Saturday, April 26, 2008

KEPUTIHAN – Bisa Menyebabkan Kemandulan

Sudah tiga tahun usia perkawinan pasutri Dono dan Yuli tapi sampai saat ini belum juga lahir bayi yang diidamkan. Ketika menjalani pemeriksaan secara seksama oleh dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, ternyata pada rongga rahim Yuli ditemukan luka kronis. Yuli mengaku, sejak menikah memang sering menderita keputihan. Selama ini hanya diobati dengan obat tradisional seperti rebusan daun sirih serta jamu antikeputihan. “Sebentar sembuh tapi kemudian kambuh kembali”, katanya. Apakah keputihan ini saja gara-garanya, masih perlu diteliti lebih lanjut.

“Keputihan yang kronis memang bisa merupakan salah satu penyebab kemandulan”, kata dr. Asri dari Pusat Pelayanan Keluarga Pro-Familia, Jakarta. “Sebab itu perlu bagi setiap wanita menikah melakukan ‘kuras’ vagina”, saran dokter dari klinik yang didirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) ini. “Kuras” vagina artinya, pengontrolan dan pembersihan vagina sampai ke mulut serta rongga rahim. “Ini ibarat membersihkan bagian belakang rumah yang penuh dengan sarang tikus”, tambahnya.

Menurut dokter umum ini, lebih dari 70% wanita Indonesia mengalami penyakit keputihan yang disebabkan oleh jamur, parasit seperti cacing kremi atau kuman (trikomonas vaginalis). “Kalau tidak diberantas, bisa merembet sampai ke rongga rahim atau saluran telur yang bisa mengakibatkan kemandulan seperti pada kasus Yuli tadi atau bahkan kanker”, katanya. Kanker timbul karena luka atau infeksi yang tidak tersembuhkan secara tuntas itu mengalami iritasi yang kemudian membentuk sel ganas. Pengeluaran lendir berlebihan dari lubang vagina bisa berarti normal atau faali sejauh terjadi hanya pada masa ovulasi (usia 20 – 40 an), menjelang masa haid, saat hamil yang berhubungan dengan faktor hormonal, mengalami stress, kelelahan, celana dalam terlalu ketat atau sehabis melakukan hubungan seksual dengan pasangan. Yang tidak normal apabila pengeluaran lendir berlebihan ini disertai infeksi. Infeksi bisa lokal di sekitar vagina saja, bisa juga di bagian dalam Selain pengeluaran lendir berlebihan gejalanya dibarengi rasa gatal, pedih, vagina kemerahan serta pada umumnya lendir berubah warna. Kalau disebabkan oleh jamur atau candiasis (infeksi akibat jamur Candida albicans, misalnya), menurut dr. Asri, biasanya warna lendir berubah keruh seperti kapur dan terasa gatal sekali, sama halnya ketombe pada kepala yang juga karena jamur. Perlu diketahui, keputihan karena infeksi Candida albicans ini juga bisa pada pria. Sebab itu bila seorang istri menderita candidiasis, suami pun harus diperksa.

Timbulnya jamur bisa disebabkan oleh hal-hal yang kurang higienis atau kelembaban. Misalnya, kurang memperhatikan kebersihan celana dalam, tinggal atau bekerja dalam ruangan yang lembab, atau karena hubungan seksual dengan penderita lain.

Menurut seorang dokter dari perusahaan obat Bayer AG Jerman, keputihan jamur bisa juga akibat minum dosis tinggi obat antibiotik, obat hormon atau steroid dalam jangka panjang. Di satu sisi penyakit yang diobati dengan obat-obatan tersebut sembuh, di sisi lain tumbuh jamur yang merajalela. Pada penderita kanker yang sedang diobati dengan obat-obatan sitosika (kemoterapi misalnya) yang menurunkan daya kekebalan tubuh pun alat vitalnya atau kulit di bagian lain mudah dutumbuhi jamur. Penderita diabetes juga acap kali dihinggapi keputihan akibat kurang normalnya metabolisme karbohidrat. Dalam tubuh seseorang yang kekurangan zat besi atau seng juga bisa terjadi candidiasis. Wanita yang gemar menggunakan semprot wewangian pada sekitar vagina ada kalanya mengalami alergi dan dapat menimbulkan luka yang rawan jamur.

