level enam menunjukkan pandemi sudah benar-benar terjadi. “Laporan kasus yang masuk hari menunjukkan angka yang stabil. Kami tidak memiliki bukti lain yang bisa digunakan untuk meningkatkan level siaga ke level enam atau untuk menyatakan pandemi sedang terjadi,” tutur Asisten Jenderal Direktur Ad-Interim WHO Keiji Fukuda. Fukuda menambahkan flu babi yang berasal dari virus H1N1 memiliki sifat yang mirip virus influenza sehingga mudah menyebar di musim dingin.

Karena itu Fukuda memperingatkan bahwa penyebaran wabah flu babi paling banyak terjadi di belahan bumi bagian selatan seperti Afrika Selatan atau Zimbabwe.Ancaman wabah di kedua negara ini meningkat dalam beberapa waktu ke depan mengingat wilayah itu sedang memasuki musim dingin yang rentan penyebaran flu.

Wilayah bumi bagian utara seperti Amerika Serikat dan Meksiko kini sedang memasuki musim semi sehingga penyebarannya relatif bisa ditekan. Risiko di belahan bumi bagian selatan semakin besar mengingat infrastruktur serta staf medis kesehatan di sana sangat minim.

Rumah-rumah sakit di Zimbabwe dan Mozambik tidak berfungi sebagaimana mestinya,sementara rumah sakit di beberapa wilayah Afrika Selatan sangat minim peralatan dan staf medis sehingga dikhawatirkan tidak bisa menangani wabah flu babi jika menyebar ke sana.

Beberapa negara melaporkan adanya tambahan pasien yang menderita flu babi. Di Belanda seorang bocah berusia tiga tahun sudah dipastikan menderita flu babi. Bocah ini baru saja kembali dari Meksiko bersama orang tuanya pada 27 April lalu. (AFP/NewYorkTimes/ maesaroh).seputar-indonesia.com

Semoga Bermanfaat