Pada wanita hamil karena kadar hormon estrogen dan progesteronnya meningkat, maka epithelium vagina (sel yang membentuk lapisan yang menutupi permukaan vagina dan membentuk kelenjar) mudah ditumbuhi jamur.

Keputihan memang tidak pandang bulu, wanita yang belum mendapatkan haid sampai wanita menopause bisa terkena. Wanita menopause walaupun produksi hormonnya turun drastic dan tidak mengalami masa ovulasi lagi, tetap mempunyai refleks mengeluarkan lendir kalau terjadi perangsangan. Ini masih diartikan normal. Namun patut dicurigai terjadi infeksi atau keganasan bila keluarnya lendir pada wanita menopause dibarengi pengeluaran darah dan berbau.

Cacing Nyasar
Cacing kremi pun bisa ikut-ikutan menyumbang terjadinya gangguan alat reproduksi wanita. Pada malam hari cacing kremi yang mendekam di usus penderita, pasti turun ke kawasan dubur untuk bertelur. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia akan masuk kembali ke usus. Celakanya, sering nyasar, bukan kembali masuk ke usus lewat dubur melainkan ke liang vagina yang bertetangga dekat itu. Akibatnya, korban akan mengalami keputihan karena cacing kremi. Gejalanya, selain merasa gatal, juga adanya lendir keruh dan kental berwarna sedikit kekuningan seperti susu, terkadang berbusa.

Keputihan karena cacing kremi ini juga dapat diderita oleh anak-anak perempuan (balita sampai anak besar) akibat spora yang menempel pada makanan atau barang lain yang terkontaminasi. Sebab itu kalau ada anak perempuan mengeluh di daerah vagina terasa gatal dan mengeluarkan lendir kekuningan, segeralah periksakan ke dokter. Mungkin penyebabnya cacing kremi.

Kalau disebabkan oleh kuman atau trikomonas pada umumnya gejalanya selain gatal, lendir berwarna kehijauan.

Selain ketiga penyebab tadi, ada pula keputihan karena penyakit seksual seperti gonorrhea (GO) atau sifilis yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kedua penyakit ini umumnya tidak menampakkannya ada gejala gatal, tetapi warna lendir seperti seperti susu dan berbau. Pada penderita sifilis bahkan disertai luka-luka di sekitar vagina.

Sedangkan kalau di sekitar vagina tumbuh sesuatu mirip jengger ayam, kutil, atau kembang kol biasanya itu disebabkan oleh virus tertentu. Gangguan kelainan ini mudah menular pada pasangan hubungan seksualnya.

Namun dari sekian macam keputihan, ada yang bukan disebabkan oleh kuman, jamur, ataupun virus, melainkan akibat alat kontrasepsi, kelainan letak uterus atau servik yang perlu pembenahan. Atau juga karena tumbuh tumor ganas atau jinak pada mulut rahim atau alat reproduksinya.

Dari Wawancara Sampai Kuras Vagina
“Sebab itu wanita yang menderita keputihan hendaknya tidak menunda pengobatannya”, saran dr. Asri pula. Supaya tidak repot, penderita bisa mendatangi klinik macam Pusat Pelayanan Keluarga tadi yang memberi pelayanan pasien mulai dari wawancara, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta membersihkan vagina sampai ke rongga rahim hingga pengobatannya sampai tuntas.

Pelayanan yang seperti one stop treatment dengan biaya terjangkau ini hanya berlangsung 30 menit. Menurut dr. Asri, sebenarnya dengan wawancara saja sudah dapat diduga jenis penyebab keputihannya. Tapi akan lebih tepat kalau dilakukan pemeriksaan laboratorium (setelah diambil usapan lendirnya) yang memakan waktu beberapa puluh menit saja. Sementara menunggu hasilnya, pasien dipersilahkan menjalani “kuras” vagina. Caranya, dengan bantuan alat speculum, ujung vagina sampai dengan rongga rahim diteropong jelas. Kemudian dengan alat penjepit kain kasa (gaas) yang terlebih dulu direndam dalam betadin, tindakan “kuras” dilakukan. “Mirip membersihkan botol dengan sikat botol saja”, kata dr. Asri. Pasien tidak perlu takut karena tindakan ini sederhana dan tidak menyiksa. Setelah hasil pemeriksaan laboratorium diketahui, dokter akan memberikan obat yang tepat. Obat bisa berupa obat minum atau tablet yang dimasukkan ke lubang vagina. Setelah 3 bulan, pasien diharapkan kembali untuk cek ulang. Para ibu yang menghadapi masalah dengan pasangan sehubungan dengan kasus ini bisa sekaligus berkonsultasi.

Wanita penderita keputihan, menurut dr. Asri, acap kali kambuh penyakitnya karena kurang diobati tuntas. “Mengobati daerah sekitar vagina saja belum cukup, sebaiknya sampai ke bagian dalam”, tambahnya. Produk-produk yang memperkenalkan diri sebagai obat semprot pembersih vagina, katanya, belum menjamin kesembuhan. Begitu juga vagina atau krim vagina yang diberikan oleh dokter secara kurang tepat.

Utamakan Kebersihan
Asri menganjurkan agar setiap wanita menjaga kebersihan sekitar alat kemaluan dan vagina. Kalau sedang haid hendaknya sesering mungkin mengganti kain pembalut karena darah yang keluar bisa menjadi media tumbuhnya kuman. Celana dalam jangan dibiarkan basah atau lembab karena memberikan peluang bagi tumbuhnya jamur.

Membersihkan diri sehabis buang air kecil menurut dr. Asri, sebenarnya paling baik dengan air yang terjamin kebersihannya. Air untuk membersihkan paling baik langsung ditadah dari kran semprot. Air yang terkumpul di ember atau bak mandi bisa saja terkontaminasi air kencing orang lain, spora, jamur, atau kuman. Dengan kertas tissue, menurut Asri, lendir dan air memang terserap, tapi hendaknya diingat bahwa tidak semua tissue menjamin kualitasnya. Tissue yang terbuat dari serbuk kayu ada yang tercemar jamur kalau proses pembuatannya kurang baik.

Kebersihan memang pangkal kesehatan. Namun kuman ataupun jamur di mana pun sulit dihindari. “Yang penting, segeralah ke dokter begitu dirasakan timbul kelainan pada diri kita. Jangan menunggu sampai keadaan lebih parah”, saran dr. Asri pula.

Di negara maju seperti Amerika menurut sebuah seminar internasional di Stresa, Italia, yang banyak membahas soal pengobatan keputihan jamur, banyak wanita sudah menyadari timbulnya gejala keputihan. Mereka tidak langsung mendatangi dokter tapi memeriksakan langsung usapan lendir yang dilakukan sendiri di rumah ke laboratorium. Begitu keluar hasil labnya yang menyatakan penyebabnya jamur, mereka bisa langsung ke apotik untuk mendapatkan obat yang tepat. Dengan demikian pengobatannya praktis dan keputihan jamur akan lebih cepat terobati. Kalau penyebabnya bukan jamur, barulah mereka mendatangi dokter.

Memang tidak mudah menggugah kesadaran untuk secara rutin memeriksakan lendir vagina atau kesehatan alat reproduksi. “Rasa malu dan segan acap kali mengalahkan niat untuk mengobati penyakitnya. Apalagi kalau mereka meragukan kesopanan dan kesungguhan dokter yang memeriksanya. Mereka lebih suka mengobati diri dengan jamu-jamuan tradisional ketimbang ke dokter. Sebab lain, wanita di negara berkembang seperti Indonesia banyak yang belum menyadari atau mengetahui sebab dan akibat penyakit keputihan. Masih perlu waktu untuk menyadarkan mereka betapa pentingnya perawatan seperti ini”, tutur dr. Asri.

Oleh Nanny Selamihardja
Intisari edisi Juli 1997

No comments:

Post a Comment